NovelToon NovelToon
The Actress Who Fell For A Hidden Heir

The Actress Who Fell For A Hidden Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Duniahiburan
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.

Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.

Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.

Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.

Arka bukan sekadar mahasiswa.

Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.

Karena mencintai seseorang ternyata mudah.

Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia yang Berbeda

Pukul tujuh pagi.

Suara alarm dari ponsel Arka berbunyi untuk ketiga kalinya.

"Bangun..."

Tidak ada jawaban.

Alarm terus berbunyi. Arka menarik selimutnya lebih tinggi. Lima detik kemudian, sebuah tangan muncul dari balik selimut, meraba-raba meja nakas di samping tempat tidur.

Ia menekan layar ponsel. Alarm mati. Hening.

Lima menit kemudian, alarm cadangan kembali berbunyi.

Arka membuka mata dengan berat. "Ah..."

Ia menatap langit-langit kamar apartemennya. Hari ini ada kelas pagi. Dan ada satu hal yang lebih mengerikan dari sekadar kelas pagi: konsultasi skripsi.

Arka duduk, mengusap wajahnya dan mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Ia melirik jam beker.

07.32.

"MATI GUE!"

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Arka sudah mandi bebek dan mengenakan kemeja flanel seadanya. Ia memasukkan laptop ke dalam tas ransel. Satu tangan menyisir rambut dengan air, tangan lainnya menyambar roti sisa semalam dari meja makan.

Ia bahkan tidak sempat menyeduh kopi. Begitu keluar dari apartemen, Arka langsung berlari kecil menuju halte bus di depan gedung.

Hari-harinya sebagai mahasiswa tingkat akhir memang sesederhana itu.

Hanya tugas. Deadline. Skripsi. Dan dosen pembimbing yang sepertinya memiliki kemampuan khusus untuk muncul tepat ketika mahasiswa sedang ingin menghilang.

***

Di belahan kota yang lain, pukul tujuh pagi juga. Namun suasananya benar-benar berbeda.

"Alya, lima menit lagi!"

"Make-up sudah touch up?!"

"Sudah!"

"Kostum?! Sepatu wardrobe mana?!"

"Aman, Mbak!"

"Jadwal interview setelah scene kedua jangan lupa di-briefing!"

"Siap!"

Suara sahut-sahutan kru terdengar dari berbagai arah di dalam tenda ganti. Alya Renata duduk tenang di depan cermin berlampu. Beberapa asisten sibuk mengurus rambut dan merapikan gaunnya.

Seseorang menyodorkan naskah. "Mbak Alya, ini revisi terakhir dari sutradara."

Alya mengambilnya. "Scene berapa yang berubah?"

"Scene tujuh belas. Dialog terakhirnya diganti, lebih emosional sedikit."

Alya membalik halaman tersebut. Membacanya cepat dalam hati. Menghafalnya dalam hitungan detik. Ia mengangguk. "Oke, dapat."

Mbak Rini, sang manajer, mendekat sambil memegang tablet. "Setelah ini langsung syuting sampai siang. Jam satu ada interview eksklusif. Jam dua photoshoot majalah. Jam empat kita pindah lokasi ke studio B."

Alya menarik napas panjang. "Dan malam?"

"Acara gala dinner brand perhiasan."

Alya menatap manajernya melalui pantulan cermin. "Jam berapa selesai?"

Mbak Rini diam sebentar, ragu-ragu. "Mungkin... jam sebelas malam."

Alya tertawa kecil yang terdengar lelah. "Mungkin?"

"Kalau lancar tanpa sesi after-party dadakan."

Alya mengangguk. "Baiklah."

Ia kembali melihat dirinya di cermin. Wajahnya terlihat memukau. Tidak ada tanda-tanda kurang tidur. Tidak ada mata panda. Tidak ada ekspresi jenuh.

Itulah harga pekerjaan seorang aktris. Ketika kamera menyala, manusia bernama Alya harus mundur, dan sang bintang sempurna harus mengambil alih.

***

Di kampus, Arka duduk tegang di depan meja dosen pembimbingnya.

Laptop terbuka lebar. File Microsoft Word berisi nasib kelulusannya terpampang di layar. Dosen pembimbingnya, Pak Hermawan, membaca beberapa halaman dengan dahi berkerut, kemudian menghela napas berat.

"Arka."

"Iya, Pak?"

"Bagian metodologi kamu ini..."

Arka langsung menegakkan duduknya. "Kenapa, Pak?"

"Masih kurang tajam."

Arka menelan ludah. "Kurangnya di mana, Pak?"

"Di sini, variabel dependennya belum kamu jabarkan dengan jelas." Pak Hermawan menunjuk layar laptop dengan pulpen merahnya.

Arka mencondongkan badan. "Oh, yang paragraf ini?"

"Iya. Tolong perbaiki landasan teorinya juga."

"Kalau saya revisi hari ini, apa besok saya bisa bimbingan lagi, Pak?"

Pak Hermawan tersenyum tipis. "Kalau memang selesai dan hasilnya bagus, silakan."

Arka mengangguk cepat. "Siap, Pak."

Ia mencatat di buku kecilnya. Satu. Dua. Tiga. Empat revisi. Arka menutup laptopnya dengan sopan. "Terima kasih banyak, Pak."

Begitu ia keluar ruangan, Rendy sudah menunggu bersandar di tembok koridor.

"Gimana, Ka?"

Arka menunjukkan catatan kecilnya.

Rendy melihatnya, lalu tertawa mengejek. "Empat revisi? Mampus."

"Diam lu."

"Selamat, Arka. Selamat menikmati masa bakti sebagai budak skripsi."

Arka membuang napas panjang. "Ayo ke kantin, gue butuh kafein."

Di kantin, Rendy memesan seporsi besar nasi goreng gila, sementara Arka hanya memesan es kopi hitam pekat.

"Lu nggak makan?" tanya Rendy sambil menyendok nasinya.

"Nanti aja."

"Kenapa?"

"Masih ada tugas lain yang mesti gue kerjain siang ini."

Rendy menggelengkan kepala. "Lu terlalu serius idupnya, Ka."

Arka tertawa pelan. "Kalau gue nggak serius, kapan gue lulusnya, Ren?"

Rendy tidak menjawab, karena kalimat itu memang benar adanya.

***

Sementara itu, suara nyaring clapperboard bergema di lokasi syuting.

"Action!"

Alya berdiri di tengah set ruang tamu mewah. Ekspresinya berubah dalam sekejap. Tadi ia terlihat seperti wanita yang kelelahan, tapi sekarang matanya penuh dengan emosi kesedihan yang tertahan. Suaranya terdengar bergetar dengan pas. Air matanya menetes di detik yang tepat. Tidak ada satu pun kesalahan artikulasi.

Semua orang di balik kamera menahan napas memperhatikannya.

"Bagus... tahan emosinya... dan Cut!"

Sutradara bertepuk tangan dari belakang monitor. "Bagus sekali, Alya! Take yang sempurna."

Alya langsung kembali ke postur tubuh aslinya. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dan mengembuskan napas panjang. "Terima kasih, Mas."

Ia berjalan kembali ke kursinya dan menerima botol air minum dari asistennya. Ia meminumnya beberapa teguk.

"Next scene lima belas menit lagi, Kak," lapor asistennya.

Alya mengangguk. "Oke."

Ia duduk dan memangku ponselnya. Iseng, ia membuka media sosial. Matanya tanpa sengaja menangkap sebuah unggahan viral dari akun gosip kampus yang tidak sengaja lewat di berandanya.

Sebuah video pendek tentang kejadian lucu di sebuah kampus beberapa hari lalu, di mana seorang mahasiswa memecahkan gelas dosen di kantin. Video itu biasa saja, tapi mata Alya menangkap sosok pria berjaket denim yang sedang duduk santai di latar belakang video, fokus membaca buku.

Alya memperbesar video itu. Jantungnya berdegup pelan.

Itu dia. Mahasiswa di minimarket semalam.

Alya membaca kolom komentar yang didominasi oleh mahasiswa dari kampus tersebut.

"Fokus ke cowok jaket denim di belakang! Arka Pratama emang cakep banget kalau lagi mode serius gitu 😍"

Alya terdiam sebentar, menatap nama di layar.

Arka Pratama.

Jadi, itu namanya.

"Kak Alya."

Suara asistennya membuatnya tersentak ringan.

"Ya?" Alya buru-buru mematikan layar ponselnya.

"Melamun, Kak?"

Alya tersenyum. "Nggak."

"Kelihatannya seperti sedang memikirkan seseorang," goda asistennya.

Alya langsung menatapnya dengan tajam tapi main-main. "Jangan mulai."

Asistennya tertawa pelan dan mundur. Alya kembali mengambil naskahnya. Namun, senyum kecil tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

***

Malam mulai turun.

