Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Sabar untuk sebuah tujuan
Mata Lexsa membulat sempurna, dia tidak tahu banyak peraturan yang akan melarangnya. Dan semua itu harus ditinggalkan.
"Paman tidak lagi nakut-nakuti Lexsa bukan?"
"Sama sekali tidak. Apa yang non lexsa sering dlakukan, itu semua akan ada batasannya. Karena selama menjadi santri, hidup non Lexsa sepenuhnya patuh kepada aturan pesantren." Jelas Pak iman.
Lexsa diam, dia memimikirkan apa yang akan dia jalani. Berat sangat berat dengan semua yang akan dia hadapi. Dari kehidupan bebas, akan masuk kedalam sebuah tempat yang aturannya harus di ikuti.
Apa yang diinginkan Lexsa, hanya karena papanya. Yang saat ini tidak pernah menganggap dirinya ada. Ya bapak Fahkri yang sudah menelantarkan Lexsa, dan Ibu Irma yang sudah menilai jika Ibu karren adalah wanita murahan.
Tantangan yang membuat Lexsa setuju. Hingga akhirnya Lexsa menghubungi Pak Iman. Dan memutuskan pulang dari luar negeri untuk masuk pesantren.
"Saya setuju, apapun aturannya. Saya akan menuruti, besok tolong antar saya ke pesantren dekat sini."
"Non Lexsa harus beli baju lain. Tidak boleh pakai celana. Disana, aturannya memakai busana muslim,"
"Pakai bercadar gitu?"
"Tidak harus, tapi harus menutupi aurat. Celana tidak boleh. Harus berbaju busana muslim seperti rok atau gamis."
"Baiklah, besok bantu saya menyiapkan semuanya, setelah itu antar saya kepesantren itu."
"Sebaiknya nona tidur dulu, saya tidak mau nona sakit, ini sudah malam." Ujar Ibu Ima, penuh perhatian.
"Saya mandi dulu, boleh numpang kamar mandinya?."
"Di belakang non. Saya sudah siapkan air panas. Supaya non tidak kedinginan."
"Terimakasih bik. Oh iya, paman itu ada oleh-oleh di mobil, paman bisa ambil ya. Ini kuncinya."
"Terimakasih, nona masih repot-repot."
"Tidak repot kok."
Lexsa langsung pergi kekamar mandi, meski tidak semewah kamar mandi dirumahnya, tapi kamar mandi dirumah pak iman cukup bersih. Sehingga Lexsa tidak jijik atau merasa kurang nyaman.
Ibu Ima dan Pak Iman mengambil barang-barang milik Lexsa, mobil mewah itu akan di tinggalkan oleh Lexsa dalam waktu yang lama. Atau Lexsa akan kembali pulang karena tidak betah tinggal di pesantren.
Keesokan harinya, pak Iman dan Ibu Ima, membawa Lexsa ke pasar, untuk membeli keperluan selama di pesantren. Lexsa merasa heran dan bingung saja. Karena apa yang di beli barang-barang yang menurutnya tidak berarti. Tapi Lexsa nurut saja. Kecuali baju dia masih memilih yang mahal, untuk kalangan menengah kebawah. Bukan kota besar, hanya pasar dan butik yang menjual baju harga di bawah 1 jutaan. Bagi Lexsa itu tidak seberapa.
Semua keperluan sudah terbeli, Lexsa dan pak Iman juga Ibu Ima pulang. Tidak banyak bicara, Lexsa lebih fokus pada Handponenya. Dia yang lulusan fakultas di luar negeri, sudah pintar jika urusan dengan pelajaran diluar agama. Di usianya yang ke 19, sudah menjadi Sarjana. Ambisinya sangat besar, karena perasaan bencinya kepada ibu tirinya.
Setelah sampai Lexsa langsung membawa barang belanjaannya, di bantu Ibu Ima juga.
Seharian mereka sibuk dengan persiapan Lexsa. Sebenarnya Pak Iman tahu Lexsa anak baik, hanya saja rasa marahnya karena Papanya menikah lagi, membuat Lexsa menjauh dari keluarganya.
Pak Iman, ingin sekali menasehati, tapi dia yakin, suatu saat Lexsa akan berubah, dan akan ikhlas dengan jalan hidupnya.
Perlu waktu, Pak iman berharap, Lexsa akan berubah jika sudah tinggal di pesantren.
Jam menunjukkan pukul 16.00, setelah selesai sholat ashar, mereka berangkat ke pesantren Darun-Najah. Pesantren yang terletak di Suka Maju ( nama palsu) di jawa timur. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah Pak Iman, hanya menempuh 15 menit saja.
Pesantren Darun Najah sudah sangat terkenal. Lebih dari seribu santri disana, bahkan sudah ada perguruan tingginya. Pengasuh Darun Najah, bernama, Kiai Furqon, istrinya Nyai Ainun, di bantu putra-putranya mengurus Pesantren tersebut.
Setelah sampai di pesantren, bertemu dengan Kiai Furqon, menitipkan Lexsa, menceritakan semua, tentang Lexsa dan keluarganya. Kiai Furqon yang kenal dengan Pak Iman, hanya mengangguk-angguk saja. Dan dia menerima Lexsa sebagai santri di pondok pesantrennya.
"Nduk, kamu harus kerasan disini, menuntut ilmu agama itu, tidak seperti menuntut ilmu umum. Kalau ilmu agama harus benar-benar di pahami, biar tidak salah jalan. Tidak perlu malu karena sudah dewasa, karena orang menuntut ilmu itu harus sabar dan ikhlas." Pesan Nyai Ainun.
