NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 6

Gemertak kayu pinus yang dilahap api menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di dalam Gua Akar Naga. Asap tipis membubung ke langit-langit gua, menghilang melalui celah-celah ventilasi alami yang tersembunyi di balik kegelapan.

Qin Mu tidak langsung menghampiri altar maupun kerangka emas itu. Perhatian pertamanya tetap pada Gu Shanyin.

Pemuda itu merobek sisa kain dari lengan bajunya yang tadi terkoyak taring serigala, membasahinya dengan sisa air hujan dari daun yang ia kumpulkan, lalu membersihkan darah hitam di wajah kakek angkatnya. Kulit Gu Shanyin kini sedingin mayat. Detak jantungnya begitu lambat hingga Qin Mu harus menahan napasnya sendiri untuk bisa mendengarnya.

"Kau belum boleh mati, Kek," bisik Qin Mu, suaranya serak dan bergetar, memperlihatkan kerentanan anak berusia empat belas tahun yang selama ini disembunyikan di balik sikap keras kepalanya. "Kau yang menyeretku ke dunia ini. Kau tidak boleh meninggalkanku sendirian di depan pintu masuknya."

Gu Shanyin tidak merespons.

Qin Mu menggigit bibir dalamnya kuat-kuat hingga mengecap rasa besi. Ia harus mencari cara untuk bertahan. Ia tidak tahu obat apa yang dibutuhkan kakeknya, namun ia tahu gua ini bukan sekadar lubang perlindungan biasa. Formasi di dinding dan kerangka emas itu adalah kuncinya.

Ia berdiri, mengambil sebatang kayu yang menyala sebagai obor, dan melangkah mendekati altar batu di tengah gua.

Langkahnya lambat dan sangat berhati-hati. Pandangannya menyapu lantai gua, mencari ubin yang mungkin memicu panah beracun atau jebakan runtuhan pelajaran dasar dari Gu Shanyin saat berburu di sarang beruang. Namun tidak ada apa-apa. Formasi pelindung tempat ini benar-benar telah mati, atau setidaknya tertidur lelap.

Ketika Qin Mu berdiri tepat di depan altar, tekanan samar membebani dadanya. Tulang-belulang keemasan itu, meski tanpa nyawa selama entah berapa abad, masih memancarkan wibawa yang membuat lutut Qin Mu nyaris gemetar. Ini bukan emas sungguhan; ini adalah tulang manusia yang telah ditempa hingga kepadatan dan kekuatannya melampaui logam fana.

Di pangkuan kerangka itu, gulungan bambu tua tergeletak pasrah.

Mengingat ajaran Gu Shanyin untuk tidak memancing kemarahan hal yang tidak dipahami, Qin Mu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan membungkuk dalam.

"Senior, generasiku sedang diburu. Aku tidak bermaksud menodai tempat peristirahatanmu, namun aku meminjam tempat ini untuk menyelamatkan nyawa keluargaku," ucap Qin Mu pelan namun tegas.

Tidak ada angin supranatural, tidak ada suara gaib. Kerangka itu tetap diam.

Qin Mu mengulurkan tangan dan mengambil gulungan bambu tersebut. Benda itu berat, jauh lebih padat dari bambu biasa, dan permukaannya terasa sejuk. Ia membuka ikatan talinya yang lapuk. Karakter-karakter kuno berwarna merah gelap yang tampak seperti ditulis menggunakan darah memenuhi bilah-bilah bambu.

Beruntung, Gu Shanyin sering memaksanya membaca kitab-kitab tua peninggalan sekte yang hancur sebagai latihan ingatan. Qin Mu bisa mengenali sebagian besar aksara tersebut.

Sutra Penempaan Tulang Kehampaan.

Kalimat pembukanya tertulis dengan arogansi yang menusuk mata: "Surga memberi manusia tubuh yang rapuh agar mereka mudah dihancurkan. Jika kau ingin menelan Surga, hancurkan dagingmu, rebus sumsummu, dan tempa ulang tulangmu dengan api penderitaan. Jika kau takut pada rasa sakit, letakkan gulungan ini dan matilah sebagai serangga."

