Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Jumat Biru dan Detak yang Tak Terduga
Jumat di SMA Cendekia adalah hari anomali.
Tidak ada buku tebal, tidak ada rumus fisika yang beterbangan, dan tidak ada guru killer yang masuk membawa penggaris kayu. Hari ini dikhususkan untuk kegiatan "Jumat Bersih dan Sehat".
Pukul 06.45 pagi.
Aku berdiri di depan cermin, merapikan kerah baju olahraga berwarna biru muda. Bahannya dry-fit yang menyerap keringat, cukup nyaman dipakai di udara Pontianak yang sudah mulai menghangat.
Rambutku kembali ke mode "sekolah": poni kubiarkan jatuh menutupi dahi, sedikit berantakan seolah aku baru bangun tidur dan lupa menyisir. Kacamata minus (yang sebenarnya lensanya netral) bertengger di hidung. Topeng Callen si murid biasa sudah terpasang sempurna.
Aku berjalan keluar gerbang rumah megahku, menuntun sepeda andalanku.
Kali ini bukan sepeda karatan yang biasa. Sepeda butut itu bannya pecah kemarin sore, jadi aku terpaksa mengambil salah satu koleksi lama di gudang: Polygon Monarch MYT 26. Warnanya hitam doff dengan aksen hijau stabilo. Bukan sepeda carbon seharga ratusan juta, tapi juga bukan rongsokan. Sepeda standar yang kokoh, cukup untuk menyamar jadi siswa menengah ke atas tanpa terlihat mencolok.
Baru saja roda sepedaku menyentuh aspal jalan raya di luar komplek, sebuah suara bel sepeda berbunyi dari arah samping.
Kring! Kring!
Aku menoleh. Rafan menyeringai lebar di atas sepedanya yang juga bermerek sama, hanya beda warna. Dia memakai seragam olahraga yang sama persis, tapi entah kenapa di badannya terlihat seperti model katalog Adidas, sedangkan di badanku terlihat... biasa saja.
"Pagi, Tuan Muda," sapa Rafan jenaka.
"Pagi, Pangeran Sekolah," balasku datar sambil mulai mengayuh.
Kami berdua melaju beriringan di bahu jalan. Angin pagi menerpa wajah, membawa aroma tanah basah sisa embun semalam.
Keluarga Rafan memang kaya. Ayahnya punya rantai bisnis properti di Kalimantan. Tapi jika dibandingkan dengan kekayaan "Grup Adhitama" milik Papaku yang menguasai ekspor-impor dan pertambangan lintas benua, keluarga Rafan masih terhitung "Normal Rich". Sementara keluargaku masuk kategori "Crazy Rich" yang tidak masuk akal. Meski begitu, Rafan tidak pernah peduli soal itu.
"Tumben pake Polygon? Si 'Butut' kemana?" tanya Rafan, melirik sepedaku.
"Pensiun dini. Bannya meledak," jawabku singkat.
"Baguslah. Minimal sekarang sepeda kita couple-an," Rafan terkekeh. "Oh iya, Cal. Denger-denger kemarin kamu jalan sama Zea ya? Observasi parit?"
Aku meliriknya tajam. "Berita cepet banget nyebar."
"Jelas lah. Zea itu primadona angkatan, Cal. Dia jalan sama cowok selain anak basket aja udah jadi headline news di grup WhatsApp angkatan," Rafan menggelengkan kepala, takjub. "Hebat juga kamu. Baru dua minggu udah bisa bikin Singa Betina itu jinak."
"Dia cuma butuh nilai bagus buat tugas Geografi kelompok yang kami kerjakan beersama, Raf. Nggak lebih," elakku.
Rafan hanya tersenyum misterius, tidak membantah, tapi tatapannya seolah berkata: Kita lihat saja nanti.
Lima belas menit kemudian, kami sampai di sekolah.
Halaman sekolah yang biasanya dipakai upacara kini sudah berubah fungsi. Ratusan siswa berseragam biru muda tumpah ruah di sana. Suaranya riuh rendah, gabungan dari tawa, obrolan, dan suara cek sound dari pengeras suara raksasa di dekat tiang bendera.
Barisan mulai dibentuk. Ada sebelas lajur memanjang ke belakang, masing-masing lajur diisi campuran siswa kelas 10, 11, dan 12.
Aku dan Rafan memarkir sepeda, lalu berjalan menuju area lapangan.
"Rame banget," keluhku pelan. "Aku mau baris di paling belakang aja."
"Yah, jangan dong. Temenin aku di tengah. Nanti aku dikerubungin fans lagi," pinta Rafan dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Saat kami sedang berdebat kecil soal posisi barisan, sebuah suara lembut memanggil dari arah samping.
"Hei... Cal! Cal!"
Aku dan Rafan sontak berhenti dan menoleh.
Di sana, berdiri Zea. Rambut pendeknya diikat setengah ke belakang, menyisakan sedikit anak rambut di sekitar telinga. Wajahnya terlihat segar tanpa makeup tebal, hanya sedikit liptint yang membuat bibirnya merona alami. Seragam olahraganya pas di badan, tidak terlalu ketat tapi juga tidak kedodoran.
Harus kuakui, dia terlihat... cantik.
Zea melambaikan tangan dengan semangat, senyumnya merekah lebar begitu melihatku.
