NovelToon NovelToon
Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Sistem Raja Wisata: Gunung Legendaris Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suara gemuruh ribuan langkah kaki terdengar menderu seperti gempa bumi berskala kecil.

Tap tap tap.

Antrean pengunjung mengular panjang dari depan loket karcis hingga nyaris mencapai pertigaan jalan aspal di bawah.

"Bos, tanganku sudah hampir mati rasa menyetempel tiket ini!" keluh Siska dengan keringat yang bercucuran deras.

Jari-jarinya bergerak secepat kilat untuk memisahkan uang kembalian dan menyobek kertas karcis lama yang tersisa.

Rizky tidak kalah sibuk di sebelahnya, menerima tumpukan uang tunai yang semakin menggunung di atas meja.

"Bertahanlah Siska, kita tidak boleh membiarkan pergerakan antrean ini terhenti."

"Mas admin, tolong cepat sedikit kerjanya, anak saya sudah tidak sabar mau lihat jembatan awannya!" teriak seorang bapak dari barisan paling depan.

"Iya Mas, kami sudah menempuh perjalanan tiga jam dari kabupaten sebelah khusus untuk kemari!" sahut pengunjung lainnya bersahutan.

Srek srek.

Kertas karcis terus berpindah tangan tanpa henti selama dua jam penuh.

Rizky dan Siska bahkan tidak memiliki waktu satu detik pun untuk sekadar meminum air mineral mereka.

Sementara itu, suasana di dalam kawasan wisata sudah berubah total menjadi lautan manusia yang sangat riuh.

Suara decak kagum terdengar bergema dari setiap sudut Gunung Sumber Abadi.

Wushhh.

Aroma lavender dari Toilet Bintang Lima membuat banyak pengunjung rela mengantre hanya untuk menumpang cuci muka di dalamnya.

"Gila, toilet umum di gunung ini lebih mewah dan bersih dari kamar tidurku sendiri," puji seorang remaja laki-laki sambil menatap kaca wastafel.

Namun pusat perhatian utama tentu saja terbagi menjadi dua titik atraksi besar.

Kolam Air Terjun Pelangi dipenuhi oleh ratusan pengunjung yang berebut menampung air jernih berkilau itu.

"Istriku, coba kamu minum air ini, rasa pegal di pinggangku langsung sembuh seketika tanpa sisa!" teriak seorang bapak kegirangan.

Byurrr.

Suara percikan air terdengar sangat merdu berpadu harmonis dengan tawa kebahagiaan para pengunjung.

Di sisi timur tebing, jeritan ketakutan dan takjub bercampur menjadi satu suara riuh yang mendebarkan.

"Tolong pegangi tanganku erat-erat, aku takut jatuh tembus ke bawah awan itu!" jerit seorang gadis remaja di atas Jembatan Kaca di Atas Awan.

Lantai kaca bening di bawah kaki mereka menampilkan lautan kabut awan buatan yang terus berputar perlahan melawan arah angin.

Ilusi seolah melayang di langit itu membuat banyak orang harus merangkak maju karena lutut mereka gemetar sangat hebat.

"Ini benar-benar terasa seperti sedang berjalan di atas surga," ucap seorang fotografer tua sambil terus menekan tombol bidik kameranya.

Cekrek cekrek.

Kembali ke loket karcis, sebuah mobil van hitam mewah akhirnya berhasil merangsek maju menembus kerumunan pejalan kaki.

Cittt.

Pintu samping mobil van itu terbuka lebar dan menampilkan tiga orang pria berpakaian sangat modis.

Seseorang di antara mereka membawa tongkat penyangga kamera besar dan sebuah pesawat tanpa awak pelacak di tangannya.

"Halo semuanya, kembali lagi dengan Riko Si Penjelajah Wisata," sapa pria berbaju modis itu berbicara santai ke arah lensanya.

"Hari ini kita akan membuktikan bersama apakah tempat wisata baru yang sedang viral ini benar-benar sebagus kata orang-orang."

Riko adalah salah satu pembuat konten wisata terbesar di negara ini dengan pengikut setia mencapai lima juta orang.

Kedatangannya secara mendadak langsung membuat beberapa pengunjung remaja berteriak histeris meminta kesempatan berfoto bersama.

"Wah ada Kak Riko, Kak Riko minta foto bareng dong!" teriak sekelompok remaja putri sambil melambai-lambaikan ponsel mereka.

