Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Terus Memikirkannya
Kediaman Pribadi Jayden
Malam semakin larut. Namun, tetap tak menyurutkan semangat Diana untuk menjalankan rencananya. Dia masuk ke dalam ruang ganti di kamarnya dan terlihat sedang memilih gaun tidur.
Diana mencoba beberapa gaun tidur itu dengan beragam jenis model dan warna, sebelum akhirnya ia memutuskan akan mengenakan sebuah gaun tidur sexy berenda yang berwarna hitam.
Setelah mengenakan gaun tidur itu, Diana pun merias dirinya secantik mungkin. Ia harus mendapatkan kembali cinta Jayden untuknya malam ini sebelum Jayden berpindah ke lain hati. Ia sangat kesal, karena sejak dari acara perjamuan Ryan tadi, Jayden terus mengabaikannya.
Kini, ia telah siap. Dengan riasan sempurna dan tubuh yang sexy menggoda, Diana yakin pria itu pasti akan bertekuk lutut di hadapannya. Diana keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan sang pujaan hati. Setelah sampai di depan kamar Jayden, Diana pun mengetuk pintu kamar pria itu beberapa kali, tetapi tak ada respon dari Jayden. Diana pun mencobanya lagi.
"Jayden. Sayang, apa kau di dalam? Bolehkah aku masuk?" tanya Diana seraya terus mengetuk pintu. Namun, Jayden tetap tak menjawabnya.
'Di mana dia? Apa dia tidak ada di kamar?'
Diana lalu mencoba membuka pintu kamar Jayden yang ternyata tidak terkunci. Ia pun memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam kamar yang didominasi dengan cat berwarna hitam dan putih itu. Sungguh mencerminkan karakter sang pemilik kamar yang terkesan dingin dan angkuh.
Diana memperhatikan keadaan sekeliling kamar untuk mencari Jayden, tetapi pria itu tidak ada di sana. Ia pun melangkahkan kakinya ingin beranjak keluar dari kamar itu dan pergi ke ruang kerja Jayden. Namun, kemudian ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi dan seketika Diana pun menghentikan langkahnya.
'Jadi dia sedang mandi? Baguslah. Aku akan menunggunya di sini.'
Tak berapa lama kemudian, Diana pun mendengar derit pintu kamar mandi yang terbuka. Ia kemudian memposisikan dirinya di atas tempat tidur dengan pose yang sexy dan menantang gairah pria, seraya menunggu Jayden untuk datang menghampirinya dan 'melahapnya'. Benar saja, pria itu memang berjalan semakin mendekat ke arah tempat tidur.
"Hai, Sayang," panggil Diana manja dengan suara yang menggoda.
Jayden menolehkan kepalanya dan melihat Diana yang sedang berada di atas tempat tidurnya. Seketika ia pun merasa geram karena Diana telah lancang masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?! Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk ke kamarku?!" teriak Jayden marah.
Diana yang melihat jika kekasihnya itu sedang marah pun langsung bangkit dari tempat tidur Jayden dan menghampirinya. Mereka memang sudah cukup lama bersama, tetapi Jayden tak pernah mengizinkan Diana untuk masuk ke dalam kamar pribadinya. Mereka tidur di kamar yang terpisah. Begitu pun setelah mereka selesai bercinta, pria itu akan langsung pergi dari kamar Diana dan kembali ke kamarnya sendiri.
Diana pun mendekati Jayden dan mulai melancarkan aksinya untuk menggoda pria itu. Ia melingkarkan tangannya di leher Jayden dan mendekatkan wajahnya. Aroma sabun yang tercium dari tubuh Jayden sungguh memabukkan baginya.
"Sayang, jangan marah. Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersamamu. Mengapa kita tidak menikmati malam yang indah ini saja? Jika kau tak ingin melakukannya di sini, maka kita bisa pindah ke kamarku. Aku akan membuatmu puas malam ini," bisik Diana.
