NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sembilan Tahun Kemudian

Pagi di rumah itu selalu dimulai dengan suara yang sama: gesekan sandal, bunyi pintu kayu, dan satu suara bocah yang terlalu banyak bertanya untuk usia sembilan tahun.

“Bu, kancingku kok miring?” Tanya Arbani.

Nara menoleh sekilas, lalu menghela napas pendek. “Kowe sing masange kesusu.”

(Kamu yang masangnya terburu-buru.)

“Lha aku wes rapi.”

(Lha aku sudah rapi.)

“Rapi versi kowe.”

(Rapi versi kamu.)

Albi yang sedang mengikat tali sepatu berhenti, lalu melirik.

“Mrene.”

(Sini.)

Bocah itu mendekat, berdiri tegak seolah sedang diperiksa tentara, Albi menatapnya hangat, ia tidak pernah menyangka jika bayi yang dulu ia adzankan sekarang sudah sebesar ini. Albi membetulkan kancing satu per satu, pelan, telaten gerakan yang sama sejak dulu.

“Yen ngancingi ojo sambil mikir bal-balan.”

(Kalau mengancingkan jangan sambil mikir bola.)

“Pak kok ngerti?”

(Pak kok tahu?)

“Bapak tau kabeh.”

(Bapak tahu semuanya.)

Nara menahan senyum. Ia tahu Albi hanya menebak, tapi kepercayaan diri itu sudah cukup membuat anaknya mengangguk kagum.

“Bu, bekalku opo dina iki?”

(Bu, bekalku apa hari ini?)

“Sayur bening, telur, sama tempe.”

“Lho… ora ana nugget?”

(Lho… nggak ada nugget?)

Albi berdiri. “Nugget mung sedina pisan.”

(Nugget cuma seminggu sekali.)

“Aturane sopo?”

(Aturannya siapa?)

“Aturane Bapak.”

(Aturannya Bapak.)

“Huh.” Arbani sedikit mendengus.

Nara tertawa kecil. “Yen nggerundel, sayure tak kurangke.”

(Kalau menggerutu, sayurnya saya kurangi.)

“Ya wis… sayure akeh sekalian.”

(Ya sudah… sayurnya sekalian banyak.)

Mereka berdua akhirnya sepakat mengantar Arbani dengan berjalan kaki seperti biasanya. Pagi itu berjalan seperti biasa. Tapi Nara memperhatikannya dengan rasa yang berbeda.

Anak itu, yang dulu hanya sebesar telapak tangannya, kini berdiri di antara mereka, penuh suara, penuh hidup.

Saat mereka berjalan menuju sekolah, bocah itu tiba-tiba berhenti.

“Pak.”

“Ngopo?”

(Kenapa?)

“Pak iso nesu, ta?”

(Pak bisa marah nggak sih?)

Albi menoleh, berpikir sebentar. “Biso.”

“Kapan?”

“Yen kowe lali sopan.”

(Kalau kamu lupa sopan.)

Bocah itu mengangguk serius. “Berarti Pak durung tau nesu.”

(Berarti Pak belum pernah marah.)

Nara berhenti melangkah. Dadanya menghangat tanpa izin.

Albi tidak menjawab. Ia hanya mengusap kepala anak itu sekali, gerakan singkat yang tak pernah berlebihan. Di depan gerbang sekolah, bocah itu berlari lalu berhenti lagi, menoleh ke belakang.

“Pak… Bu…”

“Iya?”

“Matur nuwun wis nunggu aku gede.”

(Terima kasih sudah nunggu aku besar.)

Kalimat itu terlalu besar untuk anak sembilan tahun. Terlalu dalam, dan jujur, sebagai orang tua ia merasa bangga melihat sang anak tumbuh tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Nara menutup mulutnya dengan tangan. Albi berdiri diam beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Mrono," titah Albi,

(Sana.)

“Sekolahe sing pinter," lanjutnya lagi.

(Sekolah yang pintar.)

