Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 17
Aroma melati yang menghiasi kebaya pengantin Zheana kini memudar, berganti dengan keheningan malam yang canggung saat rombongan keluarga tiba kembali di rumah Pak Bagus. Sesuai adab dan tradisi, Khadafy yang kini resmi berstatus sebagai menantu ikut pulang ke rumah tersebut untuk malam pertama mereka, sebelum nantinya membawa Zheana pindah.
Suasana rumah yang semula sepi mendadak terasa tegang. Bu Irma, yang seharian mengurung diri dan memendam amarah yang membakar dada, duduk kaku di sofa ruang tamu dengan mata merah menyala.
Khadafy menghentikan langkahnya di dekat tangga. Dengan sopan, ia menoleh ke arah Pak Bagus dan Bu Irma.
"Papa, Ibu... Khadafy izin ke lantai atas sebentar untuk membersihkan diri dan melepas beskap."
Pak Bagus tersenyum tipis, mencoba menutupi kelelahan fisiknya.
"Iya, Nak Khadafy. Silakan... Kamar Zheana di atas sudah dirapikan. Istirahatlah."
Khadafy mengangguk pelan, lalu menatap Zheana sejenak dengan tatapan datar namun sarat akan kehangatan yang tak terucap, sebelum akhirnya melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Namun, baru saja langkah kaki Khadafy menghilang di belokan lantai atas, letupan emosi yang dipendam Bu Irma seketika meledak tanpa terkendali.
Brak!
Bu Irma berdiri menghentakkan kakinya ke lantai, matanya mendelik tajam mengunci sosok Zheana yang sedang berdiri merapikan tas dan bersiap untuk menyusul Khadafy.
"Anak gatal! Anak tidak tahu diri!" jerit Bu Irma dengan suara melengking yang memecahkan keheningan rumah.
Zheana tersentak, berbalik dengan wajah pucat.
"Mama... ada apa, Ma?"
Sebelum Zheana sempat membela diri, Bu Irma melangkah cepat mengikis jarak. Tangan kanannya terangkat tinggi dan...
PLAK!
Tamparan keras menghantam pipi kanan Zheana hingga wajah gadis itu terlempar ke samping. Belum sempat Zheana meringis meratapi rasa panas yang membakar kulitnya, tangan kiri Bu Irma kembali terayun deras.
PLAK!
"Itu bayaran buat kelakuan murahanmu!" amuk Bu Irma histeris, napasnya memburu kencang bagai kesetanan.
"Kamu puas, hah?! Kamu puas merebut calon suami kakakmu?! Kamu sengaja kan merencanakan ini semua supaya Niken tersingkir dan kamu bisa jadi menantu kaya?!"
"Irma! Cukup!" bentak Pak Bagus terkejut setengah mati. Beliau berlari mendekat, berusaha memasang tubuhnya untuk melindungi Zheana.
"Jangan gila kamu, Irma! Ini semua keputusan keluarga Pak Haris! Zheana tidak salah apa-apa!"
"Diam kamu, Mas!" jerit Bu Irma seperti orang kesetanan.
Tanpa rasa takut sedikit pun, Bu Irma mendorong dada Pak Bagus dengan tenaga liar hingga pria tua itu terhuyung ke belakang dan menghantam tepi meja.
"Mama, stop, Ma! Kasihan Papa!" tangis Zheana pecah, mencoba menahan lengan ibu tirinya.
Namun Bu Irma yang sudah kalap dan kehilangan akal sehatnya berlari ke arah dapur. Ia menyambar panci besar berisi sisa kuah gulai daging yang masih berminyak dan hangat dari meja kompor. Tante Lilis dan Budi yang berada di dekat sana menjerit histeris, mencoba menahan panci itu.
"Mbak Irma, jangan Mbak! Istighfar, Mbak!" seru Tante Lilis panik sambil berlari.
"Jangan ada yang ikut campur!" raung Bu Irma.
Dengan gerakan brutal, Bu Irma menyiramkan seluruh isi kuah gulai yang kental dan berminyak itu tepat ke arah tubuh Zheana.
