NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #6: Naik Tingkat

Dunia meledak dalam kekacauan putih dan merah.

Teriakan perang para bandit bercampur dengan jeritan kematian para pengawal bayaran. Salju yang suci kini ternoda oleh cipratan darah panas yang langsung membeku menjadi kristal merah.

"Mati! Mati kalian semua!"

Seorang bandit dengan gigi ompong menerjang maju, mengayunkan golok berkarat ke arah Si Penjudi.

Si Penjudi, yang gemetar memegang pisau dapurnya, mencoba menangkis.

TRANG! CRAK!

Pisau dapurnya patah. Golok bandit itu membelah bahunya sampai ke dada.

Si Penjudi ambruk tanpa sempat berteriak, matanya menatap langit abu-abu dengan tatapan kosong.

Geun melihat itu dari sudut matanya.

Jantungnya memompa adrenalin gila-gilaan.

"Mundur! Mundur ke formasi!" teriak seorang petani yang memegang cangkul. Dia berlari ke arah para pengawal resmi Silvercrane, berharap mendapat perlindungan.

Tapi harapan itu adalah kesalahan fatal.

"Jangan mendekat!" bentak salah satu pengawal resmi.

SWUSH!

Sebuah tombak milik pengawal Silvercrane menusuk dada petani itu.

Bukan bandit yang membunuhnya. Tapi rekan sendiri.

"Menjauh dari Gerobak Hitam! Kalian halangi musuh di luar!" perintah Si Botak dengan dingin.

Geun mengertakkan giginya.

Para pengawal resmi itu telah membentuk formasi yang rapat mengelilingi gerobak hitam. Mereka menjadikan mayat rekan-rekan mereka dan para pengawal bayaran yang masih hidup sebagai tembok daging untuk memperlambat bandit.

"Sial..." desis Geun. "Tujuh tael ini benar-benar uang darah."

Geun tidak punya waktu untuk marah. Dia sibuk menghindar.

Dia menunduk saat sebuah kapak melayang di atas kepalanya. Dia berguling di salju saat tombak menusuk tempat dia berdiri sesaat yang lalu.

Dia tidak bertarung. Dia terlihat menari di antara kematian.

Matanya yang tajam melihat energi internal para bandit yang rata-rata berwarna merah keruh dan tipis. Bagi Geun, itu adalah sinyal bahaya.

Ada Qi bergerak di kiri!

Geun melompat ke kanan.

Qi terasa dari belakang.

Geun menjatuhkan diri ke depan.

Dia bertahan hidup murni karena insting dan kemampuan bawaan dalam melihat energi.

Tapi keberuntungan memiliki batas.

"MINGGIR, KECOA!"

Sebuah suara berat menggelegar, mengalahkan suara badai.

Tanah bergetar.

Sesosok raksasa mendarat di depan Geun, menghancurkan batu besar dengan hentakan kakinya.

Tingginya hampir dua meter. Dia mengenakan jubah kulit beruang utuhm. Otot-ototnya menyembul seperti akar pohon tua yang keras.

Dan yang paling mengerikan adalah auranya.

Di mata Geun, tubuh orang ini diselimuti oleh uap merah pekat yang berputar-putar ganas. Kulitnya berkilau logam gelap, tanda dari sebuah teknik penguatan tubuh.

Dia adalah Ketua Bandit Gang-dol.

Seorang praktisi Ranah First Rate yang ditakuti di wilayah ini.

"Kau..." Ketua Bandit menunjuk Geun dengan kapak raksasanya yang masih meneteskan darah segar. "Kau lincah juga untuk ukuran tikus."

Geun mundur selangkah. Linggis berbalut karung di tangannya terasa sangat ringan dan tidak berguna.

"Sial, praktisi bela diri sungguhan," batin Geun berteriak.

Perbedaan kekuatan di antara mereka bukan seperti langit dan bumi.

Tapi seperti semut melawan gajah.

Ketua Bandit itu tidak memberi waktu.

Dia mengayunkan kapaknya secara horizontal.

"Hancur!"

WOOSH!

Angin dari ayunan kapak itu saja sudah membuat pipi Geun perih.

Geun melompat mundur sekuat tenaga, tapi ujung mata kapak masih menyerempet dada jubahnya.

Kain wol tebal itu robek seperti kertas. Dada Geun tergores, darah merembes keluar.

Geun jatuh berguling di salju. Napasnya tersengal.

"Cepat sekali..." batin Geun panik. "Ini bukan gerakan otot biasa. Ini diperkuat energi internal. Praktisi asli memang beda."

Ketua Bandit tertawa. Dia berjalan mendekat dengan santai. "Ada apa? Mana keberanianmu?"

Geun terpojok di dinding tebing. Kiri kanan tertutup salju longsor. Depan ada pemimpin bandit.

Dia akan mati.

Geun melihat aliran energi internal yang bergerak di dalam tubuh pemimpin bandit itu. Dalam beberapa detik kedepan, kapak itu akan membelah kepalany menjadi dua.

