NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN MELAWAN DOBERMAN

Doberman maju dengan kecepatan yang bahkan Observation Haki-ku hampir tidak bisa ikuti.

SORU berkali-kali—dia menghilang dan muncul dari berbagai sudut. Tinju dari kanan, kick dari kiri, elbow dari atas, knee dari bawah. Serangan bertubi-tubi tanpa henti.

Aku dodge, block, parry—menggunakan semua yang sudah kupelajari bertahun-tahun. Sabo juga sama—bergerak cepat dengan Future Sight aktif untuk prediksi serangan berikutnya.

Tapi tetap saja—kami terlalu lambat.

WHAM!

Tinju Doberman menembus pertahanan dan mengenai perutku. Meskipun sudah dilapisi Armament Haki, benturannya tetap membuat napas tercekat.

Aku terlempar sepuluh meter—jatuh berguling di pasir pantai.

"ACE!" Sabo berteriak sambil mencoba serang Doberman dari belakang dengan kombinasi thrust cepat.

Tapi Doberman putar tubuh dengan Kami-e—gerakannya fluid seperti air, menghindari semua serangan Sabo tanpa usaha.

"SHIGAN!"

Jari telunjuknya menusuk ke arah dada Sabo dengan kecepatan peluru.

Sabo berhasil twist tubuh di detik terakhir—Shigan cuma menyentuh bahu dan meninggalkan luka tusukan dalam.

"Guh!" Sabo mundur sambil pegang bahu yang berdarah.

Doberman tidak kasih waktu recovery. Dia kejar dengan SORU lagi—

"GEPPO! RANKYAKU: RENGE!"

Melompat ke udara dan mengeluarkan lima slash udara sekaligus dalam formasi bunga—menutupi semua arah pelarian.

Tidak ada cara menghindar!

"SABO! KESINI!" aku berteriak sambil berlari ke posisinya.

Sabo reflex lari ke arahku. Saat lima slash akan mengenai—

"KAGERO!"

Aku ubah seluruh tubuh bagian atas jadi api dan menyebar luas—menciptakan dinding api yang menerima semua slash. Api terpotong tapi langsung reform—Logia intangibility.

"Pintar! Gunakan Logia untuk defend! Tapi berapa lama kau bisa maintain?" Doberman landing dengan senyum menantang.

Dia benar. Maintain bentuk api menguras energi. Tidak bisa lakukan terlalu lama.

Harus serang balik. Harus cari celah.

"Sabo, rencana Delta!" aku berbisik cepat.

Sabo mengangguk meskipun wajahnya pucat karena kehilangan darah dari luka bahu.

Rencana Delta—strategi yang kami buat khusus untuk lawan jauh lebih kuat. Kombinasi distraksi, trap, dan serangan all-out di satu titik lemah.

Aku maju duluan—slash dengan Hinokami sambil alirkan Mera Mera no Mi maksimal. Api biru menyelimuti blade.

"HI NO TACHI: ENBU!"

Slash berapi ganda dalam formasi X—menciptakan wall of fire yang bergerak maju.

Doberman lompat ke atas untuk hindari—seperti yang sudah kami prediksi.

Saat dia di udara—

"SEKARANG!"

Sabo lompat dari arah berlawanan—timing sempurna untuk intercept Doberman yang tidak bisa mengubah arah di udara.

"RYUSEI DAGEKI!"

Thrust dengan Ryuseikon dilapisi Conqueror's Haki—aura hitam-merah menyelimuti tongkat. Target: pinggang kanan Doberman yang tidak bisa diprotect dengan Tekkai saat tubuh berputar di udara.

Mata Doberman melebar sedikit—surprised dengan koordinasi kami.

Tapi dia tidak jadi Rear Admiral dengan mudah.

"TEKKAI: UTSUGI!"

Tekkai partial—hanya mengeras di area yang diserang. Lebih efisien energi dan tetap bisa bergerak.

CLANG!

Thrust Sabo ditahan—tapi untuk pertama kalinya, Doberman terdorong mundur sedikit di udara.

"Conqueror's Haki?! Bocah sembilan dan dua belas tahun punya Conqueror's?!" dia terlihat genuinely shocked.

Tapi itu distraksi yang kami butuhkan.

Aku sudah bergerak ke posisi—tepat di bawah Doberman yang masih di udara setelah terdorong thrust Sabo.

