Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Proses transformasi seorang Bumi ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi Langit.
Dua hari kemudian, Langit membawa Bumi ke sebuah penthouse pribadi miliknya di kawasan bisnis Jakarta, sebuah tempat rahasia yang tidak diketahui oleh keluarga Dewanta maupun Galang.
Langit telah memanggil seorang perancang busana pria eksklusif beserta tim penata rambut profesional ke penthouse tersebut.
Ketika Bumi melangkah masuk dengan kaus oblong hitam dan celana jin robeknya, sang desainer sempat menahan napas, menatap jalinan geometris yang merayap naik dari lengan hingga ke pangkal leher Bumi dengan pandangan ngeri sekaligus kagum.
"Bu Langit, Anda yakin ingin kita mendandani pria ini?" bisik sang desainer dengan nada ragu.
"Lakukan saja, tumpas semua rambut liarnya, tapi jangan sentuh karakter wajahnya," perintah Langit mutlak.
Bumi hanya pasrah saat tubuhnya diukur, rambutnya dipotong dengan gaya undercut yang rapi namun menyisakan kesan maskulin yang tajam, dan wajahnya dicukur bersih.
Tantangan terbesar datang saat Bumi harus mencoba setelan jas tiga potong (three-piece suit) berwarna hitam pekat berbahan wol premium kiriman penjahit terbaik.
Ketika Bumi keluar dari ruang ganti, Langit yang sedang menyesap tehnya mendadak terpaku.
Bumi berdiri dengan tegak.
Jas berpotongan slim-fit itu melekat sempurna di tubuhnya yang atletis dan tegap karena tahun-tahun kerja fisik yang berat.
Kemeja putih bersih di baliknya terkancing rapat hingga ke leher, menyembunyikan sebagian besar tato di dadanya, namun jalinan tato yang merayap di leher kirinya justru menyembul keluar di atas kerah kemeja, memberikan kontras yang sangat liar namun luar biasa seksi dan elegan.
Rambutnya yang klimis ditata rapi ke belakang dengan pomade.
"Bagaimana? Ini terasa seperti baju zirah yang terlalu sempit," keluh Bumi sambil menggerakkan bahunya yang bidang, merasa tidak nyaman dengan kekakuan kain mahal tersebut.
Langit tersenyum, bangkit dari sofa, melangkah perlahan mendekati Bumi.
Ia mendongak, menatap pria yang kini memancarkan aura intimidasi yang sama sekali berbeda.
Jika sebelumnya Bumi tampak seperti preman jalanan yang berbahaya, kini ia terlihat seperti seorang penguasa dunia bawah tanah yang berkelas, seorang pria yang mampu membunuh dengan satu perintah, namun tetap terlihat memukau di atas karpet merah.
"Ini sempurna," bisik Langit, matanya tidak bisa beralih dari penampilan baru Bumi.
Ia mengulurkan tangan, merapikan dasi sutra hitam yang melingkar di leher Bumi. "Kamu terlihat, sangat berbahaya, Bumi."
"Saya memang berbahaya, Langit," jawab Bumi dengan nada rendah, menatap lurus ke dalam manik mata Langit.
"Bedanya, sekarang saya memakai pakaian orang kaya."
Langit tersenyum tipis.
"Bagus. Karena orang-orang yang akan kita hadapi nanti malam jauh lebih berbahaya daripada sekadar preman pasar loak, mereka adalah serigala berbulu domba."
*
*
Makan malam keluarga besar Dewanta diadakan di sebuah restoran mewah yang telah dipesan secara privat di lantai teratas sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat.
Ruangan itu bernuansa emas dan kayu mahoni, memancarkan aroma kekayaan lama yang angkuh.
Ketika Langit melangkah masuk ke dalam ruangan, seluruh percakapan mendadak terhenti.
Di meja panjang itu sudah duduk Paman Hendra, beberapa sepupu Langit, dan yang paling mengejutkan, Galang juga ada di sana, duduk dengan senyum kemenangan di samping Hendra.
Mereka mengira Langit akan datang dengan wajah kuyu dan membawa surat penyerahan jabatan.
Namun, kejutan terbesar malam itu terjadi ketika Langit tidak melangkah sendirian.
