Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Saat aku menyanyakan kepada Pak Will, dia tidak memberitahuku kenapa Ahn Yoo memanggilku.
"Saya tidak tahu, Jane bisa langsung tanyakan saja kepada Tuan Ji," sahut Pak Wiil.
Dengan langkah kaki bergetar dan panik, aku pergi menemui Ahn Yoo yang berada di kamarnya. Aku mengetuk pintu saat hendak masuk kedalam kamar Ahn Yoo. Tidak ada sahutan, aku hanya berdiam diri sampai Ahn Yoo sendiri yang buka pintu.
Mungkin sudah dua puluh menit aku menunggu, tapi dia belum menyahutku. Kakiku sampai keram karena terlalu lama berdiri di depan pintunya.
"Dasar gunung es! Apa dia tidak tahu aku sudah lama menunggu di sini?" gerutuku dengan suara rendah dan memukul pelan pintu kamarnya.
Benar saja, sampai sekarang tidak ada respon dari dalam. Karena tidak sabar lagi, aku lansung masuk ke dalam kamarnya.
Aku melihat Ahn Yoo duduk membaca catatan yang di pegangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ahn yoo dingin.
"Ha? Apa?" Aku bingung mendengar pertanyaannya.
Dia meletakkan catatan yang dipegangnya dan menatapku dengan dingin. Hingga aku hanya bisa tercengang dengan kaki yang bergetar ketakutan.
"Sedang apa kau di bawah?" tanya Ahn Yoo sambil menopang dagunya.
"Ahmmm ... aku?" balasku gugup.
Dia mengerutkan dahinya dan kemudian menyandarkan badannya di bangku yang ia duduki.
"Tadi aku tidak bisa tidur, jadi aku keluar sebentar mencari angin." Aku mencoba jelaskan kepadanya.
"Sini," dia memanggilku dengan wajah yang teramat datar.
Awalnya aku tidak mau dan tetap berdiri di tempat, dan tidak berniat sama sekali untuk mendekat ke arahnya.
"Apa harus aku yang datang menghampirimu?"
Dengan sigap aku melangkah maju ke hadapannya. Dia menatap ku sangat dingin, sampai membuat aku semakin panik tidak bisa bergerak. Bahkan aku sampai keringat dingin karena tatapannya.
"Ke- kenapa kamu menatap ku begitu?" tanyaku ragu.
"Menurutmu?" tanyanya balik dengan wajah serius.
"Maafkan aku, aku tahu aku salah karena mengejekmu tadi." Aku merundukkan kepalaku dan meremas kedua tanganku.
Aku mati-matian meminta maaf kedapanya, tapi dia tidak merespon sama sekali. Bahkan tatapannya semakin mengerikan dari pada sebelumnya.
"Aku ... aku minta maaf Ahn Yoo. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Aku mencoba menggodanya dengan wajah memelas dan mengacungkan jari kelingkingku padanya.
Dia tersenyum melihatku dan menatap mataku dengan lembut.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?" Dia tersenyum dan berpura-pura bodoh.
"Apa? Jadi tadi kamu tidak mendengarku mengejekmu di luar?"
Dia memandangiku sambil tersenyum seolah dia senang melihatku tampak bodoh. Tapi kalau dia tidak mendengarku tadi, untuk apa dia memanggilku ke sini. Aku yakin dia sedang mempermainkanku. Semakin aku tampak bodoh, dia semakin tersenyum. Aku kesal sekali melihatnya, apa dia sangat suka mempermainkan orang lain seperti ini?
"Sebenarnya untuk apa kamu memanggilku?" tanyaku dengan wajah kesal.
"Karena aku ingin," jawabnya dengan alasan konyol. Tampak dia sangat ingin pempermainkanku.
"Kamu!" Aku menatap tajam matanya.
"Apa kau tidak mau pulang ke rumah bibimu?" tanya Ahn Yoo menyindir.
"Apa?" Aku mencoba memperjelas kalimatnya.
"Apa kau tidak ingin pulang dan tinggal bersama pamanmu?" tanyanya menyindir lagi.
Kenapa dia tahu aku tinggal bersama bibi dan pamanku?
"Dari mana kamu tahu aku tinggal bersama bibi dan paman?"
Dia tersenyum jahat lagi padaku.
"Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui seluk-beluk kehidupanmu."
Kemudian dia memberikanku sebuah kertas yang berisi riwayat hidupku. Semua yang tertera di sini benar, tidak ada yang salah.
"Apa ada yang salah di sana?"
"Tidak ... tidak ada," sahutku sambil membalik-balik kertas itu.
"Emmm, baiklah. Aku membiarkanmu tinggal di sini karena aku memiliki rencana," katanya dengan serius
"Rencana? Rencana apa?" tanyaku lagi.
"Kau tidak perlu tahu rencananya, yang pasti kau harus melakukannya untukku."
"Kenapa aku tidak boleh tahu?"
Dia menatapku dan menjelaskan bahwa dia akan menjadikanku alat untuk balas dendam kepada saudara tirinya.
"Aku tidak mau dijadikan alat!" teriakku menolak.
"Aku tidak akan memaksa, hanya saja aku tidak akan membantumu jika orang yang ingin membelimu itu menangkap dan menjadikan kau mainannya," katanya mengancamku.
"Bisakah kamu tidak perlu mengancamku dengan orang itu. Aku tidak menyukainya." Aku mengatakannya dengan wajah serius.
**Bersambung ...
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter