NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menusuk dari Belakang

"Kira-kira Tuan Besar mau menyantap hidangan apa? Setahu saya, Restoran Raja Rasa punya koki-koki top dari berbagai negara. Tapi yang paling legendaris tentu saja masakan nusantaranya."

"Apakah Tuan Besar Seno berminat mencicipinya?"

Candaan Salma membuat Seno Tanudjaja tertawa lepas, gurat lelah di wajahnya seketika sirna. "Kamu ini ya, di keluarga Tanudjaja cuma kamu yang paling jahil. Coba kalau kamu bisa penurut sedikit seperti Manda, pasti lebih baik!"

Di sisi lain, Manda Tanudjaja tersenyum manis, meski hatinya sedikit dongkol karena Salma berhasil merebut perhatian Papa. "Salma memang selalu ceria dan penuh ide, Yah. Rumah kita jadi lebih ramai berkat dia."

"Papa, Kak Manda kan tipenya kalem dan anggun, biarkan Salma ambil gaya yang beda dong," celetuk Salma santai. "Kalau Salma dan Kak Manda sama-sama kalem, nanti orang-orang malah sibuk membandingkan kami. Siapa pun yang menang, pasti ada yang sakit hati."

Salma melirik Manda sekilas. Dia ogah banget disamakan dengan kakaknya itu. Si muka dua yang hatinya busuk itu tidak pantas bersanding dengannya.

Manda paham betul sindiran itu. Dalam hati dia mendengus dingin. Salma, kamu sadar nggak sih kalau yang bakal malu saat dibandingkan itu kamu? Sampah sepertimu hanya akan jadi noda di keluarga Tanudjaja.

Namun, di hadapan Seno, Manda segera menggelayut manja di lengan Papanya. "Papa~ lihat tuh, Salma menyalahkanku lagi. Kalau soal fisik, Salma memborong semua gen bagus Papa dan Mama."

"Aku kalah jauh darinya. Pokoknya aku selalu kalah kalau lawan Salma, Papa harus belain aku."

Melihat tingkah manja kedua putrinya, Seno merasa waktu berlalu begitu cepat. Dulu mereka hanya bocah ingusan yang berebut pelukan di kakinya, kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik dengan pesona masing-masing.

Seno menghela napas lega, merangkul bahu Salma dan Manda di kiri kanannya.

"Punya dua putri seperti kalian adalah kebanggaan kedua terbesar dalam hidup Papa."

"Lalu, kebanggaan pertamanya apa?" tanya Manda.

Salma tersenyum tipis. "Masih perlu ditanya? Kebanggaan pertama Papa tentu saja berhasil menikahi Mama."

"Hahaha, dasar bocah nakal!" Seno tertawa keras, mengakui kebenaran itu.

Mendengar tawa renyah Papanya, hati Salma justru terasa perih. Kenangan kehidupan sebelumnya berkelebat—saat masa-masa sulit, Seno rela tidak makan demi memastikan istrinya tidak kelaparan.

Cinta orang tuanya begitu tulus, bahkan saat jatuh miskin. Begitu kenangan pahit itu muncul, kebencian Salma pada Manda kembali membara.

Manda tiba-tiba merasakan hawa dingin yang mengerikan. Jantungnya berdegup kencang, reflek menoleh ke arah Salma. Namun, mata Salma yang melengkung jenaka hanya memancarkan kepolosan.

Apa aku yang terlalu sensitif? batin Manda bingung.

Suasana perjalanan terus diisi canda tawa hingga mobil berhenti di lobi Restoran Raja Rasa. Restoran kelas atas ini biasanya memiliki ruang VVIP yang sulit dipesan, namun anehnya, Manajer Restoran langsung menyambut mereka dengan hormat dan mengantar ke ruang VVIP terbaik.

Meski Salma tidak melakukan reservasi.

Salma merasa agak aneh. Siapa yang mengatur pelayanan istimewa ini?

Setelah makan malam yang penuh tawa—di mana Salma berhasil membuat Seno dan Pak Asep, sopir mereka, terpingkal-pingkal sementara Manda hanya bisa tertawa garing—mereka keluar menuju lobi.

