NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Kesetiaan asisten

Melihat atasannya, pria perkasa yang selama ini ditakuti dan disegani di dunia korporat, kini terduduk hancur lebur dalam keputusasaan, hati Hendra tersayat dalam.

Hendra melangkah maju, lalu menjatuhkan satu lututnya ke lantai di hadapan Aris, hingga menyamakan posisinya dengan sang bos.

"Pak Aris... angkat kepala Anda," bisik Hendra tegas namun penuh rasa hormat.

Aris perlahan menurunkan tangannya. Matanya yang memerah menatap Hendra dengan tatapan kosong penuh kepedihan. "Untuk apa lagi, Hendra? Orang tuaku sudah tahu. Mereka akan menghancurkan semuanya."

"Tidak, Pak. Mereka tidak akan menghancurkan apa pun," potong Hendra dengan nada suara yang begitu meyakinkan hingga membuat Aris tertegun.

"Apa maksudmu?" tanya Aris bingung.

Hendra menarik napas panjang, lalu merapikan lututnya yang bersimpuh. "Malam ini, di ruang kerja utama... saya telah menceritakan semuanya kepada Pak Baskoro dan Ibu Lidya. Saya menceritakan tentang kecelakaan malam itu, tentang siapa almarhum Ardiansyah, dan tentang bagaimana Anda menanggung beban rasa bersalah yang hampir merenggut kewarasan Anda."

Mendengar pengakuan itu, Aris membelalakkan matanya ngeri. "Kamu... kamu menceritakan semuanya kepada mereka?! Kamu gila, Hendra! Kenapa kamu lakukan itu?!"

"Karena saya tahu itu adalah satu-satunya cara agar mereka tidak menyelidiki Anda dengan cara yang salah!" tegas Hendra, namun suaranya tetap terjaga agar tidak membangunkan orang di lantai atas. "Jika saya terus berbohong di hadapan Pak Baskoro, beliau memiliki seribu cara untuk membongkar kebenaran itu sendiri, dan penyelidikan mereka akan jauh lebih berbahaya bagi Nona Raya."

Aris terdiam, dadanya naik turun menahan amarah bercampur ketakutan yang luar biasa. "Lalu... apa keputusan mereka? Apakah mereka akan mengusir Raya? Apakah mereka akan melaporkanku ke pihak berwajib?!"

Hendra menggelengkan kepalanya perlahan. Sebuah senyuman kecil yang sangat tipis pun terukir di bibirnya yang lelah.

"Tidak, Pak Aris. Mereka tidak akan melakukan itu."

Aris mengerutkan dahinya seakan tidak percaya. "Jangan mempermainkanku, Hendra! Orang tuaku sangat menjunjung tinggi reputasi keluarga! Bagaimana mungkin mereka membiarkan seorang pewaris tunggal hidup bersama istri dari korban kecelakaan yang ditabraknya sendiri?!"

"Karena mereka adalah orang tua yang mengenal putra mereka dengan sangat baik, Pak," kata Hendra lirih, seraya menatap lurus ke dalam manik mata Aris. "Saya menceritakan kepada mereka bagaimana Anda hampir mati karena stres psikologis. Saya menceritakan bagaimana Anda merawat Nona Raya bukan sebagai bentuk pelarian, melainkan sebagai bentuk penebusan dosa yang paling tulus."

Hendra mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.

"Saya katakan pada mereka... bahwa selama bertahun-tahun saya bekerja untuk Anda, saya belum pernah melihat sorot mata setulus itu terpancar dari diri seorang Aris Prakasa. Saya katakan bahwa Anda benar-benar mencintai Nona Raya dengan seluruh jiwa raga Anda."

Kata-kata Hendra menggantung di udara ruang tamu yang sunyi.

Aris tertegun total. Seluruh pertahanan emosionalnya runtuh dalam sepersekian detik. Air mata hangat yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya pecah, menetes jatuh membasahi pipinya yang tirus.

