Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERASA BERSALAH
Pagi itu, cahaya matahari yang menerobos celah jendela kayu rumah sederhana mereka terasa hangat menyentuh wajah Narendra. Untuk pertama kalinya sejak operasi, ia merasa tubuhnya memiliki energi lebih. Namun, bukan rasa bugar itu yang membuatnya terpaku, melainkan sosok yang meringkuk di sofa panjang tak jauh dari ranjangnya.
Arneta tertidur dengan kepala bersandar pada bantalan sofa yang keras. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lelah—kelelahan yang didapat karena menjaganya semalaman suntuk.
Narendra menatap wajah itu dalam diam. Ingatan masa kecil mereka di kampung halaman berputar seperti film lama. Arneta yang dulu sering mengejarnya di pematang sawah, kini adalah wanita dewasa yang dengan telaten mengganti perban dan menyuapinya obat. Ada kepolosan di wajah tidur Arneta yang mendadak menggetarkan sesuatu yang terkubur jauh di dalam lubuk hati Narendra.
Selama lima belas hari ini, Arneta selalu ada di sampingnya. Saat Melisa harus pergi bekerja "mengasuh bayi" hingga larut atau bahkan menginap, Arneta lah yang mendengarkan keluh kesahnya, yang memijat kakinya yang kaku, dan yang memberinya semangat saat ia merasa menjadi beban.
Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibir Narendra. Ada rasa nyaman yang berbeda; rasa yang membuatnya merasa dihargai sebagai seorang pria, bukan sekadar pasien yang dikasihani.
Narendra menggeser duduknya ke tepi ranjang dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Ia mengulurkan tangannya yang masih sedikit gemetar, lalu dengan gerakan yang sangat halus, jemarinya membelai lembut pipi Arneta. Kulit Arneta terasa halus dan hangat.
"Terima kasih, Net..." bisik Narendra lirih, matanya menatap penuh arti.
Sentuhan itu membuat Arneta terusik. Bulu mata lentiknya bergetar sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan. Begitu kesadarannya pulih, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Narendra yang berada sangat dekat dengannya, dengan tangan yang masih menempel di pipinya.
Arneta tersentak kecil, namun tidak menjauh. Jantungnya berdegup kencang. Ia bisa melihat kilatan aneh di mata Narendra—sesuatu yang bukan sekadar tatapan seorang teman lama kepada sahabatnya.
"Mas... Mas Rendra sudah bangun?" tanya Arneta gagap, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Narendra buru-buru menarik tangannya, wajahnya merona merah. "Ah, iya. Maaf, Net. Tadi ada... ada helai rambut di wajahmu."
Suasana seketika menjadi sangat canggung. Arneta segera duduk tegak, merapikan pakaian dan rambutnya dengan gerakan gugup. "Aku... aku siapkan air hangat dulu ya untuk Mas mandi."
"Iya, terima kasih," jawab Narendra singkat, matanya memandang ke arah lain, menghindari kontak mata.
Di dalam dadanya, Narendra merasa bersalah. Ia sangat mencintai Melisa, istrinya yang sudah berkorban nyawa untuknya. Namun, ia tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa kehadiran Arneta telah mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Melisa selama wanita itu sibuk bekerja untuk Harvey.
Sementara itu, di balik pintu dapur, Arneta menyandarkan punggungnya ke tembok sambil memegang dadanya yang berdebar. Ia tahu ini salah. Narendra adalah suami orang dan juga sahabatnya. Tapi perhatian Narendra pagi itu adalah sesuatu yang sudah lama ia dambakan sejak mereka masih remaja di desa.
Arneta segera menghampiri Narendra saat melihat pria itu kesulitan dengan kaosnya. "Sini, Mas... biar aku bantu. Jangan dipaksa, nanti jahitannya tertarik," ucap Arneta cepat, mencoba menutupi kegugupannya dengan nada profesional seorang perawat.
Namun, saat ia mendekat, kecanggungan itu justru semakin memuncak. Kaos Narendra tersangkut di bagian bahu yang masih kaku, memaksa Arneta untuk berdiri sangat dekat, hingga ia bisa merasakan deru napas Narendra di puncak kepalanya.
Tangan Arneta yang gemetar mulai meraih pinggiran kaos tersebut. Secara tidak sengaja, jemarinya bersentuhan langsung dengan kulit dada Narendra yang hangat. Arneta merasakan sengatan listrik yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar oleh Narendra.
"Maaf, Mas... agak sedikit sulit," bisik Arneta, wajahnya tertunduk, tak berani menatap mata Narendra.
Narendra sendiri hanya terdiam membeku. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma lembut sabun mandi dan wangi alami dari rambut Arneta. Ia melihat bagaimana Arneta dengan sangat hati-hati berusaha tidak menyakiti bekas operasinya. Ada ketulusan yang murni dalam setiap gerakan wanita itu.
Perlahan, kaos itu berhasil terlepas. Narendra kini bertelanjang dada di hadapan Arneta. Suasana di kamar itu mendadak terasa lebih panas dari biasanya. Arneta terpaku sejenak, menatap lekat bekas luka di dada dan kepala Narendra yang menjadi saksi perjuangan hidup pria itu.
"Sudah... sudah lepas, Mas," ucap Arneta lirih. Ia masih memegang kaos itu, enggan untuk segera menjauh.
Narendra menatap Arneta yang masih berdiri di hadapannya dengan wajah memerah. "Terima kasih, Net. Kamu selalu tahu cara membantuku."
Tanpa sadar, tangan Narendra kembali terangkat, kali ini ia menggenggam lembut pergelangan tangan Arneta yang masih memegang kaosnya. Mereka saling bertatapan dalam diam yang cukup lama. Di rumah kecil itu, untuk beberapa saat, mereka berdua seolah lupa pada dunia luar—lupa pada Melisa yang sedang menderita di tangan Harvey, dan lupa pada batas-batas yang seharusnya tidak mereka langgar.
"Net, kalau saja dulu aku..." Narendra menggantung kalimatnya, tidak berani melanjutkan pengandaian yang bisa merusak segalanya.
Arneta hanya bisa menelan ludah, dadanya sesak oleh perpaduan antara rasa bersalah pada Melisa dan rasa bahagia yang terlarang.
Tiba-tiba, terdengar suara taksi berhenti di depan rumah. Melisa pulang lebih awal dengan kondisi fisik yang hancur dan hati yang remuk redam.
***
Bersambung...