Manajer menemani mereka menunggu petugas valet membawakan mobil.

Saat Salma sedang melamun memikirkan keanehan reservasi tadi, mobil jemputan mereka yang sudah berjarak sekitar sepuluh meter tiba-tiba melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.

Bukan melambat untuk parkir, tapi menginjak gas dalam-dalam!

Salma tersentak, matanya membelalak lebar. Mobil itu menerjang tepat ke arah mereka berdiri.

Manda menjerit histeris.

Orang-orang di sekitar berteriak ngeri, beberapa menutup mata, tak sanggup melihat tragedi berdarah yang akan terjadi.

Di detik-detik genting itu, tanpa ragu sedikit pun, Salma mendorong tubuh Seno menjauh dan menerjang maju. Saat bumper mobil menghantam tubuhnya, sebuah kekuatan dahsyat yang tak masuk akal meledak dari dalam dirinya.

Refleks tubuhnya yang telah bangkit kembali memaksanya merentangkan tangan dan menahan kap mesin mobil itu dengan tangan kosong!

"Salma!!!"

Teriakan Seno memilukan hati, matanya memerah menyaksikan putrinya dihantam logam besi itu.

Salma berpikir dia pasti mati kali ini. Baru saja hidup kembali beberapa hari, masa sudah harus game over lagi?

Namun, keajaiban terjadi. Mobil yang mesinnya masih menderu itu berhenti mendadak secara tidak wajar, seolah menabrak tembok baja tak kasat mata!

Mobil itu tidak bisa maju seinci pun meski bannya berdecit di aspal.

Pak Asep yang pertama kali sadar dari syok langsung bertindak. Dia menerjang ke kursi pengemudi, melumpuhkan sopir yang masih linglung, mematikan mesin, dan menyeret orang itu keluar.

"Salma!" Seno histeris. Dia tidak peduli pada penampilannya yang berantakan, merangkak bangun dari aspal dan berlari sempoyongan ke arah putrinya.

Tapi begitu sampai di dekat Salma, keberanian Seno runtuh. Tubuhnya menggigil hebat. Dia bergumam memanggil nama putrinya dengan nada putus asa, "Salma... Salma..."

Salma masih terpaku dalam keterkejutan. Dia tahu setelah terlahir kembali fisiknya menjadi lebih kuat, tapi dia tidak menyangka kekuatannya seabsurd ini.

Hantaman mobil yang melaju kencang itu hanya membuatnya mundur dua langkah? Rasanya seperti menahan mobil mainan anak-anak.

Dia perlahan menunduk, memeriksa tubuhnya. Kaki tangan utuh. Tidak ada darah. Jadi... dia masih hidup?

Melihat Salma tak bergerak, pertahanan Seno jebol. Pria paruh baya itu menangis meraung-raung, jatuh berlutut. "Kenapa bukan Papa saja? Kenapa harus putriku?!"

Di sisi lain, Manda sulit menyembunyikan kegembiraan di hatinya. Tuhan memihakku! Si bodoh Salma akhirnya mati!

Kalau bukan karena harus menjaga imej di depan Seno, Manda pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Duri dalam dagingnya akhirnya lenyap. Dia menarik napas dalam, menyembunyikan seringai jahatnya, lalu memapah Seno dengan wajah penuh air mata palsu.

"Papa, jangan sedih... Salma pasti..."

Semoga ambulans kena macet, biar dia mati kehabisan darah.

Seno menepis kasar tangan Manda. Dengan tangan gemetar hebat, dia merogoh ponsel dan menekan nomor darurat. "Lima menit! Kirim bantuan ke Restoran Raja Rasa sekarang juga!" raung Seno.

Dua menit berlalu, Salma akhirnya tersadar sepenuhnya. Dia mendengar suara serak Papanya dan perlahan berbalik.

Saat Salma berbalik badan, ponsel di tangan Seno terlepas dan jatuh ke aspal. Brak!

Manda melotot, matanya nyaris keluar saking ngerinya, seolah melihat hantu bangkit dari kubur. Salma... tidak terluka sama sekali?

"Papa, Papa nggak apa-apa?" Salma buru-buru menghampiri dan memegang lengan Seno.

