Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Fisik Penentang Surga
Gema provokasi Zeng Niu memantul di dinding-dinding fosil Bilik Jantung Naga, memecah kekacauan pertempuran menjadi keheningan yang mencekam.
Di atas pelataran tulang yang bersimbah darah, sisa-sisa kultivator dari faksi Langit Selatan yang masih hidup menelan ludah. Mereka menatap pemuda berjubah hitam di pintu masuk dengan pandangan campur aduk antara syukur dan ngeri. Syukur karena pembantaian terhadap mereka terhenti, namun ngeri karena pemuda itu baru saja menantang sepuluh Naga Banjir secara bersamaan!
Di tengah pelataran, wujud setengah naga dari Tetua Ao Shan memancarkan Niat Ascendant Awal yang buas. Mata reptilnya yang berwarna kuning menatap Zeng Niu dengan kebencian mendalam.
"Tetua Ao Shan!" raung Ao Kuang dari atas punggung salah satu naga bawahannya. Pemuda bertanduk naga itu menunjuk Zeng Niu dengan jari gemetar, perpaduan antara ketakutan sisa-sisa di kedai dan arogansi yang kembali tersulut. "Itu dia! Manusia barbar yang mempermalukanku di Kota Puing Naga! Cabut tulang-tulangnya dan sumsumnya!"
Mendengar itu, Ao Shan mendengus hingga mengeluarkan asap panas dari lubang hidungnya.
"Jadi kau semut yang berani merendahkan Klan Naga Banjir?" suara Ao Shan terdengar seperti dua batu giling yang saling bergesekan. "Di dunia luar, kau mungkin bisa menggunakan tipuan atau artefak untuk menekan Tuan Muda kami. Tapi di dalam Istana Naga ini, Qi spiritual fana ditekan hingga batas terendah! Di sini, daging dan darah klan kamilah yang menjadi hukum!"
Ao Shan benar. Di alam rahasia yang memfosil ini, segala bentuk manipulasi elemen menjadi sangat lemah. Sebaliknya, ras naga yang terlahir dengan fisik setara logam surgawi memiliki keuntungan yang menentang surga.
Namun, Zeng Niu hanya tertawa. Tawanya menggema rendah, penuh dengan nada ejekan yang membuat darah Ao Kuang mendidih.
Zeng Niu menyandarkan Nisan Petir Asura-nya di lantai tulang, tidak berniat menggunakan apa pun. Ia merentangkan kedua tangannya, membiarkan otot-ototnya yang memancarkan kilau perak kegelapan berdenyut pelan.
"Daging dan darah kalian adalah hukum?" Zeng Niu memiringkan kepalanya. "Kalau begitu, mari kita lihat hukum siapa yang lebih keras."
"Mencari mati!"
Ao Shan tidak membuang waktu. Tubuh setengah naganya melesat ke depan. Tanpa menggunakan Qi sedikit pun, kecepatan fisik murni Ao Shan menembus penghalang suara, menciptakan ledakan berturut-turut di udara! Cakar naga emasnya yang seukuran gerobak menebas lurus ke arah dada Zeng Niu, berniat membelahnya menjadi dua.
Di pintu masuk, Zhao Ying tidak bergerak. Ia hanya melipat tangannya di depan dada, mata biru jernihnya menonton dengan tenang. Ia tahu betul, bagi pria asura di depannya ini, penekanan Qi bukanlah kutukan, melainkan panggung utama.
BOOOOOOOOOOOOOOOM!
Bentrokan terjadi. Gelombang kejut raksasa menyapu pelataran, menerbangkan puing-puing tulang dan memaksa para kultivator fana yang tersisa terpelanting mundur sejauh puluhan tombak.
Debu fosil perlahan menipis.
Mata Ao Kuang dan naga-naga banjir lainnya melotot seolah hendak melompat keluar dari rongganya.
Di titik benturan, Zeng Niu berdiri tak tergoyahkan, kakinya bahkan tidak bergeser satu inci pun dari posisinya! Tangan kanannya, yang kini sepenuhnya diselimuti pendaran Tulang Perak Asura, telah mencengkeram erat pergelangan cakar naga raksasa milik Ao Shan.
"I-Ini tidak mungkin..." erang Ao Shan, merasakan tangannya terjepit di dalam apa yang terasa seperti geraham penjepit kosmik. Ia mencoba menarik tangannya, namun tenaga pemuda manusia ini layaknya sebuah gunung bintang yang tak bisa digerakkan.
