Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — ANAK SIAPA DIA?
Pertanyaan Lord Vincent menggantung di udara Aula Besar bagai kilat yang menyambar di tengah malam yang tenang. Bisik-bisik yang tadinya mengisi sudut-sudut ruangan mendadak lenyap. Musik simfoni dari galeri atas terdengar makin lambat, seolah para pemusik pun tertahan oleh atmosfer yang tiba-tiba membeku.
Puluhan pasang mata bangsawan—dari para adipati, menteri dewan, hingga para lady berbaju sutra—kini terkunci pada sosok Alena.
Alena berdiri kaku di sudut galeri. Kulit wajahnya memucat, jemarinya menggenggam erat kipas kayu cendana hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa mual akibat kepanikan yang mendadak melonjak membakar dadanya. Di sampingnya, Mira menahan napas, tangannya mengepal di balik gaun pelayan, siap melakukan apa saja jika keadaan memburuk.
"Tampaknya Anda kesulitan menjawabnya, Lady Alena," lanjut Lord Vincent dengan nada bicara yang ramah namun menyengat. Pria itu memutar piala anggur emasnya, menikmati keheningan yang menyiksa tersebut. "Sebagai selir yang berada di bawah naungan anggaran kerajaan, wajar jika dewan mempertanyakan kejelasan silsilah anak tersebut. Apakah dia putra seorang bangsawan lokal? Atau..."
Vincent menggantungkan kalimatnya, menyisakan ruang spekulasi yang liar di benak para hadirin.
Alena menarik napas panjang, memaksa suaranya keluar dari tenggorokannya yang terasa kering bagai padang pasir. "Anak saya adalah Elian Virelle. Dia adalah putra saya, dan kehadirannya di sini adalah atas perintah serta izin resmi dari Ratu Eleanor."
"Kami tidak meragukan titah Baginda Ratu, Nona," sela Vincent kencang, melangkah satu garis lebih dekat untuk terus memojokkan Alena di hadapan publik. "Kami hanya mempertanyakan asal-usul darahnya. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang mendadak muncul di paviliun selir... tentu harus memiliki kejelasan tentang siapa pria yang menanam benih tersebut."
Vincent menunduk sedikit, tatapan matanya berkilat culas saat melontarkan pukulan utamanya.
"Jadi katakan pada kami, Nona Virelle... siapa sebenarnya ayah dari Elian?"
Darah Alena serasa terkuras habis. Pertanyaan itu adalah jerat mematikan. Jika ia menyebutkan kebohongan tentang pedagang biasa di desa, para dewan akan menuntut bukti dokumen yang pasti akan dipalsukan atau diuji oleh orang-orang keluarga Ardent. Namun jika ia terdesak dan tak sanggup menjawab... keraguan publik akan makin membesar, mengarahkan semua kecurigaan pada Putra Mahkota.
Alena memejamkan matanya sekilas. Ia bersiap mengulangi kebohongan tentang pedagang anonim dari Bellmare, membiarkan dirinya dihina dan direndahkan oleh para bangsawan, asal identitas Elian tidak terseret lebih jauh.
"Ayah anak itu adalah—"
"Cukup."
Suara itu tidak dinyaringkan, namun memiliki gema otoritas yang begitu dingin, tajam, dan mutlak hingga sanggup memotong kalimat Alena seketika.
Langkah kaki yang kaku dan berat memecah keheningan Aula Besar. Pangeran Adrian Valerian melangkah keluar dari lingkaran keluarga Ardent, menyusuri karpet merah menuju tempat Alena dan Lord Vincent berdiri. Jubah beludru hitamnya melambai anggun, dan di wajah tampannya terukir ekspresi yang begitu berbahaya hingga para bangsawan di sekitarnya secara refleks melangkah mundur memberi jalan.
Lord Vincent membeku. Tawa culas di bibirnya lenyap seketika begitu melihat mata abu-abu pekat sang Putra Mahkota terkunci tepat pada wajahnya.
Adrian berhenti tepat di antara Lord Vincent dan Alena. Tubuh tegap berzirahnya secara tersirat menjadi perisai yang menutupi Alena dari pandangan para menteri yang haus skandal.
