NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Pertanyaan yang Akhirnya Ditanyakan

Subuh di pantai datang tanpa upacara. Langit hanya memucat perlahan dari hitam menjadi kelabu, lalu menjadi warna susu, dan tahu-tahu perahu-perahu nelayan sudah bergerak di atas air seperti titik-titik kecil yang dilempar ke permukaan.

Andien duduk di atas perahu tua yang ditarik ke pasir, memeluk lutut, menyaksikan Pak Jamal dan dua anak buahnya mengatur jaring dengan gerakan yang sudah tak perlu dipikirkan. Teh hangat di tangannya mengepul tipis. Ia hampir tidak tidur, tetapi anehnya kepalanya jernih.

Langkah kaki di pasir mendekat, pelan dan sengaja diperdengarkan.

"Boleh duduk?" tanya Carlo.

"Boleh."

Carlo duduk di ujung lain perahu, menyisakan jarak satu rentang tangan di antara mereka. Ia tampak tidak lebih tidur dari Andien: kantung matanya gelap, rambutnya berantakan oleh angin laut. Tetapi ia membawa dua gelas teh, dan satu ia sodorkan tanpa kata.

"Saya sudah punya," kata Andien.

"Itu sudah dingin, kamu pegang dari tadi."

Andien melirik gelasnya. Benar saja, uapnya sudah hilang. Ia menerima gelas baru itu dan meletakkan yang lama di pasir, sedikit kesal karena pria itu benar.

Hening. Camar berteriak di atas air.

"Mas bilang boleh bicara," ujarnya akhirnya. "Silakan."

Carlo menarik napas, dan Andien melihat bahunya turun sedikit, seperti orang yang meletakkan sesuatu yang sudah lama dipikul.

"Aku semalam menyusun apa yang ingin kukatakan. Berkali-kali. Aku punya tiga versi. Satu yang membujuk, satu yang menyalahkan diri, satu yang berpura-pura tegar." Ia menggeleng. "Semuanya kubuang. Jadi aku hanya akan menanyakan sesuatu yang seharusnya kutanyakan sejak awal."

"Apa?"

"Apa yang kamu inginkan, Dien?"

Andien menatapnya. Pertanyaan itu sama dengan yang Laras tanyakan di lorong rumah sakit, dan untuk kedua kalinya ia tidak siap menjawab. Dua orang berbeda, di tempat berbeda, menanyakan hal yang sama kepadanya dalam kurun beberapa hari. Seolah dunia tiba-tiba sadar bahwa ia belum pernah ditanya.

"Mas tidak mau mengusulkan sesuatu?"

"Tidak." Carlo tersenyum tipis. "Aku sudah terlalu sering mengusulkan sesuatu untukmu. *Tinggal di paviliun. Jangan keluar. Katakan kamu keponakan.* Semua usulanku membuatmu mengecil. Kali ini aku hanya ingin mendengar."

Andien menunduk. Jarinya memainkan tepi gelas.

"Saya ingin..." Ia berhenti. Memulai lagi. "Saya ingin tidak lagi merasa harus meminta izin untuk ada."

Carlo tidak menyela.

"Seumur hidup saya di desa, saya ada karena berguna. Membantu Ibu, membantu Mbok Darmi, menumbuk jamu. Lalu di kota, saya ada karena Mas membutuhkan tempat untuk menyimpan saya." Suaranya pelan, tetapi mantap. "Saya ingin tahu rasanya ada, tanpa alasan apa pun. Hanya karena saya ada."

"Itu pantas."

"Dan saya ingin tahu apakah saya masih bisa mencintai orang tanpa merasa berutang padanya." Andien akhirnya mengangkat wajah. "Selama ini saya mencintai Mas dengan perasaan berutang. Karena Mas sakit. Karena Mas butuh. Karena Mas menyelamatkan Ibu. Saya tidak tahu mana cinta dan mana terima kasih."

Kalimat itu menggantung di antara mereka dengan berat yang jujur.

Carlo mengangguk lambat. Ia tidak membantah dan tidak terluka secara dramatis. Ia hanya menerima, dan itu, Andien menyadari, adalah hal paling dewasa yang pernah ia lihat dari pria itu.

