Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan di Ujung Malam
Malam itu, studio DKV lantai dua sudah sangat sepi. Hanya ada Anya dan Ririn yang duduk di hadapan meja hias komunal yang dipenuhi berkas-berkas adendum kontrak dari Baskoro Group. Udara malam Surabaya yang hangat berembus malas melalui jendela selasar yang terbuka separuh, membawa sayup-sayup deru kendaraan dari jalan protokol di bawah sana.
"Jadi... kita beneran harus pindah ke Jakarta, Nya?" Ririn memecah keheningan, suaranya terdengar cemas saat menatap lembar demi lembar berkas bermeterai di hadapan mereka. "Anak-anak tim tadi sore heboh banget waktu aku kasih tahu. Di satu sisi mereka senang karena semua biaya akomodasi di hotel mewah Jakarta ditanggung penuh. Tapi di sisi lain... mereka takut kalau proyek ini tiba-tiba batal di tengah jalan kalau kita menolak."
Anya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja kayu, menatap langit-langit studio dengan pandangan kosong yang teramat dalam. Pakaian kuliahnya yang feminin kini tampak sedikit kusut setelah seharian menahan luapan emosi. Surat dari Joana dan panggilan kritis dari Mamanya kemarin seolah bersekongkol dengan siasat kejam Edgard untuk menariknya kembali ke pusat luka lama itu bermula.
"Kita tidak punya pilihan lain, Rin," ucap Anya akhirnya, suaranya mengalun bariton, tenang, namun sarat akan kepasrahan yang membeku. "Jika aku menolak menandatangani adendum ini demi egoku sendiri, masa depan pameran angkatan kita dan dana hibah laboratorium komputer kampus akan hangus. Edgard Baskoro tahu persis cara mengunci ruang gerakku menggunakan tanggung jawab profesional tim."
Anya menegakkan tubuhnya, meraih pulpen hitam di atas meja, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas meterai adendum kontrak dengan satu gerakan mantap tanpa keraguan. Dinding harga diri di dadanya kembali mengeras.
"Beri tahu anak-anak untuk mengemasi seluruh maket digital dan perlengkapan studio malam ini," titah Anya dingin, menatap Ririn dengan sepasang mata indahnya yang tidak menyiratkan ketakutan sedikit pun. "Kita berangkat ke Jakarta besok sore. Aku akan membuktikan pada Edgard... bahwa memindahkan tempat proyek ini ke Jakarta tidak akan pernah bisa mencairkan perisai yang sudah dia buat sendiri di hatiku."
Keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, Anya berjalan melintasi koridor lantai dua gedung rektorat lama menuju ruang rapat darurat Edgard. Dia melangkah dengan keanggunan seorang wanita dewasa yang seksi dan berkarakter kuat. Blus rajut pas badan sewarna gading dan rok denim span hitamnya membingkai siluet tubuh proporsionalnya setinggi 165 cm dengan sempurna. Rambut panjang lurusnya yang hitam cerah tergerai rapi melewati tas ransel kulit hitam di pundaknya.
Anya mendorong pintu ruang rapat tanpa mengetuk, lalu meletakkan berkas adendum yang sudah ditandatangani di atas meja marmer panjang, tepat di hadapan Edgard Baskoro yang sedang duduk memeriksa berkas eksekutif pusat.
Brak.
Edgard mendongak perlahan. Struktur wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas khas keturunan oriental-modern mirip Daniel Henney tampak sedikit tertegun. Sepasang mata elangnya menatap map di hadapannya, lalu beralih mengunci pandangannya pada wajah cantik Anya. Ada binar kelegaan bercampur rasa bersalah yang teramat dalam di sorot mata pria itu.
"Terima kasih sudah bersikap profesional, Nona Anya," ucap Edgard dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat lembut, menghilangkan seluruh keangkuhan topeng bisnisnya. "Tiket pesawat untuk seluruh tim inti Anda sudah diatur oleh Siska untuk penerbangan jam empat sore nanti. Sebuah hotel bintang lima di dekat kantor pusat Sudirman sudah siap menyambut kalian."
Anya tidak duduk. Dia bersandarkan pinggiran meja marmer dengan kedua tangan yang dilipat di dada, menatap Edgard dengan senyum sinis yang tipis. "Anda tidak perlu berlagak ramah, Pak Edgard. Saya menerima adendum ini murni demi masa depan akademis tim saya, bukan karena saya tunduk pada permainan ego Anda. Jakarta mungkin adalah wilayah kekuasaan bisnis Anda, tapi di sana... saya tetaplah ketua tim yang tidak akan pernah sudi memberi Anda celah personal apa pun."
Anya berbalik dan berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah kaki yang mantap, meninggalkan sisa wangi bunga lili yang dewasa di udara ruangan yang dingin. Edgard berdiri dari kursinya, menatap pintu yang tertutup rapat dengan helaan napas pendek yang sarat akan penyesalan. Dia tahu Anya membencinya karena pemaksaan ini, namun di dalam hatinya yang membeku, Edgard bersumpah akan menggunakan waktu satu bulan di Jakarta ini untuk menebus seluruh dosa masa lalunya, melindungi keluarga Bramantyo yang sedang hancur, dan meruntuhkan perisai dingin di hati sang mantan pengagum rahasia dengan tangannya sendiri.
semangat nulisnya 💪