Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
PROLOG
"Kalau kalian ingin mengenal sebuah kota, jangan bertanya kepada pemandu wisata. Bertanyalah kepada anak jalanannya."
— Maël
Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Aku tidak pernah benar-benar mengerti maksud kalimat itu.
Mungkin karena aku tidak pernah melihat Paris dari balkon hotel berbintang. Aku juga tidak pernah menikmati makan malam dengan cahaya lilin menghadap Sungai Seine, atau menghabiskan sore di kafe kecil sambil membaca novel dan menyeruput secangkir espresso.
Versi Paris yang kukenal sedikit berbeda.
Versiku dimulai dari bawah jembatan.
Aku membuka mata ketika suara kereta Métro melintas tepat di atas kepalaku.
Grrrrrrrr...
Besinya bergetar.
Debu-debu halus berjatuhan dari celah beton dan mendarat tepat di wajahku.
Aku mengusap hidung sambil menggerutu.
"Merde..."
Selamat datang di alarmku.
Tidak ada tombol untuk menundanya.
Tidak ada pilihan lima menit lagi.
Kereta pertama selalu datang tepat waktu, dan entah kenapa selalu berhasil membangunkanku sebelum matahari benar-benar muncul.
Aku duduk perlahan.
Punggungku pegal karena semalaman tidur di atas kardus bekas. Jaket lusuh yang kugunakan sebagai selimut sudah tidak cukup hangat menghadapi dinginnya musim gugur. Di sudut jembatan, seorang pria tua masih tertidur sambil memeluk tasnya erat-erat. Dua meter darinya, seorang ibu menyelimuti anak kecilnya dengan mantel yang bahkan terlalu tipis untuk disebut selimut.
Kami tinggal di alamat yang sama.
Tidak punya nomor rumah.
Tidak punya kotak surat.
Kalau hujan turun terlalu deras, alamat kami bahkan ikut hanyut.
Aku berdiri, menepuk-nepuk celanaku yang penuh debu.
Di kejauhan, Paris mulai terbangun.
Lampu-lampu toko menyala satu per satu. Seorang pembuat roti membuka pintu tokonya, dan aroma mentega hangat langsung memenuhi udara. Bus pertama melintas perlahan, disusul beberapa pesepeda yang tampak terburu-buru mengejar waktu.
Kota ini selalu pandai berpura-pura.
Ia bangun dengan sangat cantik.
Seolah tidak pernah menyimpan luka.
── Maël kepada kalian ──
Kalian membeli buku ini karena ingin melihat Paris, ya?
Bagus.
Aku memang akan mengajak kalian berkeliling.
Tapi kita tidak akan mengantre di depan Menara Eiffel.
Kita juga tidak akan berfoto di Museum Louvre, atau duduk berjam-jam di kafe mahal sambil berpura-pura mengerti rasa kopi.
Aku akan menunjukkan Paris yang lain.
Paris yang tidak pernah muncul di kartu pos.
Paris yang tidak dijual di toko suvenir.
Paris yang hidup di bawah jembatan, di lorong-lorong métro, di bangku taman yang dingin, dan di wajah orang-orang yang terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa bagaimana caranya bermimpi.
Kalau kalian masih ingin ikut...
Mari berjalan di sampingku.
── Kembali ke cerita ──
Aku mengambil beberapa lembar koran dari dalam kantong plastik yang kuselipkan di balik tiang jembatan semalam. Syukurlah tidak basah. Hari ini aku masih bisa menjualnya.
Menjual koran memang tidak membuatku kaya.
Tapi setidaknya pekerjaannya legal.
Itu penting.
Karena pekerjaanku yang lain...
Yah, kita bicarakan nanti saja.
Aku mulai melangkah menuju jalan utama.
Orang-orang berjas berjalan cepat sambil menatap jam tangan mereka. Wisatawan mengangkat kamera bahkan sebelum menemukan arah hotel. Seorang pemain akordeon mulai memainkan lagu yang membuat beberapa pasangan tersenyum dan saling menggenggam tangan.
Lucu.
Paris selalu berhasil membuat orang jatuh cinta.
Sementara di sudut jalan yang sama, seseorang sedang menghitung recehan untuk membeli roti.
Dua dunia.
Satu kota.
Hanya dipisahkan oleh trotoar.
Aku membetulkan topi lusuh di kepalaku, lalu tersenyum kecil.
Hari ini pasti akan panjang.
Dan biasanya...
Hari-hari yang panjang selalu membawa cerita yang menarik.
── Maël kepada kalian ──
Oh, hampir lupa.
Ada satu aturan sederhana sebelum kita mulai.
Kalau nanti kalian benar-benar datang ke Paris...
Jangan terlalu lama melihat ke atas.
Aku tahu.
Bangunan-bangunannya indah.
Langitnya cantik.
Menara Eiffel memang layak dikagumi.
Tapi kota ini punya kebiasaan yang tidak pernah ditulis di brosur wisata.
Saat mata kalian sibuk mengejar keindahan...
Seseorang mungkin sedang memperhatikan isi saku kalian.
Tenang saja.
Aku tidak akan mengambil dompet kalian.
Aku sudah berusaha menjadi orang yang lebih baik.
Tapi...
Aku tidak bisa menjamin hal yang sama tentang teman-temanku.
Jadi, sebelum kita melangkah lebih jauh...
Pegang dompet kalian erat-erat.
Dan selamat datang...
Di Paris Noir.