Bentley Reagan Carter masih betah menjomblo di usianya yang hampir kepala empat karena gadis yang selalu posesif padanya.
Elna Alexandra Graham, seorang gadis yang mencintai adik dari sang ayah, dan tenyata cinta itu juga berlabuh di hati pria matang itu...
tapi Elna tidak tau ada rahasia apa di balik pria itu, apa mereka bisa bahagia? atau malah cinta mereka terhalang restu keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pangeran sekolah.
selain ada tiga gadis itu, ada juga beberapa pria yang terkenal di sekolah karena kepintaran dan juga wajah yang tampan.
terlebih lagi itu di tambah dengan harta yang berlimpah, dan salah satu dari mereka menyukai dan jatuh cinta pada Elna dari kelas satu.
tapi seperti pria yang lain, Elna menolaknya dengn mentah-mentah bahkan pria itu pernah di permalukan di depan seluruh sekolah oleh gadis itu.
siang ini semua sedang beristirahat setelah pelajaran olahraga, Elna, Fafa dan Nana menuju ke kantin sekolah.
tapi gadis itu malah di hadang oleh kelima pria itu, Elna pun hanya diam melihat saja.
"menyingkir atau aku akan mematahkan kakimu," kata gadis itu.
"coba kalau berani, aku ingin lihat gadis yang berani mengancam putra seorang pemilik yayasan, terlebih kau terlalu jual mahal," kata pria itu.
"Danu, Kenapa kamu menggoda gadis Urakan ini, kan aku sudah menunggu mu di kantin," kesal Wina melihat tingkah pria idamannya itu.
"hei... jaga sikap mu, aku bahkan tak mengenalmu," kata Danu pada gadis itu.
Elna pun langsung menyikut pria itu saat dia lenggah, "sudah ku katakan, jangan berani mengusikku," kata Elna pergi bersama dua sahabatnya.
Danu pun memegangi perutnya yang kesakitan, sedang teman Danu yang lain tak mengira jika seorang Elna tak takluk dengan pesona Danu.
sesampainya di kantin, mereka memilih tempat duduk berdekatan dengn seorang gadis yang pendiam dan selalu jadi sasaran bully di sekolah.
"hei boleh gabung, karena kursi dimana-mana penuh," kata Elna.
"tentu, tapi maaf jika aku bau," kata gadis itu dengan rambut yang terlihat sedikit basah.
"ah tenang saja, nanti kamu bisa mandi dan memakai seragam milikku, karena sepertinya kamu lebih kecil dariku, jadi aman," kata Elna tersenyum.
"terima kasih," jawab gadis itu.
"Elna curang nih, kok kalau aku yang pinjem gak boleh?" tanya Fafa.
"beh gadis gila, lihat ukuran kita, kamu lebih besar dariku, bisa-bisa bajuku tak menutupi tubuhku, terlebih rok kita saja berbeda ukuran," kesal Elna.
pesanan mereka datang, begitupun geng lampir di sekolah itu, "wah lihat di cupu sekarang mainnya sama geng populer, lu jadi babunya ya," ejek mereka bertiga.
"aduh kalau punya mulut di jaga ya, jangan main hina orang saja, memangnya kenapa jika kami main sama Sekar?" kata Nana.
"eh anak koruptor diem ya," kata Ijen menuding ke arah Nana.
"elu buta, siapa yang lu panggil anak koruptor, jika dia ank koruptor terus di sampingmu itu apa, anak tikus yang mkn uang rakyat, aj*Ng emang kalian semua," kesal Fafa.
sedang Elna masih sabar mendengarkan, "tutup mulut lu ya, gue itu anak pejabat yang bersih tau," kesal Sira yang di hina Fafa.
"hei bangun dari tidur lu ya, semua orang juga tau jika bokap lu tuh makan duit orang," kesal Fafa.
"eh cewek ****** diem ya," kata Friska membela teman-temannya.
tanpa bicara Elna menyiramkan minuman ke arah ketiganya, setelah itu dia bahkan membanting gelas itu ke kaki ketiganya.
"kami tak mengnghu kalian, dan kalian yang ganggu kami, dan aku peringatkan ini baru awal jika berani menghina teman-teman ku lho, gue beresin kalian semua," kata Elna mendorong Friska hingga jatuh.
"dasar anak haram!" teriak Friska.
tanpa di duga Elna langsung menjambak rambut Friska dan menyeretnya menuju ke arah dapur kantin.
"civa ulangi lagi ucapan mu!" bentak Elna yang mengambil teko berisi air panas.
bahkan gadis itu terkena percikan saja sudah kesakitan dan memohon,"elo berani bilang sekali lagi, gue siramin nih air panas ke tubuh lu," kata Elna melempar teko itu.
kemudian pergi dari sana, semua murid mundur saat ketiga gadis itu pergi.
mereka tak tau jika Elna yang selama ini hanya beteriak atau memaki, bisa melakukan hal kasar begini.
kepala sekolah yang mendapatkan laporan pun langsung menghubungi Ben, bukan orang tua Elna yaitu Samuel atau Naura.
