Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Perangkap di Balik Pintu
Motor Marno menderu membelah kabut malam yang semakin tebal. Arum mencengkeram erat pinggang Baskara, angin dingin menusuk hingga ke tulang, namun pikirannya jauh lebih dingin. Kalimat di ponsel Pak Broto tadi terus berputar di kepalanya: Eksekusi rencana B di rumah dinas malam ini.
"Mas, lebih cepat!" seru Arum di telinga Baskara.
Begitu mereka sampai di halaman rumah dinas, suasana tampak sunyi terlalu sunyi. Lampu teras yang biasanya menyala kini padam. Pintu depan tertutup rapat, namun Arum menyadari sesuatu yang janggal: keset kaki di depan pintu sedikit bergeser, dan ada sisa tanah basah yang membentuk jejak sepatu menuju arah jendela samping.
"Jangan masuk lewat pintu depan, Mas," Arum menahan lengan Baskara.
"Kenapa? Kita harus cek keadaan di dalam!"
"Jendela kamar kita terbuka sedikit," Arum menunjuk dengan dagunya. "Dan aku tidak pernah meninggalkan jendela terbuka saat hujan."
Arum mengambil sebatang kayu besar dari tumpukan kayu bakar di samping rumah, lalu menyerahkannya pada Baskara. Ia sendiri merogoh tasnya, mengeluarkan semprotan merica dan lampu senter kecil yang selalu ia bawa. Mereka bergerak memutar, mengendap-endap melalui pintu dapur.
Saat pintu dapur terbuka, aroma gas yang menyengat langsung menyambut indra penciuman mereka.
"Mas, jangan nyalakan lampu!" bentak Arum pelan saat melihat tangan Baskara bergerak ke arah sakelar. "Ada kebocoran gas sengaja. Satu percikan api dari sakelar, dan rumah ini akan meledak."
Baskara membeku. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Arum segera menutup hidungnya dengan kain kerudung dan merangkak menuju kompor. Benar saja, keempat selang gas sudah dicopot dan dibiarkan mendesis. Dengan gerakan tenang, Arum memutar katup tabung gas hingga suara desisan itu berhenti.
Namun, ancaman belum selesai. Dari arah ruang tengah, terdengar suara gesekan kertas yang kasar. Seseorang sedang menggeledah meja kerja Arum.
Srekk... Srekk...
Arum memberikan isyarat pada Baskara untuk tetap di dapur, sementara ia merangkak mendekat. Lewat celah pintu, ia melihat sesosok pria bertopeng hitam sedang memegang sebuah map biru. Itu adalah map berisi data kepemilikan tanah desa yang selama ini disembunyikan Pak Broto.
"Ketemu," bisik pria itu dengan suara parau.
Pria itu mengeluarkan korek api dari sakunya. Rupanya, ia tidak hanya ingin mencuri, tapi juga ingin membakar bukti tersebut sekaligus meledakkan rumah ini begitu ia keluar.
Tepat saat pemantik api itu menyala, Arum beraksi.
"Mas, sekarang!"
Baskara menghambur masuk dan menghantamkan kayu itu ke arah tangan si pencuri. Korek api itu terpental ke lantai kayu. Arum segera menyemprotkan merica ke arah wajah pria tersebut.
"ARGHHH! MATAKU!" pria itu menjerit, jatuh tersungkur sambil memegangi wajahnya yang terbakar hebat.
Baskara segera meringkus pria itu, menindih punggungnya dengan lutut. Arum dengan cepat mengambil korek api yang masih menyala di lantai dan mematikannya sebelum menyentuh tumpukan kertas.
"Siapa yang menyuruhmu? Siska?!" Arum menekan suara pria itu dengan ujung sepatunya ke lantai.
Pria itu hanya mengerang kesakitan. Arum tidak menyerah. Ia mengambil ponsel pria itu yang tergeletak di meja. Layarnya masih menyala, menampilkan panggilan suara yang masih terhubung.
Arum mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Ia tidak bicara, hanya mendengarkan.
"Halo? Sudah beres? Bakar saja semuanya, pastikan tidak ada sisa, termasuk perempuan pintar itu," suara seorang wanita terdengar dari seberang telepon. Dingin, berwibawa, dan sangat familiar. Siska.
Arum menarik napas panjang, lalu akhirnya bicara dengan nada yang sangat tenang namun mematikan.
"Halo, Mbak Siska. Sayang sekali, rencana B Anda baru saja gagal karena audit keselamatan saya lebih ketat daripada yang Anda duga. Dan oh ya, percakapan ini baru saja saya rekam sebagai barang bukti percobaan pembunuhan."
Hening seketika di ujung telepon.
"Arum... kau..." suara Siska bergetar antara amarah dan ketakutan.
"Jangan repot-repot mengirim orang lagi, Mbak. Karena besok pagi, saya sendiri yang akan mengantarkan map ini ke kantor kejaksaan. Selamat malam, Mbak Siska. Tidurlah yang nyenyak, selagi Anda masih bisa."
