"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Dinginnya ubin marmer di teras depan merambat halus hingga ke telapak kakiku, memberikan sensasi sejuk yang sangat bertolak belakang dengan hawa panas terik di luar. Aku berdiri mematung beberapa saat di depan pintu kayu jati berukir raksasa itu, meremas pelan jemari Naya yang makin erat menggenggam tanganku.
Sebelum sempat aku mengetuk, salah satu daun pintu berukir megah itu terdorong terbuka dari dalam.
Seorang wanita paruh baya berwajah teduh keluar menyambut kami. Wanita itu mengenakan pakaian seragam Asisten Rumah Tangga berwarna krem yang sangat bersih dan rapi. Garis-garis senyum di wajahnya memancarkan kehangatan yang jujur sebuah penampakan yang sudah sangat lama tak kujumpai sejak melangkahkan kaki di rumah mertuaku.
"Aduh... ini Mbak Maya, ya?" sapa wanita tua itu ramah, suaranya renyah dan menenangkan. "Ayo, Ayo masuk, Nak. Jangan berdiri di luar, panas."
"Iya, Bu... Saya Maya," jawabku sopan seraya mengangguk hormat.
Namun, belum sempat aku melangkah masuk lebih jauh, pandangan mata wanita paruh baya itu mendadak teralih sepenuhnya kepada sosok mungil di sampingku. Matanya berbinar cerah, dihiasi binar kebahagiaan yang begitu tulus.
"Aduh, Ya Allah... ini anakmu, Mbak?" tanyanya setengah memekik gembira, berlutut di hadapan Naya tanpa ragu. "Cantik banget, sih! Pipi mulus, rambutnya ikal lucu banget!"
Naya yang biasanya pemalu di hadapan orang asing, kali ini justru menyunggingkan senyum tipisnya yang menggemaskan. "Sore, Nek..." bisik Naya pelan.
Mendengar sapaan polos dari Naya, wanita paruh baya itu makin tertawa renyah. Tangan senjanya mengelus lembut kepala Naya dengan kasih sayang yang terasa meluap-luap.
"Aduh, pinter banget! Panggil Nenek, panggil Nenek Nana aja ya, Sayang? Atau panggil Nenek aja, biar makin mesra," ujarnya gembira sebelum kembali berdiri menatapku. "Kenalin, Mbak Maya. Saya Bik Nana, kepala pengurus rumah tangga di sini."
"Saya Maya, Bik Na. Dan ini Naya, putri saya," balasku menyunggingkan senyum ramah yang akhirnya bisa meluncur alami tanpa kepalsuan.
"Ayo masuk, duduk dulu di ruang tamu," ajak Bik Na seraya menuntun kami menuju area dalam rumah.
Langkah kakiku terasa begitu ringan namun dipenuhi rasa takjub yang tak mampu kusembunyikan. Begitu melewati area foyer, kami disambut oleh ruang tamu yang luar biasa luas dan megah. Lampu kristal raksasa menggantung tinggi di langit-langit berukir indah, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh sudut ruangan. Sofa-sofa berbahan kulit premium tertata rapi di atas karpet tebal bernuansa lembut.
Namun, di tengah segala kemewahan yang kasat mata ini, mataku menyadari satu hal yang sangat ganjil.
Di dinding-dinding marmer yang tinggi itu, tak ada satu pun foto keluarga atau foto sang pemilik rumah. Tidak ada potret diri, tidak ada foto wisuda, atau foto kenangan apapun yang biasa menghiasi rumah tinggal pada umumnya. Yang terpajang di sana hanyalah lukisan-lukisan abstrak bermutu tinggi dengan bingkai kayu jati berlapis emas yang sudah pasti berharga ratusan juta rupiah.
Rumah ini sangat indah, sangat megah... namun sekaligus terasa misterius. Siapakah sosok Pak Ibra yang sebenarnya? Mengapa tak ada jejak fisiknya sedikit pun di ruang tamu sesempurna ini?
"Silakan duduk, Mbak Maya, Naya cantik," Bik Nana mempersilakan kami duduk di salah satu sofa empuk. "Bentar ya, Bibi ambilkan minum dan camilan buat Naya dulu."
"Eh, tidak usah repot-repot, Bi..." cegahku sungkan.
