Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Bubur Tanpa Garam
Sumur umum kampung murid luar berada di tengah halaman, dikelilingi batu pipih yang licin oleh lumut. Menjelang malam, antrean murid yang mengambil air sudah menipis. Jian Chen duduk di tepi sumur dengan kedua tangan terendam di dalam ember. Telapaknya lecet merah, dan air dingin itu terasa seperti obat.
Sudah tiga sore ia memutar roda penghembus di bengkel Dao. Setiap sore tubuhnya terasa lebih berat, tetapi setiap pagi bahunya sedikit lebih sanggup. Lin Xue memeriksa nadinya dua kali dan hanya berkata, "Teruskan." Dari Lin Xue, itu sudah setara pujian.
"Tangan itu bisa lepas kalau kau rendam terus."
Jian Chen menoleh. Seseorang berdiri di bawah lampu minyak di tiang sumur, membawa mangkuk kayu di kedua tangannya. Seorang pemuda berbadan sedang, wajah ramah, rambut dikuncir longgar, dengan senyum yang membuat orang merasa sudah lama kenal.
Dada Jian Chen terasa seperti diremas.
"Shen Yu," katanya.
"Kau tahu namaku?" Shen Yu mengangkat alis, tetapi senyumnya melebar. "Aku baru mau memperkenalkan diri. Kau Jian Chen dari pondok tujuh, kan? Aku sering melihatmu di lapangan. Kau yang suka berdiri paling ujung dan tidak pernah mengeluh."
"Aku pernah dengar namamu dari orang," jawab Jian Chen. Ia berusaha supaya suaranya terdengar biasa. "Katanya kau murid yang cepat naik."
"Orang suka melebih-lebihkan." Shen Yu duduk di tepi sumur di sebelahnya, menaruh mangkuk di antara mereka. "Nih, bubur dari dapur. Aku ambil dua porsi karena kulihat kau belum makan malam. Ada sedikit lauk asin. Maaf, garamnya habis, jadi buburnya hambar."
Jian Chen menatap mangkuk itu. Bubur putih, uapnya masih naik, dan seiris sayur rebus di atasnya. Sama persis dengan yang dibawa orang ini ke Puncak Lentera dua puluh tahun kemudian.
"Kenapa kau membawakannya untukku?" tanyanya.
"Karena kudengar kau mengangkat peti sepanjang hari di pondok pengobatan. Lalu berputar-putar di bengkel tiga sore. Itu pekerjaan orang yang tidak makan cukup." Shen Yu mengangkat bahu. "Dan karena orang yang berdiri di ujung barisan tanpa mengeluh biasanya orang yang tidak pernah minta tolong. Aku tidak suka melihat orang seperti itu kelaparan."
"Kita bahkan belum kenal."
"Kita baru kenal sekarang. Makan."
Jian Chen mengambil sendok kayu dan menyuap. Buburnya hambar, seperti biasa. Ia menelan, dan matanya terasa panas. Ia cepat menunduk supaya Shen Yu tidak melihat.
"Enak?" tanya Shen Yu.
"Hambar."
"Aku sudah minta maaf soal itu." Shen Yu tertawa. Tawanya ringan, hangat, dan Jian Chen tahu dari pengalaman bahwa tawa itu membuat siapa pun merasa aman. "Tapi lebih baik hambar daripada kosong."
"Betul."
Ia memperhatikan tangan Shen Yu yang bertumpu di tepi sumur. Punggung tangan kirinya dibalut kain tipis, rapi dan sudah agak kusam, seperti dibalut setiap hari selama bertahun-tahun.
"Lukamu kenapa?" tanya Jian Chen.
Shen Yu menoleh ke tangannya sendiri, lalu tersenyum kecil. "Luka lama dari kecil. Aku tidak suka melihatnya, jadi selalu kututup. Kebiasaan." Ia menarik tangan itu dan menyelipkannya ke lipatan lengan baju. "Kau sendiri? Tanganmu lecet berat."
"Memutar roda penghembus di bengkel Dao."
"Dao yang pandai besi itu?" Shen Yu bersiul pelan. "Orang itu terkenal suka menyuruh orang bekerja sampai tangan mereka rontok. Kau berani juga."
"Aku butuh sesuatu darinya."
"Sesuatu apa?"