Ben sedang main darts untuk mengurangi stres yang dia rasakan.
tapi tiba-tiba asisten Mike sayang sambil tergopoh-gopoh, "bos ada masalah di sekolah,"
anak panah itu menancap di dinding karena Ben yang terkejut, pria itu langsung mengambil jas miliknya.
dan menelpon Naura untuk segera ke sekolah Elna, dua mobil mewah memasuki sekolah SMA bertaraf internasional itu.
Ben pun turun bersamaan dengan Naura, terlihat beberapa orang tua juga hadir.
"lihat orang tua dari ****** kecil itu datang, hei nyonya... kau itu menyekolahkan monster, kenapa gadis itu bisa seliar itu, apa kamu tak pernah mengajari anak mu sopan santun, lihat perbuatannya pada putriku!" teriak wanita itu.
"ayoyo.... tak perlu berteriak nyonya, ku tak budeg hingga kau harus seperti itu," marah Naura menutup telinganya.
"wah dasar keluarga aneh,"maki wanita itu.
Ben memanggil Elna melalui gerakan tangannya, dan Elna langsung memeluk Ben.
"apa yang terjadi," tanya Ben lembut sambil melihat wajah gadis kecilnya apa ada yang terluka.
"dia menyerang ku, dia membuatku terluka seperti ini," kata Friska berteriak.
Ben hanya melirik sekilas, dan tetap menatap gadis di sampingnya itu, "dia memanggilku anak haram, dan aku memang menyerangnya, sebenarnya tadi aku ingin menyiramnya dengan air panas tapi aku urungkan," jawab Elba jujur.
mendengar itu Naura malah langsung menampar gadis itu, "siapa kamu berani menghina putriku," bentak Naura.
"tenang kak, kau sedang hamil, dan kepala sekolah aku sudah bilang padamu, jangan pernah ada yang berani menganggu keponakan ku," kata Ben merangkul pundak Elna.
"maaf tuan besar," jawab kepala sekolah ketakutan.
tak di duga ketua yayasan datang bersama Danu, Friska yakin jika Danu akan membelanya.
"kamu tidak apa-apa Elna?" tanya Danu yang menarik gadis itu dari rangkulan Ben.
"sialan pria ini, dia mau mati berani menyentuh gadis kecilku..." batin Ben marah dan murka.
ingin rasanya pria itu membunuh pria muda itu karena berani menyentuh gadis kecilnya.
"ada apa ini, jika ada masalah selesaikan dengan baik,dan hukum yang salah," kata pria separuh baya itu.
"kau mau mati dan bangkrut berani menyentuh keponakan ku," kata Ben terdengar dingin.
bahkan tatapan mata pria itu bisa membunuh siapapun di ruangan itu, tapi dengan tenang Naura malah menampar Ben agar tak melakukan itu.
"kakak ipar!" kaget Ben memegangi pipinya.
"bisakah tak usah melotot, itu matamu mau keluar," kata Naura yang tak kenal takut.
ya Ben tak bisa berkutik oleh tiga wanita yaitu mama Mei,kakak iparnya Naura dan gadis kecilnya Elna.
Elna pun mendorong Danu hingga jatuh, "ya!!! kau mau mati berani menyentuhku, sudah ku katakan jangan sok kenal!" bentak Elna.
keluarga Friska pun bingung karena semua orang hormat pada keluarga gadis Urakan itu.
bahkan ketua yayasan yang selama ini terkenal begitu tegas juga tak bisa berkutik didepan keduanya.
"terus sekarang bagaimana nasib putriku, aku butuh tanggung jawab, dia terluka seperti ini," kata wanita itu dengan tak tau malu.
"Elna uang saku mu di piring tujuh puluh lima persen, karena berulah, dan untukmu datang saja ke rumah sakit Pratama Husada untuk mendapatkan perawatan hingga sembuh,dan bilang kalau kamu di minta nyonya Naura Alexander Graham."
semua orang di ruangan itu tercengang, terlebih Ben dan Elna.
"kakak ipar..." kata Ben kaget.
"mama..." begitupun dengan Elna yang tak mengira jika Naura menyebut nama keluarga.
"diam,sekarang ayo keluar, dan giliran orang kantin karena kamu yang terus berulah," kata Naura menjewer putrinya.
"dan ingat ini, sebelum berani menganggu keponakan ku, ingat nama Reagan Carter, agar kamu tau siapa yang sedang kamu hadapi," marah Ben sebelum pergi mengikuti kedua wanita itu.
"jadi kalau ada gadis yang menikahi om,maka nama belakang om bisa di pakai, seperti Elna Reagan Carter?"
Ben pun tertawa mendengar itu, begitupun Naura, karena baginya kebahagiaan Elna adalah segalanya.
mereka pun langsung menuju ke kantin dan mulai membereskan semua kekacauan yang di lakukan oleh Elna dan teman-temannya