Ia semakin mendekatkan dirinya ke tubuh Jayden, mencoba merayu pria itu untuk membangkitkan hasrat s*ksualnya. Diana membelai dada bidang Jayden dari balik kimono mandinya. Tangan lembutnya bermain di sekitar leher Jayden dan semakin turun hingga ke dada dan perutnya. Jayden pun memejamkan matanya menikmati sentuhan tunangannya itu.
"Aku ingin bersamamu malam ini, Jayden. Tetapi, kau jangan menggunakan pengaman lagi, ya? Aku juga sudah lama tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi itu. Karena aku ingin mempunyai seorang bayi denganmu. Kau mau, 'kan, Sayang?"
Jayden pun segera membuka matanya begitu mendengar Diana yang menyebutkan tentang bayi. Seketika ia pun teringat akan Jesslyn dan menjadi kesal. Jayden kemudian mencekal tangan Diana yang sedang membuka tali ikatan kimono mandinya.
"Apa?! Bayi?!"
"Iya, Sayang. Bayi. Aku sangat ingin memiliki anak denganmu, Jayden. Kita sudah lama bersama. Kedua orang tua kita juga sudah merestui hubungan kita. Lalu apa lagi yang kau tunggu? Aku siap menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Jayden. Lagi pula bukankah kita juga sudah lama tidak pernah bercinta? Aku sangat merindukan keperkasaanmu, Sayang."
Diana menurunkan tangannya dan memainkan jarinya di inti tubuh pria itu seraya terus merayu Jayden, tetapi nampaknya Jayden sudah kehilangan minatnya. Ia memang sudah lama tidak pernah bercinta lagi semenjak bersama dengan Jesslyn malam itu. Bukan hanya dengan Diana, tetapi juga dengan wanita-wanita lainnya.
Keberhasilan perusahaannya dalam memenangi sebuah tender besar membuatnya sangat sibuk beberapa minggu ini. Namun, begitu mendengar Diana yang menginginkan seorang bayi, gairahnya pun seketika padam kembali.
"Pergilah, Diana. Aku sedang lelah," usir Jayden seraya menyingkirkan tangan Diana yang sedang merangsang senjata perkasa miliknya.
"Apa?! Tidak mau. Aku tidak mau pergi," rajuk Diana.
Ia pun kembali mendekati Jayden dan ingin memeluknya. Namun, Jayden segera mendorong tubuh Diana dan membuat wanita itu hampir saja terjatuh.
"Diana, kau tahu, 'kan, aku tidak suka mengulangi kata-kataku? Terlebih lagi aku tidak butuh wanita pembangkang sepertimu. Jika kau masih ingin tinggal di sini maka pergilah dari kamarku sekarang juga dan patuhi semua peraturanku. Tetapi, jika kau melanggarnya maka jangan salahkan aku jika aku menyingkirkanmu dengan kejam," ucap Jayden dingin.
Diana pun terkejut mendengar ancaman Jayden. Ia tahu jika Jayden tak pernah main-main dengan ucapannya. Ia sangat mencintai Jayden. Pria itu begitu tampan dan berkuasa.
Apalagi hanya Jayden-lah satu-satu pria yang mampu memberikan kenikmatan berbeda padanya saat di ranjang. Tidak seperti para mantan kekasihnya dulu yang selalu membuatnya tak puas ketika mereka bercinta.
Maka Diana sangat tidak rela jika Jayden ingin memutuskan hubungan mereka dan menggantikan posisinya dengan wanita lain. Akhirnya Diana pun hanya bisa menuruti perkataannya saja. Ia akan mengalah kali ini.
"Iya, aku mengerti. Aku tidak akan membicarakan tentang bayi lagi. Kita masih mempunyai banyak waktu untuk itu. Jika kau tidak suka seorang bayi maka aku pun tak menginginkannya. Aku hanya membutuhkanmu saja, Jayden."
Diana mencoba membelai wajah Jayden, tetapi pria itu segera menepis tangannya.
"Pergilah, Diana! Sebelum aku benar-benar marah."
Melihat raut wajah Jayden yang sedang kesal, Diana pun tahu, ia harus segera menghentikan aksinya. Jika tidak maka Jayden tak akan segan-segan untuk mengusirnya malam ini juga.
