-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
****
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Tuan Wigunadi langsung mengapit lengan Ivandra, menarik putra sulungnya yang berwajah dingin itu untuk melangkah mantap menuju area dining utama. Langkah kaki mereka yang berwibawa seketika memangkas jarak antara dua keluarga yang telah lama terpisah oleh waktu.
"Handoko!" panggil Tuan Wigunadi dengan suara berat yang dipenuhi kehangatan emosional.
Pria paruh baya di meja tersebut—Tuan Handoko Wijaya—mendongak kaget. Ketika matanya mengenali sosok yang berdiri di hadapannya, Tuan Wijaya seketika berdiri dari kursinya.
"Arya Wigunadi?!" pekik Tuan Wijaya terperanjat.
Dua pria paruh baya yang sama-sama berkarisma itu langsung berpelukan erat di tengah restoran, saling menepuk punggung dengan tawa membuncah. Tuan Arya Wigunadi adalah seorang profesor kedokteran purnabakti yang kini menjabat sebagai rektor di salah satu universitas terkemuka sekaligus pemilik RS Utama Wigunadi. Sementara Tuan Handoko Wijaya adalah seorang pengusaha kontraktor developer sukses yang telah membangun berbagai megaproyek di tanah air. Sahabat lama yang dulu berjuang dari nol kini bertemu kembali di puncak kejayaan masing-masing.
Tak lama kemudian, Nyonya Rosalia Wigunadi yang tadinya mengomel di ruang VIP menyusul dengan langkah anggun. Namun, begitu matanya menangkap sosok Bunda Aini—Nyonya Arini Wijaya—kedua wanita berkelas itu seketika berteriak kecil dan saling berpelukan erat.
"Arini! Astaga, ini beneran kamu?!" seru Nyonya Rosalia heboh, menggenggam kedua tangan Bunda Aini bagaikan saudara kandung yang baru bertemu setelah puluhan tahun.
"Mbak Rosalia! MasyaAllah, aku kangen banget sama kamu!" sahut Bunda Aini penuh haru.
Di tengah kehangatan dan reuni mendadak dua keluarga besar itu, Aini duduk membeku di tempatnya. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Matanya yang jernih membelalak sempurna saat pandangannya bertabrakan dengan sosok pria jangkung yang berdiri tepat di samping Tuan Wigunadi.
Pria berjas abu-abu gelap dengan tatanan rambut rapi, tatapan elang yang tajam, dan rahang tegas yang amat dikenalnya.
Dokter... Dokter Ivan?! batin Aini menjerit histeris. Wajah ayunya yang biasanya menyiratkan kepasrahan sendu kini berubah pucat pasi. Kenapa Dokter Iblis pembimbingku bisa ada di sini bersama keluarga Wigunadi?!
Berbeda dengan saat berada di rumah sakit tempat Ivandra masih memancarkan wibawa seorang dokter pengajar, malam ini tatapan dan raut wajah Ivandra jauh lebih dingin, keras, dan tak tersentuh. Ekspresinya seperti dinding es yang mustahil ditembus. Tanpa sedikit pun gejolak terkejut atau keramahan, Ivandra hanya berdiri kaku dengan satu tangan bersedekap di saku celana. Manik matanya yang gelap menancap lurus pada Aini—seolah sedang menilai seberapa merepotkannya posisi gadis itu dalam skenario perjodohan ini.
Tuan Wigunadi mengikis jarak, menepuk bahu Ivandra dengan bangga. "Handoko, Arini... kenalkan, ini putra sulungku. Ivandra"
Tuan Wijaya tersenyor lebar, menjabat tangan Ivandra dengan hangat. "Wah, Dokter Ivan ! Saya sering dengar reputasimu sebagai spesialis bedah saraf jenius penerus Wigunadi. Sungguh pemuda yang luar biasa."
"Terima kasih, Om," sahut Ivandra singkat. Suara berbariton beratnya terdengar sangat datar dan berjarak, seolah hanya memenuhi formalitas kesopanan antarkeluarga.
"Nah, Handoko," lanjut Tuan Wigunadi tanpa berbelit-belit, matanya beralih menatap Aini yang masih terperangah. "Sesuai janji dan kesepakatan kita puluhan tahun lalu saat kita masih merintis karir... malam ini, di depan anak-anak kita, aku resmi menyampaikan niat untuk meminang putri tunggalmu, Aini Zahra Wijaya, untuk menjadi istri dari putraku, Ivandra."
DEG.
Kalimat itu bagai petir di siang bolong yang menghantam kepala Aini. Seluruh persendian tubuhnya mendadak melorot lemas.
"A-apa?!" pekik Aini refleks, suaranya yang lembut terdengar bergetar hebat di tengah keheningan meja.
Semua pasang mata kini tertuju pada Aini. Aini menggelengkan kepalanya pelan, raut mukanya menyiratkan kebingungan dan penolakan yang amat sangat.
"Ayah... Bunda... ini maksudnya apa?" tanya Aini dengan napas yang mulai tidak teratur. "Aini... Aini nggak bisa, Ayah! Aini baru berusia dua puluh tiga tahun. Aini baru lulus sarjana kedokteran dan baru saja mulai koas satu bulan! Kenapa Aini harus menikah sekarang? Kenapa Aini harus dijodohkan?!"
