“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
“Lima puluh juta?” suara Bu Sumi bergetar, antara tak percaya dan tamak yang mendadak menyala. “Dari mana tukang ojek kayak kamu punya uang segitu?”
Yuda menatapnya tenang. “Itu bukan urusan siapa-siapa, Bu.”
Dewi bangkit setengah berdiri. “Bohong! Pasti utang! Atau hasil nipu! Mana mungkin—”
“Dewi.” Pak Hasto memotong tegas. “Ini akad. Jaga mulutmu.”
"Tapi... Lima puluh juta loh, Yah. Itu bukan uang yang sedikit."
"Kenapa, Nona Manis? Kau tergoda buat jadi pengantinnya?" ledek Bastian dengan senyum miring.
Dewi langsung menoleh, "Kamu! Kamu yang bawa uang itu, kan? Dari mana uang itu? Apa kamu yang kasih pinjam?"
"Oh, tentu saja tidak," elak Bastian dengan gaya songongnya melipat tangan di dada dan bersandar di kursi. "Dia punya banyak sekali uang. Menikahlah dengannya biar tau."
Yuda langsung melirik temannya itu. Tapi, Bastian seperti punya rencana sendiri.
"Cih! Najis! Kamu pikir bisa menjebakku hanya dengan uang lima puluh juta?" ujar Dewi makin merendahkan. "Coba pikir pake logika, dari mana tukang ojek bisa punya uang puluhan juta. Paling juga jadi pengedar."
"Hati-hati dengan bicaramu, Mbak. Aku bisa menuntut," ancam Yuda datar. Terlalu datar, namun sukses buat Dewi meneguk ludahnya lebih susah.
Dewi melengos.
Penghulu berdehem, berusaha menetralkan suasana. “Baik, kita lanjutkan saja. Mas Yuda, mahar berupa uang tunai lima puluh juta rupiah sudah sesuai kesepakatan?”
“Sudah,” jawab Yuda mantap.
Ning menunduk. Ia sendiri juga kaget tiba-tiba Yuda kasih mahar sebesar itu. Ia juga bertanya-tanya, dari mana seorang tukang ojek seperti Yuda bisa punya uang sebanyak itu. Namun, dia tak menduga hal yang buruk seperti Dewi dan Bu Sumi. Ia percaya, Yuda seorang yang baik. Ada banyak cara untuk memiliki uang sebanyak itu. Menabung misalnya, atau ia punya usaha sampingan.
Akad berjalan singkat, sederhana, nyaris tanpa senyum dari sebagian orang di ruangan itu. Ketika lafaz ijab kabul terucap lancar, napas Ning seolah kembali ke paru-parunya. Sah. Satu kata itu menggema, menutup satu bab yang terlalu lama menindih dadanya.
“Alhamdulillah,” ucap Pak Hasto lirih. Ada basah di sudut matanya.
Dewi mendengus. “Sah ya sah. Bawa saja dia pergi cepat-cepat.”
Yuda berdiri. Ia menunduk sopan pada penghulu, lalu berbalik menghadap keluarga itu. Suaranya tenang, tapi setiap katanya seperti dipaku satu-satu. “Terima kasih sudah jadi saksi. Mulai malam ini, Ning tanggung jawab saya.”
Dewi tertawa pendek."Tidak usah sok-sokan, bawa saja dia pergi cepat!"
"Tunggu! Tidak bisa langsung main pergi saja!" Bu Sumi tiba-tiba membuka suara.
Semua mata melihat ke arah Bu Sumi.
"Jangan kamu pikir ini selesai begitu saja."
"Sumi!" Pak Hasto setengah menegur. "Apa lagi maumu?"
"Dia... Sudah tinggal di sini dari bayi. Kami yang kasih makan, kami juga yang sekolahkan dia. Jadi, kalian harus membayar ganti."
Pak Hasto terkejut, "Apa? Sumi! Apa-apaan kamu ini!?"
"Mas! Sudah cukup kamu membela dia! Kita sudah habis-habisan buat anak pembawa sial itu! jadi sudah sepantasnya kita minta ganti!"
"Astaghfirullah, Sumi!" Pak Hasto mengusap wajahnya kasar, tak percaya saja dengan apa yang istrinya katakan.
Yuda tersenyum hambar, "Baiklah, tidak masalah. Berapa yang kalian minta?"
"Huh, sok-sokan, macam punya duit aja," celetuk Dewi tersenyum miring. "Baru juga kasih uang mahar lima puluh juta, udah berasa kayak CEO."
"Dia memang CEO," balas Bastian santai. Namun, siapa yang percaya?
"Lima puluh juta. Itu jauh dari cukup, tapi tidak apa, dari pada tidak ada," ucap Bu Sumi sok bijak.
Yuda tertawa kecil, "Sudah kuduga, kalian memang mengincar uang mahar Ning."
Ning tau, dia memang sudah sangat berhutang budi pada keluarga Pak Hasto. Dia angkat tas berisi uang 50 juta. Namun, belum sempat terulur, Yuda sudah menahan.
"Aku bisa saja berikan uang 50 juta itu. Tapi, ada syaratnya. Satu, kembalikan mental Ning sudah kalian hancurkan. Kembalikan setiap tetes air mata yang sudah dia keluarkan. Dan... Luka yang Ning dapatkan... Aku akan membawa ke pengadilan. Bagaimana?"