NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 16

Setelah CEO itu selesai membaca naskah film Karin, ia menutup map berisi kertas-kertas itu dengan pelan. Tatapannya terangkat, lalu senyum tipis muncul di wajahnya—senyum yang menunjukkan ketertarikan yang tulus.

“I really like this,” katanya sambil menatap Karin.

(Aku sangat menyukai naskah ini.)

“And I truly believe this film will be a big success,” tambahnya dengan nada yakin.

(Dan saya sungguh percaya film ini akan sukses besar.)

Jantung Karin berdegup lebih cepat. Tangannya yang sejak tadi saling menggenggam di pangkuan sedikit mengendur. Ia tidak salah dengar. Kata-kata itu nyata.

“This is the first time my script will be produced overseas,” ucapnya dengan suara bergetar namun penuh kebahagiaan.

(Ini pertama kalinya naskah saya akan diproduksi di luar negeri.)

“Thank you, sir,” lanjutnya sambil tersenyum tulus.

(Terima kasih, Pak.)

Sang sutradara yang sejak tadi memperhatikan kemudian ikut berbicara.

“If you have time,” katanya,

“Kalau kamu ada waktu,”

“I’d like to invite you to a dinner at our company.”

“Saya ingin mengundangmu makan malam di perusahaan kami.”

“I want to introduce you to the director who will handle your film.”

“Saya ingin memperkenalkanmu pada sutradara yang akan menangani film dari naskahmu.”

Karin mengangguk, senyumnya tak bisa disembunyikan.

“Yes, I’d love to come.”

(Iya, saya dengan senang hati akan datang.)

Pertemuan itu pun berakhir. Satu per satu mereka meninggalkan ruangan, meninggalkan Karin seorang diri. Begitu pintu tertutup, Karin berdiri dari kursinya. Ia menutup mulutnya dengan tangan, lalu tertawa kecil—bahagia.

Ia melompat kecil di tempat, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mimpi yang lama ia simpan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Karin merasa hidupnya benar-benar bergerak maju.

Semua luka, kehilangan, dan air mata yang pernah jatuh… akhirnya menemukan alasannya.

Di salah satu sisi ruangan, meja panjang telah dipenuhi berbagai hidangan khas Inggris. Lampu gantung di atasnya membuat makanan-makanan itu tampak semakin menggoda—tersaji rapi, hangat, dan elegan.

Karin melangkah mendekat, matanya membesar penuh kekaguman.

Ada roast beef yang dipotong tebal dengan saus gravy cokelat mengilap. Fish and chips tersaji dalam porsi kecil, ikan goreng berbalut adonan renyah berwarna keemasan, ditemani kentang goreng yang masih mengepul. Tak jauh dari sana, Yorkshire pudding tersusun rapi di atas piring porselen, tampak lembut dan mengembang.

Di sudut lain, terdapat shepherd’s pie dengan lapisan kentang tumbuk yang dipanggang kecokelatan, serta sausages and mash—sosis dengan kentang tumbuk dan saus bawang yang harum. Untuk hidangan penutup, tersedia scones dengan selai stroberi dan krim kental, juga potongan Victoria sponge cake yang tampak manis dan lembut.

Semua itu adalah makanan yang selama ini hanya Karin lihat di film atau serial Inggris. Kini, semuanya ada di hadapannya—nyata.

Karin menelan ludah tanpa sadar. Perutnya terasa kosong, baru sekarang ia menyadari rasa lapar yang sejak tadi ia abaikan. Namun sebelum mengambil apa pun, ia kembali menoleh ke sekeliling ruangan.

Gedung perusahaan itu begitu megah. Setiap sudutnya terasa berkelas—dinding dengan sentuhan seni modern, lantai marmer yang memantulkan cahaya, dan percakapan dalam berbagai aksen Inggris yang terdengar hidup di udara. Karin memandangi semuanya dengan kagum, seolah takut satu kedipan mata bisa membuat momen ini menghilang.

Ia tersenyum kecil.

Siapa sangka, seorang penulis yang dulu hanya menulis di kamar sempit kini berdiri di sini—di jantung industri perfilman Inggris, dengan cerita miliknya sendiri.

Dan di tengah rasa lapar, kagum, dan gugup yang bercampur jadi satu, Karin tahu satu hal:

malam ini akan menjadi malam yang sulit ia lupakan.

Dengan perasaan gugup yang berusaha ia sembunyikan, Karin memberanikan diri melangkah mendekat. Ia tersenyum sopan, lalu memperkenalkan dirinya.

“Hi, my name is Karin. I’m A-K,” ucapnya dengan suara tenang meski jantungnya berdegup cepat.

(Hai, nama saya Karin. Saya A-K.)

Senyum-senyum ramah langsung menyambutnya. Suasana yang semula terasa asing perlahan menjadi hangat.

“Hi, I’m Joey,” kata seorang perempuan sambil mengulurkan tangan.

(Hai, aku Joey.)

“I’m a camerawoman,” lanjutnya santai.

(Aku seorang kameramen.)

Karin tampak terkejut sekaligus kagum. Ia menjabat tangan Joey dengan senyum lebar.

“Wow, that’s amazing,” balas Karin tulus.

(Wah, itu luar biasa.)

“I didn’t know there are many women working as camerawomen here,” tambahnya jujur.

(Aku baru tahu ada banyak perempuan yang bekerja sebagai kameramen di sini.)

Joey tertawa kecil, tampak bangga.

“Yeah, it’s not that rare anymore,” katanya ringan.

(Iya, sekarang itu bukan hal yang jarang lagi.)

Setelah itu, orang-orang lain ikut memperkenalkan diri dengan ramah. Ada yang berasal dari Tiongkok, Jepang, Amerika, dan tentu saja Inggris. Beragam aksen bercampur di udara, namun satu hal yang sama: keramahan yang membuat Karin perlahan merasa diterima.

Tak lama kemudian, suasana di dalam ruangan berubah. Percakapan yang tadinya terdengar samar mulai meredup. Suara bisik-bisik menghilang, digantikan sikap hormat.

CEO perusahaan itu telah datang.

Semua orang menyambutnya dengan sopan. CEO tersebut berjalan menghampiri Karin dengan senyum ramah.

“Welcome,” sapanya.

(Selamat datang.)

“Do you like the atmosphere here?” tanyanya sambil menoleh ke sekeliling ruangan.

(Apakah kamu menyukai suasana di sini?)

Ia lalu tersenyum kecil, nadanya bercanda.

“Are you afraid of English people?”

(Apakah kamu takut dengan orang-orang Inggris?)

Karin tertawa ringan mendengarnya, lalu menggeleng.

“No,” jawabnya.

(Tidak.)

“I’m not afraid, just a little nervous,” lanjutnya jujur.

(Aku bukan takut, hanya sedikit gugup.)

“But everyone here is very kind.”

(Tapi semua orang di sini sangat ramah.)

CEO itu mengangguk puas, senyumnya melebar.

Malam itu, Karin tahu—ia bukan lagi orang asing di ruangan ini.

Di sela percakapan mereka, seseorang datang dengan langkah santai namun berkelas. Setelan jas hitam membingkai tubuhnya dengan sempurna, membuat beberapa orang menoleh tanpa sadar.

Bisik-bisik pun terdengar.

“That’s Jack. The director is here.”

(Itu Jack. Sutradaranya datang.)

“He’s so handsome…”

(Dia tampan sekali…)

Karin mendengar potongan-potongan bisikan itu. Rasa penasarannya membuat ia menoleh ke arah pria yang menjadi pusat perhatian ruangan.

Langkahnya terhenti.

Dunia Karin seakan berhenti berputar.

Pria itu—

Jack—

adalah Arka.

Dadanya mendadak sesak. Napasnya tertahan. Matanya berkaca-kaca, namun tubuhnya kaku seperti patung.

“Jack, come here.”

(Kemarilah, Jack.)

CEO perusahaan perfilman itu melambaikan tangan sambil tersenyum ramah.

Jack melangkah mendekat dengan wajah tenang. Terlalu tenang.

Pandangan Karin dan Jack sempat bertemu sepersekian detik. Ada keterkejutan, ada rindu, ada luka yang belum sembuh—setidaknya di mata Karin.

Namun Jack segera mengalihkan pandangannya, seolah Karin hanyalah orang asing.

“Sorry, I’m late.”

(Maaf, aku terlambat.)

“It’s fine. Relax.”

(Tidak apa-apa. Santai saja.)

CEO menepuk pundak Jack dengan akrab.

“Jack, let me introduce you. This is Karin, the writer of our script.”

(Jack, perkenalkan. Ini Karin, penulis naskah kita.)

Jack terlihat menghela napas pelan. Tangannya sedikit mengepal sebelum akhirnya ia mengulurkan tangan ke arah Karin.

“Hi. I’m Jack. Nice to meet you.”

(Hai. Aku Jack. Senang bertemu denganmu.)

Suaranya datar. Profesional. Seolah mereka benar-benar belum pernah saling mengenal.

Karin menatap tangan itu. Tangannya gemetar.

“Excuse me… I need to go to the restroom.”

(Maaf… aku ke kamar mandi sebentar.)

Tanpa menunggu jawaban, Karin berbalik dan berjalan cepat, hampir berlari, meninggalkan mereka.

Beberapa orang tertawa kecil.

“She must be shy. Anyone would be, standing in front of Jack.”

(Dia pasti malu. Siapa pun akan malu berdiri di depan Jack.)

Jack ikut tersenyum kecil, seolah lelucon itu menghiburnya.

Tak seorang pun tahu—

bahwa nama pena A-K yang tercantum di naskah itu adalah nama yang mereka ciptakan bersama tujuh tahun lalu.

Nama yang lahir dari Arka dan Karin.

Jack tahu sejak awal bahwa Karin adalah penulisnya.

Namun ia memilih berpura-pura tak mengenalnya.

Karena bagi Arka, menjadi sutradara besar berarti menghapus masa lalu.

Termasuk perempuan yang pernah ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!