Jantung Qin Mu berdegup kencang. Ia terus membaca sekilas. Gulungan ini bukan teknik yang bisa melempar api atau pedang terbang. Ini adalah metode murni untuk tahap Body Tempering Penempaan Tubuh yang sangat ekstrem.

"Itu... bukan bacaan ringan sebelum tidur, Bocah..."

Sebuah suara lemah dan berkeretak menghentikan Qin Mu. Ia menoleh dengan cepat. Gu Shanyin telah membuka matanya, meski kelopaknya tampak sangat berat. Lelaki tua itu berusaha mengangkat kepalanya, batuk pelan, dan memuntahkan segumpal darah beku.

"Kakek!" Qin Mu bergegas berlari kembali ke sisi Gu Shanyin, menjatuhkan gulungan itu ke samping.

"Jangan sentuh aku," cegah Gu Shanyin dengan sisa tenaganya, napasnya memburu. "Setiap sentuhan mengganggu sisa Qi yang sedang menahan meridianku agar tidak pecah. Berapa... berapa lama aku pingsan?"

"Satu jam. Dua jam mungkin," jawab Qin Mu panik. "Apa yang harus kulakukan? Apa ada tanaman obat yang bisa kucari di sekitar sini?"

Gu Shanyin tersenyum sinis, senyum yang dipaksakan. "Bahkan pil abadi dari sekte terbesar pun tidak bisa menyambung kembali fondasi yang sudah hancur lebur... Waktuku... mungkin tidak banyak."

"Jangan bicara omong kosong!" potong Qin Mu kasar, matanya memerah.

Gu Shanyin menatap tajam mata pemuda itu, menembus kepanikan Qin Mu. "Dengarkan aku baik-baik, Bocah. Mo Tu... anjing merah itu... dia memiliki Cermin Pelacak Darah. Hujan tidak akan menghapus jejak Qi dari darahku yang muntah di ngarai. Dia akan menemukan gua ini sebelum fajar."

Qin Mu terdiam, darahnya terasa membeku. Langit di luar mungkin sudah memasuki pertengahan malam.

"Kerangka di altar itu..." napas Gu Shanyin semakin putus-putus. "Dia adalah senior gila dari Era Ketiga yang mencoba menembus batas fana melalui kekuatan fisik murni. Formasi gua ini dibangun dengan sisa-sisa hidupnya. Di bawah lutut kanannya... ada cekungan. Masukkan Qi ke sana... formasi pasif akar naga akan aktif menutupi pintu gua sepenuhnya."

"Tapi Kek, aku tidak punya Qi! Aku belum mencapai tahap Qi Gathering!" Qin Mu mengepalkan tangannya putus asa.

"Gunakan... darahmu sendiri. Kau... memiliki darah yang tidak biasa..." Suara Gu Shanyin semakin memudar, dan matanya kembali tertutup. Koma kedua telah merenggut kesadarannya.

Qin Mu berdiri terpaku. Waktu terasa melambat. Kepanikan mencoba menelan akal sehatnya, namun insting bertahan hidup yang ditempa selama bertahun-tahun di hutan kembali mengambil alih. Ia menampar pipinya sendiri dengan keras hingga berbunyi 'plak', memaksa pikirannya kembali fokus.

Di bawah lutut kanan.

Qin Mu berlari ke arah altar. Ia berjongkok dan meraba bagian bawah lutut kerangka emas itu. Benar saja, di bawah lapisan debu, jarinya merasakan sebuah lubang dangkal berbentuk segi enam. Alur ukiran formasi menyebar dari lubang itu ke seluruh lantai gua.

Gunakan darahmu.

Qin Mu mencabut pisau burunya tanpa ragu, menggores telapak tangan kirinya hingga darah segar menetes. Ia menempelkan telapak tangannya ke lubang segi enam tersebut.

