Seorang Pemuda yang biasa dipanggil Kang Rohim. Ia melamar putri sulung dari Lelaki bernama Abah Ucup, namun sang ayah malah meminta Rohim untuk menikah dengan anak bungsunya. Sedangkan Putri sulung Abah Ucup yang sudah lama menaruh hati pada Rohim harus merasakan sakitnya cinta sebelum berkembang. Ia sampai nekat hendak bunuh diri demi mendapatkan lelaki yang ia sukai.
Lantas Siapakah Jodoh Kang Rohim? Si Sulung atau Si Bungsu? Dan apakah alasan Abah Ucup meminta Rohim untuk menikah dengan putrinya? Seperti apakah kisah Laila dan Rohim ini?
Cerita ini hanya khayalan Author, jika ada kesamaan tokoh, kejadian itu hanya kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 8 PERSAHABATAN MUKIDI DAN ROHIM
Rohim yang baru saja selesai mengajar mengaji bapak-bapak Ba'da Isya. Ia melihat Mukidi yang datang terlambat. Lelaki itu mendekati Rohim yang baru akan beranjak.
"Maaf kang. Terlambat. Hehe. Aku ketiduran."
Mukidi menggaruk kepalanya. Rohim pun kembali duduk. Sang sahabat yang juga belajar mengaji. Ia mengeluarkan iqro. Mukidi membuka iqro 4. Ia baru berapa bulan mau belajar membaca huruf Hijaiyah itu. Saat selesai satu lembar. Ia menyimpan iqronya di dalam tas kecil.
"Kang, komputernya sudah benar?" Tanah Mukidi pada Rohim.
Guru ngaji itu pun tertawa.
"Hahaha.... Kamu itu mau ngaji karena Onet atau karena Unet?" Goda Rohim yang membuka Pecinya.
"Ya karena Unet. Dan Onet untuk ngilangin stres Kang. Tahu sendiri dirumah Mbok ku itu sudah kaya toa. Ngomel melulu." Keluh Mukidi pada Rohim.
Unet adalah seorang gadis penjual tempe keliling. Perempuan itu mengenakan jilbab. Mukidi pernah menyatakan cintanya pada Unet. Namun sang gadis pujaan hati mengatakan jika ia tidak mau kalau lelaki yang menyukainya tak bisa mengaji. Maka Mukidi pun belajar mengaji.
Rohim pun mengajak Mukidi ke ruangan kecil yang berada tepat di belakang Masjid. Disana terdapat barang-barang untuk menyimpan alat-alat masjid. Dan sebuha komputer milik Rohim.
Rohim duduk diatas tikar dan membaca sebuah kitab arab gundul. Sedangkan Mukidi langsung menyalakan komputer. Ia asyik dengan game Onet. Satu game yang mencari kecocokan. Saat salah memilih ia akan mengeluarkan suara 'O.O'.
Mukidi pun yang penasaran bertanya pada Rohim tentang hasil dari lamarannya.
"Bagaiamana kang hasil lamaran kemarin?"
"Pak Toha belum dapat kabar. Abah Ucup setuju. Tapi kan putrinya belum bilang apa-apa."
"Wah kalau Laila pasti setuju kang. Anaknya itu loh nurut e pol sama orang tua. Pinter. Ya kalau cantik memang lebih cantik Waroh. Aku sebenarnya baru tahu kemarin sore. Kamu itu dijodohkan sama Waroh karena dianggap bisa bimbing Waroh. Awalnya aku keberatan. Tapi kupikir kamu suka karena kecantikan Waroh."
Rohim menutup kitabnya. Ia meletakkan peci hitamnya di sisi kanannya. Ia mengambil tembakau dan beberapa kertas papir juga cengkeh. Ia membuat sebuah rokok dari kertas itu. Lalu ia menghisap rokok itu dengan sangat dalam lalu ia hembuskan asapnya.
"Aku yang namanya Waroh itu saja Ndak tahu."
"Ow.. ow..." ( Suara game Onet.)
Mukidi berbalik ke arah Rohim.
"Lah kenapa kamu mau melamar Waroh kalau tidak tahu dengan waroh?"
Rohim kembali terlihat menghembuskan asap rokoknya.
"Beberapa kali aku shalat malam. Ada keyakinan dalam hati ku untuk melamar putri Abah Ucup. kalau selama ini belum ada keyakinan."
"Wah. Angel. Tapi ya shalatnya kamu sama aku ya jelas beda."
Mukidi meninggalkan game nya sesaat. Ia mengambil kertas putih atau biasa di sebut kertas paper. Ia meletakkan tembakau di atas kertas itu, lalu ia memberikan cengkeh di atas tembakau itu. Kemudian ia linting kertas itu. Sehingga menjadi sebuah lintingan rokok.
Dua orang lelaki pencinta rokok itu pun menikmati rokok khas desa itu atau lebih dikenal dengan rokok lintingan.
Mukidi pun merasa bingung kembali bertanya.
"Kamu yakin tak akan menyesal kang menikah dengan Laila?"
Rohim tersenyum. lesung pipinya pun muncul di pipinya.
"Di takoni malah ngguyuh!" Gerutu Mukidi.