"Itu pertanyaan yang adil," katanya. "Aku juga tidak tahu jawabanku sendiri. Apakah aku mencintaimu karena kamu, atau karena di sampingmu aku bisa menjadi orang yang kukira diriku?"

"Itu juga adil."

"Jadi kita sama-sama tidak tahu."

"Iya."

Mereka saling pandang, dan tiba-tiba, tanpa bisa ditahan, keduanya tertawa kecil. Tawa canggung, getir, tetapi nyata, tawa dua orang yang akhirnya berhenti berpura-pura memegang jawaban yang tak mereka punya.

---

"Soal pernikahan kita," lanjut Carlo setelah tawa mereda, suaranya kembali serius. "Aku harus bicara jujur tentang itu."

Andien menegang sedikit.

"Aku tidak akan menahanmu di dalamnya. Pernikahan itu terjadi di atas kebohongan, dan aku tidak berhak mempertahankannya hanya karena secara hukum agama ia sah." Carlo menatap telapak tangannya. "Kalau kamu ingin mengakhirinya, aku akan menjalani prosesnya dengan benar, bukan menghindar, bukan menunda. Aku akan datang ke hadapan penghulu, Bu Rukmini sudah mengatakan semuanya. Kamu tidak perlu menghadapinya sendirian."

"Dan kalau saya tidak ingin mengakhirinya?"

"Maka kita tidak akan menjalaninya seperti kemarin." Carlo mengangkat wajah. "Tidak ada paviliun. Tidak ada rahasia. Kalau kamu memutuskan tetap menjadi istriku, itu harus setelah Laras selesai dengan urusannya, setelah kamu punya hidupmu sendiri, dan aku harus mendapatkannya lagi dari awal. Dengan melamarmu di depan ibumu, di rumah itu, dengan kamu tahu persis siapa aku."

Andien menatap pria itu lama. Camar berputar di atas mereka, dan matahari mulai muncul dari balik garis cakrawala, memberi warna jingga pada permukaan air.

"Mas rela menunggu?"

"Aku tidak tahu apakah itu kata yang tepat." Carlo tersenyum miring. "Menunggu terdengar seperti pasif. Aku akan melakukan sesuatu di sela-selanya. Misalnya belajar mengakui kesalahan tanpa menyiapkan pembelaan."

"Itu butuh waktu lama."

"Aku tahu."

"Mungkin bertahun-tahun."

"Aku punya waktu."

Andien menunduk, menyembunyikan senyum yang tak mau berhenti muncul. Ia tidak tahu apakah itu tanda ia sudah memaafkan, atau hanya tanda ia terlalu lelah untuk marah. Mungkin keduanya. Mungkin itu memang bagaimana pemaafan terasa pada awalnya: bukan ledakan lega, tapi lembut dan perlahan, seperti air pasang yang naik tanpa kau sadari.

"Saya mau menerima tawaran Bu Laras," katanya.

Carlo tidak terkejut. "Aku sudah menduga."

"Dan saya tidak mau Mas membantu mengatur apa pun soal itu. Saya akan menemuinya sendiri."

"Tentu."

"Dan Mas tidak boleh datang ke rumah itu kecuali diundang."

"Itu rumah ayahku, secara hukum," Carlo mengingatkan dengan nada setengah bercanda.

"Itu rumah singgah, secara fungsi." Andien menatapnya tajam. "Dan siapa yang mengelola dapurnya, yang menentukan siapa yang boleh masuk."

Carlo mengangkat satu tangan, menyerah. "Dimengerti, Nyonya Koki."

Kali ini Andien tak sanggup menahan, ia tertawa lepas, tawa yang membuat Pak Jamal di kejauhan menoleh dan tersenyum maklum pada dua orang yang duduk di atas perahunya.

---

Mereka kembali ke penginapan menjelang pukul tujuh. Bu Rukmini sudah menunggu di teras dengan sarapan: ikan bakar sisa tadi malam dan nasi hangat. Matanya menyipit, memandang putrinya dan Carlo bergantian, jelas menghitung berapa jarak di antara mereka.

"Jarak satu rentang tangan," gumamnya pada diri sendiri. "Baik. Cukup sopan."

