Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil hitam meluncur pelan dan berhenti di depan gerbang megah kediaman Draco.
Satpam yang bertugas sigap mendekat, menatap dengan seksama siapa yang ada di balik kaca gelap mobil itu.
Namun sebelum satpam sempat bertanya, suara seorang wanita nyaring memotong udara malam, “Ini saya, Araina, Pak. Tolong buka gerbangnya, ya.”
Hening sesaat, kemudian satpam itu tersenyum penuh hormat, “Ah, baik, Nona.”
Dengan cekatan, ia menarik tuas, membuka gerbang lebar-lebar, seolah menyambut kedatangan tamu istimewa.
Begitu pintu gerbang terbuka sempurna, Laskar langsung menginjak gas mobilnya, mengubah laju menjadi lebih cepat, namun tak lupa melepas sapaan hangat.
Ia menurunkan kaca jendela, suara ramahnya mengalir, “Mari, Pak.”
Gerbang mewah itu terbuka lebar, mengantar mereka masuk ke dalam halaman rumah yang luas itu.
Mobil itu berhenti dengan tenang di depan pintu utama keluarga Draco. Laskar melangkah keluar lebih dulu, lalu berlari kecil mengitari mobil dan membuka pintu samping untuk Araina.
Sebuah gesture yang bagi Araina terasa manis, namun sekaligus mengiris karena mereka jelas tak lebih dari dua orang asing tanpa ikatan apa pun.
Araina menghela napas dalam, menyembunyikan keraguannya di balik bibir yang setengah tersenyum. "Terima kasih," katanya, suaranya pelan namun penuh penegasan ketika melangkah keluar.
Laskar membalas dengan anggukan lembut dan senyum yang hangat, mencoba menyulut percikan harapan. "Sama-sama. Nggak disuruh masuk dulu nih?" tanyanya, suaranya ringan tapi mengandung harapan tersembunyi.
Araina memutar bola matanya malas, rasa lelah dan ketidakpercayaan menumpuk dalam diri. "Lihat sekarang sudah jam berapa? Sudah larut malam. Pulang sana," balasnya dingin, seperti tembok yang menutup segala kemungkinan untuk lebih dari sekadar basa-basi.
Keheningan menggantung sesaat di antara mereka, malam yang gelap seolah menyaksikan perpisahan tak resmi itu antara dua jiwa yang sebenarnya ingin lebih, namun terjebak oleh jarak yang tak terjelaskan.
“Ya sudah, aku pulang dulu, kamu masuk ke dalam, ya,” kata Laskar lembut, sembari mengusap kepala Araina dengan penuh kasih sayang.
Sentuhannya yang hangat membuat dadanya sesak, tapi juga menimbulkan gelombang perasaan yang sulit diungkapkan.
Araina hanya mengangguk, tapi jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, seolah-olah detak itu sendiri adalah gema dari ketidakpastian yang menghantui pikirannya.
Setiap kali Laskar melakukan tindakan yang tak terduga, jantungnya menjadi tak aman, ia seolah terombang-ambing antara harapan dan keraguan.
Dengan langkah pelan dan hati yang bergejolak, Araina membuka pintu utama rumah. Matanya sempat tertuju pada mobil Laskar yang melaju menjauh, meninggalkan bayangan samar yang sulit dia tafsirkan.
Tatapan itu penuh pertanyaan tanpa jawaban, membuat ruang di balik pintu terasa semakin sunyi dan dingin.
...****************...
Di sudut lain
kediaman keluarga Harvey, Arion dan Aurora duduk di ruang tamu yang sunyi. Waktu sudah larut, semua orang telah terlelap di kamar masing-masing, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menekan.
Namun, tatapan Arion yang menatap lekat pada Aurora seperti bayang-bayang yang tak bisa diusir, membuat udara di sekeliling mereka mendadak sesak.
“Ada apa kamu datang larut malam? Di saat orang akan pergi istirahat?” suara Aurora mengiris malam, ketus dan penuh kekesalan.
Tapi Arion hanya menarik napas panjang, matanya tak bergeming dari pandangan Aurora. “Kalau aku berubah... jadi lebih baik, dan hanya ingin kamu satu-satunya di hidupku apakah kamu akan menerimaku?” bisik Arion dengan suara berat, penuh harap.
