NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:408.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Dimas mengirim agenda tertulis malam itu juga.

Bahasanya rapi, formal, dan untuk pertama kali tidak memakai kata "tolong mengerti". Naira membaca sambil berdiri di ruang kerja rumah Menteng. Di luar, hujan turun tipis. Di meja, arsip Aruna Timur masih terbuka, tetapi pikirannya harus berpindah sementara ke Mahendra Health Group.

Maya duduk di seberang. "Agenda ini lebih masuk akal daripada sebelumnya."

"Karena dia akhirnya memakai posisi CEO, bukan suami."

"Kita terima pertemuan?"

Naira membaca poin terakhir.

Permintaan diskusi langsung dengan pemegang hak, didampingi kuasa hukum masing-masing.

"Terima. Besok jam sepuluh. Di kantor yayasan, bukan di rumah."

Maya mencatat. "Raka Wiratama meminta akses keamanan untuk area luar."

Naira mengangkat wajah. "Dia meminta lewat siapa?"

"Hanif. Katanya karena ancaman Cakradinata."

"Jawab tidak perlu."

Maya menatapnya.

Naira menghela napas. "Jawab koordinasi dengan Bagas. Bukan akses penuh."

Maya tersenyum tipis. "Itu jauh lebih realistis."

"Jangan komentar."

Pertemuan keesokan paginya berlangsung di kantor Yayasan Anggraini, gedung tiga lantai yang sedang dipersiapkan untuk membuka kembali program riset. Ruang rapatnya sederhana. Dinding putih, meja kayu panjang, proyektor, air mineral, tidak ada simbol kemewahan.

Dimas datang tepat waktu bersama direktur legal dan Rendi.

Naira datang lima menit kemudian bersama Maya.

Raka tidak ada di ruangan.

Namun Naira tahu ia ada di luar, karena Bagas mengirim pesan singkat.

Pak Raka di lobi. Duduk. Tidak membuat masalah.

Naira hampir ingin membalas bahwa itu prestasi, tapi ia menahan diri.

Rapat dimulai dengan poin pasien. Dimas menjelaskan kebutuhan stok transisi, daftar rumah sakit, dan tanggung jawab perusahaan pada pasien aktif. Naira menanggapi dengan syarat distribusi langsung melalui dokter penanggung jawab dan laporan mingguan.

Selama empat puluh menit, mereka bicara seperti dua orang dewasa.

Itu aneh.

Lebih aneh lagi karena mereka bisa melakukannya.

Setelah agenda formal selesai, direktur legal Mahendra meminta waktu istirahat sebentar. Maya keluar untuk menerima telepon. Rendi ikut mengambil kopi.

Untuk pertama kalinya hari itu, Naira dan Dimas tinggal berdua di ruang rapat.

Tidak sepenuhnya berdua. Pintu kaca membuat Bagas terlihat di luar. Tapi cukup berdua untuk membuat udara berubah.

Dimas menatap botol air di depannya.

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana."

"Kalau ini bukan soal lisensi, sebaiknya jangan mulai."

Dimas tersenyum pahit. "Kamu selalu tahu cara menutup pintu."

"Aku belajar dari orang yang terlalu lama membiarkan pintu terbuka untuk orang lain."

Ia menerima itu.

"Naira, aku tahu ini terlambat. Tapi aku ingin memperbaiki."

"Perusahaan?"

"Kita."

Naira menatapnya.

Dimas melanjutkan cepat, seolah takut keberanian itu hilang. "Aku tidak meminta kamu langsung pulang. Aku tahu proses cerai sedang berjalan. Tapi mungkin kita bisa berhenti dulu. Mediasi ulang. Konseling. Aku akan bicara dengan Mama, dengan Vina. Aku akan minta maaf kepada ayahmu."

"Kepada ibuku?"

Dimas terdiam.

"Ya," katanya kemudian. "Kepada ibumu juga."

Naira menyandarkan punggung ke kursi. "Kenapa sekarang?"

"Karena aku baru mengerti."

"Tidak." Suaranya tenang. "Kamu baru kehilangan."

Kalimat itu membuat Dimas diam.

"Kamu kehilangan rumah, obat, paten, kebiasaan dilayani, dan rasa aman bahwa aku akan selalu kembali. Itu bukan mengerti. Itu panik."