Seno membuka mulut, ingin bicara, tapi guncangan emosi yang terlalu ekstrem membuatnya limbung dan pingsan di pelukan Salma.

"Papa..." Ketakutan menyergap Salma. Dia memeluk erat Papanya, menangis lega saat merasakan hembusan napas Seno. Syukurlah... syukurlah!

Tiba-tiba, sesosok pria tinggi menerobos kerumunan, berlari kencang dan langsung berlutut di depan Salma.

"Salma! Salma, kamu gimana? Kamu terluka?!"

Itu Aksa Abhimana. Wajah cowok itu pucat pasi. Tanpa kacamata yang biasa menyembunyikan tatapannya, mata Aksa terlihat penuh ketakutan yang nyata.

Salma belum pernah melihat Aksa sefrustrasi ini.

"Jawab aku! Om Seno kenapa?" Aksa nyaris kehilangan kendali. Saat dia melihat kejadian itu dari lantai atas, jantungnya serasa berhenti.

Dunianya runtuh. Dia tak berani membayangkan jika terjadi sesuatu pada Salma.

"Aku nggak apa-apa... Papa juga cuma pingsan..." jawab Salma tersedu-sedu.

Mendengar itu, dunia Aksa kembali berwarna. Tanpa peduli tatapan orang banyak, dia menarik Salma ke dalam pelukannya, mendekapnya erat.

"Salma, syukurlah kamu selamat... Syukurlah... Aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri kalau kamu kenapa-napa di tempatku."

Salma tertegun sejenak, lalu menggeleng pelan di pelukan Aksa. "Bukan salahmu. Jangan nyalahin diri sendiri."

"Salma! Ini situasi macam apa? Kamu malah asyik pelukan sama cowok? Di matamu masih ada keselamatan Papa nggak sih?!"

Manda menyembur dengan suara tinggi, tubuhnya gemetaran—bukan karena takut, tapi karena marah melihat Salma masih hidup.

Salma melepaskan pelukan Aksa perlahan, lalu mengangkat wajah menatap Manda. Sorot matanya berubah sedingin es.

"Manda," ucap Salma pelan namun penuh penekanan. "Waktu ngomong gitu, kamu pakai hati nurani nggak? Lebih baik pastikan kejadian ini nggak ada hubungannya sama kamu."

"Atau aku bakal bikin hidupmu kayak di neraka!"

Kalimat itu seperti hantaman palu godam bagi Manda. Ketakutan irasional menjalar di punggungnya, seolah topeng polosnya baru saja dirobek paksa oleh Salma.

"Ngomong apa sih kamu? Kamu fitnah aku?" Manda mencoba marah untuk menutupi gugupnya.

"Fitnah? Itu cuma peringatan. Kamu pikir aku nggak tahu isi otakmu yang kotor itu?"

Jantung Manda berdegup kencang. Nyalinya ciut di bawah tatapan tajam Salma. "Salma, aku lagi nggak mau debat. Papa gimana keadaannya?"

Salma mendengus, kembali fokus pada Papanya. Aksa segera memerintahkan manajer untuk memastikan ambulans datang secepat kilat.

Tak lama, polisi dan medis tiba. Pelaku diamankan, dan Seno dibawa ke rumah sakit.

Manda ditinggalkan sendiri menatap ambulans yang menjauh. Kekecewaannya berubah menjadi horor saat dia kembali melihat lokasi kejadian.

Tidak ada batu, tidak ada penghalang. Salma menahan mobil itu dengan tubuhnya sendiri?

Apa Salma itu manusia? Manda merinding. Gadis remaja 15 tahun punya tenaga monster? Mengingat kejadian aneh belakangan ini, Manda merasa posisinya makin terancam.

Dia segera mengeluarkan ponselnya, menekan nomor luar negeri dengan tangan gemetar.

Rumah sakit hening. Aksa duduk menemani Salma di ruang tunggu, enggan beranjak sedikit pun meski Salma sudah memintanya pulang.

"Biar aku temani kamu di sini," ucap Aksa tegas. Kehadirannya yang solid membuat Salma merasa jauh lebih aman.