Setelah Arbani masuk ke gerbang sekolah, Albi tidak langsung melepas tangan Nara. Jemarinya justru mengerat, seolah ingin memastikan sesuatu masih ada di sana.

“Wis mlebu kabeh bocah-bocahé,” gumam Albi pelan.

“Iya,” jawab Nara. “Antar tadi salimnya lama. Biasanya langsung lari.”

Albi tersenyum kecil. “Mungkin wis krasa nduwé omah sing tenang.”

Nara menghembuskan napas pelan, ia melihat ke arah Albi.

“Bi…”

“Iya.”

“Kadang aku mikir…” Nara tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca.

“Rumah ini dulu dibangun bukan dari cinta. Tapi kok sekarang isinya… penuh banget.”

Albi membuka pagar, sekolah, ia pun berhenti sejenak sambil menatap wajah cantik Nara.

“Amarga ora kabeh sing tenang kuwi sepi.”

(Karena tidak semua yang tenang itu kosong.)

Nara tersenyum, haru, setelah sekian tahun hidup bersama Albi, pria itu tetap sama seperti dulu.

Mereka melangkah pulang berdampingan. Jalan kampung belum ramai, hanya suara sapu lidi dan sepeda tua yang lewat sesekali. Angin pagi menyapu pelan, tapi di langkah ketiga, Albi sedikit memperlambat langkahnya.

Nara langsung menoleh. “Kenapa jalannya pelan?”

“Lha iki… pengin nikmati dalan,” sahut Albi cepat, nadanya ringan.

(Lah ini pingin menikmati pemandangan di jalan)

Padahal dadanya terasa agak sesak. Bukan sakit yang menusuk, tapi cukup untuk membuat napasnya harus diatur ulang. Ia menggeser posisi tangan, berpura-pura membenahi genggaman.

Nara tidak langsung percaya. Ia menatap wajah suaminya sekilas. “Kowe pucet, Bi.”

(Kamu pucet Bi,)

“Perasaanmu wae,” jawab Albi, lalu tertawa kecil. “Wong aku iki sehat.”

(Orang aku ini sehat)

“Ngapusi kuwi yo tetep ketok,” balas Nara lirih.

(Bohong kamu, ya tetap kelihatan)

Albi berhenti di bawah pohon mangga depan rumah. Ia menghela napas, masih berusaha tersenyum. “Ora opo-opo, Ra. Cuma kesel sethithik.”

(Gak apa-apa cuma capek sedikit)

Nara menghela napas pelan, bukan marah, tapi ada gelombang kecil di dadanya.

Kenapa kamu selalu merasa harus kuat sendiri, Bi? Padahal sekarang aku ada…

Ia tidak mengucapkannya. Hanya menggenggam tangan Albi lebih erat.

“Yen kesel, ngomong. Aku iki bojomu, dudu wong liya,” ucapnya akhirnya.

(Kalau capek ngomong, aku ini istrimu bukan orang lain)

Albi terdiam sebentar. Tatapannya turun ke tangan mereka yang saling menggenggam. “Aku mung ora pengin nggawe kowe kuwatir.”

Nara tersenyum tipis, ada hangat di matanya. “Aku luwih kuwatir yen kowe meneng.”

(Aku lebih khawatir kalau kamu diam)

Kalimat itu membuat Albi menyerah pelan. Ia mengangguk kecil. “Yo wis. Sakwise tekan omah, aku lungguh sek.”

(Ya sudah sewakpainya di rumah aku duduk dulu)

“Minum obat,” sambung Nara cepat.

Albi tertawa pelan. “Inggih, Bu Nara.”

(Iya Ibu Nara)

Di dalam hati, Nara merasa campur aduk. Ada cemas yang merayap, tapi juga ada rasa hangat yang aneh, karena untuk pertama kalinya, Albi tidak sepenuhnya menutup diri.

Ora kudu sempurna, Bi, batinnya. Aku ora butuh pahlawan. Aku mung pengin bojoku mulih kanthi jujur.

