NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: keributan di Sekolah Elit

Pagi setelah pesta ulang tahun Maya yang fenomenal—atau lebih tepatnya, bencana bagi keluarga Maheswara—atmosfer di SMA Pelita Bangsa terasa sangat berbeda. Berita tentang dansa antara Abian Alvarazka Byakta dan Safira Kirana telah menyebar seperti api di atas tumpahan bensin. Video amatir yang diambil oleh beberapa tamu undangan telah beredar di grup-grup wa sekolah.

Safira turun dari mobil jemputan dengan ekspresi datar seperti biasa. Ia mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, tas tersampir di satu bahu. Namun, setiap langkah yang ia ambil di koridor sekolah kini diikuti oleh bisikan-bisikan yang tak lagi tertahan.

"Itu dia, kan? Yang dansa sama Abian Alvarazka Byakta?"

"Gila, cantik banget ya kalau dilihat-lihat. Kok dulu kita nggak sadar?"

"Denger-denger dia mau dijodohin sama keluarga Byakta. Maya pasti panas banget."

Safira mengabaikan mereka semua. Namun, saat ia sampai di depan kelasnya, jalannya dihadang oleh Maya dan gengnya. Wajah Maya tampak sembap, kemungkinan besar karena menangis semalaman, namun matanya memancarkan kebencian yang murni.

"Puas kamu, Kak?" desis Maya. Suaranya gemetar menahan amarah. "Puas sudah merusak malam berhargaku? Puas sudah bikin Papa malu di depan rekan bisnisnya?"

Safira berhenti, menatap Maya dengan pandangan bosan. "Merusak? Aku hanya datang karena dipaksa. Dan soal Papa yang malu... bukankah dia sendiri yang memulai drama itu dengan menyebutku sebagai pengganggu?"

"Kamu sengaja goda Kak Abian, kan?!" teriak Maya, tidak peduli lagi bahwa mereka sedang di tempat umum. "Kamu tahu aku suka dia, makanya kamu pakai taktik murahan itu!"

Safira melangkah maju, membuat Maya secara naluriah mundur selangkah. "Taktik murahan? Maya, dengarkan baik-baik. Aku tidak butuh menggoda siapa pun. Jika Abian Alvarazka memilih untuk berdansa denganku, itu urusannya, bukan urusanku. Dan satu lagi... berhenti menyebut dirimu sebagai putri malang yang terzalimi. Itu membuatku mual."

"Kurang ajar!" Salah satu teman Maya hendak maju, namun Safira hanya meliriknya sekilas dengan tatapan dingin yang tajam, membuat gadis itu membeku di tempat.

"Ayo masuk, Fir. Nggak usah ladenin sampah," suara Calista tiba-tiba terdengar. Calista dan Ambar muncul, berdiri di samping Safira sebagai benteng pelindung.

Maya hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal saat Safira berjalan masuk ke kelas tanpa menoleh lagi.

Di area kelas 12, suasana tidak kalah tegang. Nathan duduk di bangkunya dengan pandangan kosong. Ia bahkan tidak menyentuh buku pelajaran di depannya. Pikirannya terus berputar pada kejadian semalam. Safira yang berdansa dengan Abian... Safira yang menolaknya dengan begitu dingin.

"Nath, lo oke?" tanya Bima, duduk di meja depan Nathan. Bima juga tampak kacau. Semalam, Raga mengamuk di rumah dan menyalahkan semua orang atas "pembangkangan" Safira.

"Gue ngerasa bego, Bim," jawab Nathan jujur. "Tiga tahun gue anggap dia pengganggu. Tapi pas dia bener-bener pergi dan milih cowok lain... gue ngerasa kehilangan banget."

Bima menghela napas berat. "Bukan cuma lo. Gue juga ngerasa kayak nggak kenal siapa adik gue sendiri. Dia bukan Safira yang dulu nangis-nangis kalau gue tinggal. Dia... dia kayak orang asing yang punya kekuatan besar."

Valen, yang sedang mendengarkan musik di pojok kelas, tiba-tiba melepas headphone-nya. "Kalian berdua terlambat. Safira bukan cuma pergi dari kalian secara fisik, tapi mentalnya udah nggak ada lagi di keluarga kalian. Dan soal Abian Byakta... kalian tahu sendiri kan siapa dia? Sekali dia nandain mangsanya, dia nggak bakal lepasin."

Nathan mengepalkan tangannya. "Gue nggak bakal biarin gitu aja. Gue harus bicara sama dia lagi."