"Gak repot sama sekali, Mbak! Rumah ini tuh sepi banget. Ada anak kecil kayak Naya begini malah bikin suasana jadi segar dan rame," sahut Bik Nana cepat seraya berlari kecil menuju area dapur bersih.
Tak sampai tiga menit, Bik Nana kembali membawa nampan berisi jus buah segar, secangkir teh hangat, serta piring kecil berisi kue-kue manis yang langsung membuat mata Naya berbinar.
"Makasih, Nenek Nana," ucap Naya manis sebelum mengambil satu kue kecil atas izin gestur dariku.
Bi Lastri duduk di sofa sebelah kami, menatap Naya yang sedang mengunyah dengan tatapan penuh kehangatan, sebelum akhirnya beralih menatapku penuh keseriusan yang lembut.
"Jadi begini, Mbak Maya..." Bi Na memulai perbincangan. "Bibi sudah baca pesan pesan Mbak Maya kemarin. Soal Mbak Maya yang mau kerja di sini tapi harus bawa anak dan mau tinggal menginap."
Dadaku mendadak berdebar kencang. Ini adalah momen penentuan yang sejak tadi menautkan rasa cemas di kepalaku.
"Iya, Bi..." sahutku pelan. "Saya memang tidak punya tempat tinggal lain yang aman untuk Naya saat ini. Dan saya juga tidak bisa meninggalkan Naya sendirian. Tapi saya janji, Bi... saya akan bekerja keras. Naya anak yang patuh, dia tidak akan mengganggu pekerjaan saya di rumah ini."
Bi Nana tersenyum lembut, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Mbak Maya gak usah cemas," ujar Bi Nana menenangkan. "Malah justru syarat dari Pak Ibra itu sendiri yang mewajibkan pekerja di rumah ini untuk menginap dan tinggal di sini. Beliau butuh orang yang standby dan bisa dipercaya penuh untuk merawat dan menjaga kebersihan rumah ini."
Aku tertegun. "Maksud Bibi... saya diterima?"
"Bukan cuma diterima, Mbak... Bibi malah seneng banget kalau Mbak Maya dan Naya mau tinggal di sini mulai hari ini!" jawab Bi Lastri dengan mata berbinar tulus. "Kamar untuk pekerja menginap ada di area pavilion samping. Kamarnya luas, ada kamar mandi dalam, kasurnya empuk, dan fasilitasnya sangat lengkap. Sangat layak dan aman buat Mbak Maya dan Naya."
Rasa hangat mendadak mengaliri seluruh rongga dadaku. Air mata haru hampir saja lolos dari pelupuk mataku. "Allah sungguh Maha Baik... Di saat aku disingkirkan ke kamar belakang yang sempit dan dihina tak tahu diri oleh mertuaku sendiri, di tempat asing ini aku justru disambut dengan rasa hormat dan fasilitas yang jauh lebih dari layak."
Namun, di balik rasa syukur yang membuncah itu, rasa bingung dan penasaran justru makin menggerogoti pikiranku.
Syarat kerja ini terasa begitu mudah dan tidak memberatkan sama sekali. Gaji yang ditawarkan di dalam pesan kemarin sangat besar, fasilitas tempat tinggal sangat mewah, dan kehadiran Naya yang tadinya kutakutkan akan menjadi penghalang justru disambut dengan tangan terbuka.
"Siapa sebenarnya sosok Pak Ibra ini? Kenapa beliau begitu murah hati memberi ruang bagi seorang ibu tunggal tersingkir seperti diriku?."
"Bi... maaf kalau saya lancang bertanya," panggilku pelan, mencoba menyuarakan rasa penasaranku dengan sangat hati-hati. "Pak Ibra... beliau orangnya seperti apa ya, Bi? Dan... apakah beliau tinggal di rumah ini juga?"
Bi Lastri menyunggingkan senyum yang misterius namun teduh.
"Pak Ibra itu orangnya sangat baik, Mbak. Dermawan, tegas, tapi tidak pernah membedakan status sosial," jelas Bi Nana pelan. "Beliau sangat sibuk dengan bisnisnya di luar kota dan luar negeri, jadi jarang berada di rumah ini. Rumah ini lebih sering kosong, hanya ada Bibi dan beberapa staf keamanan di luar. Jadi Mbak Maya tidak usah merasa canggung atau takut."
