Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati Yang Mulai Tertaut
Gema selawat dari acara Isra Miraj kemarin malam, masih terasa di sudut-sudut desa, namun Sukamaju tidak berhenti berdenyut. Hari ini, suasana berubah menjadi lautan warna-warni. Festival Teh dan Pameran UMKM yang dirancang Arka akhirnya resmi dibuka. Stand-stand bambu yang dihias cantik berjajar rapi, aroma teh yang baru diseduh menyeruak ke udara, berpadu dengan tawa riuh warga dan pengunjung dari luar kota. Sukamaju benar-benar sedang berada di puncak cahayanya.
Arka, mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi, tampak sibuk berkeliling stan. Di sampingnya, Zahwa setia menemani sebagai koordinator lapangan dari pihak Karang Taruna dan perwakilan pesantren. Kedekatan mereka hari ini mengalir begitu alami, tanpa ada kesan canggung atau dibuat-buat.
Sepanjang acara, perhatian Arka kepada Zahwa benar-benar mencuri perhatian. Saat matahari mulai terik, Arka tanpa ragu memberikan botol air mineral yang baru dibuka kepada Zahwa. Saat Zahwa terlihat kelelahan mengoordinasi barisan pengunjung, Arka memintanya untuk duduk sejenak di kursi VIP dan menggantikannya memberikan instruksi lewat pengeras suara.
"Minum dulu" Arka menyodorkan air mineral yang botol nya sudah ia buka.
"Terima kasih Pak, bapak sendiri gak minum?"
"Euh.. Saya.. Sudah"
Zahwa hanya mengangguk, mengiyakan.
Bagi Zahwa, perhatian-perhatian kecil itu awalnya ia terjemahkan sebagai sikap profesional seorang pemimpin kepada warganya.
Ia berpikir, “Wajar saja, Pak Arka memang pemimpin yang sangat peduli pada rakyatnya.”
Namun, sorot mata Arka yang dalam setiap kali mereka berbicara secara tidak langsung membantah pikiran logis Zahwa. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar urusan dinas.
Seiring suksesnya acara pameran ini, gosip tentang Dokter Citra seolah menguap begitu saja ke udara, bersamaan dengan uap teh yang mendidih di stan-stan. Semua usaha Dokter Citra mulai dari vitamin hingga makan siang menguap begitu saja.
Dokter Citra yang hadir di acara itu tampak terabaikan di sudut tenda medis. Tidak ada warga yang menggodanya, tidak ada yang menjodohkannya dengan Arka. Perhatian semua orang sudah terkunci pada pasangan "Ideal Desa" di tengah lapangan.
"Lihat tuh, Dokter Citra mukanya cemberut terus," bisik Santi kepada Siti sambil memperhatikan Dokter Citra yang sedang merapikan kotak obat dengan kasar.
"Ya habisnya gimana, San. Pak Kades kalo sama Dokter Citra dia profesional, cuma keliatan nya aja Dokter Citra yang nyosor-nyosor. Tapi kalau sama Zahwa? Lihat tuh, senyumnya Pak Kades lebar banget, sampai matanya ikut senyum," timpal Siti sambil terkekeh kecil.
Sore harinya, saat penutupan acara, Arka dan Zahwa berjalan bersama menuju stan utama pesantren. Warga yang berpapasan dengan mereka seolah tak lelah melemparkan godaan. Kejadian di warung Bu Sari tempo hari seolah terulang kembali secara massal.
"Pak Kades ini sudah berhasil menaklukan hati warga, kapan nih Pak Kades menaklukan hati permata pesantren" teriak seorang bapak dari kelompok tani.
"Iya Pak! Kami warga siap jadi tim sukses kalau Pak Kades mau menanam pohon cinta di pesantren!" sahut pemuda desa lainnya sambil bersiul.
Arka dan Zahwa benar-benar dibuat tidak berkutik. Biasanya, seorang pejabat akan disegani dan warga akan merasa segan untuk bercanda berlebihan. Namun, di Sukamaju, Arka telah berhasil meruntuhkan dinding pembatas itu. Warga melakukan itu karena mereka merasa Arka adalah bagian dari mereka. Mereka mencintai Arka, dan mereka ingin pemimpin kesayangan mereka mendapatkan pendamping yang paling mulia di desa tersebut.
"Zahwa, maafkan warga ya. Sepertinya mereka memang suka sekali bercanda," ujar Arka saat mereka berhasil sedikit menjauh dari kerumunan.
Zahwa tersenyum kecil, ia menatap ke arah masjid pesantren yang mulai menyalakan lampu menaranya. "Gak apa-apa Pak.. Santai aja.. Dan.. Itu artinya Bapak sudah benar-benar diterima di sini. Jarang ada kades yang digoda warga sampai seperti ini. Mereka merasa Bapak sudah jadi saudara sendiri."
