COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Dinda POV
Ruanganku sangat sepi. Aku tidak melihat Ayah lagi di sini. Jadi, di mana Ayah? Apa Ayah meninggalkanku lagi?
Kudengar suara pintu terbuka. Mataku langsung beralih pada seseorang yang membawa mangkuk makanan untukku. Dia duduk di samping bangkarku dan menatapku sejenak. Terlihat dari tatapannya yang
menyedihkan, dia seolah tengah menyampaikan sesuatu, tapi aku tidak akan terbuai lagi dengan sifat baiknya padaku. Dia itu brengsek! Dia sangat brengsek!
“Dinda,” dia ingin menyentuhku, tapi segera kutangkis tangannya. Dia menatapku sedih dan memohon agar dia bisa menyentuhku.
“Kau istriku Dinda,” katanya membuatku semakin tidak bisa tahan mendengar semua kata-kata yang keluar dari bibirnya.
“Jangan bercanda denganku Daniel!” tekanku dengan tatapan yang menusuknya, tapi tatapannya malah mengusik hatiku. Meski aku yakin sekali dia hanya berpura-pura baik denganku. Raut wajah
sedihnya, aku yakin sekali hanyalah dusta. Dia memang laki-laki yang pintar dalam ber-acting. Seharusnya dia cocok jadi artis---memainkan film sebagai pemeran Sherlock Holmes jika dia pandai memakai siasat dan menyamar.
“Kenapa kau seperti ini padaku?” tanyanya membuatku mendengus pelan mendnegarnya.
“Huh, kau sedang bertanya padaku?”
“Dinda!” Dia membentakku secara tiba-tiba membuatku begitu kaget mendengarnya. Dia berdiri dari tempat duduknya dan menatapku dengan tatapan yang marah.
“Berhenti mengandalkan sisa ingatanmu! Selama ini kita sudah baik-baik saja. Jangan mengingat hari-hari itu lagi! Itu hanya akan menyakitimu!”
“Maksudmu?”
“Berhenti berpikir aku ini pria yang sangat jahat telah menyakitimu. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah pergi dari hidupku. Kau tahu aku begitu takut kehilanganmu. Cukup
untukku menunggumu koma selama 2 bulan. Apa kau tahu? Aku tidak bisa makan, tidur, bahkan bekerja, karena yang ada dipikiranku hanya kamu. Aku takut kehilanganmu, Dinda!”
....................................
Kutarik semua uratku ke atas. Meregangkan tubuhku yang terasa lelah sekali karena tidur malam di ruang TV. Sudah pukul berapa ini? Untung saja aku masuk siang jadi tidak perlu terburu-buru. Cepat aku melangkah keluar dari ruangan TV. Melihat ke seluruh isi sudut ruangan ini, tidak ada suara apapun yang menandakan ada seseorang yang hidup.
Aku pun melangkahkan kakiku menuju dapur. Sepagi ini perutku minta diisi. Kalau aku masak ayam yang ada di kulkas sepertinya tidak masalah. Daniel pun pasti akan memakannya. Sayang juga kan dia membelinya tapi tidak di masak. Kukeluarkan daging itu dari kulkas, kemudian mencuci daging itu ke tempat cucian piring dekat kompor listrik.
"Kau sedang apa?" tiba-tiba suara berat itu memenuhi ruangan dapur. Aku enggan membalikkan tubuhku ke arahnya. Sepertinya ada rasa marah yang tersimpan di dadaku. Entah kenapa aku merasa sedikit tidak terima
saat dia tidak mau memberi tahu padaku apa yang suah terjadi semalam.
Aku tahu, aku ini bukan siapa-siapa untuknya. Aku hanya anak orang yang menjadi temannya dan kemungkinan besarnya dia menganggapku kalau aku ini masih kecil dan tidak perlu tahu apa yang terjadi. Baiklah Pak tua! Lupakan saja keberadaan si anak kecil ini.
"Kau mau masak?" aku rasakan nafasnya yang menerpa tengkukku. Dia menyingkirkan rambutku ke belakang kemudian wajahnya dia tumpukan ke atas pundakku.
"Memangnya kau bisa masak?" tanyanya lagi dan aku sama sekali tidak menjawabnya. Menghiraukannya dan menganggap kalau dirinya itu tidak ada.
Aku berjalan menyingkir untuk menyalakan kompor. Kudengar dia yang tertawa pelan karena aku pergi tanpa aba-aba menyebabkan dirinya yang sedang bertumpu denganku hampir terjatuh jika saja dia tidak menyeimbangkan tubuhnya.
Namun, tiba-tiba saja dia mengangkat tubuhku ke atas meja makan membuatku berteriak nyaring di alam dapur. "Kau seperti marah padaku. Ada apa?" tanyanya saat aku sudah ada di atas meja makan dan dia berdiri di
hadapanku.
"Kau marah karena tidak ada makanan yang bisa langsung kau
makan?"
Kuhela nafasku sejenak. Entahlah! aku memang seharusnya tidak marah atau menghiraukannya. Dia tidak akan mungkin mengerti apa yang aku pikirkan karena ya..., hanya aku saja yang menganggap kalau tinggal satu rumah itu berarti harus berbagi pada penghuni lainnya.
...............................................
Next gak ya??
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