"Baiklah. Baiklah. Aku akan segera pergi. Kau jangan marah lagi, ok? Selamat malam, Sayang."
Diana kemudian beranjak keluar dari kamar pria itu. Jayden pun segera memanggil seorang pelayan untuk mengganti sprei, selimut dan juga sarung bantal yang tadi ditiduri oleh Diana.
Diana mengepalkan tangannya melihat hal itu dan ia pun menjadi semakin kesal. Ia tahu Jayden tak pernah membiarkan seseorang untuk menyentuh barang-barang pribadinya. Meskipun mereka sudah lama bersama, tetapi pria itu masih saja menganggapnya sebagai orang asing.
'Jayden, suatu hari kau pasti akan bertekuk lutut dan memohon untuk cintaku. Kita lihat saja nanti!'
.
.
.
Setelah selesai melakukan tugasnya, Jayden segera menyuruh pelayan pria itu untuk pergi dari kamarnya. Ia kemudian menyalakan rokoknya dan berjalan ke arah balkon. Mood Jayden sangat tidak baik hari ini. Tanpa sadar ia terus memikirkan perkataan Peter yang memberitahukannya jika Jesslyn sedang hamil sekarang.
Jayden memang tak menggunakan pengaman malam itu, karena awalnya ia memang tak berniat untuk menyentuh Jesslyn. Ia hanya ingin mempermainkan Peter saja. Namun, wanita itu malah dapat menyalakan api gairahnya hanya dengan sebuah ciuman lembut yang jelas-jelas memberitahukannya jika Jesslyn tak berpengalaman dalam hal berciuman.
'Malam itu adalah yang pertama baginya. Apa itu juga adalah ciuman pertamanya?' gumam Jayden seraya memainkan jarinya di bibirnya dan tanpa sadar ia pun tersenyum karena mengingat kembali sentuhan hangat bibir Jesslyn.
'Dasar bodoh! Mengapa aku tak dapat mengendalikan diriku saat itu? Seolah aku-lah yang sedang berada dalam pengaruh obat itu.'
Jayden terus terhanyut dalam lamunannya, ia teringat saat bertemu dengan Jesslyn lagi tadi malam. Wanita itu terlihat cantik dalam balutan gaun hijaunya. Ia awalnya memang tak berniat untuk datang ke pesta perayaan Ryan, tetapi saat Steve menyebutkan siapa nama sekretaris Ryan yang telah mengundangnya, maka ia baru memutuskan untuk hadir di sana.
Jayden sungguh tak menduga jika ternyata Jesslyn bekerja di perusahaan yang baru saja di-akuisisi-nya itu, dan entah mengapa ia menjadi ingin bertemu lagi dengan Jesslyn. Namun, wanita itu tak mengenalinya sama sekali, ia bahkan tak melirik ke arah Jayden seperti wanita-wanita lainnya di pesta itu. Sikap Jesslyn pada Jayden benar-benar dingin. Seketika Jayden pun merasa kesal apalagi saat mengingat ucapan Sarah terhadap Jesslyn dan bayinya.
'Wanita tua itu berani sekali menganggap bayiku sebagai sampah dan ingin membuangnya begitu saja,' gumam Jayden marah seraya mengepalkan tangannya, tetapi kemudian ia pun segera tersadar.
'Sial! Ada apa denganku? Mengapa aku jadi memikirkan wanita itu?! Tidak. Tidak. Belum tentu itu adalah bayiku. Ya, benar. Peter pasti hanya ingin memerasku saja. Wanita itu adalah pion bagi Peter dan pasti Peter telah menggiringnya ke ranjang pria lain demi kepentingan bisnisnya.
Tetapi, karena dia tidak tahu siapa ayah dari bayi itu maka dia jadi menjebakku. Atau mungkin sebenarnya dia dan istrinya telah merencanakan semua ini. Sial kau, Peter! Tidak, aku tidak akan tertipu oleh rencana busuk kalian.'
.
.
.