Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.
Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.
Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.
Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.
Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.
Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.
Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Menghangatkan Rumah
Lantai marmer dingin di dalam rumah megah itu tak pernah benar-benar terasa hangat, tapi malam ini dinginnya terasa merayap sampai ke tulang.
Arga Pratama melepas dasinya yang terasa mencekik. Lampu gantung kristal di ruang tamu memantulkan bayangan tubuhnya yang tegap namun lelah.
Jarum jam dinding menunjuk ke angka sebelas malam. Ia baru saja menyelesaikan rapat darurat dengan investor luar negeri—satu lagi langkah besar untuk mengamankan proyek bernilai miliaran.
Semua demi satu alasan sederhana yang selalu ia pegang teguh : memastikan Nabila mendapatkan apa pun yang wanita itu impikan.
"Nabila?" panggil Arga. Suaranya berat, khas pria yang terbiasa memberi perintah di ruang direksi, namun ada kelembutan tersendiri ketika ia menyebut nama istrinya.
Hening. Hanya desis halus dari Air Conditioner yang menyapa.
Arga melangkah ke dapur, menuang air putih ke gelas kaca. Tangannya sedikit gemetar karena kelelahan, namun garis wajahnya yang tegas dan dingin perlahan melunak saat matanya menangkap sebuah kotak beludru merah di atas meja kerjanya yang belum sempat ia serahkan. Besok adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima.
Lima tahun lalu, Arga berjanji di depan ayah Nabila bahwa ia akan membahagiakan wanita itu, walau harus memeras keringat hingga darah. Dan Arga menepatinya. Dari pria biasa yang merintis usaha dari nol, kini ia adalah nama yang disegani di dunia bisnis.
Langkah kakinya menaiki tangga kayu jati tanpa suara. Di dalam hatinya, ada sedikit rasa bersalah karena belakangan ini ia terlalu sering pulang melampaui larut malam. 'Sedikit lagi ', pikirnya. ' Setelah proyek ini selesai, aku akan membawanya liburan ke Italia, tempat yang selalu ia ceritakan saat kami masih menyewa kontrakan sempit dulu.'
Namun, saat Arga berdiri di depan pintu kamar utama, ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Pintu itu tidak tertutup rapat. Sebuah celah kecil membiarkan cahaya samar dari dalam kamar menembus kegelapan koridor. Dan dari celah itu, terdengar bisikan. Bukan suara televisi, melainkan suara tawa halus seorang wanita yang sangat ia kenali, disusul oleh suara berat seorang pria yang tak kalah akrab di telinganya.
Darah Arga seolah berhenti mengalir.
Ia tidak langsung mendobrak pintu. Insting bisnisnya yang selalu tenang dalam situasi krisis secara otomatis mengambil alih, menahan emosinya yang mulai bergejolak di dalam dada. Didekatkannya wajahnya ke celah pintu.
"Kamu yakin Arga enggak bakal pulang cepat malam ini?" suara Nabila terdengar begitu manja, jenis suara yang dulu selalu berhasil meluluhkan rasa lelah Arga.
"Tenang saja, Bi. Arga itu gila kerja.
Di kepalanya cuma ada angka dan uang. Dia pikir dengan kasih kamu fasilitas mewah, kamu bakal cukup?"
Suara itu milik Reza. Sahabat terbaiknya. Pria yang dulu dibantu Arga saat bisnisnya hampir hancur, pria yang selalu duduk di sampingnya saat merayakan setiap pencapaian perusahaan.
"Dia memang membosankan, Za," balas Nabila, disusul suara sentuhan kain dan tawa renyah. "Dingin, kaku, dan selalu sibuk. Aku cuma suka fasilitas yang dia kasih, tapi kalau soal perhatian... cuma kamu yang paham."
Di luar pintu, Arga berdiri mematung.
Tangan kanannya yang menggenggam gagang pintu perlahan mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ada rasa sakit yang teramat sangat, menjalar dari dadanya, menusuk hingga ke kepala. Sebuah pengkhianatan dari dua orang terpenting dalam hidupnya, disajikan secara telanjang di depan matanya sendiri, tepat di ambang hari ulang tahun pernikahan mereka.
Airmata tidak menetes dari mata Arga. Untuk seorang pria yang menempa dirinya di kerasnya dunia bisnis, rasa sakit itu terlalu dalam untuk diluapkan dengan tangisan. Rasa sakit itu, dalam hitungan detik, mengeras menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kehampaan yang dingin.
' Bocah malang yang bekerja siang malam demi kamu... ternyata hanya dianggap mesin pencetak uang,' batin Arga. Tatapannya yang tadi penuh kelelahan kini berubah menjadi tajam, kelam, dan tanpa ampun.
Ia bisa saja menendang pintu itu sekarang. Ia bisa saja menghancurkan Reza dengan tangannya sendiri dan mengusir Nabila malam ini juga tanpa membawa apa pun.
Tapi Arga sadar, kemarahan yang meluap-luap hanya akan memberikan mereka jalan keluar yang cepat. Pembalasan yang sesungguhnya tidak boleh emosional. Pembalasan yang sesungguhnya harus disusun dengan rapi, sistematis, dan menghancurkan mereka hingga ke akar-akarnya, tanpa mereka sadari siapa yang sedang menarik tali gantungannya.
Arga merenggangkan pegangannya pada gagang pintu. Secara perlahan, tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun, ia melangkah mundur.
Satu langkah. Dua langkah.
Ia turun kembali ke lantai bawah, berjalan menuju ruang kerjanya, dan menutup pintu rapat-rapat. Dalam kegelapan ruangan itu, Arga duduk di kursi kebesarannya. Ia menyalakan korek api, membakar ujung rokok yang jarang ia sentuh, lalu menatap kotak beludru merah di atas mejanya.
Asupan asap tipis memenuhi udara. Di balik kepulan itu, wajah Arga Pratama tak lagi menunjukkan kehangatan seorang suami. Suami yang mencintai istrinya sepenuh hati telah mati malam ini. Yang tersisa hanyalah seorang pria asing yang dingin—siap memulai permainan paling mematikan dalam hidup mereka.
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt