Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Akhirnya jam pulang kerja datang juga. Aku bersiap pulang dengan penat yang begitu melelahkan. Hari ini entah mengapa, tapi terasa begitu panjang. Banyak masalah yang harus dihadapi. Banyak kejadian yang menegangkan. Aku terburu buru pulang dan ingin segera beristirahat. Ingin memanjakan diri dengan berendam air hangat sejenak.
Aku pun sampai dirumah dengan selamat. dan segera membersihkan diri. Saat aku sudah selesai, aku keluar kamar berniat ingin bergabung dengan keluargaku. Saat itu pula datang seseorang yang tak di undang.
" Assalamu'alaikum ". Terdengar salam dari luar.
" Wa'alaikumsalam ". Jawab kami serempak.
Ibu ke depan untuk membukakan pintu, sementara yang lain duduk dengan santai menikmati acara TV yang sebenarnya tak menarik. Tapi kebersamaannya lah yang selalu di nanti.
" Selamat malam semua". Kami menoleh ke sumber suara. " Maaf apa saya mengganggu?. Apa saya boleh bergabung? ".
Ternyata yang datang Arsaka. Langsung masuk ke ruang tengah. Untungnya akun sudah memakai hijab walau di rumah.
" Lho Ar.. Kamu kok kesini? ".Aku jelas terkaget.
" Boleh dong mampir. Kebetulan ini tadi ketemu tukang martabak, mari silahkan di cicipi".
" Waduh, jadi repot ini nak Arsaka. Ayo mari duduk sini nak". Ayah menepuk sofa kosong di sebelahnya. " Mampir lah kapanpun kamu mau. Kami akan sangat senang".
" Terima kasih om". Dia pun duduk di sebelah ayah.
"Kalau begitu ayo sambil minum teh hangatnya. Sebagai teman makan martabak". Ibu menyuguhkan teh untuk kami.
" Kak Arsa sering banget datang, bawa oleh oleh lagi". Lala menimpali.
" Ayah kamu aja ngizinin masa nggak boleh? Lagian kali ini Amara ada si rumah, jadi boleh dong ikutan ngobrol ".
" Kalau mau ngobrol sama Amara boleh kok, silahkan. Kalian bisa ngobrol si ruang tamu".
" Tidak apapa kok om, di sini aja, Rame soalnya".
Mereka mengobrol ringan sambil memakan martabak yang Arsaka bawa. Suasana begitu menyenangkan membuat Arsaka ingin tetap tinggal.
" Oh iya Ra, design gaun mbak Sofia yang kemarin rusak masih ada nggak kira kira? ".
" Masih. Ada di butik kayaknya. Memang kenapa? ".
" Ini tadi pengacara nanya soalnya, katanya itu bisa jadi salah satu bukti. Kalau masih di butik, besok aku ambil ya? Atau biar bu Zahira yang bawa aja Waktu mau buat laporan ke polisi".
" Iya. Besok aku kasih ke bu bos".
" Mau ke polisi buat apa emang". Ayah mulai kepo.
" Mau laporin yang kemarin ngerusak gaun yah, karena ternyata dia juga udah jual design nya ke orang lain. Jadi di sosmed viral nya butik kita yang meniru design itu". Aku menjelaskan sedikit pada ayah karena beliau memang sudah tahu tentang gaun rusak itu.
" Oh. Udah ketemu pelakunya ? Siapa? orang dalam kah? ".
" Tepat sekali yah".
" Sudah ayah kira. Ya sudah semoga kasusnya cepet beres deh".
" Amin".. Aku mengamini. " Tapi ini bener bikin kaget banget yah, belum lagi tadi dapat pelanggan yang agak gila. Wah, hari ini aku bener bener diuji kesabarannya".
" Ya begitulah dunia kerja nak".
" Ada orang gila? Emang ngapain dia kak? ".
" Mau belanja, tapi udah milih selama sejam nggak ada yang cocok. Terus ditawari buat design yang dia mau, Eh akunya dia buat ngulang gambar sampai puluhan kali. Salah mulu akunya, Ternyata yang dia mau ya yang sudah dari awal aku tunjukin, yang awalnya dia tolak karena katanya kampungan. Sebel banget kan? ".
" Hahaha. Kok ada orang kaya gitu? pelanggan itu kak? ".
" Bukan. Dia baru dateng pertama. Kalau punya pelanggan kaya dia, aduh ampun deh. Mending jangan ".
" Sabar nak, tetaplah profesional".Ayah menasehati.
" Iya yah. Aku berusaha banget kok".
" Yang ikhlas aja Ra biar kamu ngerjain nya juga ringan ".Arsaka ikut menyemangati.
" Terus punyaku kapan jadinya kak? ".
" Kakak kerjain buat tu orang gila dulu ya dek biar dia cepet ngilang. Baru punya kamu".
" Masih ada waktu H-4 bisa jadi kan kak? ".
" Insya Allah bisa. Semoga si orang gila ini nggak bikin ulah lagi".
" Kalau punya Lala di buat di rumah juga bisa kan".
" Bukan keluaran butik song yah".
" Yang penting kamu tetep bagus. Yang buat tetep kakakmu ".
" Iya tapi kalau bisa tetep mau keluaran butik".
" Iya. kakak usahakan".
" Maaf Ra,tapi kayaknya mbak Sofia juga bakalan ke butik buat membahas gaun buat nikahan nanti. Tadinya mau tadi pagi, tapi situasi si butik nggak dukung banget, jadi mungkin besok besok dia datang lagi".
" Ok... datanglah kapan-kapan pun. Mau nikahannya kapan emang Ar? masih lama nggak? ".
" Mungkin dia atau tiga bulanan lagi, kalau sesuai rencana awal ".
" Bagua deh, jadi nggak buru buru banget nanti".
" Ya udah om, Saya pamit dulu, sudah malam". Arsaka berniat untuk pulang.
" Ya sudah. Memang lebih baik tidak sampai terlalu malam. Yang penting hati hati di jalan ".
" Udah mau pulang? kayaknya betah banget di sini? ".
" Pengennya sih tetep di sini, tapi belum saatnya. hahaha".
Aku jadi bingung kenapa dia bilang begitu. Tapi, ya sudah lah biarin aja.
Aku pun. mengantarnya sampai di halaman rumah.
" Makasih Ar ".
" Buat apa".
" Martabaknya, enak banget".
" Kalau kamu suka, aku nggak keberatan ngasih kamu tiap hari".
" Ya nggak gitu juga kali".
" Ya udah Ra. Aku pulang dulu ".
" Hati hati".
Setelah dia pergi, aku berniat ingin pergi tidur. Tapi spai di kamar, ada pesanasuk dari entah siapa, nomor tak di kenal. Awalnya aku mengabaikan, tapi pesan terus saja masuk. Hingga aku mau tak mau jadi membukanya.
Pesan pertama sebuah foto di kirim. Disana terlihat dua orang sedang makan malam bersama. Seorang wanita dengan make up tebal dan penampilan glamor dan seorang pria yang seperti aku kenal. Di gambar tampak membelakangi si lelaki hingga tak kelihatan wajahnya.
Pesan kedua masih sama. Sebuah foto tapi kali ini aku di buat terkejut karena wajah lelaki itu terlihat jelas. Dia Adit bersama perempuan itu, Maria. Mereka tampak menikmati momen. berdua itu. Adit tampak santai seperti saat ku melihat mereka di acara mbak Sofia. Sebenarnya Adit maunya
gimana sih? Dia bilang ingin aku berjuang dapatkan hati mamanya, tapi ini? dia malah jalan sama perempuan itu.
Pesan ketiga.. ( Hari ini aku dapatkan waktu nya. Besok orangnya dan lusa pasti hatinya)
( Siapa pun yang menghalangi, akan tanggung akibatnya, akan ku buat hidupnya menderita. Akan ku buat dia hancur)
Aku membuka mataku lebar. Ini ancaman atau tantangan. Apa pun itu uang pasti aku akan berjuang jika dia pantas di perjuangkan, tapi aku akan mundur teratur jika di tak layak di pertahanan kan.
( Dit., lagi apa? ) Aku coba mengirim pesan, ingin tahu apakah dia aja jujur atau bohong.
Pesan di balas setelah lima menit berlalu.
( Lagi makan sama mama. Mau ikutan? )
Dia bohong. Apa mang di antara mereka sudah ada sesuatu.
( Oh. Nggak usah deh belum waktunya. Kamu makannya di rumah? )
( Di luar nih... biar sekalian jalan )
Jalan sama cewek gila kali..
( Ya udah selamat menikmati waktu mu. Aku pengen istirahat dulu ).
( Siap. Selamat malam Amara cantik, selamat istirahat ).
Adit kenapa bohong ya? Wah jangan jangan mereka udah mulai deket nih. Jadi malas berjuang kalau gini. Ya sudahlah, kita lihat saja nanti. apa yang akan terjadi. Mending aku siapkan. energi untuk esok hari, masalah Adit biar nanti aku cari tahu.