Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yoselinku!
Yoselin benar-benar merasa terkutuk terjebak di dalam penthouse mewah ini. Ia menggerutu tidak jelas seraya melangkah ke ruang tamu, meluapkan kejengkelannya pada dinding-dinding kaca yang membisu. Padahal tujuan utamanya mengambil cuti kerja selama tiga hari adalah untuk menenangkan diri, menyembuhkan trauma atas perlakuan Edward, dan menikmati kedamaian di rumah barunya. Namun kenyataannya, ia justru tertahan di sini untuk merawat sosok bos arogan, gila, dan tidak berperasaan seperti Javier Vernand Romero.
"Dasar bos dan asisten sama saja, gila semua!" umpat Yoselin pelan seraya membaringkan tubuhnya ke atas sofa empuk di ruang tamu.
Rasa lelah yang amat sangat setelah begadang semalaman di kantor akhirnya menumbangkan pertahanan Yoselin. Hanya dalam hitungan menit, matanya terpejam rapat dan ia pun tertidur lelap di atas sofa tanpa memedulikan dinginnya pendingin ruangan.
Sementara itu, di dalam kamar utama, Javier perlahan mulai membuka matanya setelah tidur cukup lama. Efek obat penurun panas yang diminumnya tadi bekerja dengan sangat baik. Tubuhnya terasa jauh lebih segar, dan rasa pening di kepalanya telah menguap.
Saat jemari tangannya menyentuh dahinya sendiri, Javier merasakan ada lembaran plester pendingin yang menempel di sana. Ia meraba pelan, lalu melepas bye-bye fever dewasa berwarna biru tersebut dari keningnya.
Javier menatap plester itu di tangannya, lalu terkekeh geli. Sebuah senyuman manis dan hangat terukir lebar di paras tampannya yang tak lagi pucat.
"Astaga... Dia benar-benar merawat ku seperti anak kecil," gumam Javier pelan seraya memiringkan kepalanya, menatap bekas tempat duduk Yoselin di samping ranjangnya yang kini sudah kosong.
"Menggemaskan," ucapnya pelan.
Binar mata abu-abu sang CEO berkilat dipenuhi kehangatan dan rasa kagum yang makin memuncak.
"Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu, Yoselin?" bisiknya serak pada keheningan kamar.
"Setiap hal kecil yang kamu lakukan selalu berhasil membuatku makin tergila-gila..."
Javier menyibak selimut tebalnya, memosisikan kakinya menapak ke lantai marmer. Dengan langkah perlahan, ia berjalan keluar dari kamar utama untuk mencari keberadaan wanita yang telah mencuri seluruh perhatiannya.
Begitu melangkah ke area ruang tamu yang luas, mata tajam Javier langsung mendapati sosok Yoselin yang tengah tertidur lelap di atas sofa panjang. Tubuh mungil Yoselin meringkuk sedikit karena kedinginan, dengan rambut hitamnya yang terurai indah berantakan di atas bantal sofa.
Javier melangkah lebar mendekat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia berjongkok tepat di hadapan sofa, memosisikan wajahnya sejajar dengan paras cantik wanita yang sedang terlelap itu.
"Cantik sekali..." bisik Javier amat pelan, hampir tak terdengar.
Jemari panjang Javier terulur perlahan, menyentuh lembut pipi mulus Yoselin dengan punggung tangannya. Ia menelusuri garis rahang, hidung bangir mungil, hingga berhenti tepat di bibir bawah bervolume milik Yoselin yang begitu merona alami.
Tiba-tiba, alis Yoselin bertaut rapat dalam tidurnya. Bibir bawahnya bergerak-gerak kecil melontarkan gumaman yang tidak begitu jelas.
"Ugh... Pria gila... Pak Javier brengsek..." gumam Yoselin lirih dalam mimpi terlelapnya.
