Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Halus di Atas Karpet Merah
Ujung pulpen berujung emas itu menari kaku di atas lembaran kertas . Dengan jemari yang sedikit gemetar oleh dorongan amarah gengsi dan bayangan kemewahan, Arini membuahkan tanda tangannya tepat di atas meterai sepuluh ribu rupiah.
"Luar biasa! Selamat bergabung, Arini!" seru Siska Murni dengan binar mata puas. Ia menyambar dokumen tersebut, menepuk-nepuk permukaannya dengan senyuman yang sulit diartikan. "Ini adalah awal dari era barumu. Lupakan masa-masa menjahit di sudut rumah kontrakan yang sempit. Mulai minggu depan, kamu adalah Chief Designer dari Arini Wulandari Couture!"
Kata-kata Arini Wulandari Couture bergelombang indah di telinga Arini. Rasa bangga yang membuncah mendadak melapisi dadanya, menutupi suara kecil di dalam hatinya yang sempat berbisik mewaspadai keputusan terburu-buru itu.
Sore itu juga, Siska Murni langsung membuktikan janjinya. Arini diajak menuju sebuah showroom mobil ternama di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah mobil crossover berwarna putih berkilau diserahterimakan kepadanya sebagai fasilitas operasional kantor. Tak hanya itu, sebuah kunci kartu akses untuk unit apartemen terawat di kawasan Kemang juga diserahkan sebagai bagian dari "paket prestise" sang kepala desainer.
Saat Arini menggenggam kunci mobil dan kartu apartemen baru tersebut, kepalanya mendadak terasa melayang. Ia duduk di dalam kabin mobil yang beraroma kulit mahal, mengusap lingkar kemudinya dengan napas memburu.
"Aku berhasil..." bisik Arini pada pantulan dirinya di kaca spion. "Aku tidak perlu menumpang hidup pada siapa pun. Aku bisa meraih kejayaan ini dengan nama dan bakatku sendiri!"
Malamnya, Arini mengendarai mobil barunya pulang menuju rumah kontrakan sederhana Bu Ratna. Suara deru mesin mobil yang halus memecah keheningan gang perkampungan padat, memancing tatapan heran dari beberapa tetangga yang sedang duduk di pos ronda.
Arini melangkah masuk ke dalam rumah dengan dagu terangkat tinggi, membawa beberapa kantong belanjaan berisi pakaian bermerek dan kotak perhiasan baru.
Bu Ratna yang sedang duduk menyulam di ruang tengah menghentikan gerakan tangannya. Wanita tua itu memandangi penampilan putrinya yang berubah drastis dalam waktu satu hari, lalu menatap kunci mobil yang diputar-putar Arini di jemarinya.
"Arini... mobil siapa yang kamu parkir di depan gang itu?" tanya Bu Ratna dengan suara pelan, matanya memancarkan rasa cemas yang tak mampu disembunyikan.
"Mobil Arini sendiri, Bu!" sahut Arini bangga, mendudukkan diri di sebelah ibunya dan memamerkan berkas kerja sama dari Siska Murni. "Arini baru saja menandatangani kontrak investasi besar! Arini ditunjuk jadi Kepala Desainer brand pakaian mewah, Bu. Dapat fasilitas mobil, apartemen di Kemang, dan gaji puluhan juta per bulan!"
Bukannya gembira, wajah Bu Ratna justru makin pucat. Tangan tuanya yang keriput meraih lembaran kontrak yang disodorkan Arini, mencoba membacanya di bawah pendar lampu neon yang temaram.
"Arini..." tutur Bu Ratna dengan nada suara yang bergetar penuh keprihatinan. "Kenapa kamu terburu-buru begini, Nak? Usaha jahitmu yang kemarin baru saja berjalan tenang dan berkah. Kenapa kamu malah mengambil risiko besar kembali ke dunia seperti ini?"
"Ibu!" potong Arini, nada suaranya mendadak meninggi oleh rasa tersinggung. "Kenapa Ibu selalu memandang rendah Arini? Usaha jahit kemarin itu cuma menghasilkan uang recehan! Arini ini punya bakat besar, Bu! Masa Arini harus seumur hidup duduk menginjak pedal mesin jahit tua itu?!"
Bu Ratna menghela napas panjang, menatap mata putrinya yang kembali menyala oleh keangkuhan. "Ibu tidak memandang rendah bakatmu, Arini. Tapi Ibu takut... Ibu takut kamu terbuai lagi oleh silau harta yang tidak jelas asal-usulnya. Ingat bagaimana Rian dulu memanjakanmu sebelum akhirnya menjatuhkanmu ke jurang!"
