NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran.

Sari sudah merasakan sakit itu sejak jam dua siang.

Awalnya hanya seperti perut kembung. Ia kira karena tadi pagi ia hanya makan singkong rebus dan minum air sumur yang agak keruh. Ia tetap memikul setengah karung garam ke pasar, meskipun setiap langkah kakinya yang bengkak terasa seperti menginjak paku.

Tapi jam empat sore, saat ia pulang dan membaringkan badan di atas tikar pandan yang sudah tipis, rasa sakit itu berubah menjadi gelombang. Datang, menghilang, datang lagi lebih kuat.

Air ketubannya pecah saat azan Maghrib dari masjid kecil di ujung desa berkumandang. Padahal desa ini mayoritas Kristen, tapi suara azan itu tetap ada, saling bersahutan dengan lonceng gereja.

Tikar Sari basah.

"Belum waktunya," bisik Sari panik. Ia mengelus perutnya yang mengeras seperti batu. "Nak, belum waktunya. Bapakmu belum pulang."

Tidak ada yang menjawab. Gubuknya sepi. Angin di luar semakin kencang. Hujan yang diramalkan sejak kemarin akhirnya turun. Bukan hujan biasa, tapi hujan badai ujung pulau. Air turun seperti dicurahkan dari ember langit. Atap daun lontar gubuk Sari yang bocor di tiga titik, sekarang bocor di semua titik.

Lampu diesel desa yang biasanya menyala jam enam, malam itu tidak menyala sama sekali. Petugas desa berteriak di tengah hujan, kabelnya putus tertimpa pohon.

Desa Kolorai gelap gulita.

Sari sendirian.

Ia mencoba bangun untuk memanggil Mama Leni, dukun beranak yang rumahnya dua gubuk di sebelah. Tapi setiap ia mencoba berdiri, rasa sakit yang luar biasa dari pinggang sampai ke paha membuatnya jatuh lagi ke tikar. Kakinya yang bengkak tidak kuat menopang perutnya yang besar.

"Ma... Mama Leni...!" teriak Sari, tapi suaranya kalah oleh suara hujan yang memukul atap dan ombak yang menggelegar di bawah.

Tidak ada yang mendengar.

Jam tujuh malam, rasa sakit itu sudah datang setiap dua menit. Sari menggigit kain dasternya sendiri agar tidak berteriak terlalu kencang. Keringat bercampur air hujan yang menetes dari atap membasahi seluruh tubuhnya. Minyak tanah di sudut gubuk hampir habis, apinya kecil, bergoyang-goyang ditiup angin yang masuk dari sela-sela kayu.

Ia ingat pesan almarhum ibunya dulu. "Kalau waktunya tiba, tarik napas dari hidung, buang dari mulut. Jangan lawan sakitnya, ikuti."

Sari mencoba. Ia menarik napas panjang, mengedan sekuat tenaga. Tangannya mencengkeram bambu gubuk sampai kukunya patah.

Jam delapan lewat sepuluh menit, di tengah gelap, di tengah hujan badai, di tengah desa yang bahkan tidak ada di peta, seorang bayi akhirnya keluar dari tubuh Sari.

Tidak ada tangisan keras seperti bayi-bayi di film. Hanya suara mengik kecil, seperti anak kucing yang kedinginan.

Sari terengah-engah. Tubuhnya gemetar hebat. Dengan sisa tenaga yang ia tidak tahu dari mana datangnya, ia merangkak sedikit, mengambil gunting berkarat yang sudah ia rebus tadi siang, dan memotong tali pusar itu sendiri. Tangannya berdarah.

Ia menarik bayi itu ke atas dadanya. Bayinya kecil, sangat kecil. Kulitnya merah. Kepalanya masih ada darah ibunya.

Dengan tangan gemetar, Sari menyalakan sisa minyak tanah itu lebih terang dan mendekatkannya ke wajah bayinya.

Dan di sanalah dunianya berhenti.

Bayi itu perempuan. Wajahnya cantik, seperti Sari. Tapi kakinya... kaki kirinya bengkok, kecil, dan telapaknya terpelintir ke dalam. Tangan kanannya juga tidak terbuka sempurna, jari-jarinya menempel jadi satu, terkepal kecil.

Sari mematung. Napasnya tertahan.

Ia bukan membenci. Ia hanya... tidak mengerti. Selama tujuh bulan ia membayangkan bayi yang sempurna, bayi yang akan menjadi teman, bayi yang akan ia bawa ke ladang garam dan ia ceritakan bahwa bapaknya adalah orang baik yang akan pulang. Bayi yang akan menghapus bisik-bisik "anak tanpa bapak" itu.

Tapi yang ada di pelukannya sekarang adalah bayi yang bahkan sejak lahir sudah akan diberi label baru oleh desa. "Anak cacat."

Ingatan akan ucapan Mama Ursi di pasar kembali menusuk. "Anak tanpa bapak akan membawa sial."

"Kenapa... kenapa kamu begini, Nak?" bisik Sari, air matanya akhirnya pecah, deras bercampur keringat. "Kenapa Tuhan menghukum Ibu begini? Bapakmu sudah hilang, sekarang kamu..."

Ia ingin meletakkan bayinya. Ia ingin memejamkan mata dan berharap ketika ia buka, bayinya akan normal seperti bayi tetangga.

Tapi bayi kecil di dadanya itu, yang kakinya bengkok itu, tiba-tiba bergerak. Tangan kecilnya yang terkepal itu, dengan ajaib, menggenggam jari telunjuk Sari yang berlumuran darah. Genggamannya kuat sekali. Sangat kuat untuk bayi yang baru lahir beberapa menit.

Dan bayi itu menangis. Kali ini keras. Tangisannya melengking, menembus suara hujan badai di luar, menembus gelapnya Desa Kolorai.

Tangisan itu seolah berkata, "Ibu, aku di sini. Aku tidak punya siapa-siapa selain Ibu."

Di detik itulah, sesuatu yang keras di dalam hati Sari yang sudah membeku selama delapan bulan karena ditinggalkan Johan, retak.

Sari menarik bayi itu lagi ke dadanya, lebih erat. Ia tidak peduli dengan kakinya yang bengkok. Ia tidak peduli dengan tangannya yang terkepal. Ia tempelkan pipinya yang basah ke pipi merah bayi itu.

"Maafkan Ibu, Nak... maafkan Ibu," isak Sari, kali ini bukan isakan kecewa, tapi isakan seorang ibu yang baru pertama kali merasakan cinta yang tidak meminta syarat. "Ibu di sini. Ibu tidak akan hilang seperti bapakmu. Ibu janji."

Di luar, hujan badai masih turun. Desa Kolorai masih gelap karena kabel putus. Tidak ada yang tahu malam itu telah lahir seorang anak di gubuk paling ujung.

Hanya Sari yang tahu. Dan bayi perempuan dengan kaki bengkok yang terus menggenggam jarinya erat-erat, seolah takut jika ia lepaskan, ibunya juga akan hilang.

Sari memberi nama dalam hati, di tengah cahaya minyak tanah yang hampir padam.

Namanya Bintang. Karena ia lahir di malam paling gelap di desa ujung dunia.

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!