Tak lama kemudian, Shintia datang dengan wajah banjir air mata, diikuti Manda yang memasang wajah cemas.

"Salma, Papamu kenapa?" Shintia langsung menerjang masuk ke ruang rawat begitu diperbolehkan.

"Ma, tenang aja. Papa cuma pingsan karena syok. Dokter bilang nggak ada yang serius," Salma menenangkan ibunya.

Tepat saat itu, Seno sadar. Begitu membuka mata, kalimat pertamanya adalah teriakan panik. "Salma mana? Salma!"

Salma langsung menggenggam tangan Papanya. "Papa, aku di sini. Aku beneran nggak apa-apa."

Seno menatap putrinya lekat-lekat, lalu menariknya ke dalam pelukan erat. "Syukurlah putri kesayangan Papa selamat... Syukurlah."

Manda melihat adegan itu dengan hati perih. Seno bangun dan orang pertama yang dicari adalah Salma. Dia bahkan tidak bertanya keadaan Manda sedikit pun.

"Kapan sih kalian bisa nggak bikin khawatir?" Setelah tangis reda, Shintia mulai mengomel. "Lain kali, nggak ada lagi ya acara jalan tanpa pengawalan!"

"Siap, Nyonya Besar!" jawab Salma dan Seno kompak.

"Ma, udah dong jangan marah," Manda menyela dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Salma kan niatnya baik. Siapa yang nyangka bakal ada musibah?"

"Aku yakin Salma juga nggak mau ini terjadi dan nggak mungkin mau mencelakai kita. Mama jangan salahin Salma ya?"

Darah Salma mendidih. Dia menatap tajam saudarinya. "Kak, kok omonganmu aneh? Maksud kakak, aku yang merancang kecelakaan ini?"

"Kakak sengaja menggiring opini biar Papa sama Mama salah paham sama aku?"

Manda memasang wajah polos. "Salma, kok kamu emosi? Aku kan belain kamu."

"Belain? Itu namanya menusuk dari belakang!"

"Salma..."

"Manda!" Seno membentak keras dari ranjangnya. "Cukup! Mau sampai kapan ributnya? Masalah ini nggak akan Papa biarkan lewat begitu saja."

"Siapa pun nggak akan Papa biarkan menyakiti putri Papa seujung kuku pun, termasuk kamu."

Ruangan itu hening seketika. Kata-kata Seno membuat Manda gemetar.

Seno menatap Manda dengan tatapan asing, penuh kewaspadaan yang belum pernah ada sebelumnya. Dia muak dengan drama manipulatif ini. "Pulang!"

Salma melirik dingin ke arah Manda yang pucat pasi, lalu maju memapah Seno yang memaksa untuk pulang malam itu juga.

Manda menunduk, menyembunyikan sorot mata yang penuh kebencian dan dendam. Rencananya gagal total, dan sekarang posisi aman dia di keluarga ini mulai retak.

Sesampainya di kediaman keluarga Tanudjaja, kehebohan belum berakhir. Berita kecelakaan itu sudah sampai ke telinga Kakek dan Nenek Tanudjaja yang langsung datang berkunjung.

"Aduh Gusti, cucu-cucu kesayanganku gimana kondisinya?" Nenek Tanudjaja, wanita sepuh yang berwibawa, langsung memeluk Salma dan Manda bergantian.

"Kami nggak apa-apa, Nek." Salma menghambur ke pelukan Neneknya, menahan tangis haru. Melihat wajah teduh kakek dan neneknya yang masih hidup, kenangan pahit kehidupan lalu kembali membayang.

Nenek lalu memelototi Seno. "Kamu ini pasti galak lagi ya sama cucu kesayanganku? Mentang-mentang Ibu sudah tua, kamu pikir Ibu nggak bisa jewer kamu lagi?"

"Nenek, Papa nggak marahin aku kok," Salma membela Papanya sambil tertawa kecil.

"Benar Nek, kali ini Papa nggak salah," Manda ikut menimpali, segera mengambil posisi di sebelah Nenek.

Menggenggam tangan wanita tua itu dengan senyum manis yang sempurna.

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!