Rafan menyikut lenganku pelan. "Tuh, kan. Apa kubilang. Headline news datang menghampiri."
Zea berlari kecil menghampiri kami, mengabaikan tatapan beberapa siswa lain yang penasaran.
"Pagi, Rafan," sapanya sekilas pada Rafan, lalu matanya langsung terkunci padaku. "Pagi, Cal!"
"Pagi," jawabku singkat, sedikit kaget dengan antusiasmenya.
"Cal, kamu belum dapet barisan kan?" tanya Zea to the point. "Gabung sama barisanku yuk? Di lajur 7. Di sana ada Rara sama Dinda juga, terus temen-temenku yang lain."
Aku mengerjap bingung. "Kenapa harus di situ?"
Aku menoleh ke Rafan, meminta bantuan isyarat mata agar dia menyelamatkanku dari situasi sosial ini. Tapi Rafan malah tersenyum aneh. Senyum jahil yang sangat kuhafal.
"Wah, ide bagus tuh, Ze," kata Rafan tiba-tiba, menepuk bahuku keras. "Cal, ini kesempatan bagus. Jangan disia-siakan, oke?"
Aku melotot padanya. "Maksudnya apa, Raf?"
"Aku baris di depan aja deh sama anak-anak OSIS. Have fun ya, kalian!" Rafan mengedipkan sebelah mata, lalu mundur teratur dan menghilang ditelan kerumunan siswa lain sebelum aku sempat memprotes.
Sialan Rafan. Awas nanti pulang sekolah.
Kini tinggal aku dan Zea di tengah keramaian yang bising. Aku merasa sedikit canggung. Zea menatapku dengan mata berbinar penuh harap.
"Gimana, Cal? Mau ya?" desaknya lagi.
Aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. "Zea... bukannya setiap barisan sama aja? Gerakannya sama, lagunya sama, mataharinya juga sama."
Mendengar jawabanku yang terlalu logis, senyum Zea perlahan memudar. Matanya yang tadi berbinar cerah, tiba-tiba berubah menjadi sayu. Bahunya sedikit turun. Dia menatapku dengan tatapan sedih—tatapan puppy eyes yang bisa meruntuhkan tembok pertahanan mana pun.
"Yah... padahal aku pengen senam bareng kamu," ucapnya pelan, suaranya terdengar kecewa. "Biar lebih semangat aja gitu kalau ada temen sekelompok. Tapi kalau kamu nggak mau... ya udah deh."
Jantungku berdesir aneh melihat perubahan ekspresinya. Aku terbiasa menghadapi lawan karate yang garang atau Papa yang otoriter. Tapi menghadapi cewek cantik yang menatapku dengan mata berkaca-kaca seperti ini?
Sistem error. Otak jeniusku mendadak buntu.
Aku tidak tahan melihat orang sedih karenaku. Apalagi setelah kemarin dia begitu baik pada Mam Genevieve.
Aku menghela napas panjang, menyerah.
"Oke," jawabku pelan. "Aku ikut barisanmu."
Dalam sepersekian detik, ekspresi Zea berubah 180 derajat. Matanya yang sayu langsung berbinar cerah kembali, seolah ada saklar lampu yang dinyalakan di dalam dirinya.
"Beneran?!" serunya senang.
Sebelum aku sempat menjawab atau bereaksi, Zea melakukan sesuatu yang di luar dugaan.
Tanpa aba-aba, tangan halusnya meraih telapak tanganku.
"Ayo, Cal! Keburu penuh barisannya!"
Zea menarik tanganku, menggenggamnya erat, dan membawaku menerobos kerumunan siswa.
Aku tersentak kaget. Tubuhku kaku. Telapak tangannya terasa kecil, hangat, dan lembut—sangat kontras dengan tanganku yang kasar bekas latihan pukulan.
Deg. Deg. Deg.
Jantungku memacu ritme yang tidak wajar. Bukan karena aku lelah berjalan, tapi karena sensasi kulit yang bersentuhan ini. Seumur hidupku, selain Mam, tidak ada perempuan yang pernah menggandengku seakrab ini di depan umum.
Aku menatap punggung Zea yang berjalan di depanku. Dia tidak menoleh, tapi aku bisa melihat telinganya sedikit memerah.
Untungnya, tepat saat itu, suara bass dari speaker besar berdentum kencang. Musik pembuka senam dimulai dengan nada upbeat yang keras.
"PERHATIAN SEMUANYA! RENTANGKAN TANGAN! GESER KE KANAN!"
Teriakan instruktur senam di panggung utama mengalihkan perhatian semua orang. Tidak ada yang memperhatikan Zea yang sedang menyeret seorang cowok "rendahan" masuk ke barisan elit siswa populer.
Zea melepaskan tanganku saat kami sampai di barisan ketujuh, tepat di belakang Rara dan Dinda. Dia berbalik, tersenyum lebar padaku seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
"Di sini ya, Cal. Jangan kabur," bisiknya sambil tertawa kecil.
Aku berdiri mematung di tempatku, masih merasakan sisa kehangatan di telapak tangan kananku. Aku mengepalkan tangan itu perlahan, lalu memasukkannya ke saku celana.
Jumat ini... sepertinya akan menjadi hari yang sangat panjang. Dan berbahaya untuk kesehatan jantungku.