"Mereka... mereka mendengarkanmu?" bisik Aris terbata-bata, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

Hendra mengangguk perlahan. "Pak Baskoro dan Ibu Lidya memang terkejut dan marah besar di awal. Tapi setelah mendengar betapa menderitanya Anda di balik dinding mansion ini... kemarahan itu berubah menjadi kepedihan seorang orang tua."

Hendra merendahkan suaranya makin dalam.

"Pak Baskoro mengatakan kepada saya... bahwa dunia bisnis adalah dunia yang kejam, di mana orang sering kali harus berkorban demi kekuasaan. Tapi melihat putra tunggal mereka berjuang menebus dosanya dengan cinta yang begitu besar, beliau membuat sebuah keputusan."

Aris menahan napasnya, dan menunggu kalimat selanjutnya dengan jantung yang berdegup liar.

"Mereka memutuskan untuk menutup mata dan menutup mulut," lanjut Hendra. "Mereka tidak akan mengganggu hidup Anda, tidak akan menyakiti Nona Raya, dan membiarkan Anda menjaga kebahagiaan ini... selama rahasia itu tetap terkubur rapat di antara kita bertiga."

Ruang tamu itu mendadak terasa begitu berputar di kepala Aris.

Orang tuanya... orang-orang paling berkuasa yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga Prakasa... baru saja memilih untuk mengabaikan kejahatan, melanggar prinsip mereka sendiri, dan membiarkan putranya hidup dalam kebohongan besar... semata-mata karena mereka tidak sanggup melihat putranya hancur.

Dan di hadapannya saat ini, bersimpuh seorang asisten setia yang mempertaruhkan nyawa dan masa depannya sendiri demi melindungi rahasia bosnya dari kemarahan keluarga besar.

Aris menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan membiarkan isak tangis yang selama bertahun-tahun ia pendam dalam kesendirian akhirnya meledak begitu saja.

Itu adalah tangisan kelegaan yang paling menyayat hati, tangisan dari seorang pria yang merasa dirinya sangat berdosa namun dikelilingi oleh kesetiaan dan cinta yang jauh melampaui apa yang pantas ia terima.

Sementara itu, Hendra tetap bersimpuh dengan tenang, membiarkan atasannya meluapkan segala beban mental yang selama ini menghancurkan jiwanya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan isak tangis Aris yang perlahan mereda.

Aris menarik napas panjang, menyapu sisa-sisa air mata di pipinya dengan punggung tangannya. Ia lalu menatap Hendra, asisten sekaligus sahabat setianya dengan sorot mata yang kini telah berubah total.

Tidak ada lagi kepanikan, tidak ada lagi ketakutan yang melumpuhkan. Yang tersisa adalah ketegaran yang matang dan tekad baja yang membara.

Aris mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu Hendra, lalu menarik pria itu untuk berdiri bersama-sama.

Hendra pun bangkit, merapikan jasnya, lalu berdiri tegak di hadapan Aris.

"Hendra," panggil Aris dengan suara rendah, tenang, namun penuh wibawa yang menggetarkan.

"Ya, Pak Aris?"

"Terima kasih," ucap Aris tulus, menatap lurus ke dalam manik mata Hendra. "Malam ini... kamu tidak hanya menyelamatkan rahasiaku. Kamu menyelamatkan hidupku, dan menyelamatkan duniaku."

Hendra menunduk hormat. "Itu sudah menjadi tugas dan kesetiaan saya, Pak."

"Mulai hari ini," lanjut Aris, "aku tidak akan lagi hidup dalam ketakutan. Aku tidak akan lagi gemetar setiap kali bayangan masa lalu mencoba mengetuk pintu rumah ini."

Aris memutar tubuhnya, dan menatap ke arah tangga utama yang mengarah ke lantai dua, ke arah kamar di mana Raya dan Cyla sedang tidur lelap dalam kedamaian.

"Orang tuaku telah memberiku kesempatan kedua. Dan kamu... telah mempertaruhkan segalanya untukku," bisik Aris penuh keyakinan. "Aku akan membuktikan bahwa pengorbanan kalian tidak sia-sia. Aku akan menjadi pelindung terbaik bagi Raya... selamanya."

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!