Kumpulkan semua energi Mera Mera no Mi. Semua Armament Haki. Semua Conqueror's Haki. Semua tekad untuk melindungi keluarga.

Api di tanganku berubah dari biru jadi putih kebiruan—suhu naik drastis sampai pasir di sekitar kakiku mulai meleleh jadi kaca.

"HIKEN..."

Doberman menyadari bahaya. Dia coba Geppo untuk mengubah trajektori—

Tapi sudah terlambat.

"...SHIRO METSURYUU!"

White Flame Dragon Fist—evolusi dari Hiken biasa. Tidak hanya ledakan api, tapi api yang berbentuk naga dan menembus pertahanan dengan Internal Destruction Armament Haki sekaligus.

ROAAAARRR!

Naga api putih kebiruan meledak dari kepalan tanganku—terbang lurus ke arah Doberman dengan kecepatan dan panas yang menghancurkan segala di jalannya.

Doberman tidak bisa dodge. Hanya bisa cross-block dengan kedua tangan dilapisi Armament dan Tekkai maksimal—

BOOOOOOMMMMM!

Ledakan raksasa. Api menyebar kemana-mana. Gelombang panas membuat Marine di kapal harus mundur jauh-jauh. Bahkan Yamamoto harus aktifkan Haki untuk protect diri dari panas.

Saat asap dan api menipis—

Doberman masih berdiri.

Tapi untuk pertama kalinya—dia terluka.

Coat Marine-nya terbakar di beberapa bagian. Tangan kanannya merah dengan luka bakar tingkat dua. Napasnya sedikit terengah-engah.

"Kau... benar-benar melukaiku..." dia bergumam sambil menatap luka bakar di tangannya. "Bocah sembilan tahun melukai Rear Admiral Marine..."

Lalu dia tertawa—bukan tawa mengejek, tapi tawa kagum dan excited.

"LUAR BIASA! Ini pertama kalinya dalam lima tahun terakhir ada yang bisa lukai aku di East Blue!"

Aura Haki-nya meledak—intensitas naik drastis sampai tanah di sekitarnya retak.

"Aku akan serius sekarang! Tunjukkan padaku seberapa jauh kalian bisa bertahan!"

Sial. Dia belum serius tadi? Itu baru permainan?!

Doberman hilang—SORU dengan kecepatan jauh melebihi sebelumnya.

Observation Haki-ku bisa rasakan dia bergerak—tapi tubuh tidak bisa react cukup cepat!

WHAM! WHAM! WHAM!

Tiga pukulan berturut-turut mengenai—perut, dada, wajah. Semua dengan Armament Haki penuh.

Aku terlempar—tubuh memantul di pasir tiga kali sebelum berhenti.

Darah keluar dari mulut. Tulang rusuk terasa retak. Penglihatan blur.

"ACE!" Sabo mencoba bantu—tapi Doberman sudah di depannya.

"ROKUOGAN!"

Teknik Rokushiki ultimate—shockwave internal yang langsung serang organ dalam tanpa merusak permukaan.

Sabo terlempar—muntah darah di udara sebelum jatuh keras.

Kami berdua tergeletak—tidak bisa bergerak. Luka terlalu parah. Energi hampir habis.

Ini akhirnya? Kami kalah?

Doberman berjalan pelan ke arah kami. "Kalian bertarung dengan baik. Sangat baik untuk anak-anak. Tapi tetap saja—kalian masih anak-anak. Belum cukup untuk hadapi officer level atasku."

Dia angkat tangan—siap untuk pukulan finishing.

"Sekarang—"

"BERHENTI!"

Suara keras dari arah gubuk.

Semua mata tertuju ke sana.

Luffy berlari dengan topi jerami di kepala—air mata bercucuran tapi wajah penuh kemarahan.

"JANGAN SAKITI ACE-NII DAN SABO-NII!"

"Luffy... jangan..." aku mencoba berteriak tapi suara tidak keluar.

Doberman menatap Luffy dengan tatapan dingin. "Bocah kecil. Minggir. Ini bukan urusanmu."

"INI URUSAN LUFFY! MEREKA SAUDARA LUFFY!"

Luffy terus berlari—tidak peduli Doberman monster yang bisa bunuh dia dengan satu jentikan jari.

