Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Kata-kata yang keluar dari bibir pucat Rina bagaikan petir yang menyambar tepat di jantung Gus Azkar. Gumaman itu sangat pelan, namun di dalam mobil yang sunyi, kalimat itu terdengar begitu jelas dan menyakitkan.
"Ya Allah... sakit sekali kepalaku... aku tak kuat... ambil saja nyawaku..."
Setelah kalimat terakhir itu terucap, kepala Rina terkulai sepenuhnya. Napasnya semakin tipis, seolah nyawanya benar-benar sedang berada di ujung tanduk, siap untuk pergi sesuai dengan permintaannya yang memilukan.
Runtuhnya Keangkuhan Azkar
Gus Azkar terpaku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Ia adalah seorang laki-laki yang terbiasa mengendalikan keadaan, yang terbiasa ditaati, dan yang selalu merasa benar dengan prinsip-prinsip kaku yang ia pegang. Namun, mendengar istrinya lebih memilih mati daripada hidup bersamanya, membuat harga diri Azkar hancur lebur.
"Enggak, Dek... Enggak! Jangan bicara begitu!" suara Azkar pecah. Ia tidak lagi peduli pada wibawanya.
Ia memeluk tubuh Rina semakin erat, mengabaikan noda darah yang kini mengotori baju kokonya yang mahal. Ia mencium kening istrinya berkali-kali dengan air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya.
"Mas mohon, bertahanlah... Mas salah, Mas minta maaf," bisiknya tepat di telinga Rina, berharap gadis itu bisa mendengarnya di alam bawah sadarnya. "Jangan minta mati, Rina. Mas nggak sanggup..."
Penyesalan di Ruang IGD
Begitu sampai di rumah sakit, Azkar langsung menggendong Rina dan berlari masuk ke ruang IGD. "Dokter! Tolong istri saya! Cepat!" teriaknya kalap.
Para perawat segera membawa brankar dan memindahkan Rina. Saat petugas medis mulai menangani Rina dengan cepat, Azkar dipaksa untuk menunggu di luar garis pembatas. Ia berdiri di sana dengan tangan gemetar dan pakaian yang penuh noda darah.
Ia menatap tangannya sendiri. Darah Rina masih terasa hangat di kulitnya.
Aku telah menyiksanya, batin Azkar pedih. Aku mengancamnya, aku menekannya, sampai dia merasa mati lebih baik daripada bersamaku.
Azkar jatuh terduduk di kursi tunggu koridor. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Bayangan Rina yang menangis minta sekolah dan ketakutan saat ia ancam tadi terus berputar di kepalanya. Ia baru menyadari bahwa ia telah memperlakukan seorang gadis SMA seperti seorang kriminal, padahal Rina hanyalah seorang anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Langkah kaki yang terburu-buru bergema di koridor rumah sakit. Bian datang dengan napas memburu dan mata yang menyala karena amarah. Begitu melihat sosok Gus Azkar duduk bersimbah darah di depan ruang IGD, Bian tidak bisa lagi menahan diri.
Tanpa kata, Bian mencengkeram kerah baju koko Azkar dan menariknya berdiri.
"Apa yang kamu lakukan pada Rina, Gus?!" bentak Bian. Suaranya bergetar antara amarah dan tangis yang tertahan.
Gus Azkar hanya diam, tatapannya kosong. Ia bahkan tidak mencoba melepaskan cengkeraman Bian. Keangkuhannya sebagai seorang suami yang posesif telah luruh, digantikan oleh rasa bersalah yang menghujam.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!" Bian mendorong Azkar hingga punggungnya membentur dinding. "Kamu hanya tahu cara mengklaim dia sebagai milikmu, tapi kamu tidak tahu seberapa hancur mentalnya selama ini!"
Bian tertawa pahit, air mata jatuh di pipinya. "Rina itu gadis ceria di luar, tapi di dalam dia rapuh, Gus. Sebelum dia sama saya, dia sudah berkali-kali bilang ingin menyerah pada hidup. Kamu tahu kenapa? Karena sejak kecil dia selalu dituntut untuk mengerti semua orang! Orang tuanya, sekolahnya, lingkungannya... tapi tidak ada satu pun orang yang mencoba mengerti dia!"