"Jangaaaaan, jangan bunuh aku! "
Ardian berlari kencang di tengah Desa ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan mengejar dirinya malam ini, tidak ada yang mendengar suara jeritan pria itu sehingga sosok yang menyerang dia dengan leluasa memberikan serangan.
Kematian secara misterius datang di Desa ini karena mereka semua telah melakukan perbuatan yang sangat buruk di Malam Satu Suro, dendam yang sangat membara karena ketidakadilan yang telah dia terima sehingga membuat para pelaku harus menebus dengan derita yang begitu besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Kepala babi
"Aku mau makan, Diah!" Jamal agak berteriak karena snag istri ada di kamar.
"Ambil sendiri dulu ya, Bang!" Rodiah memang baru mau sholat.
"Huhhh punya istri ndak becus ya gitu, masa suami di suruh ambil makan sendiri." Jamal malah menggerutu karena kesal.
"Nanti aku cari yang muda maka kau baru tau rasa!" kesal Jamal.
Namun Rodiah Tentu saya tidak mendengar karena Sekarang dia ada di kamar dan tidak tahu apa yang sedang Jamal katakan itu, terlebih lagi dia juga karena malas-malasan ketika tidak mau mengambilkan makanan untuk sang suami yang memang selalu saja ingin dilayani ketika ingin mengisi perut.
Jamal segera menuju meja makan dan membuka tudung saji yang sudah di siapkan oleh sang istri dan pasti berbagai macam lauk ada di sana, Rodiah memang sangat suka sekali masak sehingga akan ada apa saja yang dia buat di dalam situ, pasti dengan berbagai macam masakan yang lezat sehingga membuat Jamal merasa kenyang ketika ada di rumah ini.
Rodiah sebenarnya juga adalah istri yang baik namun Jamal saja yang tidak pernah bersyukur dan selalu menghina bahwa kulit sang istri terlalu hitam, Padahal dia juga bukan terlalu tampan sehingga bisa menghina orang sesuka hati seperti itu dan Rodiah juga tidak pernah mengambil hati ucapan sang suami.
"Apa yang di masak si hitam itu?" Jamal membuka tudung lauk.
"Hahh!"
Jamal berteriak kaget karena di dalam mangkok yang paling besar dan biasa berisi sop, kini malah berisi dengan kepala babi yang lengkap dengan darah-darah itu sehingga Siapa saja yang melihat pasti terasa mual, Jamal mengusap mata berulang kali untuk memastikan apakah ini semua bukan halusinasi.
Srieeeet.
Sriiieeet.
Belum lagi dengan puluhan kelabang yang ada di piring lain, Jamal sungguh tidak sanggup menyaksikan pemandangan menjijikkan itu karena dia juga tidak menyangka bahwa lauk pauk telah berubah menjadi makanan yang sangat menjijikan sekali dan Dia mengira bahwa ini adalah ulah Rodiah.
"RODIAAAAAH!" Jamal berlari menuju kamar karena dia harus mengklarifikasi kepada sang istri.
"Hentikan sholat mu itu, untuk apa kau terus apa sholat tapi tidak pernah mengurus suami dengan benar!" Jamal langsung menarik tubuh Rodiah.
"Bang! kamu kenapa lagi?" Rodiah kaget dan juga bingung apa sikap sang suami.
"Kenapa? Kau letakkan kepala babi di atas meja makan dan kau masih bertanya aku kenapa!" Jamal berkata dengan penuh kebencian.
"La Ilaha Illallah!" Rodiah sungguh kebingungan dengan ucapan Jamal barusan.
"Lihat, kau lihat sendiri sana apa yang sudah kau masak dan kamu nyuruh aku makan makanan seperti itu!" Jamal langsung menyeret tubuh sang istri menuju bagian belakang.
Rodiah tentu saja sudah tidak bisa mengelak kalau Jamal bersikap seperti itu, daripada nanti dia kena tampar atau kekerasan yang lain maka lebih baik bila Rodiah menuruti saja apa yang akan Jamal Tunjukkan pada dia saat ini, jelas itu adalah pilihan yang terbaik daripada harus menyiksa diri terlebih dahulu.
"Lihat!" Jamal melemparkan tubuh Rodiah agar dia melihat Apa isi meja makan itu.
Tentu saja Rodiah menjadi semakin kebingungan karena isi meja makan itu tetap sama seperti ketika dia memasak sop tadi, Lengkapilah ada sambal telur dan juga tempe goreng di sana sehingga kalau dinikmati pasti akan terasa lezat juga, namun Jamal malah mengatakan bahwa di atas meja makan itu ada kepala babi.