[Ditanya malah ketawa]
"Kamu tahu Ndak, Justru kalau punya istri cantik aku malah khawatir Ndak bisa kuat."
"Lah kuat OPO kang?"
"Kuat membiayainya. Karena jelas butuh perawatan... Hehehe.... Ya Ndak lah Kang. Intinya aku mencari perempuan yang siap menjalani rumah tangga bersama aku. Yang bisa menjadikan rumah tangga sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi dari zina."
Mukidi manggut-manggut. Ia kembali membuat lintingan rokok. Satu hal yang ia nyaman saat bersama Rohim, selain bisa main game sepuasnya. Ia bisa merokok sepuasnya. Namun tanpa ia sadari. Lima tahun ia berteman dengan Rohim. Mukidi tak sadar jika banyak yang berubah dari dirinya.
Pertama ia yang dulu suka judi, tak pernah lagi main judi. Ia yang dulu suka mencuri tak lagi mencuri. Ia yang suka minum alkohol tak lagi suka minum alkohol.
Sungguh dakwah dari Rohim adalah merangkul. Ia yang pertama mengenal Mukidi pertama kali ketika ia pulang dari menjual hasil panen alpokatnya. Mukidi menghadangnya. Ia meminta uang Rohim. Namun Rohim memberikan uang bagiannya. Sedangkan bagian pak Toha tetap ia kembalikan ke pak Toha. Hal itu berlangsung hampir setiap bulan hampir satu tahun. Dan ketika Rohim bingung saat pulang dari pasar dan Mukidi tak mencegatnya.
Ia berkunjung kerumah Mukidi dan ternyata lelaki itu sedang demam tinggi. Saat dibawa ke puskesmas lelaki itu ternyata haru di bawa ke kota. Ibunya yang janda tak punya biaya. Hingga Rohim pun membuka tabungannya yang biasa ia gunakan untuk pulang mudik ketika lebaran. Ia membawa Mukidi bersama pak Toha ke rumah sakit yang berada di kota. Semenjak saat itu Mukidi pun berteman dengan Rohim. Lama kelamaan Mukidi merasa nyaman. Ia yang tak pusing untuk rokok, makan. Karena semua bisa ia dapatkan dengan main ke tempat Rohim.
Sejak saat itu ia lebih senang bersama Rohim hanya main game atau mendengarkan lagu menggunakan headset di komputer Rohim. Lama kelamaan Ia justru bisa mengenakan sarung. Membaca Yasin. Hal itu karena ketika ada tetangga meninggal dunia dan pembacaan Yasin tahlil. Rohim yang terlambat datang membuat orang tua menunjuk Mukidi untuk memimpin. Karena ia yang sering berdua dengan Rohim dianggap tentu sama dengan Mukidi walau ia tak punya pekerjaan.
Maka sejak saat itu ia tekun belajar wudhu, Shalat, adzan dan memimpin baca Yasin dan tahlil. Ia sebenarnya sudah dua kali menyelesaikan iqro enamnya. Namun ia kembali ke iqro satu karena merasa belum pas mengucapkan huruf Hijaiyah itu. Ia tak ingin khatam Al-Qur'an tetapi masih salah melafazkan atau tajwidnya masih salah.
Persahabatan Rohim dan Mukidi adalah persahabatan yang begitu murni. Rohim tak pernah memaksa Mukidi untuk shalat. Namun saat sang sahabat memiliki masalah, Rohim selalu memberikan solusinya cuma satu perbaiki Shalat. Dan berkali-kali Mukidi dibuat takjub karena ia pernah bingung karena rumahnya mau dijual oleh kakak bapaknya. Karena rumah yang ia tempati adalah rumah warisan dari mbahnya.
Maka ketika Mukidi mengeluh pada Rohim. Rohim hanya bilang.
"Coba 40 hari saja kamu jangan tinggalkan shalatmu. Kita lihat nanti. Coba ketik pintu Allah. Ga ada yang ga mungkin kang. Klo minta bantuan orang lama kang, tapi kalau Allah... Kecil kalau cuma urusan rumah."
Dan Mukidi selama 40 hari tinggal bersama Rohim di rumah yang berada disisi kanan masjid. Rumah yang terbuat dari papan namun menyatu dengan bagian samping masjid. Ia betul-betul menjalani shalat lima waktu dan tak ditinggalkan.
Maha Besar Allah. Rumah itu tak jadi dijual. Pakde Mukidi justru meninggal karena serangan jantung. Sehingga rumah itu jatuh pada Mukidi. Sungguh jika Allah sudah berkehendak maka tak akan ada yang bisa menghalanginya.
Namun sayangnya. Mukidi hanya lah orang biasa yang akan lupa dengan tangisnya selama empat puluh hari. Saat masalahnya selesai. Ia pun kembali menggampangkan shalatnya. Ia justru akan shalat ketika sempat atau ketika ada masalah.
Namun Rohim masih sabar mendoakan dan membimbing sahabatnya itu. Ia lebih fokus meraih hati sahabatnya daripada memaksa apalagi menghina terlebih menjauhi mereka yang belum menjalankan syariat Islam.