Renata, seorang istri yang sudah berumah tangga lima tahun lamanya bersama sang kekasih yang di pacarinya sedari dulu.
Dani, sang suami yang sangat mencintai Renata sekaligus sebagai orang yang manjadi mandat dari ayah mertua untuk selalu menjaga Renata di akhir hayatnya.
Namun sayangnya, sang Suami memiliki kelemahan yang sering membuat sang istri menangis karena kenormalannya sebagai seorang wanita muda yang bergairah.
Bermacam cara pun di tempuh Renata bersama sang suami agar bisa menyelesaikan masalah tersebut, namun sayang, hasilnya sama saja. Para ahli dalam bidangnya tidak bisa mengobati kelemahan yang di miliki Dani.
Lalu bagaimana Renata dan Dani menangani masalah ini ??
__________
Ditunggu kritik dan sarannya..
Tolong gunakan bahasa yang baik saat memberi kritik dan sarannya ya..
Makasih..
Selamat membaca 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idhan Kusmana The'a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Matahari pun terbenam di sore yang begitu dingin, anginnya lumayan kencang. Tapi untung kedua suami Renata sudah sampai rumah.
"Sayang sayang ku cepatlah mandi, aku akan buatkan teh untuk kalian, kita nonton Tv bareng nanti" ucap Renata menghampiri kedua suaminya yang sedang duduk di sofa ruangan keluarga.
"Ah nanti dulu, aku cape. Denis terus mengerjaiku tadi di kantor" ucap Dani sambil menggosok-gosokan pipinya ke tangan Renata.
"Bohong itu sayang" teriak Denis.
"Aku hanya menyuruhnya mengantarkan beberapa berkas dari devisinya" bela Denis.
"Tapi itu kau lakukan sebanyak 2 kali dan kebetulan lift sedang rusak, jadi aku harus naik turun tangga melewati 4 lantai" Dani memasang muka melas di hadapan Renata agar dia mau membelanya.
"Ya ampun sayang kamu tega sekali" Renata menjewer pelan kuping Denis.
"Itu bukan salahku, salah sendiri kenapa Dani gak bilang kalau lift nya rusak" belanya lagi.
"Sudahlah, cepat sana mandi. Aku akan membuatkan teh untuk kalian" perintahnya lagi.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
"Ibu aku mohon bangun, bangun ibu, bangun. Ayah bangun, bangun ayah" Denis tak henti berteriak, suaranya membangunkan Renata yang sedang tertidur disampingnya.
"Sayang bangun" Renata membangunkan Denis yang sedang mengigau. Badan dan wajah Denis basah oleh berkeringat, bahkan tangannya juga terasa dingin.
"Sayang kamu kenapa?.. Bangun sayang,bangun" Kini suara Renata lebih kencang dari sebelumnya,membuat Denis akhirnya terbangun
"Hah.. Hah.. Hah.." Denis pun terbangun oleh suara Renata. Nafasnya terengah-engeh dengan tangan yang memegangi dadanya. Tak terasa air matanya menetes perlahan membasahi pipinya.
"Sayang minum dulu" Renata memberikan air yang selalu ada di nakas samping ranjangnya.
Denis hanya meminum sedikit air yang Renata berikan. Asir matanya masih mengalir, tapi wajahnya sedik lebih tenang bila di bandingkan tadi. Renata yang melihat sikap Denis langsung memeluknya, mengelus rambut dan punggungnya.
"Tenang sayang tenang..ayo ceritakan ada apa" bujuk Renata.
"Aku mimpiin Ibu dan Ayah lagi" jawabnya dengan suara yang lirih.
"Sudah, sudah. Ada aku disini,vayo tidur lagi" ajak renata yang masih memeluk Denis.
Renata dan Dani pernah sekali mendengar cerita masalah kematian Ibu dan Ayah Denis yang sangat mengerikan. Bagaimana tidak, kedua orang tua Denis di bunuh oleh pamannya sendiri, adik dari Ayahnya Denis.