Aurora terdiam, jantungnya seperti tertahan. Tatapan mereka bertemu dalam diam yang begitu tajam, membuat rasa gelisah merayap perlahan ke dalam hatinya.
Dalam sekejap, Aurora bisa melihat ketulusan yang terpancar dari mata Arion, seolah dia menaruh seluruh hidupnya dalam satu harapan kecil itu.
Malam itu, waktu seolah berhenti, menyisakan ruang bagi segala keraguan dan harap yang bercampur menjadi satu.
...****************...
Pagi harinya.
"Jadi apa yang kamu bicarakan dengan Arion semalam?" Adeline memulai pembicaraan, dia bertanya dengan lembut.
"Tidak ada, Arion datang hanya membawa bingkisan dan setelah itu pulang," jawabnya.
"Yakin hanya bingkisan?" Kaynen menggoda Aurora.
"Iya Kak, lalu apa?" tanyanya tanpa ada sipu malu di wajahnya.
Aurora hanya acuh, dia kembali melanjutkan sarapannya dengan wajah dingin, dan seolah tak terjadi apapun.
Mereka saling tatap, melihat bagaimana dinginnya Aurora membuat ketiganya merasa ini akan menjadi hal sulit bagi Arion.
Di sekolah DHS.
PLETAK!
Seseorang datang memukul kepala seseorang dan membuat orang itu terkejut, "Siapa berani?" serunya, sambil menoleh.
"Apa?" tanya Araina dengan mata mendelik.
"Kau? Tidak sopan Pada yang lebih tua," kesal Arion.
"Kau dan aku hanya terpaut tiga menit saja ya, jadi jangan berpikir kau lebih tua," ketusnya.
"Baiklah, kau mau apa? Tiba-tiba memukul tanpa sebab," Arion bertanya dengan kesal.
"Kau yang apa-apaan? Kenapa meminta Laskar menjemputku semalam? Kau tahu aku enggan melihat dia lagi?" bentak Araina.
Arion hanya acuh,"Aku hanya minta tolong, lalu apa salahnya?"
"Salah, kau tahu aku tak suka dia!" seru Araina.
"Duh, hanya masalah ini Araina, kau itu suka dan cobalah jujur!" kata Arion menasehati.
Araina kesal, ingin sekali rasanya ia menjambak rambut hitam legam Arion itu dengan brutal. Namun, ia tahan sebab dirinya tahu ini Arion hanya bermaksud baik.
"Eh, ada apa ini?" Bulan datang bersama Clarin dan yang lain pula.
"Tidak ada, aku hanya bicara dengan Arion tadi," jawab Araina, dia segera duduk di kursinya.
"Bicara apa? Kalian sepertinya bersitegang," tebak Abi, dia selalu bisa merasakan jika para sahabatnya berselisih.
"Tidak ada, kau jangan seperti cenayang ya, Bi," ujar Araina.
"Aku kan hanya tanya, lalu apa salahnya?"
"Sudah, kau ini malah buat masalah lagi, Araina sedang datang bulan kau mau di jambak!" Bulan berbisik dengan nada menakuti.
Abi hanya mengangguk, dia patuh pada sosok Bulan walaupun sering kali tak pernah peka pada sosok gadis cantik yang menjadi kekasihnya itu.
...****************...
Di sisi lain.
"Aku mau bicara!" minta Anjani.
"Apa?" tanya Aurora, dia menatap Anjani malas.
"Apa sebenarnya yang kau lakukan Aurora? Kenapa semua orang sayang padamu bahkan Arion juga?" tanya Anjani dengan wajah marah penuh selidik.
"Apa? Memang kau melihat aku melakukan apa? Jelas mereka sayang aku karena akulah putri kandung mereka," jelas Aurora, dengan wajah sinis.
"Lalu Arion? Apa yang kau berikan padanya? Jelas Arion bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta, dia hanya menggunakan gadis-gadis itu untuk kesenangan dan aku yakin kau salah satunya."
"Kau yakin? Jika Arion suka pada semua gadis, lalu ..." ucapannya terjeda, "Kenapa padamu tidak?" tanya Aurora sinis dan tangan terlipat di dada.
DEGH!
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