Di sampingnya, berjalan seorang pria jangkung dengan aura yang begitu pekat dan mendominasi.
Langkah kaki Bumi yang dibalut sepatu pantofel kulit mengkilap bergaung tegas, seolah ia adalah pemilik tempat tersebut.
"Selamat malam semuanya," sapa Langit dengan nada suara yang sangat tenang dan anggun, seolah-olah perusahaannya tidak sedang berada di ambang kehancuran.
Paman Hendra langsung berdiri, matanya menyipit menatap Bumi, terutama saat ia melihat tato yang menyembul di leher pria itu.
"Langit, siapa pria ini? Dan apa maksudnya membawa orang asing ke dalam acara privat keluarga kita?"
"Paman Hendra, perkenalkan, ini Bumi. Calon suamiku," ujar Langit dengan penekanan yang jelas pada setiap kata.
"Sesuai dengan syarat mutlak yang Paman berikan dua hari lalu, aku membawa pria yang akan menikahiku dalam waktu dua minggu ke depan."
Galang langsung berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena terkejut dan marah.
"Langit! Jangan konyol! Kamu membawa preman bertato ini dan mengakuinya sebagai calon suamimu? Apa kamu sudah gila karena kehilangan Starlight?"
Bumi melangkah satu langkah ke depan, menempatkan dirinya sedikit di depan Langit, menciptakan dinding pelindung yang tak kasat mata.
Ia menatap Galang dengan pandangan mata yang dingin, dingin yang sama yang ia gunakan saat menghadapi preman pasar loak.
"Jaga bicaramu, Saudara Galang," suara Bumi menggema rendah namun penuh penekanan di ruangan yang sunyi itu.
"Jika aku mendengar kamu meninggikan suaramu lagi di depan calon istriku, kita akan menyelesaikan ini di luar dengan cara yang tidak akan disukai oleh setelan jas mahalmu itu."
Galang tersentak mundur, instingnya mendeteksi bahaya nyata dari pria di hadapannya. Ia menoleh ke arah Hendra, mencari pembelaan.
Hendra Dewanta berdeham keras, mencoba mengendalikan situasi.
"Langit, pernikahan keluarga Dewanta bukan sekadar membawa pria dari jalanan, Siapa dia?, Dari keluarga mana? Apa latar belakang bisnisnya?"
Langit duduk di salah satu kursi kosong, diikuti oleh Bumi yang duduk dengan santai namun tetap waspada di sampingnya.
"Bumi adalah seorang pengusaha di bidang otomotif dan investasi privat," bohong Langit dengan lancar sesuai skenario yang telah mereka susun.
"Dia lebih suka bergerak di balik layar, mengenai latar belakangnya, kurasa itu bukan urusan dewan komisaris, Paman. Syarat dari Paman adalah aku harus menikah dalam dua minggu untuk menjaga stabilitas kepemimpinan, dan aku memenuhinya."
"Kami tidak bisa menerima pria tanpa asal-usul yang jelas untuk masuk ke dalam lingkaran keluarga ini!" seru Hendra tajam.
Bumi condong ke depan, menopangkan kedua lengannya di atas meja, menatap Dirga lurus-lurus.
"Pak Hendra, stabilitas perusahaan Anda sedang hancur bukan karena status pernikahan Langit, melainkan karena ada pencuri di dalam rumah Anda sendiri. Jika saya jadi Anda, saya akan lebih mengkhawatirkan ke mana arah perginya saham-saham yang anjlok itu, daripada mengurusi siapa yang akan menemani Langit di pelaminan."
Mendengar kata pencuri, sekilas kilatan panik melintas di mata Galang, dan hal itu tidak luput dari pengamatan tajam Bumi serta Langit.
Hendra mengepalkan tangannya, menyadari bahwa pria bertato di hadapannya ini bukan sekadar otot, tetapi juga memiliki ketajaman mental yang tidak bisa diremehkan.
Makan malam itu berlangsung dengan ketegangan yang begitu pekat hingga makanan mewah yang disajikan terasa hambar.
Namun, satu hal yang pasti, Langit telah berhasil memukul mundur gertakan pertama pamannya, semua berkat kehadiran Bumi yang berdiri sekokoh gunung di sampingnya.
Jangan lupa Komen yuk, Like dan HADIAHnya.