Arum mematikan telepon itu dengan sekali sentak. Ia menatap Baskara yang masih syok.
"Mas, sepertinya kita tidak bisa mencuci piring malam ini," Arum tersenyum lemas. "Kita harus menginap di balai desa bersama warga. Rumah ini sudah tidak aman."
Baskara berdiri, memeluk Arum erat. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku tidak menikah denganmu, Arum."
"Mungkin rumahmu sudah jadi abu, Mas," canda Arum, meski matanya berkaca-kaca. Ia tahu, perang besar baru saja dimulai. Siska tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti ini.
Baskara masih menahan napas, tangannya gemetar saat mengikat tangan pria bertopeng itu dengan kabel setrika yang ia temukan di meja. Aroma gas di ruangan itu perlahan menipis seiring angin malam yang masuk lewat jendela yang sengaja dibuka lebar oleh Arum.
Arum berdiri tegak, menatap map biru yang kini aman di pelukannya. Ia tidak memedulikan debu yang menempel di daster batiknya. Matanya tertuju pada sebuah benda kecil yang tergeletak di sudut ruang tengah, nyaris tak terlihat jika tidak terkena pantulan senter.
"Tunggu, Mas. Jangan bergerak dulu," cegat Arum saat Baskara hendak berdiri.
Arum mendekat ke arah sofa. Di bawah kolong meja, terdapat sebuah kotak hitam kecil dengan lampu indikator merah yang berkedip sangat cepat. Arum berlutut, menyipitkan mata untuk melihat mekanisme benda tersebut.
"Ini bukan sekadar sabotase gas, Mas," bisik Arum, suaranya kini mengandung getaran kengerian yang nyata. "Ini pemicu jarak jauh. Gas itu hanya umpan agar kita masuk, dan benda ini adalah eksekutornya."
Arum tahu, jika ia salah potong kabel, seluruh rumah dinas ini akan menjadi kawah dalam sekejap. Otaknya yang biasa mengaudit angka korupsi kini dipaksa mengaudit sirkuit peledak. Ia ingat kursus dasar teknis yang pernah ia ambil saat menangani proyek kilang minyak di kota.
"Mas, bawa pria ini keluar. Jauhkan dari rumah! Sekarang!" perintah Arum tanpa menoleh.
"Aku nggak akan ninggalin kamu, Arum!"
"Baskara!" Suara Arum meninggi, penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Jika benda ini meledak, setidaknya salah satu dari kita harus tetap hidup untuk menjaga warga Navasari. Pergi!"
Baskara tertegun, matanya berkaca-kaca, namun ia tahu istrinya tidak sedang bercanda. Dengan berat hati, ia menyeret pria bertopeng itu keluar halaman.
Tinggal Arum sendirian di ruang tengah yang pengap. Detak jam di dinding seolah berpacu dengan detak jantungnya. Ia mengeluarkan gunting kuku dari tas kecilnya—satu-satunya alat tajam yang ia miliki.
Ia melihat dua kabel yang saling melilit: Merah dan Kuning.
"Logika Siska selalu soal ego," gumam Arum pada diri sendiri. "Kuning adalah warna emas, simbol keserakahannya. Merah adalah kemarahan. Dia ingin aku hancur karena marah..."
Jemari Arum memegang kabel kuning. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah ibunya di kota, lalu wajah Baskara yang penuh harapan.
KLIK.
Lampu merah itu berhenti berkedip. Hening. Hanya suara jangkrik di luar yang kembali terdengar. Arum ambruk ke lantai, napasnya keluar dalam satu embusan panjang yang melegakan. Ia berhasil.
Namun, saat ia mencoba berdiri, sebuah bayangan muncul di ambang pintu belakang. Bukan Baskara. Bukan Marno.
Seorang wanita dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, rambutnya disanggul sempurna, berdiri di sana sambil memegang sebuah payung hitam. Siska. Dia tidak menunggu di Jakarta. Dia ada di sini, menyaksikan kegagalannya sendiri.
"Kau benar-benar wanita yang merepotkan, Arum," ujar Siska, suaranya tenang namun mengandung kebencian yang mendalam. "Tapi kau tahu apa kesalahan terbesarmu? Kau mengira aku hanya bermain dengan satu rencana."
Siska mengangkat tangannya, menunjuk ke arah menara pengawas desa yang berada di kejauhan. Dari sana, api mulai membumbung tinggi.
"Sementara kau sibuk menjinakkan mainan kecil ini di rumahmu, seluruh data fisik BUMDes dan arsip desa yang asli sedang terbakar di atas sana. Besok pagi, suamimu tidak akan punya bukti apa pun untuk membela diri di depan pengadilan tipikor."
Arum menatap kobaran api di menara desa dengan mata membelalak. Ia baru sadar, Siska memang sengaja mengorbankan rumah dinas agar Arum terpaku di sini sementara target aslinya dihancurkan.
"Permainan belum selesai, Arum," Siska tersenyum dingin sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam, diiringi suara mobil mewah yang melesat pergi.
menegangkan ..
lanjut thor..