"Fisik Ascendant milik keturunan naga?" bisik Zeng Niu, matanya yang sebelah hitam pekat dan sebelah emas menatap lurus ke mata reptil sang tetua. "Terlalu lembek. Kalian memang hanya kadal air yang kebetulan berenang di kolam yang salah."
Zeng Niu mengencangkan cengkeramannya. Benih Dunia di Dantiannya berputar, memadatkan fisik ke tangan kanannya.
KRAAAAAAAK!
"UAAAAAAARGH!"
Raungan kesakitan yang memekakkan telinga meledak dari mulut Ao Shan. Sisik emas di pergelangannya pecah berhamburan. Tulang tangannya remuk menjadi serpihan di bawah tekanan fisik Zeng Niu!
"Bunuh dia! Serang bersama-sama!" teriak Ao Shan histeris, menyadari bahwa monster di depannya ini memiliki tubuh yang melampaui logika dunia fana.
Kesembilan naga banjir di belakang Ao Kuang mengaum serentak. Mereka meninggalkan wujud manusia mereka sepenuhnya, berubah menjadi sembilan naga raksasa sepanjang puluhan tombak. Dengan rahang terbuka lebar dan cakar yang siap merobek, mereka menerjang Zeng Niu dari segala arah, menciptakan bayangan kematian yang menutupi langit-langit gua.
"Tepat waktu!"
Zeng Niu menyeringai biadab. Ia menendang dada Ao Shan hingga tetua itu terpental mundur memuntahkan darah, lalu tangan kanannya meraih gagang Nisan Petir Asura di lantai.
Tanpa Qi elemen, pedang hitam legam itu menjadi sangat berat. Namun di tangan Tulang Perak Asura, berat itu adalah senjata pemusnah.
Zeng Niu melesat ke udara, menyongsong sembilan naga raksasa itu sendirian!
Zeng Niu mengayunkan pedangnya. Ia tidak melepaskan gelombang pedang, melainkan menghantamkan bilah fisik pedang itu langsung ke leher naga pertama yang mendekat.
CRAT!
Kepala naga sebesar rumah itu terputus dengan sangat rapi, darah biru menyembur layaknya air mancur raksasa!
Zeng Niu tidak berhenti. Ia menjejakkan kakinya di atas mayat naga yang jatuh itu, lalu melompat ke arah naga kedua. Kecepatannya di udara benar-benar absurd, memanfaatkan gaya pantul fisiknya untuk berpindah layaknya kilat hitam.
TRANG! KRAK! ZRAASH!
Simfoni pembantaian bergema di Bilik Jantung Naga. Setiap kali pedang hitam Zeng Niu berayun, sisik naga yang dibanggakan sekukuh logam surgawi hancur seperti kaca murahan. Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, lima naga banjir telah dipotong-potong menjadi tumpukan daging cincang di pelataran tulang.
Darah naga membasahi jubah hitam Zeng Niu, membuat auranya semakin pekat dan mengerikan. Ia menghisap aroma darah naga itu dalam-dalam, membiarkan esensi kehidupan mereka meresap melalui pori-porinya, memanaskan Tulang Perak Asura-nya.
Melihat pemandangan itu, Ao Kuang jatuh berlutut di atas punggung naga terakhir yang masih hidup. Ia buang air kecil di celananya. Ini bukan manusia, ini adalah pemangsa alam semesta yang sedang bermain-main dengan makanannya!
"CUKUP!"
Raungan yang dipenuhi keputusasaan dan kegilaan meledak dari arah tumpukan puing tulang.
Tetua Ao Shan bangkit berdiri. Tangan kanannya yang hancur menggantung lemas, namun mata kuningnya kini berubah menjadi merah darah. Ia merogoh dadanya dengan tangan kiri dan mencabut sebuah sisik (sisik terbalik) miliknya sendiri!
Darah kehidupan memancar dari dadanya. Ao Shan membakar umur dan fondasi Ascendant-nya secara paksa. Otot-ototnya membesar dua kali lipat, dan duri-duri tulang menembus kulit punggungnya. Ia melepaskan sisa-sisa kewarasannya demi mendapatkan kekuatan fisik batas mutlak!
"AKU AKAN MEMBAWAMU KE NERAKA BERSAMAKU, BARBAR SIALAN!" raung Ao Shan, melesat ke arah Zeng Niu seperti komet berdarah. Setiap langkahnya membuat lantai fosil benua naga itu retak!
Melihat tetua Ascendant yang mengamuk dengan fisik yang ditingkatkan melampaui batas, Zeng Niu akhirnya menyarungkan kembali pedangnya ke punggung.