"Pangeran Adrian..." gagap Vincent, membungkuk kaku berusaha menguasai dirinya kembali. "Saya hanya sedang menanyakan hal dasar mengenai protokol—"
"Apakah Dewan Kerajaan kini kehabisan tugas penting hingga seorang anggota dewan senior harus menginterogasi seorang wanita tentang urusan pribadinya di tengah jamuan resmi?" sela Adrian, suaranya merendah menjadi geraman berbahaya yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
"Saya... saya tidak bermaksud buruk, Yang Mulia," sahut Vincent, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya. "Saya hanya memastikan bahwa tradisi dan kesucian lingkungan istana—"
"Kesucian tradisi atau rasa ingin tahu yang tak sopan, Lord Vincent?" potong Adrian lagi, langkahnya maju setengah garis, menunduk menatap Vincent dengan tatapan yang biasa ia gunakan saat menjatuhkan hukuman mati pada pengkhianat perang. "Kedatangan Selir Alena dan putranya telah disetujui oleh Raja dan Ratu. Mempertanyakan keberadaan mereka di tempat ini berarti mempertanyakan keputusan Takhta."
Vincent menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia melirik ke arah Duke Darius Ardent di ujung ruangan, berharap mendapat dukungan dari pemimpin faksinya, namun Duke Darius hanya berdiri membisu dengan raut wajah keras penuh perhitungan.
"Jika Anda masih memiliki pertanyaan mengenai masalah ini, Lord Vincent," lanjut Adrian, suaranya kini bergema ke seluruh penjuru aula, "ajukan pertanyaan itu secara resmi di Ruang Dewan besok pagi. Dan aku sendiri yang akan memastikan Anda mendapatkan jawaban yang pantas."
Ancaman tersirat itu begitu nyata. Lord Vincent menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani lagi menatap mata sang pangeran. "Maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia Putra Mahkota. Saya mundur."
Vincent melangkah mundur terburu-buru, menyusup kembali ke dalam kerumunan bangsawan yang kini berpura-pura sibuk kembali dengan piala dan percakapan mereka.
Aula Besar kembali riuh secara perlahan, namun ketegangan di sudut galeri itu belum berkurang sedikit pun.
Adrian membalikkan tubuhnya perlahan. Ia berdiri membelakangi kerumunan, menatap Alena yang masih berdiri gemetar. Matanya yang berwarna abu-abu pekat memancarkan campuran antara kemarahan pada para menteri dan kelembutan tersembunyi yang ditunjukkannya khusus untuk Alena.
Untuk pertama kalinya di hadapan seluruh istana, Pangeran Adrian secara terbuka dan tanpa ragu berdiri melindungi Alena Virelle.
Alena menatap Adrian dengan dada yang berdegup kencang secara tak teratur. Campuran rasa lega, haru, dan ketakutan yang makin besar bergolak di dalam jiwanya. Tindakan Adrian barusan mungkin telah menyelamatkannya dari penghinaan Vincent, tetapi di saat yang sama, tindakan itu telah mengonfirmasi kecurigaan semua orang: bahwa Putra Mahkota masih sangat memedulikan sang selir baru.
Di sudut lain ruangan, Lady Seraphina Ardent berdiri membeku. Tangannya yang terbalut sarung tangan sutra meremas piala anggur kristalnya hingga jari-jarinya memutih. Wajah cantiknya yang biasa dihiasi senyum anggun kini mengeras, memancarkan amarah dan kebencian yang mendalam saat menyaksikan Adrian berdiri di depan Alena.
"Seraphina," bisik Duke Darius di samping putrinya, suaranya sedingin es. "Wanita itu dan anaknya bukan lagi sekadar masa lalu. Mereka adalah ancaman nyata bagi mahkotamu."
Seraphina tidak menjawab. Matanya tetap terkunci pada Alena, menyunggingkan senyum tipis yang tak lagi menyentuh matanya—sebuah senyuman dingin dari seorang wanita yang baru saja membuat keputusan mematikan.