Arka masih setia berada di sudut perpustakaan yang mulai sepi. Kopi yang tadi siang dibelinya sudah tandas, menyisakan es batu yang mencair.

Ia membaca ulang revisi skripsinya. Satu paragraf. Dua paragraf.

Akhirnya, ia menyerah. Arka menutup wajahnya dengan kedua tangan dan memijat matanya. "Capek banget, gila."

Ponselnya di atas meja tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari ayahnya.

Dermawan Pratama: Besok malam pulang ke rumah. Ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu.

Arka membaca pesan singkat itu dua kali. Perasaannya langsung tidak enak. Ia tahu persis apa yang biasanya terjadi jika ayahnya memanggil dengan nada formal seperti itu.

Pasti tentang tanggung jawab keluarga. Atau tentang bisnis Skysea Group.

Arka membuang napas perlahan dan mengetik balasan singkat.

Arka: Besok aku usahakan pulang, Yah.

Ia langsung mengunci layar ponselnya dan meletakkannya kembali dengan layar menghadap ke bawah. Ia tidak ingin memikirkan urusan keluarga konglomeratnya sekarang. Setidaknya sampai revisi skripsi laknat ini selesai.

Di sisi lain kota, Alya baru saja keluar dari lobi hotel tempat acara brand perhiasan diadakan.

Jam menunjukkan pukul 23.47.

Ia masuk ke dalam mobil jemputannya. Begitu pintu geser tertutup dan memisahkannya dari kilatan flash kamera di luar, senyum profesionalnya langsung runtuh.

Ia merebahkan tubuhnya ke jok kulit dan menutup mata. "Capek..."

Mbak Rini duduk di kursi depan, membalik jadwal di tabletnya. "Besok jadwal kita lebih padat, Al."

Alya tetap memejamkan mata. "Tolong jangan kasih tahu aku sekarang, Mbak."

Mbak Rini tertawa kecil. "Kalau aku kasih tahu sekarang, kamu makin stres ya?"

"Benar."

Mobil bergerak membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Alya membuka ponselnya sejenak. Notifikasi memenuhi layarnya. Berita pujian tentang gaunnya malam ini, ribuan komentar penggemar, pesan dari rekan artis, dan jadwal rapat.

Semuanya terasa bising.

Ia menggulir layar dengan malas, lalu terhenti. Pikirannya kembali memutar memori video singkat yang ia lihat siang tadi.

Arka Pratama.

Alya menatap layar kosong ponselnya, dan tanpa sadar tersenyum kecil.

Mungkin ia tersenyum karena teringat kejadian bodoh di minimarket. Atau mungkin juga karena, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada seseorang yang mengenalnya bukan sebagai "Alya Renata Sang Aktris", melainkan murni sebagai orang asing.

Malam semakin larut.

Di satu sudut kota, Arka masih berkutat dengan beban skripsinya. Di sudut lain, Alya akhirnya bisa bernapas setelah seharian tercekik oleh tuntutan kesempurnaan di depan kamera.

Dua kehidupan yang sangat bertolak belakang.

Satu dipenuhi tugas, jadwal kelas, dan perjuangan sederhana untuk lulus sebagai mahasiswa biasa. Satu lagi dipenuhi sorotan, intrik, kontrak bernilai miliaran, dan kepalsuan industri hiburan.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa garis takdir keduanya perlahan mulai ditarik mendekat.

Karena keesokan harinya... Alya Renata akan mendapatkan tawaran sebuah project film baru.

Sebuah tawaran yang mengharuskannya melakukan riset observasi karakter di sebuah lokasi yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Lingkungan kampus.

Dan di sana, tanpa Alya sadari, mahasiswa cuek yang selama ini selalu ia pikirkan... kebetulan sedang menunggunya.

Bersambung...

1
joikendil joikendil
Gokil sih kak, bab ini definisi "kamu boleh masuk ke duniaku, tapi duniaku juga bakal ngebongkar duniamu". Alya pulang happy bawa definisi kampus = liburan, Arka ditinggal sama berita nasional nama lengkap + wajah HD. Jurnalisnya udah mulai ngetik Skysea Group. Gak sabar bom kebohongan besar Arka meledak.
joikendil joikendil
Jujur awalnya agak takut baca age gap karena biasanya cringe, tapi di sini age gap nya justru bikin nyaman.

Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.

Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!

Semangat kak, ditunggu update-nya!
sphinxeditz77: Wah, makasih banyak kak sudah kasih 5⭐ dan review sepanjang ini 😭🙏 Senang banget bacanya, apalagi karena kakak sampai nangkep detail tentang Arka yang protective tapi tetap kasih Alya ruang untuk berkarier.