Jam istirahat tiba. Kantin SMA Pelita Bangsa yang mewah dipenuhi oleh siswa yang masih sibuk bergosip. Safira, Calista, dan Ambar sedang duduk di pojok, menikmati jus jeruk mereka.

Tiba-tiba, suara riuh terdengar dari arah gerbang depan sekolah yang bisa terlihat dari jendela kantin. Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat masuk ke area parkir sekolah. Mobil itu sangat mencolok, bahkan di antara deretan mobil mewah siswa lainnya.

Pintu belakang terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap keluar. Abian Alvarazka Byakta.

Kedatangannya seperti ledakan nuklir. Guru-guru bahkan sampai keluar dari kantor untuk menyambutnya, mengira ada kunjungan bisnis penting. Namun, Abian hanya mengabaikan mereka dan berjalan mantap menuju area kantin.

Setiap mata tertuju padanya. Abian berjalan lurus melewati meja Maya yang mencoba menyapanya, melewati meja Nathan yang menatapnya dengan api cemburu, dan berhenti tepat di depan meja Safira.

"Sudah kubilang, sapu tangan itu belum dikembalikan," ucap Abian tanpa basa-basi. Suaranya yang berat bergema di kantin yang mendadak sunyi.

Safira mendongak, sedikit terkejut namun tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. "Kau datang ke sekolahku hanya untuk kain itu? Kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain, Tuan Byakta?"

Calista dan Ambar saling melirik, mata mereka membelalak tidak percaya melihat Abian Alvarazka Byakta berdiri di depan mereka.

"Pekerjaanku banyak. Tapi memastikan milikku kembali adalah prioritas," jawab Abian dengan nada ambigu yang membuat orang-orang berbisik semakin kencang. Milikku? Apa maksudnya?

Abian menarik kursi di depan Safira dan duduk tanpa diundang. "Ikut aku makan siang. Di luar."

"Aku masih ada kelas," jawab Safira pendek.

"Aku sudah meminta izin pada kepala sekolahmu. Kamu bebas untuk hari ini," ucap Abian enteng.

Safira menaikkan alisnya. "Kau benar-benar suka memaksakan kehendak, ya?"

"Hanya pada hal-hal yang berharga," balas Abian, menatap Safira dalam-dalam.

Safira menghela napas. Ia tahu jika ia menolak di sini, Abian hanya akan membuat keributan yang lebih besar. Ia berdiri, merapikan roknya. "Cal, Am, aku duluan ya."

"Eh... iya, Fir. Hati-hati!" sahut Calista terbata-bata.

Abian berdiri dan memberi isyarat agar Safira berjalan di depannya. Saat mereka berjalan keluar kantin, mereka melewati meja Nathan. Nathan berdiri, menghalangi jalan Abian.

"Tuan Byakta, Safira sedang sekolah. Tolong jangan ganggu dia," ucap Nathan dengan nada menantang.

Abian berhenti. Ia menatap Nathan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sangat menyakitkan. "Dan kamu siapa? Kakaknya? Bukan. Pacarnya? Juga bukan. Sebaiknya kamu fokus pada pelajaranmu. Urusan orang dewasa bukan tempatmu."

Wajah Nathan memerah padam karena malu dan marah. Abian kembali berjalan, seolah Nathan hanyalah debu yang lewat.

Di dalam mobil yang kedap suara dan dingin, Safira duduk bersandar. Abian di sampingnya, sibuk dengan tabletnya sejenak sebelum mematikannya.

"Mau dibawa ke mana aku?" tanya Safira.

"Ke tempat di mana tidak ada orang yang menatapmu dengan kebencian atau rasa bersalah," jawab Abian. Ia menoleh pada Safira. "Kenapa kau bertahan di rumah itu?"

Safira terdiam sejenak, menatap ke luar jendela. "Karena aku sedang menunggu."

"Menunggu apa?"

"Menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan semuanya tanpa meninggalkan jejak," jawab Safira jujur. Ia tidak tahu kenapa ia bisa sejujur ini pada Abian. Mungkin karena ia merasa Abian adalah jenis predator yang sama dengannya.

Abian tersenyum tipis. "Aku bisa membantumu mempercepat proses itu."

"Tidak perlu. Ini urusanku. Aku tidak ingin berhutang budi padamu," tolak Safira tegas.

"Kau sudah berhutang sapu tangan padaku, Safira. Satu hutang lagi tidak akan membunuhmu," canda abian.

