Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Ritme di Balik Pintu Penthouse
Kehidupan di kampus berjalan seolah tidak ada badai yang menerjang. Jordan tetaplah dosen pengganti yang dingin, pelit senyum, dan ditakuti di koridor Fakultas Ekonomi. Sementara Airin tetaplah si gadis dress bunga yang pendiam, yang selalu duduk di baris ketiga bersama Thea, Dion, dan Kriss.
Dion dan Kriss, yang awalnya bertekad menjadi detektif amatir untuk mengawasi hubungan mereka, perlahan mulai goyah. Kesibukan semester lima yang menggila dengan tugas audit dan manajemen risiko membuat mereka lupa akan kecurigaan awal. Lagipula, Airin sangat lihai menjaga ekspresi wajahnya, dan Jordan benar-benar profesional saat berada di lingkungan akademis.
Namun, di balik pintu penthouse mewah milik Jordan di pusat kota, realitanya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.
Malam itu, jam menunjukkan pukul sebelas malam. Airin duduk bersila di atas sofa beludru berwarna abu-abu gelap, dikelilingi oleh tumpukan jurnal keuangan. Ia mengenakan piyama satin motif bunga lili, kacamata bertengger di hidung kecilnya, dan rambutnya yang dikuncir asal-asalan.
"Bagian ini... kenapa rasio likuiditasnya tidak sinkron dengan arus kasnya?" gumam Airin pelan, jemarinya memijat pelipis.
Tiba-tiba, aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang familiar mendekat. Jordan, yang hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana pendek, duduk di sampingnya. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik buku catatan Airin.
"Gunakan metode analisis sensitivitas, bukan hanya rasio standar. Lihat di sini," suara Jordan rendah dan tenang. Ia mulai menjelaskan materi yang tidak Airin pahami dengan cara yang jauh lebih mudah dimengerti daripada saat ia berdiri di depan kelas.
Namun, fokus Airin seringkali terpecah. Bukan karena materinya sulit, tapi karena tangan kiri Jordan mulai bekerja di luar tugas akademis. Tangan besar itu melingkar di pinggang ramping Airin, memberikan usapan-usapan lembut yang ritmis di balik kain satin piayamanya.
"Jordan... aku sedang belajar," protes Airin halus, meski ia tidak menjauhkan tubuhnya.
"Aku juga sedang mengajar, sayang," balas Jordan tanpa mengalihkan pandangan dari buku, namun kecupan ringan mendarat di pelipis Airin.
Awalnya, Airin menolak keras saat Jordan memanggilnya 'sayang'. Ia merasa sebutan itu terlalu klise dan berlebihan. Namun, setelah dua minggu tinggal bersama, sebutan itu perlahan-lahan menjadi musik yang menyenangkan di telinganya.
"Coba hitung ulang bagian ini," titah Jordan.
Saat Airin mulai mencoret-coret kertasnya, Jordan semakin merapatkan tubuh mereka. Ia menumpu dagunya di bahu Airin, menghirup aroma shampo stroberi dari rambut gadis itu. Rutinitas ini telah menjadi candu baru bagi Jordan. Setelah seharian memimpin perusahaan konstruksi yang melelahkan, mengganggu Airin yang sedang belajar adalah cara terbaik baginya untuk melepas stres.
"Selesai," ucap Airin lega setelah menemukan angka yang tepat.
"Bagus. Sekarang waktunya upah untuk gurumu," bisik Jordan.
Airin belum sempat bertanya apa maksudnya ketika Jordan memutar wajahnya dan memberikan ciuman lembut yang dalam. Airin terdiam, tangannya yang memegang pulpen terkulai di atas paha. Usapan di pinggangnya kini berpindah ke tengkuknya, memberikan sensasi hangat yang membuat bulu kuduknya meremang.
Setelah beberapa saat, Jordan melepaskan tautan bibir mereka, namun tetap menempelkan dahinya pada dahi Airin.
"Kenapa diam saja? Biasanya kamu protes karena aku lancang," goda Jordan, matanya menatap intens ke dalam netra cokelat Airin yang tampak sayu karena kantuk.
Airin hanya bisa tersenyum simpul, lesung pipinya muncul dengan sangat manis. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Jordan, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang namun kuat. "Karena percuma protes. Kamu selalu punya cara untuk membuatku diam."
Jordan terkekeh, ia menggendong Airin dengan mudah untuk membawanya menuju tempat tidur. "Itu karena kamu memang tercipta untuk diam di pelukanku, Airin."
Di bawah temaram lampu penthouse, Airin menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar mahasiswi atau anak konglomerat yang bersembunyi. Ia adalah wanita dari seorang pria yang dulunya ia anggap monster, dan entah bagaimana, ia merasa sangat aman di sana.