Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 LANGKAH KECIL MENUJU DAMAI
Beberapa hari berlalu, dan suasana di asrama perlahan berubah menjadi lebih tenang. Keira benar-benar berusaha menepati janjinya. Ia tidak lagi menunggu Zain di mana-mana, atau mencatat jadwal hariannya. Sebaliknya, ia mulai berbaur dengan gadis-gadis lain di asrama putri, ikut bergabung dalam kelompok belajar, dan sesekali terlihat tertawa bersama mereka. Perubahannya tidak terjadi dalam semalam, tapi Zain bisa melihat usaha tulus yang gadis itu lakukan setiap hari.
Suatu sore, saat jam istirahat berlangsung di kantin Keira terlihat ragu berdiri tidak jauh dari meja tempat Zain, Rian, Bima, dan Dimas sedang duduk bersama. Matanya melirik ke arah Vanya yang sedang duduk di ujung meja sambil mengaduk minumannya pelan-pelan. Zain menyadari keraguan itu, lalu memberikan anggukan halus yang seakan berkata kamu bisa, Leya.
Keira menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan mendekat.
"Vanya, boleh aku bicara sebentar ?" Suaranya terdengar lembut namun sedikit bergetar karena gugup.
Vanya mendongak, terkejut sekilas, lalu tersenyum sopan.
"Tentu saja, silakan duduk" Jawab Vanya
Keira duduk di kursi kosong di hadapan Vanya, meremas kedua tangannya di atas meja.
"Aku datang untuk meminta maaf dengan tulus" Ucap Keira menatap mata Vanya.
"Sikapku beberapa hari terakhir tidak pantas, aku cemburu dan takut, tapi itu bukan alasan untuk memperlakukanmu dengan tidak baik. Terima kasih sudah memaafkanku, aku harap kita bisa berteman mulai sekarang" Ujar Keira
Vanya tersenyum tulus, senyum yang menenangkan sekaligus melegakan hati siapa pun yang melihatnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan berlebihan, Keira. Kita sama-sama manusia yang kadang merasa takut. Aku senang kita bisa mulai dari awal, semoga kita bisa saling menjaga ya di sini" Jawab Vanya
Keira tersenyum lega, dan untuk pertama kalinya, senyum itu terasa tulus tanpa ada beban di matanya. "Terima kasih, Vanya. Kamu baik sekali, dan mulai hri ini kamu panggil aku dengan sebutan Leya. Biar lebih dekat gitu sama aku" Ujar Keira
“Oke, Leya” Jawab Vanya tersenyum tulus
Sore itu menjadi awal yang baru, tidak ada kecemburuan yang tersembunyi, tidak ada jarak yang mencanggung. Mereka makan bersama, tertawa bersama, dan saling berbagi cerita seakan tidak pernah ada pertengkaran di antara mereka sebelumnya. Zain memperhatikan mereka dengan hati yang hangat, damai dan ternyata terasa jauh lebih ringan daripada mempertahankan kebencian.
*****
Minggu berikutnya, asrama mengadakan kegiatan berkemah di area perbukitan tidak jauh dari sekolah. Semua siswa sangat antusias, Rian sibuk mengatur perlengkapan berkemah mereka, Bima memastikan obat-obatan cukup, dan Dimas membawa kamera saku untuk mengabadikan momen-momen indah.
Saat sore tiba dan api unggun mulai dinyalakan, semua siswa berkumpul melingkar. Keira duduk di samping Zain seperti biasa, namun kali ini Vanya juga duduk di samping Keira dengan nyaman. Mereka berbagi cerita, tertawa lepas, dan bernyanyi bersama di bawah langit yang bertabur bintang.
"Siapa yang menyangka" Bisik Keira pelan di dekat telinga Zain saat mereka berdiri agak terpisah dari kerumunan sesaat sebelum acara selesai.
"Bahwa aku bisa merasa senyaman ini di tempat baru, dengan teman-teman baru. Terima kasih sudah sabar menungguku berubah, Zain." Tambah Keira
Zain tersenyum tulus, menatap gadis di hadapannya dengan penuh kehangatan.
"Bukan aku yang patut berterima kasih. Kamu yang berusaha untuk dirimu sendiri, untuk kita. Aku bangga padamu, Keira" Ujar Zain
“Kamu tetap saja memaggil aku Leya, karena aku sudah meminta Vanya untuk memanggil dengan sebutan itu dan mungkin kedepannya teman-teman yang lainnya. Biar mereka bisa lebih dekat dengan aku” Pinta Keira yang diangguki Zain
Malam itu angin berhembus lembut membawa aroma tanah dan bunga liar, tidak ada ketegangan, tidak ada rahasia. Hanya api unggun yang menyala hangat, teman-teman yang tulus, dan harapan yang bersinar terang di mata mereka berdua. Perjalanan mereka belum selesai, tapi setidaknya sekarang mereka berjalan beriringan, bukan saling mendahului atau menjauh.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...