Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
Hari demi hari terus berlalu.
Tanpa terasa, sudah tiga puluh hari sejak kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Siska.
Berita duka itu memang sempat menjadi bahan pembicaraan hangat di seluruh penjuru Kota A. Banyak orang merasa terharu dan kasihan karena Siska meninggal tepat di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, seperti kebanyakan peristiwa tragis lainnya, pusaran waktu perlahan membuat orang-orang kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Begitu pula dengan sanggar milik Anindiya.
Kesibukan kembali membanjiri tempat itu setiap hari. Jadwal merias pengantin makin padat merayap, bahkan beberapa calon pengantin baru harus rela mengantre berbulan-bulan hanya demi mendapat jadwal kosong.
Nama Anindiya makin melambung tinggi. Banyak pelanggan datang karena rekomendasi mulut ke mulut dari orang-orang yang merasa puas dengan jasanya. Bagi Anindiya, semua pencapaian ini adalah buah dari kerja keras dan dedikasi yang sudah ia perjuangkan bertahun-tahun.
Pagi itu, suasana sanggar kembali hidup dan ramai. Beberapa pelanggan sedang sibuk mencoba kebaya, sementara yang lain berdiskusi mengenai konsep riasan wajah.
Di dalam ruang kerja, Anindiya sedang membuka buku agenda tebal yang penuh dengan deretan catatan. Ia menghitung satu per satu daftar pekerjaan yang harus diselesaikan minggu ini.
Tepat lima hari lagi, ada satu pekerjaan besar yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Ia harus melakukan perjalanan ke Kota C untuk merias seorang calon pengantin bernama Lestari.
Pesanan rias itu sudah dikunci hampir enam bulan yang lalu. Saat pertama kali melangkah masuk ke sanggar, Lestari langsung jatuh hati pada gaun pengantin putih gading yang berdiri anggun di ruang koleksi. Tanpa sudi melirik gaun-gaun lainnya, ia langsung menunjuk gaun tersebut untuk dikenakan di hari bahagianya.
Kala itu, Anindiya sempat menawarkan beberapa pilihan gaun lain yang tak kalah mewah. Namun, Lestari tetap bersikeras pada pilihan pertamanya. Bagi Lestari, gaun itu memiliki daya tarik magis yang berbeda—ada sesuatu yang membuat matanya terkunci dan tak bisa berpaling.
Sejak hari itu, jadwal penyewaan gaun tersebut langsung dicatat khusus atas nama Lestari.
Anindiya menutup buku agendanya seraya tersenyum puas. Ia merasa seluruh persiapan sudah hampir matang sempurna. Gaun sudah selesai dibersihkan, aksesori pendukung juga sudah lengkap tersusun. Ia hanya perlu memastikan seluruh peralatan rias siap diangkut nanti.
Di luar ruang kerja, Rina sedang sibuk menata kotak-kotak kosmetik. Gerak-gerik tubuhnya memang sudah tampak normal seperti sedia kala. Namun, raut wajahnya belum benar-benar kembali ceria.
Sejak malam mengerikan ketika ia diteror oleh sosok perempuan bermata hitam di kamarnya, Rina tak pernah lagi berani menginjakkan kaki sendirian di ruang koleksi. Jika terpaksa harus masuk ke sana, ia selalu memastikan ada Anindiya atau pelanggan yang mendampinginya.
Ketakutan itu masih menancap dalam di dadanya.
Beberapa kali mata Rina melirik cemas ke arah manekin kayu yang memajang gaun pengantin putih gading itu. Tampaknya masih sama seperti biasanya—bersih, mewah, dan sangat indah. Tak ada yang aneh.
Namun, setiap kali bola matanya menangkap siluet gaun itu, dada Rina selalu terasa sesak dan berat. Entah mengapa, ia yakin betul bahwa gaun itu menyimpan rahasia kelam yang belum mereka ketahui.
Menjelang siang, Anindiya keluar dari ruang kerjanya seraya membawa buku agenda. Ia meminta Rina untuk memeriksa ulang seluruh kelengkapan barang untuk perjalanan ke Kota C.
Rina mengangguk pelan. Tanpa banyak bertanya, ia mulai mencatat daftar barang yang wajib dibawa:
Kotak kosmetik utama
Hair dryer dan catokan
Mahkota dan veil penutup wajah
Sepatu pengantin
Dan tentu saja... gaun pengantin putih gading itu.