Aku memang pengin hubungan mereka terasa seperti dua orang yang saling menghargai, bukan sekadar trope age gap. Jadi komentar seperti ini jujur bikin semangat banget buat lanjut nulis 😂🔥

Semoga bab-bab berikutnya tetap bikin kakak betah ngikutin Arka dan Alya. 🙏
total 1 replies
joikendil joikendil
Alya: "Besok datang lagi kan Ka?"

Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"

AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭

Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
joikendil joikendil
Bab ini definisi "respect" kak. Arka yang awalnya mikir akting itu cuma hafal dialog + akting manis, sekarang lihat sendiri harus inget blocking, ekspresi, nada suara, arah kamera, vas bunga kesenggol aja harus ulang. Diulang 7x tanpa ngeluh. Terus Arka bilang "Aku respect sama kamu, Al" - bukan "cantik" bukan "akting bagus" yang klise. Alya aja kaget karena jarang ada yang ngomong gitu. Suka banget pergeseran Arka dari lihat Alya sebagai artis terkenal, jadi lihat Alya sebagai manusia pekerja keras. Tapi nomor portal gosip itu masih neror ya? Takut!
sphinxeditz77: Nahhh ini dia 😂🙏 Aku memang pengin momen itu jadi titik perubahan cara Arka melihat Alya. Bukan lagi sekadar “aktris terkenal”, tapi seseorang yang benar-benar bekerja keras di balik kamera. Dan setelah lihat take berkali-kali, menurut Arka kata “respect” jauh lebih tepat daripada sekadar bilang “cantik” atau “aktingmu bagus.” 😭🔥
total 1 replies
joikendil joikendil
Jujur nangis baca part ini kak. Arka gak muji gaun mahal, gak muji cantik, gak muji akting. Dia cuma bilang "Ngerti alasan logis kenapa tiap kita ketemu mata kamu selalu kelihatan sangat capek". ITU DALEM BANGET.

Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
sphinxeditz77: Waduh sampai nangis 😭😂 makasih banyak kak! Bagian Arka melihat rasa capek Alya sebagai manusia memang penting banget buat perkembangan hubungan mereka. Tapi soal “Selamat sore Mas Arka Pratama?”... wkwkwk mulai masuk wilayah berbahaya itu 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Akhirnya! Arka diajak lihat syuting langsung. Suka detailnya kak, bangunan heritage disulap jadi rumah mewah, kabel seukuran lengan, lampu HMI raksasa, take diulang 7 kali cuma gara-gara bayangan mic bocor.

Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
sphinxeditz77: Wkwkwk makasih kak 😂 Aku memang sengaja masukin detail-detail kecil di lokasi syuting supaya Arka dan pembaca sama-sama bisa melihat kalau dunia Alya ternyata nggak sesederhana “datang, cantik, lalu akting” 🤣 Dan 2 es kopi itu memang bentuk perhatian Arka yang paling sederhana 😂
total 1 replies
joikendil joikendil
Arka: "Punya foto kamu bukan keharusan buatku"

Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya

Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!
joikendil joikendil
Bab ini favorit aku sejauh ini kak! Alya yang biasanya dipuja-puja, histeris dimintain foto, tiba-tiba ketemu Arka yang cuma bilang "Oh." doang pas tau dia Alya Renata. No pansos, no minta tanda tangan. Justru itu yang bikin Alya insecure: "Apa muka aku biasa aja kalau tanpa makeup?" Padahal dia kangen diperlakukan normal. Psikologisnya dapet banget! Dan plot foto buram jaket denim di grup WA angkatan udah mulai nyebar, duhhh...
sphinxeditz77: Wkwkwk ini salah satu bagian yang paling aku suka juga 😂 Karena Alya sebenarnya bukan butuh orang yang terus-terusan mengaguminya, tapi orang yang bisa memperlakukannya sebagai Alya biasa. Dan Arka malah “Oh.” doang pas tahu dia Alya Renata 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Kak ini bab paling tegang sejauh ini! Dari Alya nge-remas gelas kopi sampe plastiknya bunyi, terus Arka yang langsung "Ikut ke belakang. Percaya sama aku" - itu keren banget, gak banyak cing-cong. Tapi endingnya... ya ampun 😭 yang moto dari balkon lantai 2 fakultas itu siapa?? Foto Alya senyum-senyum sama Arka udah kesebar kayak virus katanya. Plis jangan cliffhanger lama kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!