"Baji besi untuk tambang." Jian Chen menyuap lagi. Ia tidak tahu kenapa ia bicara, kecuali karena orang di sampingnya terasa seperti seseorang yang selalu ia ajak bicara. "Kelompok ketiga masuk lorong empat hari kedua puluh. Aku tidak suka kayu penyangganya."
Gerakan Shen Yu terhenti, hanya sebentar. Jian Chen tidak yakin apakah ia melihatnya atau hanya membayangkannya.
"Lorong empat," ulang Shen Yu. "Qiu Bo bilang kau menanyakannya ke pengawas dan hampir dicambuk."
"Kau kenal Qiu Bo?"
"Semua orang kenal Qiu Bo. Dia yang paling berisik di pondok tujuh." Shen Yu tersenyum lagi. "Dengar, aku tidak punya wewenang apa-apa, tetapi aku kenal pemeriksa dari aula kontribusi. Dia sering ke dapur dan suka bubur dengan ikan asin. Kalau kau mau, aku bisa bicara dengannya. Minta dia memeriksa lorong empat lagi sebelum hari kedua puluh."
"Kau mau melakukan itu untukku?"
"Untuk kelompok ketiga. Dan untuk Qiu Bo, yang hutang bubur padaku dua mangkuk." Shen Yu mengangkat bahu. "Tidak ada ruginya. Kalau lorong itu aman, pemeriksa itu tidak kehilangan apa-apa. Kalau tidak aman, kita semua berterima kasih."
Jian Chen menatapnya lama. Di bawah cahaya lampu, wajah Shen Yu tampak tulus. Ia tahu betul wajah itu. Wajah yang dulu menertawakan leluconnya yang kering, yang menepuk bahunya waktu ia kalah, yang berdiri di dekat lentera batu pada hari terakhir dan tidak menatapnya.
'Dua sosok,' pikir Jian Chen. 'Wajah mereka tidak terbentuk. Aku tidak tahu siapa mereka.'
Ia mendorong pikiran itu jauh-jauh. Orang di sampingnya belum melakukan apa-apa, dan ia tidak punya bukti selain firasat yang bahkan tidak masuk akal. Seseorang yang membawakan bubur tidak sama dengan seseorang yang memegang pedang.
"Terima kasih," katanya.
"Jangan terlalu berterima kasih. Nanti kau mulai menganggap aku orang baik." Shen Yu tertawa. "Oh, kau berlatih pedang?"
"Belum bisa. Tubuhku belum sanggup."
"Kalau begitu kita mulai dari yang paling kecil. Subuh, di belakang gudang kayu, tidak ada yang lewat." Shen Yu mengacungkan tiga jari. "Aku tidak hebat, tetapi cukup untuk memukul tanganmu kalau salah."
"Aku jarang menang kalau dipukul."
"Itu sebabnya aku mengajakmu." Shen Yu nyengir. "Lagi pula, aku akan ikut ujian naik ke sekte dalam bulan depan. Kalau aku lulus, aku mungkin tidak banyak lagi di sini. Aku ingin menemukan seseorang yang bisa kujadikan sahabat sebelum itu."
"Kau tidak punya sahabat?"
"Punya kenalan banyak. Sahabat tidak." Shen Yu menatap langit yang mulai bertabur bintang. "Tapi aku punya perasaan. Aku merasa kita bisa jadi sahabat, Jian Chen."
Jian Chen tidak langsung menjawab. Bubur di mangkuknya sudah mulai dingin. Dari bengkel Dao, bunyi dentang palu terakhir terdengar, lalu sepi.
"Mungkin," katanya akhirnya.
"Mungkin sudah cukup untuk hari ini." Shen Yu berdiri dan menepuk bahu Jian Chen. "Habiskan buburnya. Besok pagi kutemui pemeriksa itu."
Ia berjalan menyeberangi halaman dengan langkah ringan. Jian Chen memperhatikan punggungnya sampai hilang di antara bayangan pondok. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di pondok tujuh, ia merasa tidak sendirian.
Ia menghabiskan bubur itu sampai mangkuk kosong, lalu menatap tangannya yang lecet di bawah lampu. Tiga orang yang paling ia kenal kini sudah ia temui lagi. Lin Xue dengan mata tajamnya, Dao dengan tawa kerasnya, dan Shen Yu dengan buburnya yang hambar. Semuanya hidup, hangat, dan tidak tahu apa pun tentang apa yang akan terjadi.
Sepuluh hari lagi. Sekarang ia punya orang-orang yang bisa membantunya.