Lexsa hanya mengangguk, dia sedikit acuh. Karena tujuannya berbeda dengan pemikiran kiai.
Setelah berbicara banyak dengan kiai dan Nyai, mereka pamit pulang. Sedangakan Lexsa langsung ikut pengurus pesantren ke pondok putri.
"Maaf mbak Lexsa, Hp bisa dititipkan pesantren atau di bawa pulang keluarga. Karena semua santri dilarang membawa handpone." Ujar ustzah Hana, sopan.
"Lantas bagaimana jika saya mau menghubungi keluarga atau teman saya?"
"Mbak. Jika, ingin menghubungi keluarga, bisa lewat telepon milik pesantren. Selama masih tinggal di sini, semua santri, dilarang menegang Handpone, kecuali para guru, yang masih tinggal di pesantren. Itupun ada jam tertentu yang di perbolehkan." Jelas Ustazah Hana lagi. Memberi pengertian secara detail dan hati-hati.
"Oke, saya turuti mau Mbak. Tapi biarkan saya mencatat nomor keluarga dulu. Biar bisa menghubungi mereka."
"Monggo Mbak, kalau sudah selesai mohon serahkan kepada kami."
Lexsa mengangguk, kecewa, marah, tapi Lexsa tahan demi misinya.
Setelah mencatat semua nomor penting. Lexsa memberikan kepada ustazah Hana.
"Mbak, pembayaran uang kitab, uang gedung, dan pembelian lemari, juga uang makan selama satu bulan, di bayar di awal, atau di cicil selama satu tahu.?"
"Berapa?"
"Total satu juta tuju ratus ribu."
"Saya lunasi," sambil mengeluarkan uang seratus ribuan.
"Untuk uang jajan santri tidak boleh lebih dari 30 ribu Mbak."
"Apaaa?" Lexsa terkejut, matanya melotot. Bagi Lexsa uang 30 ribu tidak ada apa-apanya. Bahkan dianggap tidak berguna.
"Iya Mbak. Santri di ajarkan untuk hemat. Bisa mengatur keuangan dan dilatih menjadi orang yang sabar. Jadi uang mbak sebagian tabung dulu."
"Ah, itu terlalu keterlaluan. Lantas untuk apa saya ambil uang tuan sampai 20 juta. Saya pikir bebas menggunakan apa yang saya mau."
"Mohon maaf Mbak. Tapi ini sudah aturan pesantren."
"Hitung pembayaran yang akan di pakai selama satu tahun. Saya bayar semua." Dan ini sisanya boleh di pegang ustazah."
Handpone di serahkan beserta uang dari sisa uang yang akan di gunakan Lexsa. Berat rasanya, tapi Lexsa harus bisa menuruti apa yang akan menjadi syarat di akui santri.
Apa yang di baca di google, tentang seputar santri membuat Lexsa paham dan itu tidak bohong.
"Saya akan antarkan Mbak Lexsa kekamarnya." Ujar ustazah Hana ramah.
Lexsa hanya mengangguk, dia pun mengikuti Ustazah Hana. Melewati beberapa kamar. Banyak mata yang melihat, karena wajah Lexsa masih ada keturunan bule. Tinggi, cantik, dan menarik.
Ustazah Hana, menempatkan Lexsa di kamar santri baru, tapi masuk du Fakultas. Setelah sampai di kamar 10 C, Lexsa di persilahkan masuk.
"Silahkan masuk, ini kamar Mbak Lexsa." Ujar Ustazah Hana. Mata Lexsa membulat sempurna. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Rasanya seperti mimpi saya. Dimana kamar yang akan di tempati hanya beralaskan kasur lantai yang sangat tipis.
"Ini kamarnya?" Gugup
"Iya, Mbak."
"Hanya pakai alas seperti ini?"
"Iya," jawab Ustazah Hana, dengan senyum manisnya. Dia sudah terbiasa dengan keheran para santri yang masih baru.
"Oh, tuhan. Bagaimana kalau aku sakit, dan pastinya badanku akan pagal-pagal nantinya." Ujar Lexsa dengan amarah yang ditahan.
"Insyaallah, Mbak Lexsa akan baik-baik saja." Jawab Ustazah Hana.
"Santri baru Ustazah?" Tanya salah satu santri yang tinggal di kamar 10c itu.
"Iya, Mbak. Titip ya."
"Siap Ustazah."
Ustazah Hana pun pergi. Sinta, langsung menghampiri Lexsa, dan bersalaman.
"Saya sinta."
"Lexsa." Jawabnya singkat.
"Baju kamu, masukkan ke lemari nomor 12 ya. Buku sama kitabnya, juga nomor 12. Kamu kalau tidak paham bisa tanya saya."
"Saya bingung, kenapa tempatnya seperti ini."
"Namanya pesantren, tempat belajar. Bukan tempat bersantai. Kita diajarkan untuk tidak bermewah-mewahan. Suatu saat Mbak Lexsa akan tahu, manfaatnya." Ujar Sinta.
Lexsa diam, dia tidak banyak bicara lagi. mematung menatap dinding kamarnya yang sudah banyak cat yang terkelupas. akhirnya dia duduk, beralaskan kasur lantai, yang dia rasakan saat ini lelah tubuhnya direbahkan. Berharap setelah terbangun itu semua hanya mimpi. Apa yang diinginkan tidak semudah yang dibayangkan. Karena menjadi seorang santri harus bisa mengaji, yang artinya Lexsa harus siap belajar mengaji.
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..