Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22. Penyesalan Elden
Malam telah turun di saat Dea sampai di kamar kosnya.
Ia menutup pintu, menyandarkan punggung pada permukaannya, lalu mengembuskan napas panjang. Bahunya terasa berat. Bahkan setelah beberapa jam berlalu, bayangan pria itu masih melekat di pikirannya.
Jemarinya tanpa sadar meremas tali tas yang menggantung di pundak.
Padahal, ia sudah berada di kamarnya sendiri. Pria itu tak ada di sana. Akan tetapi, dirinya masih merasa belum tenang.
“Aku sedang belajar menjadi dokter,” bisiknya. “Suatu hari nanti, aku mungkin harus merawat orang-orang yang tidak ingin kutemui lagi. Tapi aku tetap harus bisa bekerja dengan baik.”
Dea membuka mata.
Ia tahu ini tak akan mudah. Terlebih jika orang yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya.
Namun, ia tidak ingin Elden menjadi alasan dirinya menyerah pada cita-cita yang telah diperjuangkannya semenjak lama.
Dea memejamkan mata. Ia mengulang kalimat itu dalam hati, mencoba menerapi dirinya sendiri: "Pertemuan tadi bukan untuk menyakitiku kembali."
Namun, ingatan tentang tangan pria itu masih membuat jemarinya dingin.
Ia menarik napas perlahan, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Barulah gerakan jantungnya mulai berdetak semakin pelan.
Setelah napasnya kembali teratur, Dea mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ia tidak ingin terus memikirkan Elden.
Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah catatan yang dikeluarkannya dari ruang arsip rumah sakit. Ia meraihnya, membuka lipatannya, lalu membaca kembali angka-angka yang sempat menarik perhatiannya.
Sedikit demi sedikit, pikirannya beralih dari pria dengan perkara yang belum usai.
Setidaknya, kali ini ia ingin berjuang. “Aku harus membuktikan bahwa aku ini tak bersalah,” gumamnya.
Ia ingin Elden mengetahui 'kebenarannya'. Ia ingin pria itu memahami betapa kelirunya tuduhan yang selama ini ia lemparkan.
Namun, lebih dari itu, Dea ingin berhenti hidup dari bayang-bayang hitam yang terus menempel dalam benaknya. Lalu ia menggeleng pelan.
"Haaaah!"
Lalu, Dea membuka map lebih memilih menenggelamkan dirinya dengan apa yang ia temukan akhir-akhir ini.
.
.
Di tempat lain, Elden duduk sendirian di rumahnya yang ada di kota ini.
Laptop di hadapannya sedang menyala, menampilkan beberapa halaman informasi tentang Stella. Namun, sejak tadi, tidak ada satu pun yang berhasil memberinya jawaban yang memuaskan hati.
Ia telah mencoba menelusuri informasi yang tersedia untuk umum. Ia juga memeriksa beberapa catatan yang bisa diakses tanpa melanggar privasi orang maupun instansi tempat kejadian.
Namun ... nihil. Ia tak mendapatkan apa-apa.
Stella hanya terlihat seperti seorang koas pada umumnya. Tidak ada sesuatu yang mencolok dalam riwayat publiknya yang dapat menghubungkannya dengan kematian Linjaryani.
Elden menyandarkan punggungnya ke kursi.
Obrolan yang tak sengaja ia dengar di rumah sakit tadi tak berhenti terngiang di dalam kepalanya.
'Dulu dia pernah aku jebak. Bahkan, si pasien meninggal dan seolah-olah dialah yang salah.'
Saat itu, Elden memang tidak mendengar seluruh percakapan Stella karena ia mendengarnya tak semenjak awal. Ia juga belum tahu apakah perempuan itu sedang membicarakan kasus Linjaryani atau bisa saja kejadian yang lain.
Namun, ia menyebutkan nama 'Dea,' dan di sana ada sebuah pengakuan yang cukup menggoyahkan keyakinannya selama ini.
Selama ini, ia tidak pernah benar-benar menyelidiki kemungkinan bahwa orang lain bisa saja berada di balik kematian tunangannya. Ia terlalu kacau dan shock, tiga hari sebelum pernikahan dengan gadis yang dicintainya, calon pengantinnya pergi untuk selamanya karena sebuah kesalahan.
Bukannya mencari jawaban yang benar, tetapi ia terlalu sibuk mencari seseorang yang harus bisa disalahkan.
Dan saat itu Dea menjadi sasaran yang paling mudah. Karena memang dia lah yang menangani Linjaryani.
Elden memejamkan mata.
Bayangan perempuan itu ketika berusaha melepaskan diri dari tangannya di rumah sakit kembali muncul. Bayangan berpindah pada tangisan Dea memohon untuk dilepaskan di dalam kamar hotel.
Elden membuka mata dengan rahang mengeras. Lalu, ia menarik napas dengan dalam.
“Apa yang telah aku lakukan kepadamu, Dea? Bagaimana cara aku memperbaiki semua ini? Jika ternyata memang bukan kamu, apakah kamu bisa memaafkanku?"
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella