Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Strategi Merayu
Malam di bukit itu menjadi saksi bisu betapa berbahayanya seorang AL jika dibekali dengan teori asmara dari para pria desa. Setelah pengakuan cinta yang dipaksakan tadi, AL tidak lantas melepaskan Esme. Ia duduk di sofa dengan Esme yang masih berada dalam dekapannya, seolah wanita itu adalah harta karun yang baru saja ia menangkan dari perlombaan mengangkut apel.
Esme bisa merasakan dada AL yang naik turun dengan teratur, namun suhu tubuh pria itu terasa jauh lebih panas dari biasanya. Ia ngebatin dengan panik, "Esme, kau harus melakukan sesuatu! Jika dia terus-terusan menganggap Bang Togar adalah mentor dalam urusan pernikahan, kau bisa habis dalam semalam!"
"Aleksander," panggil Esme dengan suara gemetar, mencoba melepaskan diri dari dekapan tangan AL yang melingkar di pinggangnya. "Bisa kau lepaskan sedikit? Aku... aku sulit bernapas."
AL menunduk, menatap Esme dengan tatapan yang sangat dalam. "Bang Togar bilang, jika istri sulit bernapas saat dipeluk, itu artinya dia sedang terpesona oleh gairah suaminya. Apakah kau sedang terpesona padaku, Moa?"
Esme ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding. "Tidak! Itu artinya kau memelukku terlalu kencang, Raksasa! Kau punya kekuatan Enigma, ingat?!"
AL segera melonggarkan pelukannya dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, Moa. Aku lupa kalau aku ini... kuat. Tapi ada satu hal lagi yang diajarkan oleh Paman Silas tadi sore di belakang kebun. Dia bilang, merayu istri itu tidak hanya pakai kata-kata, tapi pakai mata."
"Pakai mata?" Esme mengerutkan kening.
"Iya. Namanya... tatapan mematikan," ucap AL dengan sangat yakin.
Tiba-tiba, AL mendekatkan wajahnya lagi, namun kali ini dia tidak tersenyum. Dia sedikit menyipitkan mata kuningnya, menatap lurus ke dalam pupil mata Esme dengan intensitas yang sangat tinggi. Dia mencoba meniru ekspresi "pria seksi" yang pernah diceritakan Bang Togar, namun karena AL dasarnya adalah predator, tatapan itu justru terlihat seperti harimau yang sedang mengincar leher kelinci—sangat intimidatif sekaligus membuat jantung Esme berdegup tidak karuan.
"Bagaimana? Apakah hatimu sudah meleleh?" tanya AL dengan suara yang dibuat-buat serak, mencoba tampil maskulin.
Esme justru tertawa terbahak-bahak di tengah rasa gugupnya. "Aleksander! Kau terlihat seperti orang yang sedang sakit perut, bukan sedang merayu!"
AL seketika kehilangan rasa percaya dirinya. Wajahnya merengut lucu, bibirnya sedikit maju. "Tapi mereka bilang ini cara paling ampuh. Mereka bilang kalau aku melakukan ini, kau akan langsung memintaku untuk membawamu ke ranjang."
"Jangan dengarkan mereka!" Esme menarik napas panjang, mencoba meredakan tawanya. "Aleksander, cinta itu tidak harus mengikuti rumus Bang Togar. Kau tidak perlu menjadi dominan atau memberikan tatapan aneh itu. Aku lebih suka kau yang biasa, yang jujur."
AL terdiam, ia merenungkan kata-kata Esme. "Jadi, kau tidak suka jika aku menjadi pria sejati seperti mereka?"
"Kau sudah menjadi pria sejati, AL. Bahkan lebih baik dari mereka semua," ucap Esme tulus, tanpa sadar tangannya mengelus rahang AL yang kokoh.
Sentuhan itu membuat AL memejamkan mata, menikmati kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Esme. Namun, dasar AL yang punya rasa ingin tahu selangit, dia kembali bertanya dengan nada polos. "Lalu bagaimana dengan konsep 'kontak kulit' yang mereka bicarakan? Mereka bilang, semakin banyak kulit yang bersentuhan, semakin kuat ikatan pernikahan kita. Apakah itu sebabnya kau selalu menutup tubuhmu rapat-rapat dengan jas putih itu? Apakah kau tidak ingin ikatanku denganmu menjadi kuat?"
Esme speechless. Pertanyaan AL selalu saja berhasil memojokkannya ke sudut yang memalukan. "Itu... itu karena aku ini ilmuwan! Aku harus melindungi kulitku dari cairan kimia! Dan juga, udara di sini dingin!"
"Tapi di sini hangat," AL menarik tangan Esme dan meletakkannya di dadanya, tepat di bawah kemeja birunya yang terbuka kancingnya. "Rasakan, Moa. Kulitku sangat hangat. Bang Togar bilang, jika istri kedinginan, suami harus menjadi selimut manusia. Apakah kau ingin aku menjadi selimutmu malam ini?"
Esme merasa kepalanya berputar. Bayangan menjadi "selimut" bersama AL di satu ranjang membuatnya hampir pingsan karena baper tingkat dewa. "T-tidak sekarang! Selimut kain sudah cukup!"
Esme segera berdiri, mencoba melarikan diri ke kamarnya sebelum AL mengeluarkan jurus didikan desa lainnya. "Sudah larut! Tidur, Aleksander! Dan besok, kau dilarang bicara dengan Bang Togar lebih dari lima menit!"
AL hanya bisa menatap punggung Esme yang menghilang di balik pintu kamar dengan bingung. Dia menoleh ke arah Ocan yang sedang menatapnya dari atas bufet.
"Ocan, apakah aku melakukan kesalahan lagi?" tanya AL pada si kucing oranye.
Ocan hanya mengeong pelan, lalu melompat turun dan berjalan menuju kamarnya sendiri (yang sebenarnya adalah keranjang di sudut ruangan). Ocan nampaknya sudah lelah melihat drama "suami-istri" palsu yang semakin hari semakin terasa seperti komedi romantis yang berlebihan ini.
AL kembali duduk di depan perapian. Dia mengambil pita merah yang belum sempat ia berikan tadi karena sibuk dengan teori cinta Bang Togar. Dia memandangi pita itu dengan senyum tipis.
"Moa bilang dia mencintaiku," gumam AL dengan hati yang dipenuhi rasa hangat yang baru. "Meskipun dia belum mau melakukan ritual merangkak, tapi dia bilang aku lebih baik dari pria desa lainnya. Itu artinya... aku adalah pemenangnya."
AL tidak tahu, bahwa di dalam kamarnya, Esme sedang menyandarkan punggungnya di pintu sambil memegangi dadanya yang masih bergemuruh hebat. "Bodoh... kenapa aku malah bilang mencintainya?" bisik Esme pada kegelapan. "Ini hanya bohong, Esme. Ini hanya bohong agar dia tidak mengamuk. Tapi kenapa... kenapa rasanya sangat nyata?"
---
Keesokan paginya, AL bangun dengan semangat baru. Dia tidak lagi fokus pada teori Bang Togar, tapi dia memutuskan untuk menciptakan "teori cintanya" sendiri. Dia memetik semua bunga liar di sekitar pondok dan menatanya di meja makan hingga meja itu hampir tenggelam oleh kelopak bunga.
Saat Esme keluar kamar, dia terkejut melihat "hutan bunga" di meja makannya.
"Selamat pagi, Istriku yang kucintai," ucap AL dengan senyum yang sangat manis, memberikan segelas air hangat seperti yang diminta Esme waktu itu. "Aku tidak membawa babi hutan hari ini. Aku hanya membawa keindahan untukmu."
Esme tidak bisa menahan senyumnya. "Terima kasih, Aleksander. Ini... jauh lebih baik daripada ritual Bang Togar."
"Tentu saja," AL mendekat, lalu dengan keberanian barunya, dia mencium pipi Esme secara spontan. "Karena aku suamimu, dan aku belajar dengan cepat."
Esme mematung, sementara AL berjalan riang menuju dapur untuk mencoba (lagi) memecahkan telur dengan lembut. Esme menyadari, hidup dengan AL adalah petualangan yang tidak akan pernah bisa ia prediksi. Setiap hari adalah kejutan antara kepolosan yang mematikan dan pesona yang meluluhkan hati.