Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Anak muda, kamu mungkin bisa pamer tenaga fisik, tapi di meja ini kita berbicara tentang bisnis dan uang," ancam Bram dengan suara berat.
"Kamu hanyalah pesuruh rendahan yang tidak tahu apa-apa soal dunia kami."
Ting.
[Sistem mendeteksi celah informasi pada target Bram Sanjaya.]
[Mentransfer data dari database rahasia Keluarga Sanjaya yang terhubung dengan jaringan global.]
[Data diterima: Bukti penyelundupan senjata ilegal di Pelabuhan Utara dua hari yang lalu menggunakan kapal kargo perusahaan Sanjaya.]
Devan menyeringai tipis membaca layar biru transparan yang melayang di depan wajahnya.
Dia meletakkan garpu dan pisaunya lalu menatap langsung ke mata tua Bram Sanjaya.
"Berbicara soal bisnis dan uang, aku dengar bisnis pengiriman kargo Anda sedang sangat lancar minggu ini, Tuan Bram," ucap Devan membuka kartu as milik musuhnya.
Bram sedikit mengerutkan kening karena tidak mengerti arah pembicaraan Devan.
"Tentu saja, perusahaan logistik kami adalah yang terbesar di kota ini," jawab Bram dengan angkuh.
"Sangat besar sampai-sampai kalian bisa menyelundupkan lima kontainer berisi senjata api ilegal buatan luar negeri dari Pelabuhan Utara dua hari yang lalu," balas Devan dengan senyuman iblis.
Prang.
Gelas anggur di tangan Leo Sanjaya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Seluruh darah di wajah Bram Sanjaya seolah tersedot habis hingga wajah keriputnya berubah menjadi seputih mayat.
Para tamu undangan seketika terdiam kaku seolah waktu baru saja berhenti berputar di ruangan itu.
Menyelundupkan senjata api adalah kejahatan tingkat tinggi yang bisa membuat seluruh anggota keluarga mafia itu dihukum mati oleh negara.
"Apa yang kamu bicarakan pesuruh gila! Jangan berani memfitnah keluarga kami!" teriak Leo dengan suara bergetar karena panik yang luar biasa.
Devan mengambil serbet dari atas meja dan mengelap mulutnya dengan gerakan yang sangat elegan.
"Kapal kargo nomor lambung SJ-098, merapat di dermaga tiga pada pukul dua pagi, disetujui oleh tanda tangan digital Tuan Bram Sanjaya," sebut Devan membacakan data dari sistem dengan sangat lancar.
"Kontainer itu sekarang disembunyikan di gudang terbengkalai sektor barat menunggu pembeli dari luar pulau."
"Apakah tebakanku ada yang salah, Pak Tua?" tanya Devan menyandarkan punggungnya di kursi.
Ruangan itu mendadak menjadi sangat bising oleh bisikan panik para tamu yang mulai merasa ketakutan terseret dalam masalah besar ini.
Beberapa pengusaha elit bahkan langsung berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan perjamuan tanpa berpamitan.
Mereka tidak mau berurusan dengan polisi jika kabar penyelundupan senjata ini benar-benar bocor ke publik.
Clarissa menatap Devan dengan mulut sedikit terbuka karena saking syoknya.
Dari mana suaminya ini bisa mengetahui informasi sepenting dan serahasia itu secara detail?
Bram Sanjaya menggebrak meja dengan sangat keras hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"Tutup mulutmu! Siapa yang memberimu informasi palsu itu!" raung Bram kehilangan seluruh wibawanya.
"Pengawal! Tangkap pria ini dan potong lidahnya sekarang juga!" perintah Bram menunjuk ke arah Devan.
Puluhan pria berjas hitam yang menjaga ruangan itu langsung mencabut senjata tajam dan pistol dari balik baju mereka.
Suasana perjamuan mewah itu dalam sekejap berubah menjadi arena yang sangat mencekam.
Clarissa secara refleks langsung memeluk punggung Devan karena rasa takut yang teramat sangat.