"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI HEBAT
Dinding kayu penginapan berderit hebat disapu angin malam. Di luar, laut Pulau Sane mengamuk tanpa ampun. Gelombang tinggi menghantam tebing karang, menciptakan dentuman berat yang menggetarkan hingga ke lantai tempat mereka berdiri.
Devan memegang kedua bahu Naya, menatap lurus ke dalam manik mata gadis itu. Sorot matanya tajam, penuh ketegangan yang tak sanggup ia sembunyikan.
"Naya, dengar kata-kata aku," bisik Devan dengan suara berat terkontrol. "Masuk ke kamar. Kunci pintunya dari dalam. Apapun yang kamu dengar di luar—suara tangisan, jeritan, atau bisikan yang mirip suara aku—jangan pernah buka pintu. Paham?"
Naya mengangguk pelan, tenggorokannya terasa sangat kering. "Tapi Devan... kamu sama Nenek gimana?"
"Kami bakal baik-baik aja. Cepat masuk!" Devan mendorong pelan tubuh Naya ke dalam kamar sebelum menutup pintu kayu itu rapat-rapat.
Klek. Suara kait pintu yang terkunci menjadi satu-satunya penghalang antara Naya dan kegelapan luar.
Malam ini, pulau yang terisolasi itu memanggil marabahaya terbesarnya. Musim kawin duyung telah tiba.
Bagi orang awam, duyung mungkin hanya mitos indah tentang makhluk setengah manusia yang anggun. Namun bagi warga asli Pulau Sane, duyung adalah pemangsa purba. Saat musim kawin tiba, feromon dan darah mereka bergejolak. Naluri liar membuat mereka mengamuk, memanjat karang, dan menyerang pemukiman untuk memburu darah segar.
Tak ada satu pun warga pulau yang berani menyalakan lampu. Pak Karim sendiri sudah bergegas pulang sejak senja, menutup rapat rumahnya demi melindungi anak dan istrinya. Seluruh pulau mendadak mati, tenggelam dalam ketakutan yang mencekam.
Di ruang tengah penginapan, Nenek duduk bersila di atas tikar pandan. Matanya terpejam, jemarinya memutar manik-manik kayu sembari merapalkan mantra pelindung kuno. Devan berdiri tak jauh dari sana, menggenggam erat sebilah tombak besi tua peninggalan kakeknya.
"Mereka sudah makin dekat, Van..." gumam Nenek, suaranya gemetar.
Sreeek... Sreeek...
Suara gesekan tajam mulai terdengar di bawah panggung kayu penginapan. Itu bukan suara angin. Itu adalah suara sirip berbatu dan kuku-kuku tajam yang sedang memanjat tiang-tiang kayu.
"Sshh... Nenek diam di sini," bisik Devan. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
Tiba-tiba, dari arah laut, membumbung suara nyanyian. Suaranya bukan merdu, melainkan melengking tinggi, menyayat hati, dan begitu hipnotis. Nyanyian itu bergema melintasi badai, merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu.
Di dalam kamar, Naya terduduk di tepi ranjang. Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat, namun suara nyanyian mengerikan itu tetap menembus kepalanya. Kepala Naya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang.
Duk! Duk! Duk!
Dinding luar kamar Naya dihantam sesuatu yang sangat berat.
"Naya..."
Naya tersentak. Suara itu berasal dari balik jendela kamarnya yang mengarah langsung ke tebing laut. Suara itu sangat lembut, mirip sekali dengan suara Devan.
"Naya... tolong buka jendelanya... aku kedinginan di luar..."
Jantung Naya serasa berhenti berdetak. Ia tahu Devan ada di ruang tengah. Lantas, siapa atau apa yang sedang meniru suara Devan di luar sana?
Dengan tubuh gemetar hebat, Naya memberanikan diri melirik ke arah celah jendela kayu. Dari balik kegelapan malam dan siraman air hujan, sebuah wajah pucat bersisik keperakan menempel rapat di kaca. Matanya hitam pekat tanpa putih telur, dan mulutnya tersenyum lebar—memamerkan deretan gigi runcing bagai jarum yang berlumur lendir hitam.
Makhluk itu tidak sedang memanggil. Ia sedang memancingnya keluar.
Naya menahan napas, menempelkan punggungnya rapat-rapat ke dinding kamar. Dari balik kaca jendela, mata hitam pekat tanpa putih telur itu terus menatapnya tajam. Mulut makhluk bersisik itu menyeringai, memamerkan gigi-gigi runcing yang siap mengoyak daging. Suara tiruan Devan kembali terdengar dari mulutnya, kali ini lebih serak dan memikat.