Mendengar dirinya diumpati secara langsung oleh Yoselin dalam mimpi, bukannya marah, Javier justru terkekeh pelan. Senyuman lebar nan memikat mekar sempurna di wajahnya.
"Bagus, Sayang... Teruslah mimpikan aku," ucap Javier lembut seraya mengusap lembut dahi Yoselin.
"Bahkan di dalam mimpimu pun, hanya ada namaku yang harus kamu sebut."
Javier memperhatikan posisi tidur Yoselin yang tampak canggung di atas sofa tanpa selimut. Tanpa berpikir dua kali, Javier merengkuh tubuh mungil Yoselin, menggendongnya secara bridal style dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.
Yoselin hanya melenguh pelan, menyandarkan kepalanya secara refleks di dada bidang Javier, mencari kehangatan dari tubuh pria perkasa tersebut.
Javier menahan napasnya sejenak, merasakan депак jantungnya sendiri yang berdegup kencang akibat keintiman itu. Ia membawa Yoselin melangkah kembali memasuki kamar utama, lalu membaringkan tubuh anggun itu dengan sangat lembut di atas tempat tidur king size miliknya.
Javier menarik selimut tebal hingga menutupi dada Yoselin, lalu memposisikan dirinya berbaring di samping wanita itu. Javier miring menghadap Yoselin, menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melingkar posesif di pinggang ramping Yoselin, menariknya rapat ke dalam pelukannya.
"Sepertinya tidur siang sambil memeluk pujaan hati tidak ada salahnya..." ucap Javier terkekeh pelan, menatap wajah Yoselin yang sama sekali tidak terganggu oleh gerakannya.
Suasana kamar mendadak begitu tenang dan hangat. Mata abu-abu Javier tak jemu-jemu menjelajahi setiap inci paras cantik Yoselin dari jarak yang amat dekat.
"Kamu benar-benar sebuah mahakarya, Yoselin," bisik Javier penuh ketakjuban, jemarinya merapikan anak rambut yang menutupi dahi mulus Yoselin.
"Bagaimana bisa ada wanita selembut, secerdas, dan seindah ini di dunia? Wajahmu yang teduh ini selalu berhasil meredakan semua amarahku..."
Javier menundukkan wajahnya sedikit, mencium bau harum manis beraroma bunga yang menguar alami dari tubuh Yoselin. Ia menghela napas panjang, mengingat fakta betapa tragisnya jalan hidup wanita di pelukannya ini sebelum bertemu dengannya.
"Edward Galvano itu benar-benar pria paling bodoh di muka bumi," desis Javier pelan dengan nada suara yang berubah sinis saat mengingat nama suami Yoselin.
"Bagaimana bisa ada seorang pria yang tega mengabaikan, menyakiti, dan membuang berlian tak ternilai sepertimu hanya demi sebuah kerikil tidak berguna seperti Angela?"
Javier menggelengkan kepalanya seraya tersenyum meremehkan.
"Pria idiot itu tidak pernah sadar betapa beruntungnya dia dulu memiliki istri sepertimu," lanjut Javier berbisik di depan telinga Yoselin.
"Tapi tidak apa-apa... Kebodohannya adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku. Dia yang membuang mu, maka aku yang akan memuliakanmu."
Javier makin mempererat pelukannya di pinggang Yoselin, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu seraya menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang menenangkan.
"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi air mata, pengabaian, atau rasa sakit untukmu, Yoselin," janji Javier tulus dalam keheningan kamar.
"Aku akan menjadi tempatmu bersandar, menjadi rumah tempatmu pulang, dan memastikan kamu menjadi wanita paling bahagia di duniaku."
"Selamat tidur Yoselinku!" bisik nya.
Javier mengecup lembut pipi Yoselin, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan Yoselin berada rapat di dalam pelukannya, sang CEO angkuh itu akhirnya kembali menyusul masuk ke dalam alam mimpi dengan perasaan penuh kemenangan dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bersambung...