"Hanya saudara?" tanya Arka tiba-tiba, langkahnya terhenti.
Zahwa ikut berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap Arka, mencari makna di balik pertanyaan itu. "Maksudnya gimana Pak?"
Arka menatap hamparan stan festival yang mulai meredup lampunya, lalu kembali menatap Zahwa. "Warga menginginkan kita lebih dari sekadar rekan kerja, Zahwa. Dan sejujurnya... saya juga menginginkan hal yang sama."
Blash
Zahwa tertegun. Hening sejenak..
Suara riuh warga di kejauhan seolah meredup. Zahwa terpaku, kalimat Arka barusan, bukan sekedar becandaan warga yang biasa ia dengar, itu adalah sebuah pernyataan yang meluncur langsung dari kedalaman hati seorang laki-laki yang selama ini mulai ia kagumi.
Zahwa merasa bingung dengan gejolak di dadanya. Selama ini, banyak putra kiai dan pengusaha yang datang ke pesantren untuk melamarnya, namun tak satu pun yang sanggup menggetarkan hatinya. Ia selalu merasa ada yang kurang, hingga akhirnya Arka datang dengan segala ketulusan dan kerja kerasnya untuk desa ini.
Melihat Zahwa yang hanya terdiam dengan wajah yang mulai merona merah, Arka tiba-tiba tersadar. Ia merasa telah melampaui batas etika yang selama ini ia jaga dengan sangat ketat di lingkungan pesantren.
"Eh... Zahwa, maaf. Maksud saya... aduh," Arka mendadak salah tingkah. Ia mengusap tengkuknya, matanya bergerak gelisah mencari objek lain untuk dipandang.
"Maafkan saya, Zahwa. Saya lancang berbicara seperti itu.. Saya gak bermaksud membuat kamu gak nyaman."
Zahwa masih terdiam, namun sudut bibirnya sedikit terangkat melihat sosok Kades yang biasanya sangat tegas dan berwibawa itu mendadak menjadi sangat gugup dan canggung.
"Saya... saya tadi terbawa suasana," lanjut Arka dengan suara yang lebih pelan. Ia mencoba mengatur napasnya.
"Saya tahu posisi saya. Saya hanya seorang pendatang yang sedang mengabdi, sementara kamu adalah putri kiai yang sangat dihormati. Ditambah lagi, saya dengar belakangan ini banyak sekali lamaran yang datang ke rumah Kiai Hasan dari orang-orang yang jauh lebih hebat daripada saya. Saya benar-benar minta maaf jika ucapan saya tadi terdengar seperti godaan yang tidak pantas."
Zahwa akhirnya mengangkat wajahnya. Keberanian Arka untuk meminta maaf justru membuatnya merasa bahwa laki-laki ini memiliki adab yang sangat tinggi.
"Pak Kades..." suara Zahwa terdengar lembut, menghentikan kepanikan Arka. "Jangan meminta maaf. Kejujuran itu bukan sebuah kesalahan."
Zahwa menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya sendiri. "Tentang lamaran-lamaran yang datang itu... memang benar.. Tapi, sebuah niat baik tidak ditentukan dari siapa yang paling hebat atau siapa yang paling cepat datang. Semua itu soal ketetapan hati dan ridha dari Allah."
Arka menatap Zahwa, mencoba mencerna kalimat itu.
"Lalu... apa ucapan saya tadi mengganggu kamu?".
Zahwa menggeleng pelan, sebuah senyuman tulus kini merekah di wajahnya. "Sama sekali tidak, Pak. Justru saya menghargai kejujuran Bapak. Di dunia yang penuh dengan basa-basi, keberanian untuk mengutarakan isi hati dengan cara yang santun adalah hal yang langka. Saya tidak masalah dengan ucapan Bapak tadi."
Arka mengembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah sebuah beban berat baru saja diangkat dari bahunya.
"Syukurlah. Saya sempat berpikir kamu akan langsung meninggalkan saya dan melaporkan saya pada Kiai Hasan karena telah menggoda putrinya."
Zahwa tertawa kecil, suara tawa yang begitu indah di telinga Arka. "Abah juga selalu mengajarkan saya untuk melihat ketulusan seseorang dari perbuatannya, bukan hanya dari kata-katanya. Dan sejauh ini, apa yang Bapak lakukan untuk Sukamaju sudah cukup menjadi bukti bagi saya."
Sore itu, ada sebuah pemahaman baru yang terjalin tanpa perlu banyak kata lagi. Arka tahu ia harus berjuang lebih keras untuk memantaskan diri dan Zahwa tahu bahwa hatinya mungkin sudah menemukan tempat untuk berlabuh.
...🌻🌻🌻...