Riko hanya tersenyum sangat ramah melambaikan tangan lalu berjalan tenang mendekati meja loket karcis.

"Selamat siang, saya Riko, apakah saya dan tim saya bisa masuk untuk meliput tempat wisata ini?" tawar Riko dengan nada profesional dan sopan.

"Tentu saja sangat bisa Kak Riko, harga tiket masuknya tetap lima puluh ribu rupiah per orang," jawab Rizky dengan suara yang sudah mulai serak.

Riko mengeluarkan dompet kulit tebalnya dan membayar tiket untuk seluruh anggota timnya tanpa menawar sedikit pun.

"Saya dengar ada jembatan kaca baru yang sangat indah di sini, apakah lokasinya cukup aman untuk diterbangi drone?" tanya Riko memastikan.

"Sangat aman, tapi tolong jangan menerbangkannya terlalu dekat dengan wajah atau kepala pengunjung yang lain," pesan Rizky tersenyum ramah.

Rombongan Riko langsung berjalan masuk ke dalam dan menambah daftar panjang promosi gratis berskala besar untuk Gunung Sumber Abadi.

Rizky menyeka butiran keringat di dahinya menggunakan lengan bajunya yang sudah basah kuyup.

Ding!

[Peringatan Sistem!]

[Jumlah pengunjung di dalam area wisata telah menembus angka batas aman kapasitas awal.]

[Fasilitas kebersihan dan tempat sampah mulai terpantau tidak memadai di berbagai titik.]

[Host disarankan untuk segera melakukan penambahan fasilitas dasar dan merekrut lebih banyak staf lapangan.]

Rizky membaca peringatan darurat dari sistem itu dengan kening yang langsung berkerut dalam.

"Sistem benar, kita kekurangan tempat sampah, dan Siska tidak mungkin bisa menjadi kasir selamanya," batin Rizky sambil melihat sekeliling.

Rizky melirik ke arah tumpukan uang tunai di laci mejanya yang kini sudah tidak muat lagi untuk ditutup rapat.

Uang pecahan lembaran seratus ribu dan lima puluh ribu berceceran tidak beraturan hingga jatuh ke lantai kayu loket.

"Bos, karcis kertas sisaan kita sudah habis total tidak tersisa satu lembar pun," lapor Siska dengan suara yang terdengar putus asa.

"Gunakan stempel pariwisata yang ada di laci bawah itu, langsung cap saja di punggung tangan mereka yang sudah menyerahkan uang," instruksi Rizky mengambil keputusan cepat.

"Ide yang sangat bagus Bos, ini jauh lebih cepat daripada harus terus menyobek dan merapikan kertas."

Siska mengambil bantalan tinta biru dan mulai mengecap punggung tangan setiap pengunjung yang menyodorkan uang tunai kepadanya.

Tuk tuk tuk.

Ritme pekerjaan mereka berdua menjadi sedikit lebih cepat meskipun panjang antrean di luar sana masih belum terlihat ujungnya.

Suara bising klakson mobil dari arah bawah terus bersahutan membuat suasana siang itu terasa semakin panas dan mendebarkan.

"Pak polisi, tolong atur jalan di pertigaan bawah, macet total semua mobil tidak bisa bergerak di sana!" keluh seorang pengunjung pria yang baru saja sampai di depan loket.

Rizky sedikit terkejut mendengar kata polisi disebut secara langsung oleh pengunjung tersebut.

"Apakah polisi dari kecamatan sudah benar-benar turun tangan untuk mengatur lalu lintas di bawah sana Bapak?" tanya Rizky penasaran.

"Sudah Mas, kepala desa yang langsung menelepon mereka karena jalan raya antar desa lumpuh total akibat antrean kendaraan ini," jawab pengunjung itu dengan napas ngos-ngosan.

Rizky hanya bisa tersenyum masam membayangkan kemarahan warga desa dan Juragan Darma yang jalannya kini tertutup secara sah.

Namun dia sama sekali tidak peduli, ini adalah bukti nyata dari kemenangan telaknya atas status kebangkrutan yang ditimpakan keluarganya dulu.

"Paman Budi dan Bibi Maya pasti akan langsung terkena serangan jantung mendadak jika melihat liputan berita nasional hari ini," batin Rizky penuh kepuasan sambil terus menerima uang.