Dan saat itu terjadi Denis masih berada di perjalanan pulang sekolah, saat sampai rumah Denis sudah menemukan kedua orang tuanya terkujur di lantai bersimpuh darah dan melihat Pamannya yang hendak kabur lewat jendela. Untungnya saat itu pamannya keburu tertangkap oleh Denis. Sampai saat ini Paman Denis masih di dalam jeruji besi. Hukuman seumur hidup di penjara vonisan untuk tindakan pamannya tersebut.
Dan ketika saat menceritakan masalah itu Denis sangat kacau, matanya memerah, air matanya mengalir deras, emosinya kacau. Mulai saat itu Renata dan Dani tidak pernah membahas lagi kedua orang tua Denis, bukan karna tidak peduli, melainkan merasa kasihan pada Denis yang pasti akan mengingat kejadian kelam waktu itu.
_________
Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 di alarm Renata.
Tapi Renata sudah terbangun dari setengah jam yang lalu.
"Sayang" ucapnya khawatir, tangannya memegangi handuk kecil yang sudah di basahi oleh air es yang kini menempel pada kening Denis.
Setelah mimpi buruk itu badan Denis memanas. Demam tepatnya.Suhu tubuhnya naik, dan Denis juga tak henti merintih.
"Tunggu sebentar ya, aku temui Dani dulu" Renata mengambil sesuatu di laci nakasnya dan kemudian Berlari menghampiri kamar Dani.
Ceklek, Renata membuka kunci pintu kamar suami pertamanya.
"Sayang bangun. Bangun sayang" Renata menggoyangkan bahu Dani.
Dani terperanjat kaget
"Ada apa sayang ? " tanyanya.
"Itu Denis Yang, badannya panas banget. Ayo kita bawa dia ke rumah sakit" ajak Renata dengan ekspresi khawatirnya.
Dani yang mendengar ajakan Renata langsung bangun dari tidurnya, berlari menghampiri kamar Renata.
Dengan cepat mengangkat tubuh Denis yang beratnya 69kg ke dalam mobil.
Dani yang langsung mengebutkan mobilnya. Jarak yang kurang lebih 10km ia tempuh dalam waktu 15 menitan.
Sesampainya di RS, Denis langsung di bawa ke UGD.
Setelah 20 menit lamanya berada di ruang UGD Denis kemudian di pindahkan ke Ruangan inap.
Denis di temani Renata, sementara Dani kembali ke rumahnya dan berangkat kerja. Sekalian memberi tahu HRD akan sakitnya Denis yang membuatnya tidak bisa masuk kerja.
Akhirnya di jam 09.00 suhu tubuh Denis kembali normal dan sadarkan diri.
Renata yang sedari tadi masih di sampingnya tersenyum lega melihat suaminya sudah sadarkan diri.
"Syukurlah" ucapnya senang.
"Minum dulu sayang" Renata menyodorkan segelas air bening.
Lagi-lagi Denis hanya meminumnya sedikit.
"Sayang, bagaimana keadaan mu sekarang? " tanya Renata.
"Kepalaku masih sedikit pusing" jawabnya lemas.
"Juga kakiku ngilu" sambungnya lagi.
Mendengar itu Renata langsung memijat kaki Denis dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana,enak tidak?"
Denis hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan.
"Aku akan turun dan membeli bubur, kamu tunggu sebentar ya Sayang"
"Ia" jawab Denis singkat.
Renata pun keluar dari ruangan Mawar dimana tempat Denis di rawat. Berjalan menelusuri lorong rumah sakit yang sesekali dilihatnya beberapa anggota keluarga pasien yang lainnya tengah berlalu lalang.
Suara Hp Renata berbunyi,dilihatnya itu sebuah panggilan dari suaminya yang pertama.
"Hallo Sayang" suara yang keluar dari speaker Hp Renata.