Tapi Doberman tidak serang. Malah dia berhenti—menatap Luffy dengan ekspresi aneh.

"Saudara ya..." dia bergumam. "Kalian bertarung melindungi saudara..."

Dia diam sejenak.

Lalu menurunkan tangan.

"Aku mengubah pikiran."

"Apa?" aku terheran-heran—meskipun berbicara saja sakit.

Doberman berbalik menatapku. "Aku tidak akan tangkap kalian hari ini."

"Kenapa?" Yamamoto bertanya dari samping—sama shocknya.

"Karena..." Doberman menatap langit. "Dulu aku juga punya saudara. Kami bertarung bersama. Melindungi satu sama lain. Sampai dia mati karena aku tidak cukup kuat untuk lindungi dia dari bajak laut."

Suaranya berat dengan penyesalan.

"Melihat kalian bertiga—mengingatkan aku pada masa itu. Dan aku tidak mau hancurkan ikatan itu hanya karena perintah Headquarters."

Dia berjalan kembali ke kapal.

"Tapi dengar baik-baik, Portgas D. Ace. Aku akan laporkan ke Headquarters bahwa aku tidak menemukan kalian di pulau ini. Itu akan kasih kalian waktu—mungkin beberapa bulan. Gunakan waktu itu untuk jadi lebih kuat atau kabur dari East Blue."

"Karena lain kali yang datang tidak akan sebaik hatiku. Mereka akan tangkap atau bunuh tanpa ragu."

Dia berhenti di tangga kapal dan menoleh terakhir kali.

"Dan Ace—terus jadi kuat. Suatu hari, kalau kita bertemu lagi sebagai musuh sungguhan, aku mau kalian di peak power. Supaya pertarungan kita benar-benar epik."

Lalu dia naik dan kapal Marine mulai berlayar pergi—meninggalkan kami yang masih tergeletak dengan luka parah tapi hidup.

Luffy langsung berlari ke arahku—memeluk sambil menangis keras.

"Ace-nii! Ace-nii tidak mati kan?! Luffy takut!"

"Kakak... tidak mati... cuma... sedikit sakit..." aku mencoba tersenyum meskipun sakit sekali.

Yamamoto dan Dadan berlari mendekat—langsung bawa kami berdua kembali ke gubuk untuk dirawat.

Saat berbaring di kasur dengan perban dimana-mana, aku menatap langit-langit dengan pikiran berkecamuk.

Kami kalah. Total.

Doberman bahkan belum menggunakan kekuatan penuh dan kami sudah babak belur.

Tapi kami hidup.

Dan kami dapat pelajaran berharga.

Kami masih jauh dari cukup kuat.

Masih banyak yang harus dipelajari.

Masih banyak latihan yang harus dilakukan.

"Ace," Sabo berbicara dari kasur sebelah—suaranya lemah. "Kita masih lemah ya..."

"Ya. Sangat lemah kalau dibanding monster seperti Doberman."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Aku diam sejenak. Memikirkan.

Lalu tersenyum—meskipun sakit.

"Kita latihan lebih keras. Jadi lebih kuat. Sampai tidak ada Rear Admiral atau bahkan Vice Admiral yang bisa kalahkan kita dengan mudah."

"Berapa lama menurutmu?"

"Entah. Mungkin beberapa tahun lagi. Tapi tidak masalah. Kita punya waktu."

Doberman kasih kami waktu. Beberapa bulan sebelum Marine datang lagi.

Kami akan gunakan waktu itu dengan maksimal.

Latihan. Tumbuh. Jadi lebih kuat.

Dan suatu hari—saat kami bertemu Doberman lagi—kami akan menang.

Bukan dengan keberuntungan.

Tapi dengan kekuatan sejati.

Api takdir masih menyala.

Meskipun sempat redup karena kekalahan ini.

Tapi api tidak akan pernah padam.

Karena masih ada yang harus dilindungi.

Masih ada mimpi yang harus diraih.

Masih ada takdir yang harus diubah.

Dan untuk itu—kami akan terus maju.

Tidak peduli seberapa keras.

Tidak peduli seberapa menyakitkan.

Kami akan sampai di puncak.

Sebagai bajak laut terkuat.

Sebagai saudara yang tidak terkalahkan.

Sebagai orang yang benar-benar bebas.

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!