Kembali ke dalam area wisata, Riko Si Penjelajah Wisata mulai bersiap menerbangkan drone canggih miliknya dari tepi jurang timur.

Ngeenggg.

Suara putaran baling-baling drone memecah udara siang dan melesat terbang tinggi ke arah posisi Jembatan Kaca di Atas Awan.

Riko menatap tajam layar pemantau di alat pengendalinya dengan posisi mulut yang menganga lebar karena takjub.

"Teman-teman penonton setia, kalian semua harus melihat keindahan ini sendiri dari sudut pandang atas," ucap Riko dengan suara bergetar menahan haru.

"Kombinasi awan yang terus berputar lembut di bawah jembatan kaca ini tidak terlihat seperti buatan manusia sama sekali."

"Desain jembatan besinya sangat futuristik namun tetap terasa menyatu dengan alam secara sempurna."

Tim kameramen Riko di sisi lain juga sangat sibuk merekam reaksi alami para pengunjung yang sedang berebut meminum air dari Air Terjun Pelangi.

"Permisi Ibu, bagaimana rasanya setelah meminum langsung air dari kolam terjun itu?" tanya kameramen Riko menyodorkan mikrofon kecilnya.

"Sangat luar biasa Mas, sakit rematik saya yang sudah lima tahun tiba-tiba saja hilang begitu saja dari tubuh saya!" jawab ibu itu dengan wajah antusias dan bahagia.

Riko memutar kembali rekaman dari kameramennya dan menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan semua fenomena keajaiban di depan matanya.

"Siapa pun pemilik tempat wisata ini, dia pasti adalah seorang jenius yang telah berhasil menyembunyikan sekeping surga di sebuah desa kecil," puji Riko sambil menatap langsung ke arah lensa kamera.

Pujian jujur dari tokoh seterkenal Riko ini sudah pasti akan membawa gelombang ombak pengunjung yang jauh lebih gila lagi pada esok hari.

Waktu terus bergulir tanpa ampun hingga matahari akhirnya mulai condong jatuh jauh ke arah ufuk barat.

Warna langit yang tadinya biru terang bersih perlahan berubah menjadi semburat jingga kemerahan yang menenangkan.

Sebagian besar rombongan pengunjung akhirnya mulai berjalan keluar dari area gerbang wisata dengan wajah yang terlihat sangat puas dan segar.

"Terima kasih atas kunjungannya hari ini, hati-hati di jalan saat perjalanan pulang ya," sapa Siska dengan suara serak dan parau kepada setiap pengunjung yang keluar.

Gadis berambut sebahu itu sudah nyaris tidak memiliki tenaga fisik lagi bahkan untuk sekadar berdiri tegak di tempatnya.

Rizky menutup kaca loket depan secara perlahan tepat saat langit benar-benar menjadi gelap dan dipastikan tidak ada pengunjung baru yang naik.

Kriet.

"Selesai juga akhirnya ujian penderitaan yang sangat manis hari ini," ucap Rizky sambil langsung merebahkan punggungnya di atas lantai kayu loket.

Siska ikut menjatuhkan diri dan duduk bersandar di dinding dengan napas yang masih terdengar terengah-engah kelelahan.

"Bos, kita sangat butuh mesin tiket elektronik dan lebih banyak orang untuk membantu kita besok pagi," keluh Siska sambil memijat lengan kanannya yang pegal.

"Aku sangat tahu hal itu Siska, aku akan segera memasang lowongan kerja terbuka di internet malam ini juga."

Ding!

[Pemberitahuan Sistem!]

[Rekapitulasi pencapaian Hari Pertama Arc 2 sedang dihitung dan dievaluasi.]

[Total pengunjung harian hari ini berhasil mencapai angka luar biasa, yaitu lima ribu dua ratus orang.]

[Menyiapkan Hadiah Transisi Arc Besar secara khusus untuk Host.]

Rizky tersenyum sangat lebar menatap deretan notifikasi sistem yang melayang di udara tersebut.

Hari kekacauan massal ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa dia telah berhasil melangkah masuk ke dalam liga bisnis pariwisata yang sesungguhnya.

1
Eka Yudha
Bagus sih meskipun fiksi tapi ceritanya hidup
Rifqy Channel
kak nissa segera update ini gue suka pokoknya sampe 100 Bab pun gak apa-apa karena suka bangett
Nissa Safira: terima kasih kak atas dukungannya🙏
total 1 replies
Rifqy Channel
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!