Waktu seolah melambat.

Dalam kepanikan yang memuncak, mata Geun, mata yang selalu dia anggap tidak berguna karena hanya bisa melihat hal aneh yang disebut energi Qi, terpaku pada tubuh Ketua Bandit.

Dia melihat mekanisme tubuh lawan.

Di perut bawah bandit itu, sesuatu yang disebut praktisi murim sebagai Dantian, ada pusaran energi merah yang berputar stabil.

Pusaran itu memompa energi cair ke jalur-jalur Meridian, mengalir ke bahu, lalu meledak di otot lengan saat dia mengayunkan kapak.

Itu seperti sistem irigasi sawah.

Otak Geun yang dengan segala keterbatasannya, mencoba bekerja dengan kecepatan kilat.

"Aku tidak punya pusaran itu," pikir Geun.

Geun tidak pernah belajar teknik pernafasan. Dia tidak punya fondasi. Dia bahkan bukan praktisi bela diri sungguhan. Dia hanya gelandangan penipu.

Namun, Geun punya tubuh. Tubuh yang juga sama aneh nya dengan mata nya. Dia punya kendali mutlak atas setiap serat daging dan sendinya. Dia mampu mengubah struktur anatomi tubuhnya sendiri, seperti yang selalu dia lakukan ketika kedinginan.

"Kalau dia menggunakan energi untuk memompa otot... aku hanya perlu membuat pompanya secara manual."

Itu ide gila. Ide bunuh diri.

Di komunitas bela diri, Murim, mencoba memanipulasi aliran Qi tanpa teknik pernafasan yang benar adalah jalan pintas menuju penyimpangan Qi, kegilaan, kelumpuhan, atau ledakan jantung.

Tapi Geun tidak punya pilihan. Mati dibelah kapak atau mati meledak.

Geun memilih opsi kedua.

"Mati kau!" Ketua Bandit mengangkat kapaknya tinggi-tinggi untuk serangan terakhir.

Geun memejamkan mata sesaat.

Dia mengarahkan fokusnya ke dalam tubuhnya sendiri. Ke organ-organ dalamnya.

"Jantung... pompa lebih cepat."

Geun melakukan sesuatu yang mustahil secara medis.

Dia mengontraksikan otot-otot dadanya ke dalam, memeras jantungnya sendiri seperti memeras kain basah.

DUG-DUG-DUG-DUG!

Jantungnya dipaksa berdetak tiga kali lebih cepat dari batas maksimal manusia.

Darah membanjiri pembuluh darahnya dengan tekanan tinggi.

Belum cukup. Dia butuh jalur energi.

Geun menegangkan saraf-saraf utamanya, lalu dengan sadar merobek katup-katup halus di pembuluh darahnya dengan sentakan otot.

Rasa sakitnya luar biasa. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang ditusukkan dari dalam kulit keluar.

"AAARGHH!"

Geun menjerit.

Bukan teriakan takut.

Itu murni teriakan penderitaan.

Karena vakum yang tercipta dari jantung yang memompa gila-gilaan dan jalur yang dibuka paksa, Qi Alam di sekitar badai salju yang liar dan dingin, tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit Geun secara paksa.

Tanpa filter dan tanpa proses pemurnian.

Energi liar itu masuk, membakar jalur meridiannya yang masih "perawan".

Mata Geun terbuka.

Pembuluh darah di bola matanya pecah semua, membuat matanya berwarna merah darah total.

Hidungnya mimisan deras, darahnya mendesis karena panas tubuhnya yang melonjak drastis.

Uap putih tebal menyembur dari mulut dan kulitnya, mencairkan salju di sekitarnya.

Kulitnya memerah seperti udang rebus, urat-urat biru menonjol di leher dan dahinya seakan mau pecah.

Dia berhasil.

Dia menciptakan Dantian Buatan dengan cara menyiksa jantungnya sendiri.

Dia masuk ke ranah Second Rate secara paksa, kotor, dan sangat tidak stabil.

Ketua Bandit berhenti di tengah ayunan. Matanya melebar melihat transformasi mengerikan di depannya.

Bocah kurus yang tadi gemetar ketakutan, tiba-tiba memancarkan aura panas yang berantakan.

Baunya seperti darah terbakar.

"Teknik apa itu...?" gumam Ketua Bandit ragu. Dia tidak menyadari kalau bocah di hadapannya pada awalnya hanyalah manusia biasa, dan sekarang tiba-tiba secara resmi menjadi seniman bela diri. Terutama, bocah di depannya naik tingkat tanpa pencerahan sama sekali.

Geun menyeringai.

Gigi-giginya merah karena darah gusi yang pecah akibat tekanan.

"Untung saja berhasil..." desis Geun, suaranya sedikit serak.

"Kalau salah satu otot ini meleset... mati aku."

Dia menggenggam linggis berkaratnya.

Kain goni pembungkusnya berasap karena panas tangan Geun.

Sekarang, monster itu bukan lagi si bandit.

Dia menatap bandit itu.

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!