"Apa yang salah?" Rodiah berbalik dan bertanya kepada suami dia.
"Kau li.....
"Hah, kenapa sekarang berubah lagi seperti ini?!" Jamal menjadi semakin kebingungan.
"Tidak ada yang berubah karena sejak aku masak dan sampai sekarang ini adalah masakan yang sama." Rodiah berkata dengan sangat kesal.
"Demi Tuhan tadi yang ada di atas meja ini adalah kepala babi dan juga kelabang!" Jamal berkata dengan mata melotot.
"Entah apa yang ada di pandanganmu itu sehingga semua berubah terlihat sangat mengerikan." Rodiah berkata cuek saja dan segera pergi untuk mengambil air wudhu kembali.
"Ini semua pasti ulah Yayuk, dia datang untuk menghantui kita dan Tadi dia datang ke sini untuk menukar makanan!" Jamal berkata dengan sangat yakin sehingga membuat Rodiah menjadi kaget dan juga bingung.
Tentu sejarah dia bingung karena itu tidak masuk akal menurut dia, Kenapa mendadak saja Jamal malah mengaitkan hal itu kepada Yayuk dan tidak mungkin pula Yayuk mau mengganggu mereka di sini tanpa ada alasan dan jelas, Jamal yang menyadari ucapannya salah segera menunduk karena dia tidak mau bila nanti Rodiah justru akan merasa Curiga dengan rasa takut ini.
"Ah sudah lah, lupakan saja kalau begitu." Jamal duduk di atas meja makan dan segera mengambil nasi.
"Apa to Bang Jamal ini?" Rodiah sungguh bingung dan tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Ini Kenapa semakin terasa mengerikan saja dan apa memang benar Yayuk telah menjadi arwah gentayangan?" batin Jamal sambil mengunyah makanan itu.
"Kalau dia memang menjadi arwah gentayangan maka kami semua harus bersiap." sambung Jamal kembali.
"Bang Jamal.....''
Jamal menoleh ketika dia mendengar suara bisikan lembut dan jelas sekali bahwa barusan dia merasa ada sesuatu yang menyentuh punggungnya, pria ini menoleh namun di belakang sana tidak ada sesuatu dan tidak ada orang lain. jadi Jamal mulai merasa bahwa ini semua semakin tidak beres, bisa saja kematian Doni memang ada sangkut paut dengan Yayuk.
"Bangsat!" Jamal sampai terjatuh dari kursi ketika melihat isi piring yang dia makan itu.
"Apa lagi sih, Bang?" Rodiah segera mendekat ketika dia usai mengambil air wudhu.
"Apa itu tadi, astaga aku kena teror kah!" batin Jamal di dalam hati dan berulang kali mengusap mata.
Rasanya andai saja dan tidak mungkin ketika piring yang tadi terisi makanan malah berubah menjadi wajah Yayuk yang sudah hancur berantakan itu, bahkan terlihat jelas bahwa Yayuk memang sudah tidak memiliki bola mata, itu semua ulah Ardian karena mereka sempat mengambil bola mata gadis itu untuk penyiksaan.
"Aku tidak mau makan lagi." Jamal bergegas pergi karena dia harus membicarakan masalah itu kepada Ardian.
"Kok ada saja tingkah dia ini yang membuat hati aku sakit." Rodiah menatap masakan yang tidak disentuh oleh sang suami.
Rasanya Emang bila sudah masak bersusah payah dan yang dimasak kan tidak tahu terima kasih seperti itu maka terasa sangat menyakitkan sekali, tapi Rodiah sama sekali tidak mengetahui bahwa Jamal bersikap seperti itu karena rasa takut yang mulai timbul di dalam hati ini, terlebih lagi dia juga merasa bingung kalau nanti Ardian tidak percaya dengan ucapan dia.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.
semangat💪👍
tapi apa iya Yayuk sudah ga perawan ya...
apakah saat ini giliran si Jamal yg mau di bunuh oleh Yayuk ❓🤔
hmm...duo Kun Kun edan mana ya,ga nongol lg nih,padahal Yayuk lg beraksi tuuhh..👻
mang Ujang cm diam ja Krn sejatinya Dia sdh tahu ttg pembunuh nya Yayuk 😡
sdh 2 hari ini dr siang mpe malam di guyur hujan ,,, dingin bgt cuacanya 🥶🥶