Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9. Perbedaan
Dea duduk di tepi ranjang kosnya. Hasil pemeriksaan kehamilan yang tadi ia buang, diambil kembali. Kini benda kecil itu kini tergeletak di atas meja kecil.
Ia mengembuskan napas panjang. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkannya. Masa depannya, pendidikannya, serta kehidupan kecil yang kini bergantung padanya.
Jujur, pada awalnya Dea memang merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Ada rasa takut bercampur marah. Bahkan, mungkin saja kehamilan ini akan semakin mempersulit hidupnya.
Namun, setelah menangis cukup lama, perlahan ia menyadari satu hal.
'Anak ini tidak bersalah.'
Ia tidak pernah meminta untuk hadir dalam keadaan yang menyakitkan. Ia juga tidak bertanggung jawab atas perbuatan kejam pria yang menjadi ayahnya.
Dea menunduk, lalu mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut.
“Bagaimanapun, kamu tetap darah dagingku, meski ayahmu telah berbuat jahat kepadaku.”
Suaranya bergetar. Setetes air mata jatuh membasahi punggung tangannya.
“Tapi berjanjilah padaku, kamu jangan banyak tingkah, ya.” Dea tertawa kecil di sela tangisnya.
“Biar aku bisa menyelesaikan semuanya. Aku harus membuktikan kepada dunia bahwa aku tidak bersalah.”
Ia mengusap perutnya sekali lagi.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya menjalani semua ini. Aku juga belum tahu akan seperti apa masa depan kita. Tapi aku berjanji, akan berusaha untuk kita berdua.”
Dea mulai menyadari bahwa hidup tetap harus berlanjut. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menerima kenyataan bahwa dua garis merah itu bukanlah hukuman yang harus ia tanggung sendirian.
“Huuufftt ...”
Mungkin, jalan yang harus ia lalui akan semakin sulit. Namun, ia tidak akan membiarkan anaknya menjadi alasan untuk menyerah.
Ia tetap harus menyelesaikan pendidikan. Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Linjaryani. Dan ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan pembunuh seperti yang dituduhkan oleh Elden.
Dea menyeka air matanya, lalu mengambil buku catatan di atas meja.
Di halaman kosong, ia menuliskan satu kalimat.
'Aku akan menemukan kebenarannya, apa pun yang terjadi.'
.
.
Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, kediaman keluarga Zarreti justru dipenuhi kekhawatiran.
“Huek!”
Elden membungkuk di depan wastafel, memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya lemas, keringat dingin membasahi dahinya, sementara perutnya kembali bergejolak.
Sudah beberapa hari terakhir ia mengalami hal serupa. Nafsu makannya menurun drastis. Makanan yang biasanya ia santap tanpa masalah kini justru membuatnya mual.
Setelah berkumur, Elden menatap bayangannya di cermin dengan wajah masam.
“Apa-apaan ini?” gerutunya.
Ia tidak merasa sedang sakit, setidaknya itulah yang ia yakini. Namun, tubuhnya seolah memiliki kehendak sendiri.
“Elden!”
Suara Mireya terdengar dari luar kamar mandi.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja,” sahut Elden.
Ia mencoba berdiri tegak, lalu berjalan keluar. Namun, baru beberapa langkah, kepalanya terasa pening.
Mireya yang melihat wajah pucat putranya segera menghampiri. “Apa yang terjadi?”
“Cuma sedikit mual.”
“Sedikit mual bagaimana? Sudah beberapa hari ini kamu tidak makan dengan baik!” Mireya menyentuh keningnya. “Bagaimana kalau Ibu panggil dokter?”
“Tak usah. Aku baik-baik saja.”
“Elden!” Kali ini, suara Arven terdengar tegas.
Pria yang baru memasuki ruangan itu menatap putranya dengan kerutan di dahi.
“Jangan keras kepala. Kalau memang sakit, periksa saja. Jangan tunggu sampai kondisimu semakin parah.”
Elden menghela napas kesal.
“Aku sudah dewasa. Aku tahu bagaimana kondisiku. Ayah tak perlu memikirkan keadaanku.”
“Lalu, kenapa setiap melihat makanan kamu malah muntah?” sahut Ellea yang duduk di sofa sambil melipat tangan di depan dada.
Elden melirik adiknya tajam. “Bisa diam?”
“Lho, aku kan bertanya sebagai adikmu.” Ellea mengangkat bahu dengan wajah polos yang dibuat-buat.
“Tumben sekali tuan besar kita ini kehilangan nafsu makan. Biasanya, kalau marah saja, kamu masih bisa menghabiskan nasi satu piring besar.”
“Ellea!” tegur Mireya.
“Apa? Aku ini lagi khawatir, Bu.” Wajah Ellea memang tampak serius, tetapi sudut bibirnya sulit menyembunyikan senyum geli.
Elden mendecak. “Kekhawatiran macam apa itu?”
“Kekhawatiran seorang adik yang melihat kakaknya mendadak jadi pemilih makanan.” Ellea memiringkan kepala.
“Atau jangan-jangan kamu masih memikirkan Kak Linjaryani? Sudahlah, dia sudah tenang. Atau mungkin saja dia sengaja pergi lebih dulu karena takut menikah denganmu ...”
Ruangan mendadak hening sesaat.
Tatapan Elden berubah dingin. Wajahnya pun mengeras. “Kau!?” Tunjuknya.
Ellea mengangkat kedua tangan, seolah telah menyerah. “Iya, iya. Aku diam.”
Mireya menggelengkan kepala, sedangkan Arven hanya mengembuskan napas panjang melihat tingkah kedua anaknya.
Meski begitu, kekhawatiran tetap tergambar jelas di wajah Mireya. Ia tidak pernah melihat Elden selemas ini selama beberapa hari berturut-turut.
“Besok kamu harus menemui dokter,” putus Mireya.
Elden hendak membantah, tetapi rasa mual kembali menyerangnya. Ia buru-buru menutup mulut dan berlari menuju kamar mandi.
“Huek!”
Ellea menatap kepergian kakaknya, lalu mengerjap beberapa kali. “Wah, parah juga.”
“Jangan bercanda terus,” tegur Arven. “Kakakmu benar-benar sedang tidak sehat.”
Kali ini, Ellea tidak membalas. Ia menatap pintu kamar mandi dengan ekspresi yang sedikit berubah serius.
Ada sesuatu yang tidak beres dengan Elden. Namun, untuk saat ini, mereka tidak tahu apa penyebabnya.
.
.
Sementara itu, di kosnya, Dea mulai mengumpulkan keberanian untuk menghadapi masa lalu. Ia tidak tahu bahwa laki-laki yang telah menyakitinya sedang berjuang menghadapi tubuhnya sendiri.
Namun, tekad saja tentu tak cukup. Dea masih harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidupnya selama kehamilan, sementara uang yang dimilikinya semakin menipis.
Ia membuka dompetnya. Uang beasiswa yang tersisa hanya beberapa lembar lagi, sedangkan dana beasiswa berikutnya baru akan cair bulan depan.
Dea menghela napas pelan.
Di tengah kondisi seperti ini, ia harus lebih pandai mengatur pengeluaran. Kebutuhan kuliah tetap harus dipenuhi, begitu pula kebutuhan sehari-harinya. Ia juga perlu memperhatikan asupan gizinya selama kehamilan.
Dea menatap uang di tangannya, lalu kembali memasukkannya ke dalam dompet.
“Sepertinya, aku harus lebih berhemat,” gumamnya.
.
.
"Entah kenapa tiba-tiba pengen strobery?" ucap pria yang kini wajahnya pucat pasi.
Bersambung ...
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella