NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: AMUKAN RAJA IBLIS

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat di Lembah Bunga Edelweis Lawu itu.

Para wanita, tujuh bidadari Bima, masih sibuk berlarian dan bermain di tengah taman bunga yang luasnya seperti lautan warna. Mereka tertawa riang, saling melempar bunga, rambut panjang mereka berkibar ditiup angin gunung yang sejuk. Pemandangan itu seperti lukisan surga.

Sementara itu, Bima Samudra sudah sedari tadi duduk dengan tenang di tepi sebuah batu besar di dekat mata air jernih, membakar ikan segar hasil tangkapannya dari Telaga Sarangan untuk para istrinya.

Aroma ikan bakar bumbu kuning khas Jawa Tengah yang harum dan menggugah selera itu pun menyebar ke seluruh lembah, terbawa oleh angin.

Tak lama kemudian, para wanita itu mencium aroma wangi yang membuat perut mereka keroncongan serempak.

Mendengar perut mereka yang berbunyi karena lapar, para wanita itu pun saling menatap satu sama lain dengan wajah lucu, lalu berlarian dengan riang menuju tempat Bima berada.

Melihat para istrinya yang berlari dengan kaki telanjang di atas karpet bunga itu datang menghampiri, Bima pun menyambut mereka dengan senyum yang paling tulus.

"Silakan nikmati hidangannya, wahai tujuh tuan putri ku. Semua sudah siap untuk kalian," canda Bima sambil terkekeh dengan hangat.

Para wanita itu sangat bahagia dan terharu. Ternyata suami mereka sedari tadi tidak hanya menunggu, tetapi sudah menyiapkan segalanya untuk mereka. Selain ikan bakar yang masih mengepul panas, di sana juga sudah tersaji banyak buah-buahan segar yang sangat menggiurkan, ada manggis, rambutan, salak pondoh, dan potongan semangka merah yang manis, semua diambil dari Alam Jiwa milik Bima.

"Ayo makan yang banyak, istri-istri ku, biar kalian sehat dan kuat," kata Bima sambil membagikan ikan.

Mendengar ucapan Bima yang penuh perhatian itu membuat para wanita itu malu, wajah mereka memerah, namun hati mereka merasa sangat dicintai.

Sementara Bima hanya tersenyum bahagia melihat para istrinya makan bersama dengan lahap sambil tertawa bahagia bersama, saling menyuapi satu sama lain.

Namun, di tengah tawa itu, hati Bima terasa sedikit sesak.

"Sayang sekali aku harus pulang ke Gunung Lawu dalam waktu dekat, padahal aku sangat ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kalian semua di sini," kata Bima dalam hati dengan lirih.

Memikirkan hal itu, memikirkan kebahagiaan di sini dan kerinduan di Gunung Lawu kepada Gurunya, Ratu Ayu Kirana, dan ketujuh kakak seperguruannya, Bima merasa berada di posisi yang sangat sulit, di antara dua cinta yang sama besarnya.

Sehingga tanpa sadar dia berjalan pelan ke bawah pohon beringin yang sangat rindang dan besar di tengah taman bunga itu, lalu dengan lambaian tangannya, dia mengeluarkan sebuah ranjang besar yang mewah dan empuk dari Alam Jiwanya.

Bima berbaring di ranjang itu sendirian untuk menenangkan gejolak di dalam hatinya, menatap langit biru di atas Lembah Lawu.

Melihat suami mereka yang tiba-tiba terdiam dan sepertinya sedang tidak baik-baik saja, para istrinya yang peka itu pun segera menghampiri Bima, mereka naik ke atas ranjang besar itu dan mengelilinginya.

"Suami ku, apa yang kau pikirkan...? Kami melihat wajah mu tidak seperti biasanya sejak tadi pagi. Apa ada yang membuat mu sedih...?" tanya Amelia dengan lembut sambil memegang tangan Bima.

"Aku hanya berpikir, Amelia... aku harusnya di sini menjaga kalian semua sebagai seorang suami yang baik, menemani kalian setiap hari. Tapi di sisi lain, aku juga harus pulang, karena ada banyak orang-orang yang sangat menyayangi ku dan menunggu aku pulang di Gunung Lawu. Guru ku dan kakak-kakak ku," jawab Bima dengan jujur.

Mendengar penjelasan Bima yang begitu tulus dan bertanggung jawab, para wanita itu seketika terharu. Tak menyangka suami mereka yang sangat kuat di medan perang itu ternyata memiliki hati yang begitu lembut dan setia.

Mendengar keluhan Bima, para wanita itu pun memberikan semangat dan pelukan yang hangat untuk suami mereka.

"Tidak apa-apa, suami tersayang, meski suami kami ini harus pulang sebentar, kan masih banyak orang-orang dari keluarga kami yang akan melindungi kami di Perguruan Anggrek Putih. Dan pasukan Aliansi Dao Surgawi Nusantara yang kau bentuk pasti akan menjaga kami siang dan malam. Jadi suami ku bisa pergi dengan tenang, tanpa rasa khawatir," kata Melinda dengan bijak.

"Yang terpenting kau tetap menyayangi kami semua dan tidak melupakan kami. Kami semua akan menerima setiap keputusan mu dengan ikhlas, Bima, karena kami tahu kau adalah Pendekar yang memiliki tanggung jawab besar," sambung Tasya dengan mata berkaca-kaca.

Mendengar itu, Bima pun merasa sangat hangat di hatinya atas pengertian yang begitu besar dari para istrinya. Hati yang tadinya galau kini menjadi tenang kembali.

Bima pun memeluk ketujuh istrinya dengan penuh cinta dan rasa terima kasih, memeluk mereka erat di bawah pohon beringin itu, sementara angin menerbangkan kelopak-kelopak bunga edelweis di sekeliling mereka.

Setelah bersantai beberapa saat menikmati angin gunung, Bima kembali mengajak para istrinya untuk melanjutkan perjalanan bulan madu mereka.

Kali ini mereka pergi ke pusat kota, yaitu Kota Solo.

Dengan menaiki Sekar Lestari yang sudah mengecilkan tubuhnya menjadi seukuran elang besar agar tidak menarik perhatian, mereka mendarat di pinggiran kota dan berjalan masuk ke Pasar Gede dan pusat perbelanjaan di sekitar Keraton.

Bima mengizinkan para istrinya untuk membeli apa pun yang mereka mau sebagai hadiah pernikahan.

Dengan gembira seperti anak-anak, para wanita itu satu persatu mulai mengambil barang yang mereka inginkan. Amelia membeli kain batik tulis, Intania membeli gamelan kecil, Melinda dan Tasya membeli perhiasan perak Kotagede, sementara Ayu Wandira, Sherly dan Salsa sibuk memilih kebaya modern dan tas.

Setelah puas berbelanja sampai tangan mereka penuh dengan kantong belanja, Bima mengajak para istrinya ke sebuah restoran legendaris yang sangat terkenal di Solo.

Begitu masuk ke dalam restoran joglo yang megah itu, mereka langsung disambut dengan sangat hangat dan hormat oleh sang pemilik restoran. Pemilik itu ternyata adalah seorang tetua yang pernah melihat pertempuran di Lembah Kematian Merapi, dia langsung mengenali Bima.

"Gusti Bima Samudra...! Pendekar Sang Penakluk...! Sungguh sebuah kehormatan besar warung sederhana kami didatangi oleh pahlawan penyelamat benua...!" kata pemilik itu sambil membungkuk dalam.

Begitu Bima duduk bersama para istrinya di meja terbaik di tengah restoran, banyak para pelayan langsung menghidangkan berbagai makanan dan minuman mewah secara gratis, ada tengkleng, sate buntel, nasi liwet, dan es dawet yang segar.

Tapi Bima melihat para wanitanya makan dengan biasa-biasa saja, tidak begitu semangat dan lahap seperti tadi waktu mereka makan ikan bakar di taman bunga.

"Istri-istri ku, kenapa kalian terlihat tidak begitu semangat...? Apakah makanan di restoran ini tidak enak...?" tanya Bima dengan lembut dan heran.

Intan sebagai yang paling cerewet dan paling jujur langsung menjawab dengan manja,

"Suami ku sayang, makanan di sini sangat enak dan mewah, tapi sejujurnya, masakan mu tadi di lembah bunga jauh lebih enak."

Mendengar itu, Bima hanya tersenyum dengan penuh kasih.

"Tentu saja berbeda rasanya, sayang ku, karena jika aku yang memasak untuk kalian, aku memasaknya dengan penuh perasaan cinta dan tak lupa ku taburi dengan bumbu rindu," kata Bima.

"Uuuuuu... manis sekali bibir suami ku ini pintar merayu," kata Intan sambil mencubit pipi Bima dengan gemas.

Melihat tingkah manja Intan yang lucu itu membuat semua wanita di meja itu tak kuasa menahan tawa bahagia mereka sampai terbahak-bahak.

Melihat kemesraan dan kebahagiaan keluarga baru itu, para pengunjung lain di restoran juga ikut tersenyum dan merasa hangat.

Setelah puas makan bersama, Bima memanggil pemilik restoran untuk membayar semua hidangan.

Tapi pemilik restoran itu menolak dengan keras untuk dibayar, dia menganggap itu sebagai penghormatan.

Namun, Bima tetap tersenyum dan memberikan sebuah kantong besar berisi emas batangan dari Gunung Lawu kepada pemilik restoran itu.

"Terimalah ini, Paman, jika kau tidak mau mengambilnya sebagai bayaran, kau bisa membagikannya kepada semua pekerja mu atau kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar Pasar Gede ini," kata Bima dengan tulus.

Setelah mengatakan itu, Bima pun berlalu bersama para istrinya keluar dari restoran, meninggalkan pemilik yang masih tertegun.

Sementara pemilik restoran masih tidak percaya kalau Bima membayar seratus kali lipat dari harga yang seharusnya. Pemilik restoran itu semakin kagum dan hormat kepada Bima yang hebat namun sangat rendah hati dan baik hati.

Pemilik restoran itu pun dengan jujur membagi emas itu kepada semua pelayan-pelayan restoran dan para pengemis serta tukang becak di sekitar sana.

Mengetahui itu adalah pemberian dari Bima Samudra, orang-orang di Pasar Gede semakin memuja dan mendoakan Bima seperti seorang dewa pelindung.

Sementara itu, Bima dan para istrinya sudah terbang kembali menuju Perguruan Anggrek Putih di Desa Ngargoyoso dengan menggunakan Sekar Lestari.

Di perjalanan pulang menembus awan senja yang berwarna jingga, para istri Bima tak henti-hentinya tersenyum bahagia sambil bersandar di pundak Bima, menikmati angin sore.

Melihat itu, Bima pun merasa sangat senang dan puas bisa memanfaatkan waktu kebersamaan terakhir mereka dengan baik dan penuh makna.

Waktu terus berlalu dengan cepat.

Bima dan para istrinya sudah terbang di atas Perguruan Anggrek Putih. Para murid dan orang-orang di sekte yang melihat bayangan raksasa Phoenix di langit sangat kagum dan berteriak memanggil nama Bima.

Setelah turun dengan anggun di halaman utama perguruan yang luas, Bima disambut dengan hangat oleh para mertuanya, Pak Wijaya Kusuma dan Bu Lastri.

Sementara Bima memberi salam hormat kepada mertuanya, Intan langsung berlari manja menuju kedua orang tuanya, dia bercerita dengan semangat tentang semua keseruan dan keindahan yang mereka lalui barusan, dari lembah bunga sampai ke Kota Solo.

Kedua orang tua Intan begitu senang dan lega melihat putri-putri mereka yang selalu bahagia dan berseri-seri bersama Bima. Meski kini Bima memiliki tujuh istri, dia bisa membahagiakan semua istrinya dengan adil dan penuh cinta tanpa ada yang merasa diabaikan.

Para mertua Bima dan para petinggi kerajaan lainnya memang masih menetap di Perguruan Anggrek Putih untuk sementara waktu, karena selain perguruan itu kini telah resmi menjadi pusat dari Aliansi Dao Surgawi Nusantara, mereka juga ingin menyaksikan dan mengiringi kepergian menantu kebanggaan mereka itu kembali ke Gunung Lawu.

Saat suasana di halaman sedang penuh dengan tawa dan gembira, tiba-tiba datang seseorang dengan tergesa-gesa dan napas terengah-engah, pakaiannya penuh debu.

Dia adalah salah satu mata-mata terbaik, seorang asasin bayangan dari Perguruan Anggrek Putih yang ditugaskan untuk menjaga perbatasan Lembah Kematian Merapi.

"Tuan Besar...! Gawat...! Ada Raja Iblis...! Ukurannya sangat besar, tingginya seperti Gunung Merbabu, dia mengamuk di bekas tempat perang tempo hari...! Dia murka melihat jutaan pasukan Iblis Ekstratoritorial sudah menjadi abu dan darah menjadi sungai oleh Tuan Muda Bima...!" jelas orang itu dengan suara bergetar.

Seketika semua orang yang ada di halaman menjadi gempar dan ketakutan, wajah mereka pucat pasi. Mereka masih ingat betapa mengerikannya perang kemarin. Kecuali Bima Samudra, yang tetap berdiri dengan santai sambil menyeruput teh jahe.

Melihat semua orang yang menjadi pucat dan panik, Bima pun berkata dengan tenang sambil tersenyum tipis,

"Apa yang harus ditakuti, Ayah, Paman semuanya...? Kemarin jutaan ekor saja bisa kita habisi menjadi sate, apalagi ini cuma seekor...?"

Mendengar ucapan Bima yang begitu santai dan meremehkan itu, orang-orang jadi semakin ngeri dan merinding. Bisa-bisanya dia menyebut sang Raja Iblis yang legendaris itu dengan kata seekor, apa dia pikir itu hanya hewan ternak seperti ayam atau kambing...?

" Bima, Raja Iblis itu sangat kuat, kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan iblis kroco kemarin...! Dia bisa setara dengan Dewa tingkat tinggi...! Bahkan sepuluh tetua seperti kami pun belum tentu bisa melukainya...!" jelas Pak Wijaya Kusuma, Ketua Perguruan Anggrek Putih, yang tidak lain adalah ayah mertuanya sendiri dengan nada cemas.

"Apakah sehebat itu kekuatannya, Ayah...?" jawab Bima yang mendengar penjelasan itu, matanya justru berbinar-binar karena tertarik, bukan karena takut.

"Baiklah, sepertinya akan sangat seru untuk pemanasan sebelum aku pulang. Aku akan bermain-main dengannya sekarang," kata Bima dengan lantang dan penuh percaya diri, sambil perlahan-lahan melepaskan aura Naga dan Phoenix di tubuhnya yang mulai bergejolak.

Semua orang yang ada di sana kaget setengah mati mendengarnya.

"Apaaaaaa...!?"

Seorang Raja Iblis yang ditakuti seluruh benua begitu diremehkan seperti mainan oleh Bima...? Itulah pikiran semua orang di tempat itu, antara kagum dan takut. Tapi di sisi lain, mereka juga tidak bisa meragukan kehebatan Bima Samudra yang telah membantai jutaan Iblis Ekstratoritorial di Lembah Kematian tanpa terluka sedikit pun.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!