Dimas memejamkan mata. "Mungkin awalnya begitu."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku tahu aku salah."

"Aku percaya."

Mata Dimas terbuka.

Harapan naik terlalu cepat.

Naira mematahkannya dengan kalimat berikutnya.

"Tapi aku tidak ingin kembali."

Hening.

Dimas menatapnya seperti seseorang yang mendengar vonis yang sudah ia tahu, tetapi tetap berharap hakim salah membaca.

"Dulu aku menyelamatkan hidupmu," kata Naira. "Aku memberi formula, rumah, obat, jaringan. Aku juga memberi lima tahun hidupku. Kalau kamu ingin menyebut itu utang budi, semua sudah kubayar lebih dari cukup."

Dimas mengerutkan kening karena kata asing itu keluar dari kebiasaannya membaca dokumen lama Naira, tetapi maknanya jelas.

"Aku tidak ingin mengikatmu dengan masa lalu."

"Tapi kamu baru mengingat masa lalu setelah masa depanmu terganggu."

Dimas tertunduk.

Naira berdiri. "Dimas, kamu tidak mencintaiku seperti orang yang ingin berjalan bersama. Kamu mencintaiku seperti rumah yang selalu menyala saat kamu pulang. Sekarang lampunya padam, kamu baru sadar selama ini ada orang yang menjaganya."

"Naira..."

"Jangan minta aku menyalakan lagi."

Pintu terbuka.

Maya masuk, lalu berhenti karena membaca suasana. Di belakangnya, Rendi membawa kopi dan ikut membeku.

Naira mengambil map. "Rapat selesai. Maya akan kirim draf transisi."

Dimas berdiri. "Aku belum selesai."

"Aku sudah."

Ia keluar dari ruang rapat.

Di lobi, Raka duduk di sofa seperti janji Bagas. Ia benar-benar tidak membuat masalah. Hanya saja semua staf tetap berjalan lebih pelan saat melewatinya.

Raka berdiri ketika melihat Naira.

"Selesai?"

"Untuk hari ini."

Dimas keluar beberapa langkah di belakang. Ia melihat Raka, lalu Naira yang tidak terkejut dengan kehadirannya.

"Kamu menunggu dia?" tanya Dimas.

Raka menatap Naira dulu, seolah memastikan apakah ia boleh menjawab.

Naira berkata, "Jawab sendiri. Aku bukan penerjemahmu."

Raka menoleh kepada Dimas. "Ya."

Satu kata itu membuat Dimas mengepal.

"Dia bukan tanggung jawabmu."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa menunggu?"

Raka tersenyum tipis. "Karena dia tidak memintaku pergi."

Dimas seperti ditampar oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Naira menatap Raka. "Jangan provokasi."

"Baik."

Raka langsung diam.

Dimas melihat kepatuhan itu lagi. Bukan kepatuhan lemah, melainkan pilihan sadar dari pria yang sebenarnya bisa memaksa banyak hal.

Naira berjalan menuju pintu keluar.

Dimas memanggil, "Naira."

Ia berhenti.

"Aku akan tetap mencoba."

Naira tidak menoleh.

"Itu hakmu. Menolak juga hakku."

Di luar gedung, kamera ponsel seseorang menyala dari seberang jalan. Malamnya, potongan video tersebar.

Naira keluar dari Yayasan Anggraini bersama Raka Wiratama.

Judul akun gosipnya lebih kejam dari sebelumnya.

Belum resmi cerai, sudah digandeng pria tua berkuasa?

Di rumah Mahendra, Bu Ratna melihat video itu dan menjerit.

Clara duduk di sampingnya, menunduk, menyembunyikan senyum kecil.

Fitnah pertama dari Cakradinata mulai bergerak.

Malamnya, Dimas melihat video itu bersama Rendi di ruang kerjanya.

Rendi tampak gelisah. "Pak, kita perlu klarifikasi?"

"Cari tahu siapa penyebar pertama."

"Baik."

"Dan kalau ada yang dari pihak keluarga kita ikut menyebarkan, beri tahu aku."

Rendi ragu terlalu lama.

Dimas menatapnya. "Rendi."

"Saya dengar Bu Ratna meneruskan unggahan itu ke beberapa grup."

Dimas tertawa pendek. Tidak ada lucunya.