"Bu Siska Murni ini beda, Bu! Dia pengusaha resmi!" tegas Arini kaku, menyambar kembali berkasnya. "Ibu tidak perlu cemas. Arini sudah dewasa dan tahu mana yang terbaik untuk hidup Arini sendiri. Mulai besok, Arini akan pindah ke apartemen Kemang supaya lebih dekat dengan butik utama."
Bu Ratna terpaku di kursinya, menatap punggung putrinya yang melangkah masuk ke kamar dengan hati yang hancur. Wanita tua itu memejamkan mata, memanjatkan doa lirih agar Tuhan melindungi putrinya dari lubang kehancuran yang sama.
Sementara itu, di kediaman Dimas dan Sari, suasana malam diselimuti oleh kehangatan yang bersahaja.
Di ruang keluarga, Dimas sedang duduk di atas karpet tebal, membantu Sari merapikan beberapa dokumen untuk persiapan acara santunan panti asuhan yang akan diadakan akhir pekan ini. Sari duduk di sampingnya, menyodorkan segelas teh jahe hangat buatan tangannya.
"Mas..." sapa Sari lembut.
"Iya, Dek?" Dimas memalingkan wajahnya, menatap istrinya dengan senyuman hangat.
"Tadi sore waktu aku belanja bahan makanan di pasar perkampungan dekat rumah Ayah, aku tak sengaja bertemu Bu RT dari lingkungan kontrakan Ibu Ratna," cerita Sari pelan, matanya memancarkan rasa keprihatinan yang tulus.
Dimas menaikkan sedikit alisnya. Meskipun masa lalunya dengan Arini telah selesai, ia tetap menaruh rasa hormat yang amat tinggi pada sosok Bu Ratna yang bijaksana. "Ada apa dengan Ibu Ratna, Dek? Beliau sakit?"
"Bukan Ibu Ratna, Mas... tapi Arini," jawab Sari jujur tanpa ada rasa cemburu sedikit pun. "Bu RT cerita, Arini belakangan ini sering dijemput mobil-mobil mewah dan kabarnya baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan kelompok pengusaha mode ternama. Tapi... Bu RT bilang, beberapa orang perwakilan dari lembaga pembiayaan investasi sempat datang mencari tahu latar belakang Arini di sekitar perkampungan."
Dimas terdiam sejenak. Sorot matanya berubah menjadi lebih serius. Sebagai seorang Direktur Operasional yang sehari-hari berhadapan dengan dunia korporasi dan hukum bisnis, Dimas sangat paham modus-modus pemanfaatan desainer atau figur publik baru sebagai "tameng hukum" (frontperson) oleh konsorsium bisnis berisiko tinggi.
"Lembaga pembiayaan investasi?" gumam Dimas pelan. "Apakah nama konsorsiumnya Murni Graha Nusantara?"
Sari berkedip kaget. "Mas Dimas tahu?"
Dimas menghela napas berat, menggelengkan kepalanya. "Pak Gunawan minggu lalu baru saja menolak proposal kerja sama dari Murni Graha Nusantara. Perusahaan itu bergerak di bidang pemutihan aset dan sering memakai nama-nama desainer atau pengusaha muda yang haus pengakuan untuk dijadikan penjamin perorangan atas pinjaman modal fiktif mereka."
Sari menangkupkan kedua tangannya di dada, wajahnya diliputi kecemasan. "Masya Allah... Jadi Arini..."
"Besar kemungkinan Arini sedang masuk ke dalam perangkap yang sama seperti saat ia bersama Rian dulu," lanjut Dimas tenang namun berwibawa. "Sikapnya yang mudah tergiur oleh status dan kemewahan instan membuatnya menjadi sasaran paling empuk bagi orang-orang seperti Siska Murni."
Sari memegang lengan kemeja Dimas dengan lembut. "Mas... apakah kita harus memberi tahu Ibu Ratna? Aku kasihan melihat Ibu Ratna kalau harus menanggung beban duka lagi di usia tuanya."
Dimas menatap Sari, tersenyum bangga atas kebaikan dan ketulusan hati istrinya yang sama sekali tidak menyimpan rasa dendam pada masa lalu.
"Besok Mas akan minta tim hukum perusahaan untuk memeriksa legalitas berkas Murni Graha Nusantara secara diam-diam, Dek," jawab Dimas mantap. "Kalau memang ada jerat hukum fiktif yang disiapkan untuk Arini, kita akan beri peringatan melalui Pak Joko kepada Bu Ratna, agar Ibu Ratna tidak ikut terseret."
Sari mengangguk lega, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Dimas. Di dalam ketenangan rumah tangga mereka, Dimas tidak lagi bertindak atas dasar rasa cinta atau benci pada Arini, melainkan atas dasar integritas dan rasa kemanusiaan seorang pria sejati yang berdiri melindungi orang-orang yang jujur.