Aini menatap Ayah dan Bundanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa takut, syok, dan bayangan kekejaman Ivandra di rumah sakit berputar-putar liar di kepalanya. Jangankan untuk membina rumah tangga, berhubungan lebih jauh dengan pria sedingin es itu saja Aini sudah enggan setengah mati. Lebih dari itu, dada Aini terasa sesak oleh ketakutan yang menggerogoti pikirannya—jika sampai rekan-rekan koas dan dokter lain di rumah sakit tahu ia menikah dengan Ivandra, mereka pasti akan menuduhnya memanfaatkan dokter spesialis bedah saraf sekaligus putra pemilik rumah sakit itu demi kelancaran nilai dan karirnya.
Melihat keresahan dan penolakan dari calon menantunya, Nyonya Rosalia Wigunadi melangkah mendekati Aini. Dengan penuh kehangatan dan kepercayaan diri yang membuncah, Nyonya Rosalia memegang lembut kedua bahu Aini, mengusap punggung tangan gadis itu dengan penyayang.
"Aini sayang, dengarkan Mama ya, Nak," tutur Nyonya Rosalia dengan suara yang teramat lembut dan tegas. "Kamu tidak perlu khawatir sama sekali. Pernikahan ini tidak akan pernah menghalangi mimpinya Aini untuk menjadi dokter."
Aini mendongak pelan, menatap Nyonya Rosalia dengan binar mata yang dipenuhi keraguan. "Tapi Tante... masa koas Aini masih panjang, belum lagi kalau nanti Aini mau ambil spesialis..."
"Justru itu, cantik!" potong Nyonya Rosalia cepat sembari tersenyum lebar. "Kamu mau mengejar mimpi jadi dokter umum, spesialis, bahkan sub-spesialis apa pun, Mama dan Papa yang akan dukung penuh seratus persen! Apalagi nanti kamu akan berada langsung di bawah bimbingan dan perlindungan suamimu sendiri, Dokter Ivan. Siapa yang berani macam-macam sama kamu di rumah sakit kalau kamu istrinya Ivandra?"
Nyonya Rosalia terkekeh pelan, melirik Ivandra yang masih berdiri mematung. "Bahkan kalau kamu sudah lulus nanti, seluruh rumah sakit utama dan jaringan fasilitas medis Wigunadi ini bisa dipindahtangankan atas namamu, Aini. Rumah sakit itu akan jadi milik kamu."
Mendengar janji yang begitu bombastis dan luar biasa fantastis itu, Aini justru merasa makin tidak percaya dan tertekan. Rahangnya makin terkunci, dan kepalanya terasa makin pusing. Menjadi pemilik rumah sakit? Memanfaatkan jabatan Dokter Ivan?! Tidak... aku sama sekali tidak bermaksud memanfaatkan siapa pun! Dan aku tidak mau berhubungan lebih jauh dengan Dokter Iblis ini! batin Aini berteriak histeris dalam keputusasaan.
Ivandra yang sejak tadi menyimak perdebatan itu melangkah satu tapak maju. Pria jangkung itu berdiri tepat di seberang meja Aini, menundukkan pandangannya untuk mengunci manik mata sendu milik gadis berhijab di hadapannya.
Tatapan Ivandra kali ini jauh lebih membekukan daripada saat ia menegur Aini di koridor rumah sakit. Tidak ada riak empati, tidak ada ketertarikan, dan sama sekali tidak ada kehangatan seorang calon suami. Ivandra pun sebenarnya sama sekali tidak tertarik untuk menikah dengan Aini—seorang koas muda yang dianggapnya hanya akan menjadi beban dan gangguan dalam kehidupan profesionalnya yang tertata rapi. Pria itu hanya berdiri di sana karena patuh pada perintah mutlak sang Papa dan ancaman Nyonya Besar Wigunadi.
"Dokter Aini," suara berbariton Ivandra mengalun sangat rendah, dingin, dan menusuk, memutus keributan orang tua mereka. "Jangan mengira saya tertarik dengan drama pernikahan ini. Sama seperti kamu, saya berada di meja ini bukan atas keinginan pribadi saya."
Pernyataan tajam dan tanpa tedeng aling-aling itu membuat udara di sekitar meja makan serasa membeku. Nyonya Rosalia sempat melotot tajam ke arah putranya, namun Ivandra tetap tak bergeming.
Ivandra memiringkan kepalanya sedikit, menatap Aini dengan sorot menilai yang teramat sinis. "Pernikahan ini hanyalah ikatan hukum dan janji antarkeluarga yang harus diselesaikan. Jika kamu takut dianggap memanfaatkan posisi saya di rumah sakit, buktikan sendiri dengan kemampuanmu dan tidak perlu berakting seolah-olah kamu adalah korban yang paling menderita di sini."
Aini meremas gaun dusty pink-nya makin erat hingga jemarinya memutih, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Ivandra yang tak berdasar. Di antara rasa sakit hati atas sindiran dingin pria itu, Aini melihat dinding pemisah yang begitu tebal—sebuah ketegasan mutlak bahwa mereka berdua sama-sama terjebak dalam perangkap takdir yang tak diinginkan, tanpa ada pintu untuk melarikan diri.
Bersambung...
jangan gantung rasa penasaran saya... saya masih ngebayangin gimana cerita si Aini sama dokter 2 pintu itu di rumah sakit selama masa kehamilannya Aini 🥺🥺🥺
mampir ya ke novel ku