Mobil berhenti di depan sebuah restoran fine dining yang tertutup untuk umum hari itu. Seluruh restoran telah disewa oleh Abian.

Selama makan siang, mereka tidak banyak membahas bisnis atau keluarga. Abian justru banyak bertanya tentang hobi Safira, tentang masa kecilnya di Kota B, dan tentang bela diri. Safira merasa aneh. Ini pertama kalinya seseorang benar-benar mendengarkannya tanpa ada maksud terselubung—setidaknya itu yang ia rasakan.

"Kau tahu, ayahku sangat serius tentang perjodohan itu," ucap abian di tengah santapannya.

"Lalu? Kau anak penurut?" pancing Safira.

"Sama sekali tidak. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa selera ayahku tidak terlalu buruk," jawab Abian, matanya terkunci pada mata Safira.

Safira merasakan detak jantungnya sedikit tidak beraturan. "Aku tidak tertarik dengan pernikahan bisnis, Abian . Aku ingin bebas."

"Siapa bilang ini soal bisnis?" Abian memajukan tubuhnya. "Aku ingin kau karena kau adalah Safira. Gadis yang mematahkan tangan penjahat dengan payung transparan. Gadis yang menatap dunia seolah dunia tidak ada harganya. Aku menginginkanmu karena aku merasa kita berasal dari jenis yang sama."

Safira tertegun. Ia melihat kejujuran di mata Abian. Bukan nafsu, bukan kepentingan harta, tapi sebuah pengakuan antar jiwa yang sama-sama kesepian.

"Berikan aku waktu," ucap Safira akhirnya. "Aku masih punya banyak hal yang harus kuselesaikan dengan keluarga Maheswara."

Abian mengangguk. "Gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan. Tapi ingat, saat kau butuh tempat untuk bersandar atau pedang untuk menyerang, aku ada di sini."

Sore harinya, saat Safira kembali ke rumah, ia disambut oleh Raga yang sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah gelap. Ratih dan Maya duduk di sampingnya, Maya tampak tersenyum penuh kemenangan.

"Dari mana kamu?! Jam sekolah belum selesai, tapi kamu sudah keluyuran dengan laki-laki!" bentak Raga.

"Abian Byakta menjemputku. Dia sudah izin pada sekolah," jawab Safira santai.

"Jangan bohong! Kak abian nggak mungkin jemput cewek kayak kamu tanpa alasan!" timpal Maya.

"Cukup!" teriak Raga. "Safira, mulai besok kamu tidak boleh keluar rumah selain untuk sekolah. Semua fasilitasmu Papa cabut. Dan soal perjodohan itu... Papa tidak akan mengizinkannya kecuali Abian memberikan kompensasi saham pada perusahaan Papa!"

Safira tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ayahnya. Tawa yang sangat keras hingga membuat Raga tersinggung.

"Saham? Jadi hanya itu yang ada di otak Papa? Menjualku untuk saham?" Safira menatap ayahnya dengan kebencian yang meledak. "Dengarkan aku, Tuan Raga Maheswara. Papa tidak punya hak untuk melarangku. Dan soal saham... Papa harusnya lebih khawatir tentang saham perusahaan Papa yang mulai merosot karena manajemen yang buruk, daripada mengurusi hidupku."

"KAU—!" Raga mengangkat tangannya untuk menampar Safira.

Namun, sebelum tangan itu mendarat, Raka menangkap pergelangan tangan ayahnya.

"Sudah, Pa! Jangan pakai kekerasan!" seru Raka.

Safira menatap Raka sekilas, lalu beralih pada ayahnya. "Satu hal lagi. Aku tidak akan dikurung di rumah ini. Jika Papa mencoba menghalangi jalanku lagi, aku pastikan besok pagi seluruh kolega Papa tahu bagaimana cara Papa memperlakukan putri kandung Papa sendiri."

Safira naik ke kamarnya, meninggalkan

Di sisi lain, Abian sedang berada di kantornya, melihat profil lengkap Safira yang baru saja dikirimkan Leo. Ada satu detail yang menarik perhatiannya: Safira memiliki beberapa akun bank atas nama samaran yang memiliki aliran dana sangat besar.

"Kau menyembunyikan sesuatu yang besar, Safira," gumam abian dengan senyum kecil. "Dan aku tidak sabar untuk mengungkapnya bersama-sama."

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
Lala Kusumah
Safira emang hebaaaaaatt baik hati dan tidak sombong 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!