Aku mengangguk-angguk pelan, menyerap setiap informasi itu. Penjelasan Bi Lastri sedikit menjawab rasa penasaranku, meski sosok Pak Ibra masih tetap menjadi teka-teki besar di kepalaku.
"Jadi bagaimana, Mbak Maya?" tanya Bi Nana penuh harap. "Bisa mulai pindah dan kerja hari ini? Biar Bibi bantu bawakan barang-barang kalian ke kamar pavilion."
Aku menarik napas panjang, menatap Naya yang sedang menikmati jus buahnya dengan tenang.
Hati kecilku sangat ingin mengiyakan detik ini juga. Aku ingin langsung angkat kaki dan tidak pernah kembali lagi ke rumah mertuaku yang beracun itu. Namun, akal sehat dan prinsip hidupku menahanku.
Aku masih seorang istri sah dari Bayu.
Berapapun sakit hati yang kurasakan atas sikap pasrah Bayu dan perlakuan tajam mertuaku, aku tidak boleh pergi begitu saja seperti seorang pencuri atau wanita yang melarikan diri tanpa kejelasan hukum. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Bayu terlebih dahulu. Aku harus menatap matanya, menanyakan dengan tegas dan dingin: Mau dibawa ke mana hubungan rumah tangga kita ini?
Jika Bayu memilih untuk tetap menjadi anak yang tunduk pada kezaliman ibunya dan menelantarkan hak istri serta anaknya, maka aku akan meminta kepastian perpisahan secara terhormat. Aku ingin melangkah ke rumah Pak Ibra ini dengan status yang bersih dan hati yang benar-benar lepas dari masa lalu.
"Bi Nana... terima kasih banyak atas kebaikan dan penerimaan Bibi yang sangat hangat ini," ucapku jujur, menatap mata Bi Lastri dengan pandangan mantap. "Saya sangat bersyukur dan menerima pekerjaan ini dengan senang hati."
Raut wajah Bi Lastri memancarkan kelegaan. "Alhamdulillah..."
"Tapi, Bi..." lanjutku pelan. "Saya belum bisa langsung bekerja dan menginap di sini hari ini."
Bi Lastri agak terkejut, namun dahinya tidak berkerut marah. "Oh ya? Ada urusan yang belum selesai ya, Mbak?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, Bi. Ada hal penting dalam hidup saya yang harus saya tuntaskan terlebih dahulu hari ini atau besok. Saya harus bicara dengan suami saya... mengenai kepastian masa depan rumah tangga kami. Saya tidak mau bekerja di sini dalam keadaan pikiran yang terbagi atau meninggalkan masalah yang menggantung."
Mendengar penjelasanku, Bi Nana tidak menunjukkan raut wajah kecewa sedikit pun. Sebaliknya, pandangan matanya justru makin teduh dan sarat akan rasa simpati yang mendalam seolah-olah beliau bisa membaca beban berat yang sedang kupikul di balik ketenanganku.
Bi Nana tersenyum hangat, mengusap punggung tanganku yang tergelar di atas meja.
"Gak apa-apa, Mbak Maya... Bibi sangat mengerti," ujar Bi Nana lembut. "Soal kamu mau mulai kerja hari ini, besok, ataupun lusa... terserah Mbak Maya. Yang penting, kamu dan Naya sudah resmi diterima di rumah ini. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar kapan pun Mbak Maya siap untuk datang dan menginap."
Kata-kata Bi Nana bagaikan penawar dahaga di tengah padang pasir. Rasa dihargai dan dihormati sebagai seorang manusia kembali meresap ke dalam jiwaku.
"Terima kasih banyak, Bi... Terima kasih banyak," bisikku tulus, menahan getaran haru di tenggorokan.
Bi Nana mengangguk ramah, lalu membelai rambut Naya sekali lagi. "Bibi tunggu ya, Nak. Nanti kalau sudah ke sini lagi, Nenek bakal masakkan makanan paling enak buat Naya."
"Asyik! Makasih, Nenek!" seru Naya gembira.
Aku menyunggingkan senyum tipis. Langkahku sudah mantap, keputusanku sudah bulat. Tempat ini adalah masa depanku dan Naya. Dan kini, saatnya aku kembali ke rumah mertuaku untuk menghadapi pertempuran terakhir menagih kepastian dari Bayu dan memutuskan rantai ketidakadilan yang selama ini mengurung hidupku.