Sang Algojo menurunkan kuda-kudanya, mengepalkan kedua tangannya yang kini memancarkan cahaya perak murni tanpa setitik pun Qi. Urat-urat emas kegelapan di leher dan lengannya berdenyut liar, menyatu dengan ritme Benih Dunia.
"Jika kau ingin adu pukulan... aku akan melayanimu hingga pukulan terakhir."
Ao Shan tiba di hadapan Zeng Niu, melemparkan tinju yang membawa kekuatan untuk menghancurkan sebuah planet kecil.
Zeng Niu menyambutnya dengan tinju kanannya!
BOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!
Benturan dua fisik puncak itu menciptakan ledakan hampa udara yang meratakan tulang-tulang raksasa di sekeliling pelataran menjadi debu. Gelombang kejutnya begitu dahsyat hingga Zhao Ying harus menciptakan perisai es ganda untuk melindungi dirinya.
Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Dua tinju saling beradu di udara.
Lalu... retakan kecil terdengar dari lengan Ao Shan.
Retakan itu menyebar dengan cepat dari buku jarinya, ke sikunya, hingga bahunya. Wajah Ao Shan dipenuhi oleh ketidakpercayaan yang absolut. Ia telah membakar sisik terbaliknya, ia telah mengorbankan fondasinya, namun ia masih kalah dalam adu fisik murni?!
"Ini... pukulan pertamaku," bisik Zeng Niu dengan mata sedingin jurang maut.
Tangan kiri Zeng Niu melesat, meninju tepat di dada Ao Shan, menghancurkan tulang rusuknya.
BAM!
"Pukulan kedua."
Zeng Niu meraih tanduk naga di kepala Ao Shan, menariknya ke bawah, lalu menghantamkan lututnya tepat ke wajah sang tetua!
KRAAAK!
Wajah setengah naga itu hancur berkeping-keping. Tanduk kebanggaannya patah.
Dengan satu putaran tubuh, Zeng Niu melepaskan tendangan yang membawa seluruh massa dari Lautan Ketiadaannya, menghantam dada Ao Shan yang telah hancur.
DUAAASH!
Tubuh Ao Shan melesat ke belakang layaknya peluru meriam, menabrak salah satu pilar tulang penyangga Jantung Naga Primal, lalu meledak menjadi kabut darah! Seorang tetua Ascendant Awal dari Klan Naga Banjir, yang membanggakan fisik naganya, mati tanpa sisa hanya dalam tiga serangan fisik fana!
Keheningan kembali turun. Hanya suara tetesan Sumsum Naga Emas dari atas jantung raksasa yang terdengar memecah kesunyian.
Zeng Niu berdiri di tengah genangan darah, menepuk-nepuk debu dari bahunya. Napasnya sedikit memburu, pertanda bahwa menggunakan fisik murni hingga batasnya memang memakan tenaga, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
Ia memutar tubuhnya, menatap Ao Kuang yang kini meringkuk sendirian, satu-satunya yang tersisa dari kelompok kebanggaan Laut Utara tersebut. Naga tunggangannya bahkan sudah lingsut ketakutan.
Zeng Niu berjalan perlahan menghampiri Tuan Muda itu. Ia tidak membunuhnya seketika. Ia mencengkeram kerah jubah Ao Kuang, mengangkatnya ke udara.
"K-Kau... iblis..." gumam Ao Kuang dengan air mata mengalir dari mata reptilnya.
"Terima kasih atas pujiannya," senyum Zeng Niu. Ia melemparkan Ao Kuang ke tanah, menjejakkan sebelah kakinya di dada pemuda itu.
"Jangan mati dulu, Kadal Kecil," ucap Zeng Niu santai. Ia mendongak ke atas, menatap Sumsum Naga Emas yang menggantung di tengah ruang hampa. "Seperti yang kubilang di awal... Sumsum Emas Naga Primal terlalu ganas jika ditelan mentah-mentah. Untuk memurnikannya, aku butuh pelarut dari garis keturunan murni. Dan kau, sebagai Tuan Muda, pasti memiliki darah yang paling lezat di antara mereka."
Zeng Niu menoleh ke arah Zhao Ying, wajahnya melembut seketika.
"Ying'er, tolong jaga pintu masuk. Jika ada lalat lain yang masuk, bekukan mereka. Aku akan bermeditasi di bawah jantung itu untuk menyerap Sumsum Naga Emas. Evolusi Tulang Emas Asura... akan segera dimulai!"
Di bawah bayang-bayang jantung kaisar purba, Zeng Niu bersiap menelan warisan yang akan mengubah takdirnya, sementara nyawa Ao Kuang akan diperah habis-habisan sebagai perantara persembahan!