"Ibu bicara apa?"

"Tidak ada, Nduk. Makan."

Selesai makan, Andien menarik ibunya ke sisi halaman, jauh dari telinga Carlo.

"Bu, Bu Laras menawarkan Dien pekerjaan di kota. Di rumah singgah untuk keluarga pasien. Dien memasak, mengurus dapur. Gajinya layak."

"Dan kamu mau?"

"Dien... mau, Bu." Suaranya mengecil. "Tapi itu berarti Dien harus tinggal di kota. Jauh dari Ibu. Dan Ibu baru sembuh. Kalau batuk Ibu kambuh..."

"Dien." Bu Rukmini memotong dengan lembut, mengusap pipi putrinya. "Sepuluh tahun Ibu menahanmu di desa karena takut sendirian. Kamu tidak pernah protes, tidak pernah mengeluh. Menumbuk jamu, mencuci pakaian orang, pulang malam membawa nasi sisa." Matanya basah. "Ibu bukan beban yang harus kamu pikul seumur hidup."

"Bu..."

"Dengar Ibu. Ibu pernah muda. Ibu juga pernah punya mimpi. Lalu bapakmu meninggal, dan mimpi itu Ibu kubur di belakang rumah." Ia tersenyum, pahit dan lembut. "Jangan kubur mimpimu karena takut pada Ibu. Pergilah. Kalau Ibu rindu, Ibu naik kereta ekonomi, Ibu sudah tahu caranya sekarang."

Andien memeluk ibunya, tertawa dan menangis sekaligus. Bau minyak kayu putih dan kain batik lama menyambutnya, dan ia berpikir, tidak ada laut sebesar apa pun yang bisa menandingi pelukan ini.

"Dan soal Nak Carlo," bisik Bu Rukmini di telinganya. "Pelan-pelan saja. Orang yang pernah salah tidak butuh dihukum terus. Tapi juga tidak butuh dimaafkan terburu-buru. Biarkan dia membuktikan lewat hal-hal kecil."

"Hal kecil seperti apa, Bu?"

"Seperti berani menjaga jarak satu rentang tangan, padahal ingin lebih dekat." Bu Rukmini mengedip. "Ibu perhatikan."

---

Sore itu mereka berkemas. Di dermaga kecil di ujung desa, Andien berdiri memandang laut untuk terakhir kalinya. Matahari condong, mewarnai air dengan emas dan ungu, dan ombak berdesir di bawah tiang-tiang kayu.

Ponsel hitam di sakunya bergetar. Pesan dari Laras.

*Bagaimana? Sudah memutuskan?*

Andien mengetik dengan jari yang hangat oleh sinar matahari.

*Saya mau, Bu. Saya akan datang. Terima kasih.*

Balasan datang hampir seketika.

*Aku senang sekali. Nanti kita atur semuanya. Tapi ada satu hal yang harus kusampaikan sekarang, karena aku tidak mau kamu terkejut.*

Titik-titik mengetik muncul, hilang, muncul lagi.

*Hendra Subroto meminta bertemu kamu. Dari tahanan. Lewat pengacaranya. Dia bilang ada sesuatu tentang malam di sungai itu yang belum pernah dia ceritakan pada siapa pun, dan dia hanya mau menceritakannya pada kamu.*

Andien membaca pesan itu dua kali. Angin laut berembus dingin di tengkuknya, membuat bulu-bulu halus di lengannya berdiri.

*Aku tidak akan memaksamu,* tulis Laras lagi. *Jawab kapan pun kamu siap. Tapi Andien, pikirkan baik-baik. Orang seperti Hendra tidak pernah meminta sesuatu tanpa alasan.*

Di belakangnya, terdengar langkah kaki di papan dermaga. Carlo muncul membawa tas ibunya, dan berhenti beberapa langkah darinya ketika melihat ekspresi Andien.

"Ada apa?"

Andien menatap layar ponsel, lalu menatap laut. Ombak datang dan pergi, tak peduli, tak terburu-buru.

"Saya belum tahu, Mas," katanya pelan. "Tapi saya rasa, malam di sungai itu belum selesai."

---

*Bersambung ke Bab 17...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!