"Hallo" jawabnya Renata.
"Bagaimana keadaan Denis sekarang ? Apa dia sudah sadar? " Tanya Dani sedikit cemas.
"Sudah Yang, malahan aku sekarang sedang turun tangga mau keluar beliin bubur buat Denis" jelasnya.
"Bukankka biasanya suka dapet makan dari RS? "Tanya Dani heran.
"Ah kelamaan Yang, aku langsung beli bubur aja, paling butuh waktu 5 menit"
"Ya sudah kalo begitu aku tutup dulu ya telponnya, salam buat Denis"
"Ia sayang,semangat ya kerjanya,mmuach"
Panggilan telpon itu hanya berlangsung beberapa menit. Kesibukan Dani menuntutnya untuk tidak berlama-lama mengobrol dengan Renata.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Sepulang dari kantor Dani langsung menuju ke RS. Tak lupa dia membawa pakaian dan makanan yang tadi pagi Renata pesan saat Dani mau pulang ke rumahnya.
Sesampainya di Rs.
Tok tok tok.. Dani mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam.
"Sayang gimana keadaan Denis sekarang? " Tanyanya lagi.
"Sudah jauh membaik, besok pagi juga udah boleh pulang kok kta Dokternya"
Terlihat Denis masih terlelep dalam mimpinya. Tubuhnya sudah kembali pada suhu manusia yang normal.
"Sayang ada yang mau aku omongin" ucap Dani sambil menyerahkan pesenan Renata.
"Apa Sayang?"
"Setelah aku pikir-pikir tadi selama di kantor, sepertinya akan lebih baik kita ajak Denis untuk menemui mama "Usul Dani yang kini tengah menatap wajah Denis.
"Tapi kita mengenalkannya sebagai siapa? " tanya Renata Bingung.
"Kita jelaskan saja semuanya pada Mama, aku yakin Mama akan mengerti tentang keadaan rumah tangga kita" jelasnya.
"Baiklah kalo memang itu menurutmu yang terbaik, lalu kita akan berangkat kapan"
"Paling sabtu besok. Kita berangkat jam 5 pagi, lebih cepat lebih baik. Kasian Denis juga biar dia memiliki sosok seorang ibu lagi setelah bertemu dengan Mama"
"Itu brarti 3 hari lagi dong Yang" Renata menghitung hari dengan jari tangannya.
Dani menganggukan kepalanya sebagai kata Ia dari pertanyaan Renata.
"Kamu memang perhatian dan pengertian" ucap Renata di susul dengan pelukan hangat ke tubuh Dani.
PERHATIAN ..
Teng teng teng
Makasih banyak buat para Reader yang budiman sudah menyempatkan waktunya membaca cerita saya
Sedikit cerita,
Jadi saya buat novel ini terinsfirasi dari karyanya Kak Sulistiyawati
Walaupun karya kami bertiga (saya,kak Sulistiyawati,dan kak Endang suriani) sama-sama bercerita tentang seorang istri yang mempunyai 2 suami, Saya akan berusaha sebisa dan semampu saya untuk membuat alur cerita yang berbeda dari kedua senior saya, agar tidak saling merugikan ke tiga belah pihak
MOHON DUKUNGANNYA YA
Oh ia saya juga belum sempat membaca karyanya Kak Endang,jadi belum tahu persis seperti apa alur ceritanya,mungkin nanti saya akan sempatkan waktu saya untuk membacanya
Buat teman-teman Readers saya tunggu kritik dan sarannya,Tapi Tolong gunakan bahasa yang baik saat memberi kritik dan sarannya ya.. 😉
Terimakasih 😊😊😘😘
APAKAH INI PENGALAMAN DARI AUTHOR SENDIRI. .. KRYA SPERTI GK MUNGKIN HNY SKEDAR CERITA HALU DOANK... PSTI PNGALAMAN PRIBADI..
semangat
mksh