Saat goresan penanya menuliskan nama gaun tersebut, jemari Rina mendadak terhenti kaku. Perasaan tidak enak kembali menyeruak meremas dadanya.
Seketika bayangan wajah pucat Siska yang tewas berdarah-darah berkelebat di benaknya. Disusul oleh desis bisikan dingin dari perempuan bermata hitam yang tak henti-hentinya menuntut agar gaunnya dikembalikan.
Rina menghembuskan napas panjang yang terasa berat. Sempat terlintas di pikirannya untuk kembali memperingatkan Anindiya. Namun, niat itu buru-buru ia kubur dalam-dalam. Ia sudah tahu pasti jawaban atasannya—Anindiya akan tetap menganggap semua kejanggalan ini sebagai kebetulan belaka.
Karena itu, Rina memilih untuk tetap bungkam.
Sore harinya, sanggar kembali kedatangan tamu. Salah satunya adalah Lestari yang datang ditemani ibunya. Mereka hadir untuk melakukan pengecekan ukuran terakhir pada gaun pengantin tersebut.
Begitu melangkah masuk ke ruang koleksi, raut wajah Lestari langsung berbinar bahagia. Ia berjalan mendekati manekin dengan senyuman lebar.
"Masih secantik waktu pertama kali aku lihat," puji Lestari seraya mengusap lembut bagian renda gaun tersebut dengan tatapan penuh kekaguman.
Ibunya yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum hangat. "Gaunnya memang kelihatan anggun sekali, Nak."
Anindiya merasa sangat bangga mendengarnya. Ia dengan sigap membantu Lestari mencoba gaun tersebut di ruang ganti untuk memastikan ukurannya tetap pas di badan.
Beberapa menit kemudian, Lestari keluar dari ruang ganti. Gaun putih gading itu melekat begitu sempurna di tubuhnya. Semua orang yang ada di ruangan itu refleks melontarkan pujian.
Lestari berdiri memandangi dirinya di depan cermin besar seraya tersenyum bahagia. Wajahnya dipenuhi oleh harapan manis. Tepat lima hari lagi, ia akan mengikat janji suci dengan pria yang sudah bertahun-tahun menemaninya. Ia membayangkan hari itu akan menjadi momen paling indah sepanjang hidupnya.
Anindiya ikut merasakan kepuasan yang luar biasa. Sebagai seorang perias pengantin, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat calon pengantin tersenyum puas menatap dirinya sendiri.
Namun, pemandangan berbeda ditunjukkan oleh Rina. Ia justru menatap pantulan cermin itu dengan raut wajah kaku dan tegang.
Entah hanya ilusinya atau bukan...
Sesaat, Rina melihat ada bayangan perempuan lain yang amat pucat berdiri kaku tepat di belakang tubuh Lestari!
Bayangan itu hanya tampak sekilas dalam hitungan detik, lalu menguap begitu saja.
Rina berkedip beberapa kali seraya mengucek matanya. Ketika ia melihat cermin itu kembali, pantulannya sudah tampak normal seperti biasa. Rina tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menundukkan kepala dalam-dalam, merasakan detak jantungnya yang berpacu liar karena panik.
Setelah seluruh urusan pengecekan tuntas, Lestari dan ibunya berpamitan pulang dengan wajah berseri-seri. Dari balik pintu sanggar, Anindiya masih sempat melambaikan tangan seraya melemparkan senyum ramahnya. Ia benar-benar merasa bahagia melihat calon pengantinnya begitu bersemangat menyambut hari pernikahan.
Sementara itu, mobil yang ditumpangi Lestari perlahan-lahan bergerak menjauh dan menghilang di ujung persimpangan jalan.
Tak ada satu orang pun di sanggar itu yang menyadari...
Bahwa sejak Lestari mengenakan gaun pengantin itu beberapa saat lalu...
Garis takdir hidupnya perlahan-lahan telah mulai bergeser.
Di balik kebahagiaan manis yang memenuhi dadanya...
Bayang-bayang maut secara diam-diam telah mulai mengekor di setiap langkah kakinya.
Dan kini, waktu hanya menyisakan lima hari lagi...
Sebelum kutukan gaun pengantin itu kembali bangkit untuk merenggut tumbal berikutnya.