(Tidak harus sempurna Bi, batinnya. Aku nggak butuh pahlawan, aku hanya ingin suamiku bicara dengan jujur)

Langkah mereka kembali menyatu. Pelan, tapi searah. Dan di tengah kekhawatiran kecil itu, ada senyum yang tetap tinggal, karena keluarga ini sedang belajar, bukan tentang kuat, tapi tentang saling menjaga.

☘️☘️☘️☘️

Mereka pulang setelah mengantar Arbani ke sekolah. Langkah mereka pelan, tangan masih saling menggenggam seperti kebiasaan kecil yang tidak pernah dibicarakan, tapi selalu dicari.

Nara sedang bercerita hal remeh tentang Arbani yang lupa membawa topi, tentang guru barunya yang terlalu tinggi ketika genggaman Albi sedikit mengendur.

Bukan dilepas. Hanya melemah.

“Bi?” Nara menoleh.

“Enggak apa-apa,” jawab Albi cepat. Terlalu cepat. Senyumnya tetap ada, tapi rahangnya menegang. “Cuma silau.”

Padahal matahari pagi tidak seterang itu.

Langkah Albi melambat. Bahunya turun sepersekian detik, napasnya sedikit lebih berat. Ia masih berjalan, masih menggenggam, seolah kalau berhenti sekarang, tubuhnya akan mengkhianati niatnya sendiri.

Nara tidak langsung bertanya lagi.

Ia sudah terlalu hafal bahasa tubuh itu.

Saat sampai di depan rumah, Albi baru melepaskan tangan Nara. Ia berpura-pura mencari kunci di saku, padahal jemarinya gemetar halus.

“Kowe lungguh sek, Bi,” ujar Nara pelan.

(Kamu duduk dulu, Bi.)

“Ngko wae,” sahut Albi, masih ngeyel.

(Nanti saja.)

Ia melangkah satu langkah lagi, lalu dunia terasa miring. Bukan gelap, hanya seperti lantai yang bergeser sedikit dari tempatnya. Albi reflek meraih dinding.

Nara sudah ada di sana.

“Albi,” suaranya rendah, tidak panik, tapi tegas. “Aja ngapusi awakmu dhewe.”

(Jangan bohongi tubuhmu sendiri.)

Albi terdiam. Nafasnya naik turun, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

“Cuma sebentar,” gumamnya lirih, nyaris minta maaf.

Nara menuntunnya duduk di kursi teras. Ia berjongkok di depan Albi, menatap wajah suaminya yang kini pucat—wajah yang selama bertahun-tahun berusaha terlihat baik-baik saja demi semua orang.

“Wis tak omongi,” katanya lembut tapi menusuk. “Aku ora butuh kowe kuat terus. Aku butuh kowe ana.”

(Sudah kubilang. Aku tidak butuh kamu selalu kuat. Aku butuh kamu tetap ada.)

Albi menutup mata sebentar. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak membantah.

“Aku ora pengin nggawe kowe kuwatir,” ucapnya pelan.

(Aku tidak ingin membuatmu khawatir.)

“Lan aku ora pengin kelangan kowe,” balas Nara tanpa ragu.

(Dan aku tidak ingin kehilanganmu.)

Hening menyelip di antara mereka. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh pengertian tentang penyakit yang tidak pergi, tentang hari-hari baik yang harus dijaga, dan tentang cinta yang tidak berisik tapi setia.

Nara meraih tangan Albi, menggenggamnya erat.

“Saiki mlebu. Ngombe. Turu sedhela,” katanya.

(Sekarang masuk. Minum. Tidur sebentar.)

Albi mengangguk kecil. Ngeyel itu masih ada, tapi pagi ini, ia memilih menurut. Dan bagi Nara, itu sudah lebih dari cukup.

Bersambung .....

1
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
Sugiharti Rusli
meski usianya masih kanak", cintanya sebagai anak sangat tulus kepada ayahnya yang dia tahu sangat menyayanginya sejak bayi,,,
Sugiharti Rusli
sejatinya apa yang kamu tanam ke Arbani, itulah hasil yang kamu petik sekarang Bi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!