Ia menelepon ibunya. Bu Ratna mengangkat dengan suara keras.

"Dimas, kamu lihat? Perempuan itu belum cerai sudah jalan dengan laki-laki."

"Ma, berhenti sebarkan."

"Kamu membela dia lagi?"

"Aku mencegah Mama difitnah balik."

"Mama hanya meneruskan berita."

"Berita yang menghina istri saya."

Bu Ratna terdiam karena Dimas masih memakai kata itu. Dimas sendiri juga terdiam setelah mengucapkannya.

Istri saya.

Kata itu masih benar secara hukum. Tapi rasanya sudah seperti sesuatu yang ia pinjam tanpa izin.

Di rumah Menteng, Naira melihat unggahan fitnah itu sekali lagi sebelum tidur.

Ia tidak menangis.

Ia hanya menyimpan tautan, mengambil tangkapan layar, lalu mengirim semuanya kepada Maya. Dulu ia akan sibuk memikirkan apa kata orang. Apakah keluarga Dimas malu. Apakah Bu Ratna semakin membencinya.

Sekarang ia hanya memikirkan bukti.

Surya mengetuk pintu ruang kerja. "Kamu baik?"

"Aku marah."

"Bagus. Marah lebih sehat daripada pura-pura tidak terluka."

"Papa menikmati ini?"

"Tidak. Papa menikmati fakta bahwa kamu tidak lagi menelan semuanya sendirian."

Setelah Surya pergi, Naira mematikan lampu.

Besok, rumor itu akan membesar.

Kali ini, ia tidak akan mengecil.

Di luar pintu, Surya masih berdiri beberapa saat. Ia tidak masuk lagi. Ia hanya memastikan lampu ruang kerja putrinya akhirnya padam.

Untuk seorang ayah, itu kemenangan kecil.

Di dalam kamar, Naira berbaring tanpa membuka media sosial lagi. Ia membiarkan ponsel menghadap meja, bukan langit-langit. Untuk pertama kali setelah lama, ia memilih tidur sebelum semua kebisingan selesai.

Besok, ia akan menjawab.

Malam ini, ia hidup. Untuk dirinya sendiri, bukan untuk komentar orang lain.

1
say't
busyet nih clara sdh tdr sm siapa ja y 🤪 kok berani skl
Sumiyatun Martoyo
iya. ini sudah dilewati
say't
kalo aq jd naira aq racun ni 3 org menjijikkn 🤪
Tuti irfan
seru cerita nya , ak suka ceritanya TDK melulu tentang romansa Ceo penuh intrik dan misteri 😍😍👍👍👍
Katherina Ajawaila
mending pakai topeng langsung aja Dimas, cabut 5 hurup
Katherina Ajawaila
makin seru aja thour, cara dan ibunya sama ja penjahat berkedok mana ada ibu mau membunuh anak nya sendiri. dasar pelakor ngk mutu
Debbie Teguh
seru banget!
Katherina Ajawaila
Clara kamu itu ibarat anak ayam yg BB aru netes jgn sombong di pites juga modar. Dimas mau di andalan, Domas aja parasit yg ngumpet di kaki rok Naira 🫣
Katherina Ajawaila
maka nya jd Suami harus bisa adil kalau sdh brani melangkah kedepan, dasar nya aja kere, mau sombong kacang lupa kulit nya, kalau smua di tarik sm Naira, jadi apa parasit
Katherina Ajawaila
kere tapi belagu, biasa parasit
Ken L
kenapa cerita diulang2 ya...supaya kelihatan isi bab ceritanya penuh?
Abie Mas
raka love naira
Heni Setiyaningsih
heran ya,pemili perusahaan kok gk mau beli rumah sendiri,gk malu apa numpang dirumah calon mantan istri 🤭
Wahyu Kasep
jalan ceritanya bagus menarik tegang tapi sepi pembaca gak ada yang komentar
Nengs
bagus cerita wlpun harus benar2 paham
yuqana
bagus banget novelnya 😍😍😍🥰🥰🥰
Dewa Nara
astagaaaaa... pengulangan lagiiiii
Dewa Nara
kok ada pengulangan lagi 🤭
Dewa Nara
ada pengulangan alinea Thor
Dewa Nara
wah ceritanya bukan hanya masalah rumah tangga nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!