Satu detik. Dua detik. Tidak ada yang terjadi. Formasi itu tetap mati.

"Kenapa tidak menyala?!" umpat Qin Mu, menekan tangannya lebih keras hingga lukanya melebar. Alur formasi itu hanya berkedip merah sekilas, lalu kembali redup. Darah fana biasa tidak cukup kuat untuk membangkitkan formasi tingkat tinggi, tak peduli betapa istimewanya garis keturunan yang belum bangkit di dalam tubuhnya. Gua itu membutuhkan energi spiritual murni.

Di saat keputusasaan mulai mencekiknya, dada kiri Qin Mu mendadak bergetar.

Cincin Giok Retak.

Cincin yang menyerap darah Serigala Bayangan itu telah menyimpan sisa-sisa energi murni binatang buas tersebut di dalam jaringannya.

Tanpa berpikir panjang, Qin Mu menarik keluar cincin itu dari balik bajunya. Benda itu masih terasa hangat. Qin Mu tahu energi liar dari monster itu hampir membunuhnya jika tidak diredam oleh cincin. Jika ia memaksanya keluar, tubuh fananya mungkin akan hancur.

Tapi ia tidak punya pilihan.

Qin Mu menempelkan Cincin Giok Retak itu ke telapak tangannya yang berdarah, lalu menekannya kuat-kuat ke lubang formasi segi enam.

"Keluarkan!" geram Qin Mu.

Seolah merespons perintah dan bau darah segar tuannya, Cincin Giok itu menyala hijau terang. Energi liar, sisa esensi Serigala Bayangan yang brutal dan ganas, membanjiri tubuh Qin Mu. Rasa sakit yang tak terlukiskan meledak dari lengannya, seolah ribuan jarum besi disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya secara bersamaan.

Pembuluh darah di lengan kiri Qin Mu menonjol hitam. Darah merembes keluar dari pori-porinya. Pemuda itu menjerit tertahan, menolak melepaskan tangannya dari altar. Ia menyalurkan secara paksa energi brutal itu dari cincin, melewati lengannya, langsung ke dalam lubang formasi.

ZING!

Lantai gua tiba-tiba bergetar hebat. Ukiran garis-garis di dinding batu menyala dengan cahaya keemasan yang menyilaukan. Di mulut gua, akar-akar purba yang sebesar pilar itu tiba-tiba bergerak hidup seperti kumpulan ular raksasa, saling menganyam dan menutup celah pintu masuk dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

Qin Mu terpental ke belakang, terengah-engah dan memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Lengan kirinya melepuh kemerahan. Ia terkapar di lantai yang dingin, pandangannya berkunang-kunang.

Ia berhasil. Gua itu kini tertutup rapat oleh perisai kayu purba dan formasi cahaya emas yang melapisinya dari dalam.

Namun, belum sempat senyum kelegaan terbentuk di bibirnya yang gemetar, sebuah ledakan dahsyat menghantam dari luar.

BOOM!

Seluruh gua berguncang hebat. Debu berjatuhan dari langit-langit. Akar naga di pintu masuk melengkung ke dalam, menahan tekanan yang luar biasa besar. Cahaya emas formasi itu berkedip terang seolah sedang berjuang keras.

Dari balik anyaman akar raksasa itu, sebuah suara serak dan berkarat menggema, menembus kayu dan batu langsung ke dalam telinga Qin Mu.

"Gua Formasi Kuno? Pilihan kuburan yang sangat bagus, Gu Tua!" tawa Mo Tu menggelegar penuh aura membunuh. "Mari kita lihat berapa lama cangkang kura-kura ini bisa menahan lautan darahku!"

Qin Mu mencengkeram lantai gua dengan kuku-kukunya. Bau anyir darah perlahan merembes masuk dari celah akar yang mulai retak. Musuh telah tiba, dan perisai ini tidak akan bertahan selamanya.

1
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!