BYUUURRR!
Kuah gulai berwarna kuning kemerahan yang lengket itu mengguyur deras dari kepala, jilbab putih pengantin, hingga seluruh kebaya mewah yang dikenakan Zheana. Bumbu rempah-rempah cair membasahi wajahnya yang sembab, masuk ke dalam matanya hingga terasa pedih luar biasa.
"Aaghh! Pedih, Ma..." jerit Zheana tertahan, memegangi matanya yang terbakar rasa perih kuah gulai, tubuhnya bergetar hebat di lantai.
Pak Bagus yang melihat penderitaan putri bungsunya berteriak marah dan mencoba merebut panci kosong dari tangan istrinya.
"Irma! Kamu benar-benar keterlaluan!"
"Kamu juga mau dibela, Mas?!" amuk Bu Irma tanpa ampun.
Dia menyiramkan sisa-sisa minyak dan kuah di dasar panci tepat ke dada dan wajah Pak Bagus hingga baju kemeja ayahnya basah kuyup oleh noda minyak yang menyengat. Pak Bagus pun terdorong hingga terhenyak ke lantai.
Jeritan histeris, pecahan emosi, dan aroma kuah gulai yang memenuhi ruang tengah seketika membuat rumah itu bagaikan neraka.
Tepat pada saat kekacauan itu berada di puncaknya, dari balik belokan tangga lantai dua, sebuah langkah kaki tegap melangkah turun dengan cepat. Khadafy, yang baru saja melepas jas beskapnya dan hanya mengenakan kemeja puti berdiri mematung di tiga anak tangga terakhir.
Pandangan mata Khadafy seketika mengunci pemandangan mengerikan di bawahnya, istrinya terduduk di lantai berpakaian pengantin yang hancur terguyur minyak gulai seraya menangis kesakitan, dan Pak Bagus yang bersimbah noda minyak di dadanya.
Seketika, rahang Khadafy mengetat hingga urat lehernya menegang menakutkan. Sorot matanya yang semula tenang berubah menjadi begitu dingin, tajam, dan sarat akan ancaman mematikan.
Langkah kaki Khadafy menuruni sisa anak tangga tidak lagi terdengar perlahan, melainkan amat berat dan menggetarkan lantai kayu. Suasana ruang tengah yang tadinya bising oleh raungan Bu Irma seketika mengering, digantikan oleh keheningan yang mencekam saat aura membunuh menyebar dari tubuh pria itu.
Khadafy melangkah melangkahi pecahan mangkuk dan genangan kuah gulai yang berceceran. Matanya terkunci lurus pada sosok Zheana yang terduduk lemas di lantai, menangis seraya memegangi matanya yang perih terpercik bumbu pekat.
Tanpa membuang satu detik pun, Khadafy berlutut. Tangan kokohnya merengkuh tubuh bergetar Zheana, mengusap lembut bagian wajah istrinya yang basah minyak dengan ujung lengan kemeja putihnya yang kini ikut bernoda kuning kemerahan.
"Mas..." bisik Zheana terbatuk-batuk, suaranya parau dan terbata.
"Pedih... mataku pedih..."
"Diam, jangan banyak bergerak," bisik Khadafy, suaranya amat rendah namun terdengar luar biasa tenang di tengah kekacauan itu.
"Aku di sini."
Khadafy berdiri membopong tubuh Zheana, mendudukkannya dengan hati-hati di atas sofa tunggal yang bersih. Ia lalu menoleh pada Pak Bagus yang meringis memegangi dadanya akibat dorongan keras Bu Irma.
"Papa tidak apa-apa?" tanya Khadafy, nada bicaranya masih terjaga walau urat di rahangnya membiru menegang.
"Papa tidak apa-apa, Nak Khadafy... Tolong... tolong Zheana..." jawab Pak Bagau terbata-bata, menatap menantunya dengan rasa bersalah yang amat sangat. Dia merasa menjadi ayah yang tak berguna untuk anak perempuannya. Dia tak bisa melindungi Zhafea dari amukan dan kemarahan istrinya.