"Naya... buka jendelanya... Devan di sini..."
Tepat saat Naya hampir terhipnotis dan hendak melangkah maju, suara langkah kaki berat mendadak terdengar dari ruang tengah.
Brak!
Dinding kamar bergetar hebat. Devan menancapkan tombak besinya menembus celah kayu jendela dari luar kamar, tepat menghantam makhluk itu. Suara lengkingan kesakitan yang memekakkan telinga meledak, memecah gemuruh badai. Lengkingan itu begitu melengking hingga kaca jendela retak, membuat Naya menjerit sembari menutup telinganya.
"Jangan pernah dengerin suara itu, Naya! Tetap di dalam!" teriak Devan dari luar pintu kamar, nafasnya terengah-engah.
Di ruang tengah, Nenek terus merapalkan mantra pelindung dengan suara makin lantang. Tangannya melemparkan segenggam garam hitam dan serbuk kayu cendana ke arah sudut-sudut ruangan. Bau harum yang tajam membaur dengan bau amis laut yang menyengat.
Sebenarnya, fenomena mengerikan ini bukan hal baru bagi Devan dan Nenek. Mereka sudah puluhan kali melewati malam musim kawin duyung. Biasanya, mereka hanya perlu mematikan seluruh lampu, duduk diam, dan membiarkan para duyung mengamuk di luar hingga fajar.
Tapi malam ini berbeda. Kehadiran Naya—seorang asing yang memiliki aroma darah segar dan energi yang belum menyatu dengan pulau ini—membuat para duyung menjadi sepuluh kali lipat lebih agresif. Devan harus bertaruh nyawa untuk memastikan tidak ada satu pun makhluk itu yang berhasil menembus dinding penginapan.
"Van, pertahankan pintunya! Aromanya makin kuat, mereka mengincar gadis itu!" seru Nenek dengan mata masih terpejam erat.
"Devan nggak bakal biarin mereka sentuh Naya, Nek!" balas Devan tegas. Tangannya yang berdarah akibat luka gesekan kayu terus mencengkeram erat gagang tombak.
Dua jam berlalu dalam ketegangan yang membakar saraf. Hantaman di dinding luar penginapan tak kunjung berhenti. Cakaran-cakaran tajam merayap di atas atap, menciptakan suara gesekan yang membuat bulu kuduk berdiri. Devan berdiri seperti patung di depan pintu kamar Naya, tak membiarkan matanya terpejam sekejap pun. Setiap kali ada bayangan yang melintas di balik celah kayu, tombaknya siap melayang.
Hingga akhirnya... perlahan-lahan, gemuruh angin badai mulai mereda.
Suara ombak yang semula menggelegar dahsyat berubah menjadi bisikan samar. Jeritan-jeritan melengking yang mengerikan itu makin lama makin menjauh, tenggelam kembali ke dalam samudera yang dalam.
Musim kawin telah usai. Naluri buas para duyung surut seiring berlalunya badai.
Suasana di sekitar penginapan mendadak menjadi sangat hening. Begitu sunyi, hingga suara tetesan air hujan dari bumbungan atap terdengar sangat jelas.
Devan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Naya, menghela napas panjang yang amat berat. Keringat dingin membasahi seluruh bajunya. Ia perlahan mengetuk pintu kayu itu dengan pelan.
Tok... tok... tok.
"Naya..." suara Devan terdengar sangat letih, namun kali ini itu adalah suara Devan yang asli. "Semuanya udah usai. Kamu bisa keluar sekarang."
Pintu kamar terbuka pelan. Naya berdiri di sana dengan wajah pucat pasi dan tubuh yang masih gemetar. Ketika matanya menangkap sosok Devan yang berdiri lesu dengan tangan berdarah dan tombak di genggamannya, Naya tak sanggup menahan diri lagi. Ia langsung maju dan memeluk Devan erat-erat.
"Devan... aku takut banget..." bisik Naya, tangisnya pecah di dada pria itu.
Devan terdiam sejenak, lalu perlahan membalas pelukan Naya dengan satu tangannya, menepuk punggung gadis itu pelan. "Udah... kamu aman sekarang. Selama aku ada di sini, nggak ada yang bisa celakain kamu."
Namun, di sudut ruangan, Nenek perlahan membuka matanya. Ia menatap ke arah pintu luar yang kini terkoyak bekas cakaran dalam. Nenek tidak tersenyum. Matanya menatap lurus ke arah lautan yang kini tenang dengan raut wajah yang makin cemas.
Nenek tahu betul hukum alam Pulau Sane: Para duyung tidak pernah pergi begitu saja tanpa membawa 'imbalan' atas darah yang telah terpancing.